Kamis, 13 Desember 2012 Semen gresik

Oleh Erik Purnama Putra/Wartawan Republika

Sudah saatnya Semen Gresik (SG) tidak lagi hanya mampu berjaya di negeri sendiri. Sekarang adalah momentum yang tepat bagi SG untuk melakukan ekspansi. Tujuannya hanya satu, yaitu agar menjadi korporasi terkuat di kawasan regional

“Minimal kami di kawasan Asia Tenggara bisa menjadi nomor satu,” kata Direktur Utama (Dirut) PT Semen Gresik Dwi Soetjipto dalam sebuah wawancara dengan saya beberapa waktu lalu.

Momen perbincangan itu masih cukup melekat di benak saya. Target prestisius ditetapkan Dwi lantaran ingin perusahaan yang dikendalikannya bisa melakukan lompatan besar. Moncernya kinerja perusahaan membuat SG harus mulai berani merambah pasar negara tetangga. Memang selama ini hal itu sudah terjadi, namun baru tahap ikut meramaikan pasar. SG belum menjadi pemain utama di level ASEAN.

Sebagai produsen semen terbesar di Indonesia, sudah selayaknya SG bisa mengorbit lebih tinggi. Tidak berpuas menjadi raja di pasar domestik merupakan pilihan jitu. Strategi bisnis dalam mengarungi industri persemenan harus mulai ditata dan diubah. Tujuannya hanya satu, untuk merebut ceruk pasar yang begitu tinggi di negara tetangga.

Harus diakui kebutuhan semen dari tahun ke tahun di dalam negeri terus meningkat. Hal itu lantaran pembangunan infrastruktur Indonesia terus digiatkan karena masih relatif tertinggal dibanding negara tetangga. Pun dengan konsumsi per kapita semen masyarakat Indonesia yang hanya 160 kilogram termasuk rendah di kawasan Asia Tengara. Padahal di Thailand sudah mencapai 400 kilogram per kapita, dan Malaysia sebesar 600 kilogram per kapita.

Ekspansi
Melihat kecenderungan itu dan proyeksi pertumbuhan ekonomi ke depan maka kebutuhan semen akan terus bertambah. Apalagi pembangunan infrastruktur terus berjalan dan pasokan harus terus dipenuhi agar tidak kekurangan. Sehingga menjadi sangat potensial jika perusahaan terus berinvestasi dan melakukan ekspansi.

Dalam menangkap peluang pasar, tidak selayaknya SG hanya besar di negara sendiri. Dibutuhkan misi besar dan visi tajam dalam menangkap setiap peluang. Sehingga sangat tepat kalau memasuki umur ke-65, SG bisa berkibar di negeri tetangga. Jika mengacu target perusahaan, maka tidak ada salahnya untuk menguasai pasar Asia Tenggara sembari meningkatkan penetrasi pasar domestik.

Belum lagi kalau rencana SSG untuk mengakuisisi pabrik semen di Malaysia, Thailand, Filipina, dan Vietnam berhasil, bukan tidak mungkin mereka menjadi pemain terkuat di pasar regional ASEAN. Menjadi satu dari sedikit perusahaan BUMN yang mendapat penilaian performa terbaik harus menjadi pelecut SG berkibar di luar negeri.

Saat ini produksi Semen Gresik Group (SSG) yang terdiri SG, Semen Padang (SP), dan Semen Tonasa (ST) terus meningkat setiap tahunnya. Dari kapasitas 25 juta ton tahun ini, ditargetkan naik menjadi 26-27 juta ton tahun depan, dan 2014 setidaknya kapasitas produksi semen 30 juta ton per tahun dapat terwujud. Sehingga dapat dikatakan program penguasaan pasar sedang berlangsung.

Di tataran internal, korporasi sudah menunjukkan kinerja cemerlang. Jika pada 2004 keuntungan perusahaan masih sekitar Rp 500 miliar, pada 2011 sudah mencapai lebih Rp 3,3 triliun. Selain itu, saham berkode SMGR yang tercatat di bursa efek juga terus mengalami peningkatan akibat dipercaya investor. Akibat membaiknya perolehan pendapatan finansial maka saham tersebut menjadi incaran para investor.

Tentu menarik kalau mengacu pernyataan dirut PT Semen Gresik terkait rahasia sukses perusahaan. “Kunci sukses perusahaan adalah penerapan konsolidasi dan sinergi perusahaan. Setelah masalah internal tersebut dibereskan, perusahaan menata manajemen agar mampu menghasilkan produk berdaya saing tinggi dengan biaya yang dapat ditekan,” tegas Dwi.

“Menuntaskan penyatuan holding SGG melalui pendekatan sistem yang selama ini infrastrukturnya masih terpisah membuat integrasi sumber daya manusia (SDM) semakin memperkuat perusahaan di kalangan kompetitor,” tambah dia.

Namun semua itu jangan sampai membuat manajemen berpuas diri. Ingat falsafah kehancuran sebuah perusahaan karena menganggap paling unggul dan tidak mampu membaca gejala perubahan. Butuh perjuangan sangat keras dan dedikasi yang tinggi dari semua elemen perusahaan agar bisa menjaga tren korporasi mampu mewujudkan mimpi besarnya.

Jangan kesampingkan CSR
Menargetkan diri menjadi perusahaan besar jangan lantas membuat SG melupakan tanggungjawab sosial perusahaan (CSR). Pasalnya tren CSR bagi sebuah korporasi itu terus mengemuka dan menjadi isu seksi di kalangan investor. Peluang tersebut harus mampu ditangkap manajemen dengan baik. Apa pasal? Karena CSR merupakan sebuah tantangan dan bisa menjadi jebakan perusahaan kalau dikesampingkan.

Ingat kebesaran sebuah korporasi itu tidak hanya dinilai dari pendapatan yang berhasil dibukukan semata, melainkan seberapa besar dampak program CSR perusahaan bagi masyarakat. Apalagi era keberpihakan terhadap lingkungan terus menguat dan isu itu menjadi nilai strategis bagi merek korporasi untuk berjualan. Sehingga jangan sekali-kali mengabaikan, apalagi melupakan persoalan lingkungan.

Mengacu komitmen SG yang ingin menjadi perusahaan multinasional, namun tetap peduli pada lingkungan merupakan klaim yang masih perlu dibuktikan.  Berdasar UU Perseroan Terbatas  Pasal 74 Tahun 2007, dan UU Nomor 19 Tahun 2003 tentang BUMN, yang mengatur program CSR, menurut Dwi, pihaknya sudah menerapkannya dengan baik. Pasalnya setiap empat persen dari total laba perusahaan selalu disisihkan untuk program CSR.

“Bentuknya dalam berbagai kegiatan kemitraan masyarakat yang selalu dievaluasi mana yang efisien untuk diteruskan di tahun depannya. CSR sangat kami taati dan setiap tahunnya dana yang kami sumbangkan terus meningkat seiring naiknya perolehan laba,” kata Dwi. Benarkah demikian? Kita tunggu kiprah SG mewujudkan ambisi besarnya menjadi pabrikan semen di ASEAN ke depannya tanpa melupakan program tanggungjawab sosial perusahaan.

http://www.republika.co.id/berita/ekonomi/bisnis/12/08/06/m8b0jj-saatnya-menjadi-pemain-terkuat-di-regional

Advertisements