Kamis, 13 Desember 2012

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Erik Purnama Putra/Wartawan Republika Obat generik

Beberapa bulan lalu, saya menderita sakit gatal di beberapa bagian tubuh karena iritasi. Saya memutuskan untuk memeriksakan penyakit tersebut ke rumah sakit swasta (RS) terkenal di bilangan Jakarta Selatan. Sambil menerangkan gejala kulit gatal yang saya alami, dokter memeriksa bagian kulit yang gatal. Tidak sampai lima menit, dokter memberi resep untuk ditukar ke apotek.

Saya kaget bukan kepalang, untuk jenis salep, dan dua macam obat penghilang gatal, saya harus menebusnya dengan biaya sekitar Rp 550 ribu. Rinciannya, Rp 100 ribu untuk tarif dokter dan sisanya biaya untuk membayar obat. Saya menggumam dalam hati, “Mengapa biaya berobat mahal sekali?”

Saya bercerita kepada teman kantor, dan dinasihati. “Itu memang rumah sakit untuk kalangan menengah atas. Dan resep yang diberikan kepada pasien juga obat yang ada mereknya. Jadi, wajar kalau biayanya mahal.” Seketika tiga macam obat yang masih tersimpan rapi di tas kresek itu saya amati.

Saya cermati baik-baik, dan memang obat yang diberikan bukan sejenis obat yang biasanya diberikan di puskesmas. Saya akhirnya mendapat jawaban dan bisa menyimpulkan. “Obat yang diberikan rumah sakit tempat saya berobat merupakan obat komersial, bukan obat generik yang diproduksi pemerintah,” kata saya.

Ya, pengalaman itu merupakan hal baru bagi saya. Meski biaya berobat itu ditanggung kantor yang termasuk fasilitas kesehatan yang menjadi hak saya, namun ada perasaan yang mengganjal dalam hati. Itu terkait dengan mahalnya obat yang harus saya bayar gara-gara penyakit gatal di sekitaran leher.

Saya yang baru pertama kali ke rumah sakit swasta dalam periode lima tahun ini tentu sedikit kecewa dengan fasilitas yang saya dapatkan. Bukan maksud saya untuk berlebihan atau mencari masalah. Itu terkait pengalaman saya selama ini yang selalu ke puskesmas untuk berobat yang hanya memerlukan biaya administrasi sebesar Rp 3 ribu. Dengan tarif sangat terjangka itu, saya sudah mendapatkan layanan maksimal dari dokter umum.

Kalaupun harus keluar uang lagi demi bisa menebus obat, saya hanya perlu mengeluarkan biaya belasan ribu. Hasilnya khasiat obat generik yang saya minum hampir sama alias tidak jauh beda. Murah dan menyenangkan tentunya pengalaman yang saya alami di tempat tinggal saya di Malang, Jawa Timur. Pengalaman berharga itu sepertinya sulit saya temukan di Ibu Kota.

Promosikan obat generik
Pengalaman itu menjadi patokan bahwa khasiat obat branded dan obat generik hanya memiliki perbedaan di masalah harga. Yang bermerek, dibandrol mahal dan obat generik berlogo (OGB) sangat terjangkau. Karena harganya yang murah itulah biasanya dokter memberikan jenis obat itu kepada pasien miskin yang memiliki kartu Jamkesmas.

Akhirnya timbul opini keliru di masyarakat bahwa OGB diperuntukkan bagi kelas bawah.
Dampaknya warga kelas menengah atas yang jumlahnya tidak sedikit enggan mengkonsumsi obat generik dengan alasan kurang manjur bagi biaya pengobatan. Alasan lainnya, tertanam dalam perspektif mereka bahwa obat bermerek pasti lebih berkhasiat dan cepat dalam menyembuhkan penyakit yang diderita. Memang anggapan itu kadang ada benarnya. Namun tidak sepenuhnya selalu seperti itu.

Akhirnya sangat ironis, biaya pengobatan di Indonesia terbilang sangat mahal. Biaya tinggi itu karena disumbangkan komponen harga obat. Sangat disayangkan sekali hal itu terjadi. Padahal di samping obat branded, tersedia OGB yang harganya tidak menguras kantong. Namun karena dipandang sebelah mata, maka keberadaannya dianggap obat kelas dua.

Banyak yang belum tahu, obat generik adalah obat yang telah habis masa patennya (off patent), sehingga dapat diproduksi oleh semua perusahaan farmasi tanpa perlu membayar royalti. Ada dua jenis obat generik, yaitu obat generik bermerek dagang dan OGB yang dipasarkan dengan merek kandungan zat aktifnya.

Mengapa OGB harganya sangat terjangkau semua kalangan? Itu tidak lain karena harganya diatur oleh pemerintah, dengan harapan agar harga obat dapat terjangkau oleh masyarakat luas. Jadi produsen obat generik tidak dapat menentukan harga obatnya sendiri.

Sedangkan obat bermerek, harganya tidak ditekan oleh pemerintah, sehingga produsen obat lebih leluasa menetapkan harga. Adapun terkait kedua jenis obat itu memiliki kandungan zat yang sama sehingga hanya kemasan saja yang berbeda. Khasiatnya? Jelas sama dan tidak memiliki perbedaan.

Namun mengapa OGB kurang populer di masyarakat? Jawabannya sederhana. Di luar kontrol dan kebijakan pemerintah, masalah mindset keliru yang menjadi persoalan. Mari kita menggunakan analogi berpikir cerdas. RS swasta menjual obat bermerek lantaran beberapa perusahaan farmasi tidak ingin rugi.

Mereka telah mengeluarkan biaya produksi dan lain sebagainya sehingga membandrol produknya dengan cukup mahal. Karena tidak bisa masuk ke puskesmas dan RS pemerintah, mereka akhirnya menguasai pasar RS swasta.

Tidak sedikit juga ada dokter yang mencari keuntungan pribadi dengan menyarankan pasien untuk membeli obat bermerek ke apotek tertentu. Banyak pula pasien yang terjebak dan percaya karena tak paham dengan dunia medis harus mengeluarkan biaya cukup banyak demi kesembuhan dirinya.

Solusinya
Untuk menghindari kejadian itu, ada baiknya mulai sekarang kita semua lebih mencintai OGB. Kita buang jauh-jauh perasaan gengsi untuk mengkonsumsi obat generik. Masyarakat Barat saja yang dikenal maju lebih memilih obat generik daripada obat branded kalau berobat. Mereka bangga minum obat generik sebab sama saja mempromosikan produk negara. Terus mengapa kita yang di sini tidak percaya dengan OGB?

Yang membedakan dengan masyarakat kita, masyarakat di negara maju sudah teredukasi dengan baik. Pengalaman yang terjadi di sini, pasien dengan entengnya menerima begitu saja resep dari dokter tanpa melakukan verifikasi lebih lanjut. Akhirnya pasien harus keluar duit banyak untuk beli obat mahal, padahal di apotek juga tersedia obat generik dengan harga jauh lebih murah.

Berpikir bahwa obat generik tidak manjur karena harganya murah sehingga terkesan murahan dan menganggap obat mahal lebih cespleng itu merupakan sebuah kecelakaan. Pasalnya obat generik itu dalam pembuatannya, mulai penentuan bahan pengadaan baku awal, produksi, hingga finish product, dilakukan melalui kontrol kualitas yang ketat, sebagaimana dilakukan saat memproduksi obat paten.

http://www.republika.co.id/berita/gaya-hidup/info-sehat/12/07/29/m7xbut-obat-generik-solusi-sehat-secara-murah

Advertisements