Senin, 12 November 2012 

Oleh Erik Purnama Putra

Sekitar 16 tahun lalu, pada awal masuk kelas 4 SD di sebuah desa di Kabupaten Malang, saya mendapati pemandangan menarik. Bisa jadi memasuki umur 10 tahun, saya mulai gemar mengamati kejadian di lingkungan sekitar. Pada medio Juli 1996, untuk pertama kalinya saya bertemu dengan guru baru yang juga bakal menjadi wali kelas saya selama setahun. Nama guru itu adalah Sudarwoko.

Yang menarik perhatian saya adalah ketika sosok guru itu memarkir sepeda tua di tempat parkir. Saya untuk pertama kali melihatnya menyandarkan kendaraan yang dipakainya untuk mengantarkannya dari rumah ke sekolah. Saya tentu terperangah melihat kejadian itu. Hingga kini kejadian itu masih membekas dalam ingatan saya.

Fisiknya guru saya itu cukup kecil, kurus, dan berpenampilan lusuh. Satu hal yang mencolok dari dia adalah rambutnya yang sebagian sudah beruban. Namun saya bukan ingin mengulas tentang fisiknya, melainkan kesederhanaan yang dipraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Rindu guru ideal

Entah karena memang tidak mampu membeli sepeda motor atau karena ada alasan lain. Atau bisa pula saat itu rasio pemilik sepeda motor masih belum sebanyak sekarang. Tapi adanya guru yang pergi ke sekolah dengan mengendarai sepeda membuat saya kagum. Mirip kisah Oemar Bakrie, guru saya itu pantas untuk diacungi jempol.

Penilaian saya tidak berlebihan setelah di kelas cara mengajar Pak Guru tidak kaku. Maksudnya dia tidak hanya mengarahkan siswa untuk mendengarnya saja. Melainkan siswa diajak untuk berinteraksi hingga terjalin komunikasi dua arah yang baik.

Pemberian kuis sebelum pulang menjadi salah satu yang saya apresiasi. Biasanya, dia memiliki tradisi sekitar 20 menit sebelum jam kepulangan pukul 12:00 WIB, bakal mengadakan kuis. Siswa akan ditanya tentang materi yang diajarkan di hari itu. Setiap siswa boleh mengacungkan jari dan menjawab kalau merasa tahu jawabannya. Konsekuensinya apa? Tentu yang bisa menjawab dan benar bakal diperbolehkan pulang terlebih dulu.

Metode mengajar seperti itu sangat senang cukup menyenangkan. Saya sering mendapat diskon kepulangan lebih awal karena beberapa kali menjawab benar. Tidak jarang pula harus bersama-sama teman lain pulang belakangan. Yang pasti, ketika bel sekolah berbunyi tanda pelajaran berakhir semua siswa diperbolehkan pulang. Jadi, tidak ada korupsi waktu yang dilakukan oleh guru saya.

Karena kedekatan itulah wali kelas saya itu enggan berpisah dengan kami. Jika tradisi di sekolah setiap guru memegang satu kelas maka hal itu tidak berlaku bagi guru kami. Pak Sudarwoko tetap menjadi wali kelas kami ketika terjadi kenaikan ke kelas 5. Tidak cukup, saat menginjakkan kelas 6 SD, ternyata wali kelasnya tetap.

Tentu hal itu sangat melegakan saya pribadi dan teman-teman lainnya. Selain tidak perlu lagi mengenal karakter wali kelas baru, kami sudah paham watak satu sama lain. Sehingga ketika awal musim pelajaran proses belajar mengajar berlangsung lebih cair daripada ketika mengenal wali kelas baru.

Kehilangan teladan

Zaman sudah berubah. Sehingga boleh jadi kurang tepat juga kalau saya membandingkan tingkah laku guru dulu dan sekarang. Apalagi yang saya komparasikan adalah tindak tanduk guru di beberapa sekolah di Ibu Kota. Itu semua dari pengamatan saya tinggal di Jakarta selama hampir dua tahun ini.

Memang kalau berbicara soal pendapatan, gaji guru era dulu kalah jauh dibanding sekarang dengan sudah mempertimbangkan kenaikan inflasi. Sebagai bukti, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mendapat alokasi 20 persen dari belanja APBN. Dengan dana sekitar Rp 286 triliun yang sebagian besar diperuntukkan untuk meningkatkan kesejahteraan tenaga pendidik maka tentu pendapatannya sekarang cukup tinggi. Apalagi ditambah dengan sertifikasi yang membuat urusan pendapatan guru semakin terjamin.

Bisa jadi tabungannya sudah lebih dari cukup mereka saya nilai lupa diri. Alasan kesejahteraan itu pula yang membuat banyak guru ketika berangkat ke sekolah lebih gemar membawa mobil pribadi. Memang hal itu menjadi hak pribadi setiap guru untuk memanfaatkan barang yang sudah dibelinya dari hasil keringat sendiri. Namun dengan ke sekolah mengendarai mobil yang tidak jarang saya lihat termasuk tipe mewah, hal itu menimbulkan konsekuensi tersendiri bagi lingkungan sekolah. Karena kita yakini, mobil tetap menjadi salah satu simbol seseorang tingkat kekayaan seseorang.

Selain dilihat rekan sesama profesi, mau tidak mau pemandangan itu bakal dilihat anak didik. Siswa yang mengetahui hal itu pasti dengan cepat menyimpulkan jika gurunya termasuk orang kaya. Jangan disalahkan pula jika muncul penilaian gurunya pamer atau bergaya hidup mewah. Di sinilah letak persoalannya. Sebuah kontradiksi tercipta.

Di berbagai kurikulum sekolah pasti diajarkan agar setiap siswa menghindari gaya hidup mewah. Mereka harus memiliki simpati dan empati kepada sesama. Itu lantaran masih banyak orang yang hidup dalam serba kekurangan. Sehingga kalau menunjukkan kekayaannya kepada orang lain hal itu tentu bisa menimbulkan kecemburuan sosial. Kalau ditarik kesimpulan konteks mata pelajaran yang diajarkan di kelas isinya seperti itu.

Namun guru lupa. Mereka pandai berteori, tapi tidak pada tataran praktik. Guru yang seharusnya memberi contoh tidak bisa memberikan teladan yang baik. Sementara mereka setiap harinya dengan serius menjejali anak asuhnya di dalam kelas dengan berbagai pelajaran yang bertolak belakang dengan fenomena yang dilihatnya.

Mobil berjejer memenuhi parkir sekolah. Kepala sekolah, guru, hingga staf sudah membawa mobil ke sekolah. Hal itu tentu tidak bagus bagi pembentukan karakter siswa. Pasalnya mereka diajari untuk melihat antara teori dan kenyataan saling bertolak belakang. Karena apa yang dilakukan guru selama berada di lingkungan sekolah bakal membekas dan diingat oleh siswa. Sangat mungkin pula bakal menjadi bahan pembicaraan siswa.

Saya jadi teringkat dengan Sudarwoko. Saya bukan bermaksud menonjolkan sosoknya. Tapi ada pelajaran berharga yang bisa diambil dari dia. Kesederhanaan dan kesesuaian apa yang diucapkan dengan yang dilakukannya. Hanya mengendarai sepeda ke sekolah tentu mensejajarkan diri dengan muridnya yang sebagian berjalan kaki. Saya pikir di situlah letak keberhasilan pendidikan karakter seorang guru.

Saya tidak perlu membuat alat ukur objektif atau definisi yang dikemukakan berbagai pakar pendidikan guna menilai seperti apa guru yang ideal. Bagi saya pribadi, guru yang sukses adalah mereka yang bisa memberikan teladan kesederhanaan sesuai dengan nilai-nilai tradisi luhur bangsa. Salah satu nilai berbangsa yang sekarang sulit ditemukan adalah tampil sederhana di depan orang lain tanpa menonjolkan kekayaan yang kita miliki.

Advertisements