Ahad, 18 November 2012

Oleh Erik Purnama Putra

Berbagai inovasi yang dilakukan BNI Syariah dalam mendorong lahirnya pengusaha baru patut diapresiasi. Belum lama ini, BNI Syariah beberapa kali melakukan penandatanganan nota kerjasama dengan berbagai pihak. Di antaranya Panorama Group, Alfamart, Indomaret, dan waralaba di bidang kuliner.

Kebijakan bank yang mendukung lahirnya pengusaha baru melalui kerjasama tersebut harus diteruskan. Karena perlu diingat, semakin banyak pengusaha maka perekonomian Indonesia semakin maju. Mengutip pernyataan Direktur Bisnis BNI Syariah Imam T Saptono kepada Republika, belum lama ini, “Kerjasama ini merupakan sinyalemen atas dukungan BNI Syariah kepada sektor riil di Indonesia.”

Saat ini, Indonesia hanya memiliki sekitar 0,18 persen pengusaha dari 240 juta penduduk. Kalau dijumlahkan sekitar 432 ribu penduduk menggeluti dunia usaha. Jumlah itu sangat sedikit dibanding negara maju. Sebagai perbandingan, persentase pengusaha di Singapura mencapai tujuh persen. Dengan jumlah penduduk sekitar 5,1 juta maka yang berprofesi sebagai pengusaha mencapai 357 ribu orang.

Adapun 11 persen penduduk Amerika Serikat tercatat sebagai pengusaha. Dari 311 juta jiwa, setidaknya 3,42 juta menekuni dunia usaha. Pantas saja dua negara itu lebih maju daripada Indonesia. Pasalnya untuk menjadi negara maju setidaknya dua persen penduduk sebuah negara harus berkecimpung di dunia usaha.

Kita tahu, dengan sedikitnya pengusaha maka setiap lulusan universitas atau pencari kerja bakal mengandalkan lowongan pekerjaan. Kalau tidak diimbangi lahirnya pengusaha baru maka jumlah pencari kerja tidak seimbang dengan ketersediaan lapangan pekerjaan. Jika hal itu terjadi tentu dengan sendirinya jumlah pengangguran bakal bertambah.

Tidak bisa dimungkiri, masyarakat Indonesia masih bermental pegawai. Sebagai bukti, ketika lowongan pegawai negeri sipil (PNS) dibuka, maka muncul antrean pendaftar dalam jumlah banyak.

Akhirnya lowongan PNS menjadi salah satu solusi pemerintah untuk mengurangi jumlah pengangguran. Hal itu jelas tidak seimbang. Pasalnya rasio pendaftar dan posisi yang dibutuhkan bisa mencapi 1:10 atau untuk posisi tenaga administrasi mencapai 1:20.

Melahirkan pengusaha baru

Kondisi itu jelas sangat memiriskan. Maka satu-satunya jalan untuk mengurangi jumlah pengangguran sebesar 7,24 juta berdasarkan versi Badan Pusat Statistik (BPS) pada Oktober 2012 adalah dengan melahirkan banyak pengusaha baru. Dengan mencetak pengusaha baru maka otomatis mereka bakal menyerap pencari kerja kalau usahanya berkembang.

Peran BNI Syariah di sini sangat menentukan. Dengan aset Rp 10 triliun dana pihak ketiga (DPK) yang berhasil dikumpulkan pada 10 November lalu, maka dana itu bisa segera digunakan untuk kepentingan peminjaman. Memang tidak semua pembiayaan harus disetujui jika syarat yang ditetapkan tidak terpenuhi. Namun dengan menggandeng mitra baru atau penguatan kerjasama mitra lama tentu bisa menjadi inspirasi lahirnya pengusaha.

Kalau sekarang dari total pembiayaan sebesar Rp 6,6 triliun, sekitar 80 persennya disalurkan ke sektor riil dan sisanya komersiil, maka ke depannya bisa diubah. Dengan memperbanyak porsi peminjaman di bidang mikro bakal semakin banyak orang yang menggeluti dunia usaha.

Sebagaimana diketahui, bidang usaha kecil mikro dan menengah selama ini bersifat padat karya. Sektor itu paling banyak menciptakan pengusaha kecil-kecilan, namun paling banyak menyerap tenaga kerja. Andai saja BNI Syariah fokus menyasar segmen itu, sangat mungkin muncul bakal lahir pengusaha baru.

Jika skema itu terjadi maka BNI Syariah ikut berperan mengurangi beban pemerintah dalam menyediakan lapangan pekerjaan. Apalagi jika ratusan kantor cabang secara bersamaan menyalurkan program untuk penguatan pemberdayaan pengusaha kecil. Dampaknya dipastikan bakal menguatkan perekonomian riil masyarakat. Sehingga bisa dikata BNI Syariah ikut berkontribusi dalam melahirkan kekuatan ekonomi bangsa.

Advertisements