Selasa, 28 Agustus 2012 (Republika Online)

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Erik Purnama Putra/ Wartawan Republika

Kondisi Pulau Sempu tidak banyak berubah. Akhir pekan lalu Republika Online (ROL) mengunjungi pulau yang terletak di Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang tersebut. Butuh waktu dua jam menggunakan perjalanan sepeda motor dari Kota Malang. Sejak empat tahun terakhir, kondisi pulau seluas 877 hektare itu tidak banyak perubahan berarti.

Apa yang melindungi Sempu tetap seperti pulau perawan? Tidak lain status cagar alam yang disandangnya. Dengan begitu, setiap pengunjung yang ingin ke Pulau Sempu harus mendapat izin dari pihak berwenang setempat.

ROL pun juga mengalami hal sama. Tidak bisa menyeberang dari Pantai Sendang Biru, dengan alasan nelayan tidak akan memberangkatkan perahu motornya jika belum mendapat izin. Setelah mengurus dan mengantongi izin, saya dan empat teman lain menyeberang ke Sempu. Sewa perahu sebesar Rp 100 ribu dan kita mendapat fasilitas antar pergi. Semakin banyak orang maka kita bisa urunan lebih murah.

Dengan perahu motor kecepatan sedang dibutuhkan waktu 10 hingga 15 menit untuk sampai di titik pemberhentian. Namanya Teluk Semut. Dari situ pemilik perahu menurunkan penumpang dan meninggalkan kami. Sebelum dia bertolak, kami membuat janji minta jemput pukul 16.00 WIB.

Saat itu sekitar pukul 10.00 WIB perjalanan menelusuri Pulau Sempu dimulai. Ada jalur setapak yang mesti kami lewati sebelum sampai di Segoro Anakan. Dengan kecepatan sedang dan tanpa berhenti, hampir sejam kami berjalan melewati hutan. Jangan bayangkan jalur setapak itu mudah.

Beragam rintangan, mulai pohon tua besar yang tumbang dan menutupi jalan, struktur tanah naik turun, dan kondisi tanah yang lumayan licin membuat perjalanan cukup menantang. Untungnya saat ini tengah musim kemarau. Jika musim penghujan bisa saja perjalanan membutuhkan waktu 2 jam karena tanah becek. Cukup ngos-ngosan juga sebelum sampai di Segoro Anakan.

Selama perjalanan, kami banyak berpapasan dengan para pengunjung yang ingin menginap di sana. Cukup mudah menebak rombongan yang akan menginap. Mereka membawa serangkaian peralatan tenda dan minuman galon bisa menjadi tanda bakal bermalam di Sempu. Cukup wajar saat itu pengunjung Sempu ramai. Itu lantaran masih dalam suasana liburan Lebaran.

Perjalanan panjang tersebut sebenarnya cukup menyenangkan. Kita terhibur dengan suara merdu burung yang saling bersahutan. Banyak kera yang tinggal di situ yang tampak bergelantungan. Sehingga jangan kaget kita tiba-tiba ada ranting atau dahan pohon roboh. Itu tidak lain karena kera itu saling bergerombol dan bergelantungan di pohon besar yang menghiasai Sempu.

“Cukup membuat badan berkeringat dan kecapaian. Tapi langsung terbayar lunas melihat panorama Segoro Anakan yang menakjubkan,” ceplos teman kami, seorang jurnalis dari Surabaya. ROL tidak memungkiri, memandang air jernih di area selatan pulau yang berbatasan langsung dengan Samudra Hindia membuat pikiran menjadi lega.

Keringat yang bercucur dan membasahi pakaian jadi hilang seketika. Namun karena air Segoro Anakan datang dari laut maka tidak disarankan untuk digunakan cuci muka.

Ternyata di sisi paling selatan di tebing pembatas dengan lautan lepas sudah banyak pengunjung. Mereka banyak yang menginap dengan ditandai berdirinya tenda berjumlah belasan. Ada bule juga yang ikut berjemur dan tiduran di pasir putih. Seorang teman yang tidak tahan gerah langsung menceburkan diri ke Segoro Anakan. Kedalamannya tidak sampai tiga meter dan yang di pinggir hanya satu meter.

Saya memilih mengelilingi area selatan dan tidak ikut berenang. Untuk melihat suasana Segoro Anakan di sisi kanan dan kiri Samudra Hindia, saya harus memanjat tebing dengan ketinggian sekitar 10 meter. Keindahan alamnya sangat luar biasa. Hutan yang masih perawan dan suasana angin kencang menimbulkan perasaan menyenangkan. “Segar,” ucapan itu yang terucap sambil bersandar di tebing tertinggi.

Sayangnya, sebagaimana penyakit masyarakat Indonesia, kita dengan mudah menemukan sampah berserakan. Keindahan pasir putih menjadi terganggu. Banyak botol air mineral dan bungkus mie instan tergeletak begitu saja ditinggal pengunjung.

“Itulah sifat manusia, tempat wisata kalau sudah dikunjungi manusia pasti bakal kotor,” semprot seorang teman. “Lihat orang-orang yang memasak itu mereka itulah yang bikin lingkungan di sini kotor. Apalagi tidak ada petugas khusus yang bertugas membersihkan daerah di sini,” keluhnya.

Sarana refreshing tidak melulu hanya di Segoro Anakan. Kalau mau nekat, kita bisa menjelajahi hutan. Namun risikonya nyawa tidak ditanggung. Itu lantaran banyak binatang buas dan langka yang menjadi penghuni Pulau Sempu. Mereka bisa tetap nyaman tinggal di habibat tersebut lantaran berstatus cagar alam.

“Ada macan kumbang, macan tutul, ular sanca bodo sepanjang tiga meter sitaan dari hutan di kawasan Banyuwangi, dan banyak kera yang hidup bebas di sepanjang pulau,” kata Pengendali Posko Ekosistem Hutan Pulau Sempu Syamsul Hadi kepada ROL. “Di sini berbagai binatang buas bisa hidup bebas,” tambahnya.

Hadi memastikan wisatawan yang berkunjung ke Pulau Sempu aman dari serangan harimau. Ia sadar setiap hari ada puluhan hingga ratusan wisatawan yang menyeberang ke sana guna menikmati suasana Segoro Anakan di dalam pulau.  Namun jika mereka tidak berbuat macam-macam dan taat melewati jalur setapak, kata Hadi, maka tidak ada yang perlu ditakutkan.

“Kalau untuk keamanan pengunjung, insya Allah tidak akan diganggu penghuni Pulau Sempu. Karena pada dasarnya secara naluri macan juga takut kepada manusia,” terang Hadi. “Macan dan ular, atau kera akan menyerang jika terancam jiwanya. Kalau tidak ada gangguan, mereka tidak akan menyerang manusia,” imbuhnya.

Meski begitu, menurut dia, karena status cagar alam maka setiap orang yang ingin menyeberang harus mendaftarkan diri kepada pihaknya. Saya mencoba ingin langsung menyeberang, namun pemilik perahu yang bersandar di Pantai Sendang Biru enggan mengantarkan.

Alasannya setiap pengunjung harus terdata agar jika terjadi hal yang tidak diinginkan bisa diantisipasi secepatnya. “Ini hanya pendataan saja, bukan bermaksud untuk apa-apa,” ujar Hadi. “Kami belajar dari pengalaman sebelumnya ada pengunjung yang hilang dan tersesat di hutan, untungnya bisa kami temukan,” imbuhnya.

Hadi tidak memungkiri ada hal gaib di Pulau Sempu. Itu lantaran pulau tersebut tidak berpenghuni dan kondisinya masih seperti sedia kala. “Namanya hal mistis di hutan itu pasti ada. Yang penting kelakukan kita sopan sepanjang berada di sana,” pesannya.

http://www.republika.co.id/berita/gaya-hidup/travelling/12/08/28/m9gfaz-menyusuri-keindahan-pulau-sempu-bag-1

Advertisements