Bromo

Senja di Bukit Teletubbies/Erik Purnama Putra

Ahad, 7 Oktober 2012

Oleh Erik Purnama Putra

Hari sudah agak siang ketika kami memutuskan untuk melakukan perjalanan ke Gunung Bromo. Pukul 10.00 WIB, ketika saya melihat jam dinding. Khusus bagi saya, perjalanan ke Bromo adalah sebuah napak tilas setelah hampir empat tahun tidak ke sana.

Saya dan dua teman yang masing-masing mengendarai sepeda motor jenis bebek langsung memilih tancap gas. Meski waktunya kurang ideal, kami memutuskan berangkat dari titik perjalanan di Desa Kemantren, Kecamatan, Jabung, Kabupaten Malang.

Kami memilih lewat Kecamatan Nongkojajar, Kabupaten Pasuruan karena sudah hafal jalur pintas guna ke Bromo. Dengan melewati perkebunan apel dan sayuran yang menjadi ciri khas petani dataran tinggi, kami memacu motor dengan gas penuh. Meski jalan tidak terlalu lebar dan mendaki, namun menjadi semakin seru untuk ditaklukkan.

Teman saya memilih jalur memotong bukit yang hanya cukup bisa dilewati motor. Setelah melalui perjalanan penuh debu, hampir dua jam kemudian kami sudah sampai di Penanjakan.

Di bukit setinggi 2.770 meter itu, kami mampir sebentar untuk berfoto dan melihat prasasti gugusan gunung Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Dari tempat itu, kalau cuaca cerah dan beruntung, kita bisa setidaknya melihat tujuh gunung sekaligus. Yakni Gunung Batok, Bromo, dan Semeru yang menjadi puncak tertinggi Pulau Jawa.

Setelah puas beristirahat sambil menikmati kopi dan sate kentang yang dijajakan warga setempat, kami memutuskan turun ke padang pasir. Butuh waktu 15 menit untuk menuruni jalur sepanjang hampir dua kilometer itu. Jalur yang curam hingga 45 derajat menjadi rintangan tersendiri. Apalagi separuh jalanan, aspal sudah mengelupas dan bermunculan batu runcing yang membuat kami harus ekstra hati-hati. Terpelosok sedikit, nyawa taruhannya.

Setelah sampai padang pasir, kami disuguhi pemandangan indah Gunung Batok yang berada di depan mata. Namun kami harus terus melanjutkan perjalanan yang sudah dekat. Sayangnya, hambatan muncul lagi. Pada akhir Agustus lalu, cuaca benar-benar menyengat dan kata warga Suku Tengger, sudah beberapa bulan hujan tidak turun.

Akibatnya adalah jalur yang biasa dilalui roda dua menjadi tidak padat. Ketika saya mencoba memaksakan melaluinya, pasir dengan seketika terbelah. Ban motor tidak bisa bergerak, meski gas sudah diputar maksimal. Alhasil beberapa kali saya harus menuntun motor ketika terjebak di medan lautan pasir yang tidak rata.

Enaknya, saya tidak sendiri mengalaminya. Dua rekan saya dan beberapa pengendara lain juga mengalami hal sama. Cuma pengendara motor trail saja yang bisa melibas jalur itu dengan santai tanpa perlu bersusah payah turun dari tungganggannya. Karena jalur yang cukup sulit itu, jarak dua kilometer ditempuh hampir 20 menit.

“Tapi ada enaknya, badang menjadi hangat karena berkeringat dan sekaligus juga membesarkan otot tangan,” seloroh rekan saya, Nanang, yang juga pemilik Uklam-Uklam Tour and Travel ini. Saat itu, diperkirakan udara berada di kisaran 15 derajat celcius.

Karena masih dalam suasana liburan Lebaran saat sampai di sekitar Bromo, pengunjung cukup berjubel. Belasan mobil jeep terjejer rapi di samping pura yang berada di bawah kawasan Bromo menunggu penyewanya yang sepertinya tengah mendaki pucak. Sebelum memarkir motor, saya disuguhi fenomena alam terjadinya topan dengan diameter sekitar lima meter di sisi kanan pura. Cukup mengagumkan juga pemandangan itu sampai saya berdiam sejenak menikmatinya, sebelum akhirnya menuju puncak Bromo.

Jika ingin melihat kawah di dalam perut Bromo, ada alternatif penyewaan kuda dengan tarif Rp 30 ribu yang ditawarkan penduduk setempat. Harga itu sudah terbilang murah, sebab sebelum ditawar mereka memasang tarif Rp 50 ribu. Kalau memang berniat menguji fisik, tidak ada salahnya berjalan kaki, meski risikonya nafas tersenggal-senggal ketika sampai di puncak.

Karena tangga terbilang sempit dan banyak pula wisatawan yang turun, butuh waktu 10 menit untuk bisa sampai di atas. Sebelumnya, perlu dipersiapkan kacamata maupun masker untuk terhindar dari debu yang beterbangan maupun sinar matahari yang menyilaukan mata.

Saya cukup beruntung saat itu kawah tidak terlalu aktif. Jika sedang banyak mengeluarkan gas belerang, wisatawan bakal dilarang melihat kawah. Saya pernah mengalami sesak nafas akibat perut Bromo sedang beraktivitas hingga menyebarkan gas yang membuat wisatawan berhamburan menjauh dari lokasi dalam kunjungan sebelumnya. “Wah, ini pemandangan lagi bagus-bagusnya dan cerah, jadi asyik kalau buat foto-foto,” kata Bery Arfiandika, mahasiswa Universitas Brawijaya ini.

Ketika itu, waktu sudah menunjukkan pukul 15.30 WIB. Sudah hampir 30 menit saya berkeliling kawah Bromo, sebelum teman saya menegur untuk mengingatkan waktu yang terbilang sudah sore. Saya pun bergegas turun, meski masih ada puluhan wisatawan yang betah berada di atas.

Dari situ, saya bergumam, memang tidak salah jika tidak ada yang menyangkal, Bromo merupakan salah satu tempat wisata favorit. Baik wisatawan lokal maupun mancanegara menjadi Bromo sebagai jujugan utama yang wajib dikunjungi. Eksotisme dan keindahan yang ditawarkan memang sulit ditandingi tempat wisata lainnya. Di Bromo, kita bisa menikmati pemandangan menakjubkan saat matahari terbit. Tidak salah, kebanyakan wisatawan berangkat malam atau sengaja menginap agar keesokan paginya sudah sampai lokasi.

Selain menikmati pemandangan dari puncak Bromo, wisatawan bisa melihat pemandangan Gunung Batok yang berjarak lima ratus meter. Ada pula pura di tengah lautan padang pasir yang bisa menjadi objek foto kalau ingin bernarsis ria atau sekadar mengabadikan momen.

Ada tiga jalan menuju ke tempat wisata Bromo. Pengunjung bisa lewat jalur Probolinggo, Pasuruan, maupun Malang. Adapun saya berangkat lewat jalur Pasuruan, dan balik melalui Malang. Karena ingin merasakan sensasi wisata yang mengundang adrenalin, kami memilih pulang melalui jalur menuju Kabupaten Malang.

Di sinilah serunya menikmati jalur ini. Kami memutar membelakangi Bromo dan harus bisa menaklukkan tantangan padang pasir. Karena ban motor kami cocok digunakan di jalan raya, maka perlu perjuangan ekstra keras untuk mengendalikan tungganggan kami. Beberapa kali ban belakang motor saya terjebak dan seolah terhisap pasir hingga hanya berputar saja, tapi tidak bergerak. Kalau sudah begitu, salah satu teman harus turun dan ikut mendorong. Hal itu harus dilakukan bergantian. Pasalnya memang di sepanjang mata memandang, hanya ada pasir yang diaper perbukitan.

Namun jangan salah mengira bahwa jalur ini sepi. Meski sudah sore, kami sering berpapasan dengan pengendara motor maupun penumpang jeep yang beriringin. Sial menimpa, Arif, pengendara motor dari Tumpang, Malang. Dia sepertinya nekat pergi ke Bromo dengan mengendarai bebek modifikasi yang menggunakan ban kecil. Ketika sampai di tengah perjalanan padang pasir, ban belakangnya bocor.

Karena tidak ada pilihan, maka dia bersama temannya mencopot ban belakang untuk dibawa ke rumah warga Tengger yang bisa menambal ban. Kami hanya berbincang sebentar dengan Arif, sebelum melanjutkan perjalanan. Selang 40 menit kemudian, kami berhenti area peristirahatan yang menjadi tempat pemberhentian kendaraan. Sambil berjalan kaki, saya mendekat ke Bukit Teletubbies.

Dinamakan Bukit Teletubbies lantaran sepanjang perbukitan itu ditumbuhi rerumputan nan hijau. Meski sudah lama tidak turun hujan, bukit itu masih terlihat indah di pandang lantaran berada di hawa dingin. Saya sempat berfoto dengan latar belakang bukit tersebut. Ketika itu, ada seorang pembalap yang tengah latihan dengan menuruni turunan yang curam itu secara hati-hati dengan motor trail-nya sambil diabadikan video oleh temannya.

Tidak terasa jam tangan menunjukkan pukul 05.00. Selepas area peristirahatan, kondisi jalan relatif cukup baik, meski beton yang ada sudah banyak terkelupas. Motor kami tidak perlu lagi bersusah-payah menaklukkan medan berat. Lima menit kemudian kami sudah sampai di Jemplang, sebuah pertigaan di Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, Malang. Menjelang matahari terbenam, puluhan wisatawan, baik yang dari Bromo maupun baru datang guna meneruskan perjalanan ke Gunung Semeru berkumpul di situ.

Dari titik Jemplang, kalau wisatawan ingin ke Bromo, maka memilih jalur kiri menuruni Bukit Teletubbies. Sedangkan jika ingin menuju Ranu Pane, Ranu Kumbolo, atau bahkan Puncak Mahameru, pengunjung harus mengikuti jalur ke arah kanan menuju wilayah yang masuk Kabupaten Lumajang.

Kami bertiga menikmati seduhan mie instans kuah dengan bumbu tambahan Lombok terong. Yang dimaksud lombok terong adalah cabai ukuran dua jari orang dewasa yang menjadi tanaman khas Suku Tengger. Meski tidak mengenyangkan, hal itu sudah cukup untuk mengganjal perut kami. Pukul 17.45 WIB, kami memacu kendaraan menuruni hutan lebat dengan kondisi jalan di beton. Cukup telat untuk melakukan perjalanan karena sudah gelap, tapi karena sudah cukup hafal medan jadi kendala itu bisa diatasi.

Selama menuruni jalur dari Jemplang, kami banyak menemui warga Tengger yang banyak berkumpul di depan rumah atau diperapian dadakan yang mereka buat. Hal itu tentu menjadi hiburan tersendiri untuk memecah keheningan dan suara jangkring yang mendampingi perjalanan kami. Andai saja waktu itu masih siang, saya pasti akan mampir ke Coban Trisula atau Coban Pelangi yang sangat kesohor itu. Namun keinginan itu saya pendam dulu hingga di lain hari saya berjanji untuk kembali mengunjungi dua tempat wisata air terjun itu.

Semakin ke bawah, kami dengan mudah menemukan permukiman penduduk. Tidak terasa, saya sampai rumah menjelang pukul 20.00 WIB. Saya tidak sadar ketika melepas jaket hitam dan mendapatinya berubah warna dipenuhi debu kecoklatan. Saya juga bergegas mencopot kedua sepatu yang saya pakai untuk membuang pasir yang memenuhi sepatu tersebut. “Sangat capai, tapi luar biasa seru,” kata Bery. Tentu, pengalaman melakukan perjalanan 10 jam non-stop sangat seru. Saya sebut perjalanan ini tidak dapat dilupakan dan bisa menjadi bahan obrolan saya ketika kembali bekerja di Ibu Kota.

Advertisements