Senin, 17 Desember 2012

Oleh Erik Purnama PutraBanner Selangor

Baru-baru ini, Negara Bagian Selangor mendadak familiar di mata masyarakat Indonesia. Popularitas daerah yang dipimpin Menteri Besar Tan Abdul Khalid Ibrahim ini cepat populer gara-gara kedatangan presiden ketiga Republik Indonesia BJ Habibie pada 5 Desember lalu. Habibie datang ke Selangor untuk memenuhi undangan Anwar Ibrahim dengan agenda memberikan orasi ilmiah di Universitas Selangor (Unisel), Shah Alam.

Dalam ceramahnya, Habibie membawakan topik ‘Habibie dan Transisi Indonesia ke Demokrasi’. Sontak, persoalan demokrasi yang menjadi isu sensitif di Malaysia membuat banyak pihak antusias mengikuti pidato ilmiah Bapak Teknologi dan Demokrasi Indonesia itu.

Namun bukan itu yang menyita perhatian masyarakat Indonesia. Kedatangan Habibie ternyata membuat gerah mantan menteri penerangan Malaysia, Zainuddin Maidin. Sebagai politisi UMNO yang berseberangan dengan Anwar Ibrahim, selaku pimpinan PKR, kedatangan wakil presiden terakhir di era pemerintahan Soeharto itu dianggap sebagai ancaman serius.

Atas dasar itu, Zainuddin menulis opini di koran Utusan Malaysia pada 10 Desember 2012, berjudul Persamaan BJ Habibie dengan Anwar Ibrahim. Sayangnya, isi tulisan itu tidak mencerminkan sebuah pencerahan bagi pembaca. Yang ada malah informasi yang disajikan berupa penghinaan dan tuduhan serius kepada Habibie.

Zainuddin dengan dangkalnya menuding Habibie sebagai pengkhianat bangsa dan (maaf) anjing imperialis. Tulisan tidak pantas itu seketika mendapat respon keras dari pejabat legislatif, eksekutif, hingga tokoh masyarakat Indonesia.

Mereka marah dengan tulisan yang sangat nyinyir dan tendensius itu. Siapa pun yang membaca opini itu bakal marah lantaran tokoh yang mendapat tempat di hati masyarakat Indonesia itu diolok-olok oleh politisi Malaysia. Memang Zainuddin mengatasnamakan pribadi.

Namun siapa berani menjamin itu merupakan representasi pandangan warga Malaysia yang memandang rendah martabat rakyat Indonesia. Apalagi Zainuddin merupakan tokoh teras partai penguasa, yang bisa jadi memunculkan spekulasi tulisannya mewakili pandangan resmi pemerintah Malaysia.

Untuk menjaga agar hubungan kedua negara tidak terus memanas, Anwar Ibrahim dan Kerajaan Selangor mendesak Zainuddin meminta maaf. Sikap itu ditempuh sebagai upaya agar hubungan kedua negara serumpun itu tidak terganggu gara-gara ulah seorang yang melakukan penghinaan terhadap Habibie.

Hikmah sejak kasus itu mencuat, saya yang berkesempatan melakukan wawancara dengan Zainuddin melalui sembungan telepon menjadi tertarik untuk mengetahui lebih dalam segala hal tentang Selangor. Rasa penasaran saya cukup terpenuhi setelah mendapat banyak informasi yang disediakan internet tentang tempat pariwisata dari daerah yang paling maju di negeri jiran itu.

Namun kepuasan yang saya dapat tidak ingin berhenti sampai di situ. Ketika menemukan lomba My Selangor Story 2013, saya berharap bisa menjadi salah satu dari 20 orang yang beruntung bisa mendapat kesempatan untuk berkunjung ke Selangor. Tentu saja harapan saya ini didasari keinginan kuat untuk mengetahui budaya orang Melayu dan Malaysia, pada umumnya.

Semoga saja harapan saya itu terkabulkan. Pasalnya jika sampai terpilih, tentu saja wawasan dan pandangan saya yang miring tentang Malaysia bisa berubah jika bisa berkunjung ke sana. Ingat pepatah tidak kenal maka tak sayang dipegang teguh masyarakat Indonesia.

Jika tidak pernah kesampaian menginjakkan kaki ke Malaysia, tentu pandangan saya tetap seperti ini. Tapi kalau mendapat kesempatan berkunjung ke Selangor, siapa tahu stigma saya tentang warga Malaysia yang kerap melecehkan tenaga kerja Indonesia (TKI) bisa berubah.

Advertisements