Senin, 18 Februari 2013 Bandara Halim Perdanakusuma

Oleh Erik Purnama Putra

Kesempatan ke luar kota tentu tidak bisa disia-siakan begitu saja. Hingga kini, ada tiga perjalanan paling berkesan ketika mendapat tugas ke luar kota. Pertama, ikut Jusuf Kalla merasakan pesawat khusus. Karena pesawat hanya berkapasitas tujuh orang, maka saya bisa bercengkerama dan mendengar setiap percakapan JK sepanjang perjalanan ke Ambon, Ternate, Poso, dan transit di Makassar. Kerennya, saya melihat JK ganti baju di dalam pesawat.

Kedua, penerbangan bersama Wakil Menteri Pertahanan (Wamenhan) Sjafrie Sjamsoeddin ke Bandung dan Surabaya menggunakan Fokker 28 Nomor Register A-2801. Kunjungan ke Bandung terkait joy flight pesawat CN-235 pesanan kepolisian Korea Selatan di Bandara Husein Sastranegara. Ketika saya baru mencicipi kue pertama yang disediakan pramugari, kotakan langsung diangkut lantaran pesawat segera mendarat. Perjalanan sekitar 25 menit itu terasa menyenangkan, meski singkat.

Kesan kedua terkait dengan pengalaman merasakan konferensi pers pertama di dalam pesawat. Dalam perjalanan balik dari kunjungan PT PAL, Wamenhan sepertinya perlu menyampaikan penjelasan lebih detail terkait hasil kunjungan melihat perkembangan pembangunan kapal cepat rudal dan tug boat.

Karena target penyelesaian proyek meleset dari target maka Sjafrie cukup geram dengan kinerja PT PAL. Dia mengingatkan kinerja industri pertahanan dalam negeri agar bisa tepat waktu karena menyangkut kredibilitas lembaga. Semua pemaparan itu disampaikannya dalam waktu 10 menit di atas Pulau Jawa.

Ketiga, pengalaman pertama ke luar negeri menumpang maskapai asing, China Southern Airlines menjadi hal tak terlupakan. Mungkin terkesan udik. Namun bagi saya, hingga kini masih terngiang kuat perjalanan dari Jakarta untuk singgah di Guangzhou, sebelum melanjutkan tujuan akhir di Qingdao, tempat jembatan terpanjang dunia dibangun. Melihat megahnya Bandara Internasional Guangzhou dan serunya pertama kali menginjakkan kaki di negeri orang merupakan kesan tak tergantikan.

Di luar tiga pengalaman itu, masih banyak kisah tidak kalah seru lainnya. Misalnya, perjalanan ke Jayapura, ke Bandar Lampung, Medan, dan Pekanbaru meliput Pekan Olahraga Nasional (PON) selama dua pekan. Bisa menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di Bumi Cenderawasih, saya sangat bersyukur. Serasa mimpi yang menjadi kenyataan. Apa pasal? Saya sempat melukiskan keindahan alam Papua seperti percikan surga. Sebuah kontur alam yang mungkin hanya ada di Papua dan pemandangannya seperti melihat Jawa era-80an.

Pengalaman terbang ke Bandar Lampung sebenarnya tidak terlalu berkesan. Yang saya ingat malah perjalanan darat dari ibu kota Provinsi Lampung itu ke Mesuji yang memakan waktu sekitar 5 jam. Saya menginap di rumah penduduk transmigran Jawa, yang mengingatkan saya saat masih kecil tentang suasana keguyupan warga desa.

Pun dengan di Medan, hanya bisa mengingat sebagian sudut kotanya. Itu lantaran tujuan utama saya saat itu adalah ke Aceh Timur. Rombongan dikawal ketat kepolisian yang siaga dengan senapan di tangannya. Maklum, hingga kini keamanan di Aceh belum pulih benar dan masih tetap dianggap rawan.

Untuk perjalanan ke Gorontalo bersama Menteri Hukum dan HAM Amir Syamsuddin, juga biasa-biasa saja. Hanya mampir ke wisma di pinggir Danau Limboto sebelum balik ke Bandara Djalaluddin yang teringat. Saya menyempatkan diri berfoto di depan tempat yang dulu pernah dijadikan penginapan Soekarno itu.

Begitu juga ketika mendarat di Bandara Ahmad Yani, Semarang. Lantaran bandaranya kecil dan berada di samping empang, hal itu yang malah saya ingat daripada perjalanan menuju tempat liputan di Kudus. Lucunya, meski tiga kali transit di Bandara Sultan Hasanuddin, saya belum pernah menginjakkan kaki di Makassar.

Di luar itu, saya paling sering menginjakkan kaki di Bandara Abdul Rachman Saleh. Selain karena rumah saya di Malang, saya juga beberapa mendapat tugas liputan di Malang, dan sontak menjadikan bandara milik TNI AU itu menjadi tempat favorit di dalam memori otak saya.

Kalau dipikir-pikir, tinggal Kepulauan Sunda Kecil yang belum saya kunjungi. Semoga tahun ini, harapan itu bisa terlaksana dengan setidaknya berkunjung ke Bali, Nusa Tenggara Barat, atau Nusa Tenggara Timur. Dalam hati, ketika awal tahun, saya membuat resolusi agar sepanjang 2013, minimal bisa mengunjungi 10 provinsi. Hingga Februari ini, saya sudah mengunjungi dua provinsi. Tinggal delapan provinsi yang belum terlaksana dan masih ada waktu 10 bulan untuk mewujudkannya.

Advertisements