Kamis, 14 Februari 2013 Garuda Indonesia

Oleh Erik Purnama Putra

Menjadi seorang jurnalis tidak bisa dimungkiri merupakan profesi menyenangkan. Mendapat kesempatan liputan ke luar kota menjadi salah satunya. Kalau sudah ditunjuk kantor, perjalanan ke luar kota merupakan sebuah pengalaman menyenangkan tentunya.

Selain tidak perlu mengeluarkan ongkos tiket pesawat dan segala transportasi ditanggung pengundang, saya juga bisa tahu budaya daerah. Selain itu, saya bisa tahu keadaan bandara yang menjadi tempat mendarat pesawat. Dari bandara itu pula, saya jadi tahu potensi dan tingkat kemajuan sebuah kota.

Kesempatan pertama ke luar kota ketika berkarier di Jakarta adalah ditunjuk ikut Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono ke Madiun pada Juni 2011. Agendanya adalah mengunjungi PT Inka sekaligus meninjau pesanan PT Kereta Api Indonesia (KAI).

Dari Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, rombongan humas turun di Bandara Adi Soemarno, Solo. Kemudian menuju Stasiun Balapan untuk melanjutkan perjalanan ke Madiun menggunakan kereta khusus yang perjalanannya terasa cepat lantaran tidak berhenti di satu stasiun pun.

Perjalanan kedua bersama Menteri Koordinator Kesejahteraan Agung Laksono dengan agenda safari Ramadhan ke Balikpapan. Karena acaranya biasa saja, tidak banyak pengalaman berkesan yang saya ingat.

Pengalaman sangat seru dapatkan ketika ditunjuk ikut Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Jusuf Kalla alias JK untuk menghadiri acara di Ambon. Untuk pertama kalinya, saya menikmati perjalanan udara lewat Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur.

Rombongan yang terdiri enam orang lepas landas pada Sabtu (1/10), pukul 01:00 WIB menggunakan pesawat pribadi. Tiba di Bandara Pattimura pukul 06:00 WITA. Keesokan harinya, saya menikmati perjalanan ke Ternate, Poso, dan transit di Makassar, sebelum sampai di Ibu Kota pukul 21:00 WIB.

Ketika ribut-ribut kasus pencaplokan kawasan perbatasan di Desa Camar Bulan, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, saya berinisiatif meliput ke sana. Bersama teman wartawan Jawa Pos, saya turun di Bandara Supadio, Pontianak. Setelah menempuh perjalanan empat jam, akhirnya saya mengingap di Hotel Pantura Jaya.

Setelah menempuh perjalanan hampir empat jam, saya sampai di Desa Camar Bulan. Sebuah perjalanan melelahkan dan pengalaman luar biasa bisa menginjakkan kaki di patok perbatasan. Satu kaki menginjak Bumi Pertiwi, satunya lagi sudah masuk negeri jiran. (bersambung).

Advertisements