Kota Qingdao (2)

Pusat Kota Qingdao (Erik Purnama Putra)

Selasa, 5 Februari 2013

Oleh Erik Purnama Putra

Jaket tebal yang saya kenakan tidak mampu menghalangi embusan angin malam yang menusuk kulit. Saya dengan tenang menuruni anak tangga pesawat Shan Dong Airlines. Pada akhir bulan lalu pada pukul 23.00 waktu setempat, udara di Bandara Internasional Liuting Qingdao berada di kisaran 10 derajat celcius.

Untungnya, sapaan pramugari cantik bermata sipit sedikit mengalihkan rasa dingin yang menyelimuti saya. “Xie xie,” sapa saya balik kepada sang pramugari cantik itu. Itulah momen pertama kalinya kaki saya menginjakkan tanah di negeri Panda. Kami dijemput Wakil Kepala Humas Hisense Stephen Qu dan staf humas Franx Qiong. Mereka berdua pula yang selalu mengantar kami selama perjalanan mengelilingi Qingdao.

Kunjungan saya ke Kota Qingdao, Provinsi Shandong, akhir bulan lalu atas undangan PT Hisense, perusahaan yang bergerak di bidang pembuatan alat elektronik. Saya dan dan empat jurnalis dari Jakarta mengunjungi kota yang disebut terbesar keempat terbesar di Cina itu.

Sejak keluar bandara, saya sudah mengagumi kota ini. Mobil yang saya tumpangi menyusuri jalan tol yang sepi nan lebar menuju pusat kota. Berbeda dengan di Indonesia, di Cina semua kendaraan menggunakan jalur kanan. Saya mencoba menahan rasa kantuk untuk melihat pemandangan di sepanjang jalan yang dilewati.

Di kiri kanan, tampak sekali terasa denyut perekonomian kota ini sangat tumbuh. Mudah sekali menemukan kompleks apartemen yang dibangun menjulang tinggi. Anehnya, saya tidak menemukan bangunan rumah di sepanjang jalur yang dilewati. Setelah menempuh perjalanan sekitar 30 menit, saya sampai di penginapan yang berada di jantung kota di Hotel Shangri-La.

Meski kemacetan hanya terjadi ketika jam pulang kerja, namun pemerintah daerah (pemda) setempat sepertinya ingin segera menyediakan transportasi massal bagi warganya. Kepedulian menyiapkan sarana transportrasi publik memang patut diacungi jempol. Selain dengan mudah menemukan angkutan bus umum mirip Transjakarta di sepanjang jalan utama, saat ini sedang berlangsung pembangunan Metro alias subway.

Meski satu lajur kiri dan kanan terpakai untuk pembangunan Metro, namun masih ada tiga lajur tersisa. Itu lantaran jalan raya yang membelah kota Qingdao cukup lebar. Ditambah warganya yang gemar naik bus umum dan jalan kaki untuk jarak pendek membuat kemacetan tidak terlalu tampak. Apalagi trotoar di sepanjang jalan cukup lebar hingga membuat warga cukup nyaman berjalan kaki.

“Maju sekali cara berpikir orang Cina. Ketika kita masih berencana dan butuh waktu lama untuk mengerjakannya, mereka sudah bertindak,” kata Adi, salah satu wartawan Ibu Kota. Kalau proyek kereta bawah tanah selesai dua tahun lagi, tentu saja kemacetan di Qingdao yang saya nilai belum parah bakal teratasi.

Perpaduan kuno dan modern

Salah satu sudut kota tua di Qingdao

Salah satu sudut kota tua di Qingdao

Qingdao merupakan salah satu cerminanan betapa majunya Cina. Kota berpenduduk hampir 9 juta jiwa ini dulunya pernah menjadi jajahan Jerman yang menginjakkan kakinya pada 1897. Letaknya yang berada di pesisir timur Cina membuat bangsa Eropa tertarik untuk menduduki kawasan ini. Militer Bangsa Arya itu terusir dari Qingdao pada 1914 setelah ditaklukkan Jepang.

Namun ada hikmah tersendiri di balik penjajahan Jerman. Perumahaan khas abad 20 yang selama ini menjadi tempat tinggal tentara Jerman diwariskan kepada pemerintah negeri Panda. Semua bangunan masih tegak berdiri di sana. Bahkan dengan dijadikannya kawasan yang disebut Old City itu menjadi cagar budaya oleh pemda setempat membuat kita seolah berada di Eropa ketika berkunjung ke sana.

Karena itu tidak lengkap rasanya kalau tak mampir ke Old City. Di kawasan ini, selain bangunan cagar budaya beraksitektur the Bavarian yang masih terawat dengan baik, bisa dilihat pula sepanjang mata memandang tidak ditemukan sampah. Selain dikelilingi rimbunan cemara dan pepohonan, kawasan ini sangat tenang. Banyaknya mobil keluaran pabrikan Jerman semakin melengkapi suasana khas Eropa.

Karena dikelilingi banyak taman, hampir setiap harinya ada saja pasangan melakukan foto pre wedding. Selain nuansa asri, semilir angin yang didapat juga semakin menambah romantisme pasangan yang melakukan sesi foto. Kita juga bisa mendapati warga yang ingin membuang kejenuhan dengan memancing di kolam. Namun tujuan mereka memang untuk melepas penat, bukan sengaja mencari ikan.

Kunjungan kami ke sana hanya 15 menit. Belum puas momotret, Stephen sudah mengajak kami berkeliling sepanjang Old City. Saya mendapati tidak ada rumah rumah kuno yang kondisinya memprihatinkan. Menurut Stephen, semua rumah itu menjadi hak milik dan aset berharga negara sehingga benar-benar dirawat dengan baik.

Rasa penasaran saya terjawab saat mendapati beberapa rumah kuno berukuran besar gerbangnya dijaga ketat anggota militer. “Kawasan perumahan di sekitar sini dijadikan tempat tinggal Presiden Cina atau pejabat lainnya kalau sedang berkunjung atau sengaja bermalam di sini,” jelas Stephen.

Perjalanan dilanjutkan dengan melihat sisi Old City yang rumahnya bisa ditempati warga. Di sini, suasana tidak setenang sebelumnya. Mirip pasar. Wisatawan bisa dengan mudahnya mendapati warga yang sedang berbelanja kebutuhan pokok. Mereka yang ingin berkeliling melihat lebih jauh bisa memanfaatkan trem yang melaju di jalur utama kalau enggan bercapai ria.

Kendaraan yang mudah dijumpai di Eropa itu membelah jalan di sepanjang Old City. Trem melaju memanfaatkan aliran listrik yang terpasang di atas jalan. Cukup jauh juga rute trem sebab saya mendapati transportasi publik itu juga melewati jalan tol.

Tidak ada rumah

Pemandangan bertolak belakang dengan Old City dapat ditemui di sepanjang kota. Setelah berkeliling, saya tidak mendapati satu rumah pun di sepanjang jalan. Bahkan ketika masuk jalan kecil, tidak pula ditemukan rumah yang dihuni warga. Usut punya usut, ternyata oleh pemda setempat semua penduduk Qingdao diwajibkan tinggal di apartemen. Hal itu menjadi wajar kalau melihat banyak apartemen menjulang di mana-mana.

Model apartemen tidak berbeda jauh dengan di kota-kota besar di Indonesia. Untuk mengantisipasi kekurangan di masa depan, saya melihat puluhan apartemen bertingkat puluhan juga sedang banyak dibangun. “Ini untuk mengantisipasi sempitnya lahan. Kalau tidak diapartemenkan, pemda tidak bisa menyediakan lahan hijau dan membangun taman-taman besar di setiap penjuru kota,” beber Stephen.

Menuju pinggiran kota, memang terlihat kawasan perumahan. Namun tempat itu diperuntukkan hanya untuk kalangan menengah ke atas. Rumahnya memang terlihat cukup luas dengan dikelilingi taman di semua sisi. Dari satu rumah ke rumah lain jaraknya juga cukup lebar. “Harga satu rumah di sini sekitar Rp 18 miliar,” kata Stephen. Kawasan itu memang terlihat sepi dan melihat tempatnya yang dekat laut maka sangat pantas harga sebesar itu diterapkan.

Tertib

Saya harus mengacungkan jempol untuk warga Qingdao. Sejauh yang saya ketahui, mereka cukup disiplin di jalan raya. Hampir tidak terdengar klakson di berbagai perempatan lampu merah. Ketika saya melewati kemacetan Qingdao menuju hotel pukul 17.00 WIB saat waktu jam pulang kerja, kendaraan tampak berjejer rapi. Tidak ada yang mencoba saling menerobos. Begitupun pekerja maupun anak sekolah yang menunggu bus, semuanya mengantre dengan tertib di halte pemberhentian.

Perlu diketahui, warga Qingdao gemar berjalan kaki. Sudah menjadi ciri khas penduduk di sana jika langkah mereka cukup cepat. Mereka tidak sedang terburu-buru, namun kebiasaan jalan pelan-pelan sangat sulit ditemukan di sana.

Kendaraan roda dua memang dilarang beroperasi di hampir semua wilayah kota Qingdao. Hanya di daerah pinggiran yang masih jarang penduduk sepeda motor diperbolehkan beroperasi. Alhasil lebih mudah menemukan orang yang mengendarai sepeda daripada sepeda motor.

Namun saya melihat ada satu dua orang yang nekat menungganggi motor tanpa mengenakan helm di tengah kota. Tentu tujuan mereka tidak terlalu jauh dan hanya untuk jarak dekat. “Sepeda motor dilarang karena risiko kecelakaannya tinggi. Ini demi kebaikan bersama,” jelas Stephen.

Tidak ada polisi

Pemandangan berbeda dengan Jakarta, meski macet kita tidak akan menemukan polisi di jalanan. Di Qingdao, polisi seperti sudah percaya dengan kedewasaan pengendara. Polisi hanya akan turun ke jalan jika ada masalah, seperti kecelakaan. Tingginya tingkat disiplin warga membuat tugas polisi tidak terlalu berat.

Meski begitu, bukan berarti masyarakat sulit menemukan polisi. Mereka tetap disebar di sepanjang sudut kota yang menjadi titik keramaian. Dengan jarak tertentu, kita bisa menemukan pos polisi di pinggir jalan. Mereka berkantor di sebuah mobil berbentuk kotak yang bisa berpindah setiap saat. “Angka kriminalitas di sini sangat kecil. Tugas polisi di sini hanya menjaga keamanan yang tidak terlalu sulit.”

Untuk membuktikan ucapan Stephen, saya mencoba jalan-jalan malam hari. Saat itu sekitar pukul 23.30 waktu setempat. Dengan embusan udara dingin, saya sangat jarang berpapasan dengan warga setempat. Malah, di jalanan di pusat kota, saya mendapati empat sekawanan bule yang sedang bercanda. Dari raut wajah mereka tampak santai berjalan di malam hari tanpa takut menjadi korban kriminalitas. “Memang aman,” batin saya.

Belanja

Qingdao Dijing Plaza

Qingdao Dijing Plaza

Tidak lengkap kalau tak mampir ke Qingdao Dijing Plaza. Di pasar tradisional ini, saya berbelanja barang-barang pesanan teman yang menitip oleh-oleh. Kali ini saya didampingi salah satu humas Hisense, Franx Qiong. Panda adalah barang pertama yang saya buru. Ketika menemukan barang yang saya cari, saya angkat Panda itu. Sepertinya pedagang yang masih berusia sekitar 20 tahun itu mengerti bahasa isyarat saya.

Dia menunjukkan kalkulator dengan tulisan 12 yuan. Satu yuan di tempat penukaran uang harus ditebus dengan harga sekitar Rp 1.600. Setelah saya menawar, kesepakatan didapat dengan harga 10 yuan. Karena hanya empat panda yang tergeletak di antara tumpukan boneka, saya ambil semuanya.

Saya mengeluarkan pecahan 100 yuan, dan mendapat kembalian masing-masing satu lembar 50 yuan dan 10 yuan. Harga itu sangat murah. Sebagai perbandingan, keesokan harinya di salah satu toko di Qingdao International Airport, harga satu boneka panda itu dilabeli 60 yuan.

Setelah berkeliling di lantai basement, saya tertarik dengan penjual topi berlambang bintang dan tokoh pergerakan Cina era kemerdekaan. Dua kali masuk toko itu saya tidak menemukan kesepakatan lantaran tawaran harga saya ditolak pemilik toko.

Lalu apa yang terjadi? Tanpa diduga, nenek pemilik toko mengomel dengan bahasa yang saya tidak mengerti. Dia sepertinya memaki saya. “Di Cina, tradisi orang kalau sudah melihat-lihat barang dua kali tapi tidak membeli maka membuat pemilik toko marah,” jelas Franx Qiong.

Saya sebenarnya ingin membeli topi berlambang bintang berwarna merah. Sang pemilik toko mematok harga 40 yuan dan saya menolaknya. Namun setelah berkeliling dan tidak mendapati harga yang lebih murah dengan desain lebih baik, saya meminta bantuan Franx untuk menjelaskan kepada nenek tadi. Entah mengapa, sang nenek yang ketika saya kembali sedang bermain mahyong dengan pemilik toko sebelahnya itu berubah mengumbar senyum.

Malah saya mendapat kortingan 10 yuan. Saya membeli lima buah topi dengan harga 140 yuan. Sebelum meninggalkan toko, saya salami nenek itu yang malah tersenyum. “Ada-ada saja,” pikir saya. Franx tampak senang pula melihat momen itu.

Karena diburu waktu, saya masih menyempatkan diri membeli dua kaos dan satu celana panjang. Satu kaos bergambar Deng Xiaoping, dan satunya gambar bendera ideologi komunis yang dilarang di Indonesia. Anda tahu sendiri maksud saya tentunya. Kerudung untuk oleh-oleh tidak ketinggalan saya borong. Total saya membelanjakan sekitar 400 yuan, yang saya pikir cukup untuk oleh-oleh teman di Indonesia.

Zhanqiao Pier

Pantai Qingdao menjadi pemisah Cina dan Korea Selatan (Korsel), Korea Utara (Korut), dan Jepang. Berada di semenanjung laut Shandong membuat Zhanqiao Pier menjadi jujugan wisatawan domestik dan asing. Warga Cina daratan yang tinggal di sisi selatan gemar berkunjung ke pantai yang terkenal dengan ombaknya yang besar ini. Ribuan orang terlihat memenuhi sepanjang bibir pantai. Namun karena cuaca cukup dingin dengan tiupan angin yang cukup kencang, tidak ada yang bermain air.

Saya memilih menikmati pemandangan pantai dengan menyusuri jembatan sepanjang hampir 100 meter di tengah pantai. Ujung jembatan ini adalah sebuah paviliun segi delapan yang disebut the Huilan. Paviliun ini berarsitektur Cina kuno dengan warna merah mendominasi bangunan.

Kalau tertarik ingin masuk ke dalam pengunjung garus membayar tiket 10 yuan. Penjaga pintu pavilion adalah seorang kakek-kakek. Isi dalam paviliun tersebuh adalah mirip museum mini tentang kelautan dan beragam patung kecil yang memperlihatkan kehidupan biota laut. Namun pengunjung jarang masuk ke dalam. Di luar pavilion penjual aksesoris dan makanan laut khas Qingdao berjejer memutar.

Sebelum balik, kami menikmati pemandangan pelancong yang memberi makan burung camar di tengah jembatan. Puluhan burung yang terbang rendah itu tampak asik berebut potongan kue yang diiris kecil dan dilemparkan ke udara. Jika gagal menyabetnya, sang camar pun akan mengambil kue yang mengambang di laut.

Ada tiga nenek penjual potongan kue yang dibungkus kresek kecil. Kejadian unik tersaji di depan saya. Ketika ada wisatawan mau membuang bungkus makanan setelah selesai memberikan makanan pada burung, si nenek dengan cekatan meminta kantong itu. Saya langsung kaget dan salut dengan kedisiplinan warga setempat.

Katanya, hal itu dilakukan karena mereka tidak ingin mengoroti pantai yang terkenal dengan kebersihannya itu. Warga setempat sangat sadar bahwa pantai menjadi lahan kehidupan mereka. Kalau kotor dan dipenuhi sampah tentu bakal jarang ada wisatawan yang mau berkunjung ke sana.

Kemajuan Qingdao

Waktu saya banyak dihabiskan dengan berkunjung ke Hisense Information Park yang berada di distrik Huangdao. Perlu perjalanan hampir sejam tanpa kemacetan dari pusat kota Qingdao. Kami merasakan sensai melewati sebuah terowongan di bawah laut sepanjang delapan kilometer. Dari penuturan Stephen, terowongan bernama Qingdao Jiaozhou Bay Tunnel itu berada paling dalam berada 87 meter di bawah permukaan laut.

Namun data Wikipedia melansir panjang terowongan bawah air ini sepanjang 5,5 km, dengan tempat terendah di angka 70,5 meter di bawah permukaan laut. Jembatan itu baru diresmikan pada 1 Juli 2011. Hanya kendaraan roda empat ke atas yang boleh melewati terowongan yang disinari lampu di sepanjang jalur ini.

“Kalau sepeda motor diizinkan lewat, sangat berbahaya. Bahkan di jalur utama dalam kota, sepeda motor dilarang lewat,” katanya. Di ujung jalan, petugas penjaga tol mengenakan tarif sekitar Rp 48 ribu kepada pengemudi mobil. Setelah melewati terowongan, di sisi kiri jalan kita bisa melihat dermaga tempat pabrik baja. Mirip galangan kapal, tapi luasnya sungguh besar.

Ketika sampai di lokasi yang memiliki luas puluhan hektare, kami mengunjungi tempat pembuatan telepon pintar (smartphone), tablet, kulkas, hingga televisi. Dari situ, saya hanya mendapati para pekerja berusia muda. Sepertinya mereka baru lulus dari sekolah menengah kejuruan (SMK), jika saya tidak salah prediksi.

Tentu untuk urusan disiplin pekerja Cina yang rata-rata masih muda memang harus diacungi jempol. Bahkan saya melihat beberapa barang elektronik milik merek ternama dari Jepang malah dibuat pekerja Hisense. “Karena biaya pembuatan di sini lebih murah,” kata Stephen menjelaskan.

Setelah puas berkeliling mengunjungi pusat pembuatan barang elektronik, rombongan diajak balik menuju Hisense Tower yang terletak di tengah kota Qingdao. Uniknya, dari Huangdao, rombongan diajak memutar melewati tol yang tidak sama dengan jalur keberangkatan.

Wow, ternyata kami diajak melewati Qingdao Haiwan Bridge alias Jiaozhou Bay Bridge sepanjang 42,5 km yang melewati Teluk Jiaozhou. Sebagai perbandingan, Jembatan Suramadu panjangnya hanya 5,2 km. Bentangan jembatan ini bercabang di tengahnya. Kalau dari Huangdao menuju Qingdao bisa mengambil sisi kanan. Sedangkan satunya lagi mengarah ke Pulau Quigdao atau dekat dengan bandara.

Qingdao Haiwan Bridge menyandang status sebagai jembatan terpanjang di dunia. Biaya pembuatannya sekitar 8,5 miliar dolar AS atau Rp 81,6 triliun. Bentangan jembatan ini terbelah menjadi dua bagian di tengah-tengah, yang satu menuju pusat kota dan satunya ke arah Pulau Quigdao.

Uniknya, di sepanjang jembatan lalu lintas berjalan tertib. Tidak seperti di Jembatan Suramadu, yang dengan mudah kita menemukan orang menghentikan kendaraannya untuk berfoto dan bernarsis ria. Di Qingdao Haiwan Bridge, saya tidak menemukan pemandangan itu. “Di sini tidak boleh orang turun dari kendaraan untuk berfoto,” Stephen mengingatkan. Kesempatan mengabadikan diri pupus sudah.

Ketika jam makan siang, kami bersantap dengan menu makanan laut di lantai 25 Hisense Tower. Setelah berbincang sedikit, kami diajak menaiki tangga menuju atap gedung (rooftop). Hisense Tower merupakan salah satu gedung pencakar langit yang berdiri di pusat kota. Betapa indahnya penataan kota Qingdao dari pengamatan saya.

Dari ketinggian 100 meter, seluruh penjuru kota terlihat jelas. Ternyata kota terbesar keempat di Cina ini tampak didominasi lahan hijau. Jika bukan perkantoran, bangunan itu bisa dipastikan adalah apartemen. Itulah hebatnya pemerintah setempat, warga direlokasi untuk tinggal di apartemen sehingga mereka bisa menyediakan banyak ruang terbuka hijau.

Dari situ pula, saya bisa bisa memandangi garis pantai Qingdao yang merupakan bagian semenanjung Laut Kuning. Meski banyak turis domestik dan asing, terlihat tidak ada tumpukan sampah. Yang ada hanyalah hamparan pasir coklat yang tertata rapi.

Karena letaknya yang strategis, Qingdao juga menjadi basis marinir Cina. Itu bisa dipahami sebab kota ini sangat mudah menjangkau ibu kota Korsel, Seoul maupun ibu kota Korut, Pyoangyang, bahkan Jepang. Tidak heran, di pantai bersiaga kapal perang milik marinir. Apalagi saat ini Itu lantaran sekarang hubungan antara Cina dan Jepang sedang memanas karena berebut klaim pulau Diaoyu/Senkaku.

Cina menganggap Pulau Diaoyu masuk teritorialnya, dan Jepang mengklaim Pulau Senkaku sebagai daerahnya. “Kota ini memang paling strategis sehingga markas utama Cina Navi ditempatkan di Qingdao,” jelas Stephen.

Satpam cantik

Kami diajak bergeser ke Hisense Plaza. Pusat perbelanjaan ini termasuk kategori yang hanya menjual barang mewah. Tidak terlalu menarik kesan saya tentunya. Selain memang harga jual yang dipajang ditujukan untuk kaum jet set, berkunjung ke mal merupakan rutinitas yang sering dilakukan di Jakarta. Eits, tapi tetap ada sisi menarik di sini. Saya mengakui pemandangan itu baru pertama kali saya temukan. Apa itu?

Ternyata petugas keamanan yang menjaga parkiran Hisense Plaza adalah perempuan muda. Saya setidaknya sempat melihat tiga wanita cantik berkacamata hitam, mengenakan jaket oranye dan sepatu boot tinggi, serta berambut panjang dikuncit model kuda. Selain cantik dan terlihat modis, mereka dikenal ahli kungfu. Stephen menjelaskan, tugas utama mereka selain menjaga keamanan mobil adalah mengatur mobil pengunjung plasa. “Konsep memberdayakan perempuan ini pertama kalinya dicetuskan Hisense Plaza.”

Beban kerja itu sebenarnya tidak terlalu berat. Pasalnya di Qingdao sangat jarang terjadi kasus pencurian kendaraan dan di setiap sudut parkir juga terpantau kamera CCTV. Tidak sembarang orang bisa mendaftar pekerjaan tersebut. “Minimal tingginya 170 centi meter,” katanya. Tapi dengan syarat dan seleksi ketat mereka yang berhasil menjadi petugas keamanan setiap bulannya bisa mendapat gaji sekitar Rp 8 juta.

Pesawat

Banyak pilihan maskapai yang terbang dari Jakarta ke Guangzhou. Maskapai yang saya tumpangi adalah China Southtern Airlines dengan biaya 5.542 yuan (Rp 8,53 juta). Kalau beruntung mendapat harga promo tiket bisa didapat dengan menebus di kisaran Rp 7 juta. Perjalanan memakan waktu sekitar lima jam. Perjalanan dilanjutkan dari Guangzhou ke Qingdao dengan menumpang Air China. Harga tiket mencapai 1.260 yuan (Rp 1,94 juta) dengan lama dua jam 30 menit.

Visa

Biaya visa ke Cina sebesar Rp 540 ribu.

Advertisements