Ahad, 25 November 2012

Oleh Erik Purnama Putra

Membaca informasi tentang berbagai kemajuan yang dicapai Alfamart tentu mengundang decak kagum. Dengan ribuan jaringan yang tersebar di berbagai daerah, ternyata Alfamart tetap mampu menjaga kepercayaan pelanggan. Sebagai bukti, mereka meraih penghargaan Top Brand Award 2012 kategori Minimarket.

Penghargaan kelima kalinya itu meneguhkan bahwa merek Alfamart mampu merebut hati dari masyarakat. Pasalnya pemberian penghargaan itu berdasarkan metode survei yang dapat dipertanggungjawabkan dengan sampel masyarakat.

Kesuksesan membangun brand image melalui beragam aktivitas, seperti program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), marketing activities, hingga member activities menjadi salah satu faktor penduduk moncernya performa perusahaan.

Berdasarkan penuturan Senior Corp Manager PT Alfamart, Choirullah, total gerai hingga Mei mencapai 6.697 toko. Dari jumlah itu, sebanyak 88 persen berada di Pulau Jawa dan 12 persen di luar Jawa. Dengan ekspansi ratusan gerai per tahun menandakan keberadaan Alfamart diterima masyarakat.

Namun berbagai pencapaian itu selayaknya jangan membuat pihak manajemen lengah. Terus berkreasi dan tidak pernah lelah melakukan inovasi wajib dilakukan. Hal itu agar Alfamart bisa selalu menjawab tantangan dan menjadi yang terdepan dalam menggaet pelanggan.

Kontrol dan supervisi ketat terhadap produk yang dijual membuat konsumen puas dengan barang dibelinya. Karena kepercayaan yang tinggi dengan kualitas produk yang dijual maka tidak ada keraguan sedikitpun tentang produk yang akan dibeli. Hal itu secara tidak langsung menciptakan karakter pelanggan loyal.

Namun jangan lupa, ketika sudah mencapai keuntungan maksimal, seyogianya perusahaan untuk berbagi. Program CSR kepada pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) menjadi salah satu alternatif dan solusi terbaik. Dengan memberikan pelatihan kepada mereka setidaknya Alfamart ikut memikirkan dan memperjuangkan nasib orang lain.

Berperan aktif dalam memberdayakan tingkat kesejahteraan orang tentu bakal mengundang simpati. Apalagi jika sampai program itu berhasil. Terobosan baru dengan membuka diri untuk menjual produk masyarakat juga penting untuk dipertimbangkan.

Menggandeng produk lokal

Saya sebagai salah satu pelanggan Alfamart masih melihat produk yang dijual didominasi keluaran perusahaan nasional hingga multinasional. Di sekitar tempat kerja saya di Kelurahan Pejaten, Jakarta Selatan maupun kampung saya di Desa Kemantren, Kabupaten Malang, produk yang dijual Alfamart hampir tidak ada bedanya. Sebagai pelanggan, saya sebenarnya ingin ada sebuah produk khas lokal yang bisa dipajang untuk dijual.

Itu memang sebuah pilihan dan menjadi kebijakan mutlak perusahaan. Tapi dengan memberikan cukup ruang kepada produk lokal hasil olahan rumah tangga, misalnya, tentu itu sebuah hal membanggakan bagi masyarakat sekitar. Jika memang manajemen belum percaya dengan standardisasi produk yang dihasilkan rumah tangga, maka jangan buru-buru memandang sebelah mata.

Kembali lagi penekanan program CSR perusahaan sangat penting. Mengapa Alfamart tidak mengajak mereka untuk dilatih hingga bisa memenuhi standar yang ditetapkan perusahaan. Tentu hal itu membutuhkan dana, tenaga, dan waktu, yang ujung-ujungnya bertambahnya pengeluaran perusahaan. Tapi harus diingat, pepatah siapa menanam akan memanen hasilnya layak dingat.

Percayalah, masyarakat kita memiliki kultur yang tidak bakal melupakan orang yang memberikan pertolongan. Jika sampai nanti sukses, pasti Alfamart akan menuai apa yang ditanamnya. Jangan sampai mentang-mentang sudah di posisi atas maka lupa dengan kelompok yang perlu mendapat perhatian. Saya menduga, ke depannya model bisnis minimarket bakal memunculkan peluang baru, yakni berbasis produk lokal. Dengan menjual produk masyarakat sekitar, maka Alfamart akan menjadi minimarket dengan keunggulan unik.

Di tengah industri kreatif yang semakin menggeliat, Alfamart harus segera menangkap peluang itu. Kalau memang untuk bisa menerima produk olahan rumah tangga harus terbentur dengan aturan perjanjian dengan rekanan, maka perlu dicarikan solusi terbaik. Jangan sampai di tengah pertumbuhan ekonomi yang diprediksi di angka 6,3-6,5 persen, hanya segelintir orang kaya yang menikmatinya.

Alfamart juga harus berposisi sebagai agen distribusi pemerataan pendapatan. Dengan menggandeng dan menjual produk UMKM, tentu industri kecil bisa berdaya. Fakta semakin banyak pelaku UMKM sukses, tentu bisa menginspirasi orang lain untuk mengikuti jejaknya. Dengan begitu, tercipta kultur wirausaha yang menggelorakan semangat kompetitif.

Jika hal itu terjadi maka semakin sedikit saja orang yang berpikir ingin menjadi abdi negara (PNS). Kalau lebih menjanjikan secara ekonomi menjadi pengusaha kecil, mengapa harus memilih menjadi PNS. Alfamart harus mengambil peran agen perubahan itu. Perusahaan yang bakal dikenang bukan karena kebesarannya dalam mencari keuntungan.

Tapi perusahaan itu adalah mereka yang berjasa dalam membantu masyarakat keluar menikmati kenaikan taraf kesejahteraan. Apa keuntungan dan manfaatnya itulah yang bakal dikenang masyarakat. Karena faktor kedekatan itu pasti tidak tergantikan dengan apapun bentuknya, dan menjadi modal utama dalam mengarungi ketatnya persaingan bisnis minimarket.

Advertisements