6 November 2012 (Unpublished)

Oleh Erik Purnama Putra

Saya tak mau berteori banyak tentang buku. Tapi, saya yakin dengan banyak membaca buku mampu mengubah pola pikir saya dalam kehidupan sehari-hari. Yang pada akhirnya, pola kepribadian yang melekat dan saya tampakkan ke orang lain adalah hasil cerminan dari apa yang saya baca.

Dengan buku, segala bacaan yang memuat informasi saya serap. Wacana yang bergumul dalam pikiran itu yang saya mengejawantahkannya ke dalam cara bertutur, dan bergaul dengan lingkungan sehari-hari.

Mungkin tak ada yang menyangka. Jika semasa kecil saya termasuk kelompok super introvert. Perlahan-lahan dengan bertambahnya umur sikap itu mencair dengan sendirinya. Meski tanda-tanda introvert masih tertangkap jelas di mata orang lain. Namun, setidaknya saya mulai mau terbuka dalam beberapa kasus tertentu.

Segala perubahan yang terjadi dalam diri mulai terjadi ketika saya bergumul dengan buku. Saya tak tahu bagaimana awal mula terjadinya. Mungkin kegemaran membaca resensi di koran pada akhir pekan membuat saya tertarik membeli buku. Pada sebuah kesempatan, saya tergerak pergi ke sebuah toko buku. Tak perlu waktu lama untuk membeli satu buku yang menurut saya saat itu sedang booming.

Tak disangka, selesai membaca buku populer pertama yang saya beli pas menginjak semester empat itu, tangan saya gatal untuk membuat reviu atas buku tersebut. Buku yang memuat profil dan perjalanan hidup the smiling general alias Soeharto itu menjadi resensi pertama yang saya kerjakan dengan serius. Tak dinyana, resensi itu tembus di sebuah koran di Malang yang terbit sepekan sekali.

Entah mengapa, setelahnya timbul kegelisahan dalam diri ketika selesai melahap semua halaman dalam buku. Setelahnya, muncul dorongan membeli buku lagi. Yang tentu saja saya harus membacanya dan membuat resensi atas buku itu. Uangnya? Tentu dari honor yang saya terima hasil mengklaim ke bagian Kemahasiswaan kampus. Masih terngiang dalam ingatan, saya mendapat Rp 50 ribu dengan menunjukkan kliping resensi buku tertanda saya dengan embel-embel mahasiswa Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang.

Sesuai petuah dari salah satu master kepenulisan yang juga dosen di lingkungan kampus. Saya mengirimkan foto kopi hard cofy pemuatan resensi itu kepada penerbit. Benar sesuai saran orang di atas, berselang dua pekan kemudian saya mendapat kiriman buku dan honor Rp 150 ribu.

Betapa gembira dan terpacunya saya mendapat reward seperti itu. Akhirnya sedikit demi sedikit saya mulai ketagihan membuat resensi buku. Sepertinya roda hidup yang saya alami saat itu mulai berputar dengan terencana. Pasalnya, hampir setiap resensi yang saya kirim setidaknya dimuat di koran lokal yang terbit di Malang maupun Surabaya.

Alhasil, honor yang saya terima terus mengalir. Saya tak memungkiri masalah honor ini menjadi pemicu saya meresensi. Orang boleh mengatakan hal itu menjadikan saya bukan termasuk idealis. Sebab, orientasinya melulu duit. Tapi, nyatanya mahasiswa itu butuh uang. Dan, saya senang mendapatkan honor dari cara yang saya tekuni.

Otomatis pula, setiap bukti pemuatan resensi saya kirimkan ke penerbit. Untungnya, beberapa penerbit dengan murah hati mau memberi saya kiriman beberapa buku. Ada pula yang sekalian mengirim honor sebagai apresiasi telah ikut mempromosikan buku keluaran penerbit bersangkutan.

Berjalannya waktu membuat saya juga menemuki penulisan opini di media cetak harian. Meski belum pernah tembus di media terbesar di Tanah Air, setidaknya beberapa kali artikel yang saya kirim di muat media terbitan Jakarta. Tentu saja hal itu menjadi kebanggaan tersendiri bagi saya. Untuk yang satu ini honor dari kampus sebesar Rp 75 ribu.

Yang menggembirakan, ada media nasional yang setiap memuat tulisan mahasiswa tak lupa mengirim honor. Besarannya bervariasi, kadang bisa Rp 100 ribu pernah juga mendapat kiriman Rp 150 ribu. Apakah saya tak ada kendala dengan penulisan yang saya lakukan? Tentu ada. Tapi, tak perlu saya ceritakan di sini. Karena penolakan pemuatan tulisan sudah terlalu sering saya alami.

Bergabung di koran kampus yang dikerjakan secara profesional, meski terbit sebulan sekali membuat kemampuan penulisan saya semakin terasah. Di samping belajar menulis berita, saya mendapat banyak bahan dari aktivitas liputan di kampus untuk digunakan sebagai isu yang tulis di media cetak. Mengingat, dari liputan itu saya bisa bertemu dengan pejabat di Tanah Air, mulai wakil presiden, menteri, kepala daerah, tokoh politik, hingga akademisi yang punya nama.

Hasil bersentuhan dan menyerap ilmu dari setiap acara yang saya liput dan kontemplasi diri menguatkan saya bahwa memang dunia ini yang saya cari selama ini. Dunia jurnalis.

Saya merasa menikmati aktivitas itu di sela-sela kuliah. Tak jarang pula saya sampai bolos untuk bisa meliput sebuah acara di kampus. Selain mendapat materi dari narasumber, yang biasanya pakar di bidang tertentu. Saya tak memungkiri tergerak meliput karena mendapat jatah makanan. Tentu saja sebuah keberkahan bagi saya punya akses bisa masuk ke setiap ruang di setiap sudut kampus dengan berbekal aktivis pers kampus.

Bahkan, saking negebetnya untuk meliput acara kampus jika saya tak bisa meninggalkan perkualiahan. Maka saya menyusun strategi tersendiri agar bisa keluar ruangan untuk meliput acara tersebut. Jurus yang saya lakukan di tengah perkualiahan adalah dengan berpura-pura mules di kelas. Cara itu berhasil menarik dosen untuk menanyakan apakah saya sakit. Tentu momen itu saya jadikan alasan untuk pergi ke belakang.

Jelas dipersilahkan oleh sang dosen, sebab dia tak ingin melihat anak didiknya sakit di dalam kelas bukan? Momen itu biasanya saya gunakan untuk menuju Ruang Sidang Rektor, yang jadi tempat favorit acara penting di kampus. Memang metode ini tak patut dicontoh, tapi saya mendapat banyak pengalaman berharga dari berbagai kegiatan yang harus saya ikuti dalam waktu bersamaan.

Peruntungan saya semakin membaik setelahnya. Dengan aktif di koran kampus membuat saya punya akses ke setiap unit di kampus. Dari situ saya sering mendapat informasi perlombaan untuk mahasiswa. Alhamdulillah, dari dulunya paling tak suka ikut beginian, saya tertarik pada akhirnya. Lomba penulisan hingga beberapa lomba Rektor Cup saya ikuti. Ada yang nyangkut jadi juara pertama karena faktor kebetulan hingga tiga kali mendapat dana hibah Ditjen Dikti atas keikutsertaan dalam lomba program kreativitas mahasiswa (PKM).

Dari situ pula ‘kesejahteraan’ saya meningkat. Saya bisa membeli barang-barang kebutuhan sendiri. Tak perlu lagi meminta orang tua. Semuanya dipenuhi sendiri. Efek terlalu sibuk di kampus membuat saya jarang pulang ke rumah. Meski asli Malang, dapat dihitung tiga perempat waktu saya habiskan di kampus. Tidur pun di base camp Student Center, yang berada tepat di samping kuburan—apa hubungannya coba?

Namun, dari aktivitas yang saya geluti itu semua menjadikan saya menjadi orang yang percaya diri. Dari situ saya setidaknya mulai bersikap terbuka, meski sisi introvert itu masih dapat dirasakan orang lain.

Semuanya hasil aktivitas kampus, mulai banyak membaca buku, meresensinya, meliput acara yang mebuat saya banyak bertemu orang yang tak saya kenal sebelumnya, hingga menginap berhari-hari di kampus. Konsekuensi aktivitas itu membuat saya mampu berubah watak dan pola pikirnya. Tak banyak memang, tapi ada sedikit perbedaan dibanding kehidupan saya sebelumnya yang kelam.

Dari situ saya keranjingan membaca buku, tentu efeknya saya menjadi benci melihat sinetron atau acara televisi lainnya—apa hubungannya coba? Bahkan, saya mempertanyakan mengapa banyak orang suka melihat sinetron yang jelas-jelas membohongi akal pikiran kita.

Yang pasti, ada konsekuensi yang harus saya tanggung karena melakoni aktivitas itu. Kehidupan saya seolah berlawanan dengan mainstream mahasiswa di kampus. Saya membuang banyak waktu pribadi yang seharusnya digunakan untuk senang-senang. Tapi, tak apalah itu semua sudah berlalu. Harus diakui, timbul keoptimisan dan terajutnya mimpi-mimpi yang tinggi dengan menggeluti jalan yang saya pilih semasa kuliah.

Semuanya memang bermuara satu pada kebahagiaan. Namun, kadar dan taraf kebahagiaan yang dicari orang itu ada tingkatannya. Saya yakin, dengan banyak menahan diri tak menuruti kesenangan dan memilih jalan yang tak banyak dipilih orang akan menjadikan saya sebagai orang yang banyak memimpikan masa depan. Mungkin terlalu berlebihan cerita saya ini. Namun, kenyataannya memang seperti itu. Karena saya yakin kebahagiaan itu akan datang pada waktunya.

Tak sekedar bahagia, namun indah pada akhirnya. Sebuah rasa yang jarang kita rasakan jelas lebih mengasyikkan jika kita intensitas merasakan rasa itu sering. Semua yang saya alami berkat bantuan teman-teman saya yang pintar, cerdas, dan memiliki bakat alam yang luar biasa mencengangkan.

Kembali ke buku, pada akhirnya menginjak lulus kuliah. Jumlah buku saya cukup banyak. Dan kebanyakan pula hasil kebaikan pemberian penerbit yang dengan sukarela mengirimkan buku terbaru kepada saya. Saya tentu keranjingan melahap isi dari setiap buku itu, terutama jenis populer.

Namun, setelah memasuki dunia kerja, saya sedikit demi sedikit mengurangi intensitas membaca buku. Apalagi meresensinya. Saya tak mau beralasan waktu saya berkurang karena pekerjaan. Namun, tak bisa dibantah jika bekerja memang membuat badan cepat lelah. Sehingga hobi meresensi buku itu mulai tersendat. Yang pada akhirnya ghiroh itu sempat padam juga dalam periode cukup lama. Sepertinya, hingga sekarang.

Yang pasti, buku membuat saya bisa menikmati kehidupan dengan penuh pesona.  Cerita saya memang tak fokus dan melebar kemana-mana. Ini memang sebuah kesengajaan. Sebab, ini hanya sekedar sharing informasi kepada pembaca. Semoga berkenan membacanya dan mengambil sisi positif yang terdapat dalam segelintir rangkaian kalimat di atas.

Jakarta, 24 Mei 2011

Advertisements