Pantai Kuta

Pantai Kuta, Mataram difoto dari Bukti Mandalika, Kamis (21/3)

Ahad, 24 Maret 2013

Oleh Erik Purnama Putra

Waktu menunjukkan pukul 15:30 WITA, Kamis (22/3), ketika saya menatap jam dinding di Bandara Internasional Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Saya baru saja menikmati perjalanan singkat, sekitar 30 menit dari Bandara Sultan Kaharuddin, Sumbawa Besar. Masih ada waktu tiga jam 30 menit, sebelum melanjutkan perjalanan ke Bandara Ngurah Rai, Denpasar. Mungkin merasa bosan kalau harus berdiam menunggu di bandara, kami sepakat berjalan-jalan ke pantai terdekat.

Dari 10 rombongan staf Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT), hanya enam orang, termasuk saya yang setuju agar waktu transit dimanfaatkan dengan mengunjungi tempat pariwisata terdekat. Saya termasuk yang mengompori mereka agar setuju dengan usulan jalan-jalan. “Ayolah, kita keluar bandara agar saya tahu tempat wisata di Mataram,” rayu saya.

Ketika usulan saya diterima, kami sepakat mengunjungi sebuah pantai di Desa Kuta. Saya begitu antusias menyambutnya. Maklum, saya belum pernah menginjakkan kaki provinsi yang dijuluki Bumi Sejuta Sapi itu. Empat orang lainnya tetap memilih menunggu di café di dalam bandara dengan alasan capai.

Setelah bertemu dengan orang yang menyewakan mobil di pintu keluar bandara dengan harga sewa Rp 350 ribu, kami segera meluncur ke lokasi. Namun, perlu diingat, Pantai Kuta yang dimaksud bukan di Bali yang kesohor itu, melainkan sebuah pantai pasir putih yang kebetulan memiliki kesamaan nama.

Pengemudi bernama Adenan yang merupakan warga keturunan suku Sasak itu memacu mobil dengan kecepatan tinggi. Jalanan mulus dan sepinya kendaran lalu lalang, dilibas secara sempurna oleh sang sopir. Ketika melewati Desa Sade yang berada di sisi kiri jalan, ia tidak lupa mengingatkan penumpang tentang keberadaan desa yang dikemas pemda setempat menjadi desa wisata,

Perlu sekitar 20 menit perjalanan dari bandara untuk sampai di pantai yang menjadi salah satu jujugan favorit bule untuk melakukan surfing itu. Tidak seperti di Sumbawa, selama perjalanan ke Pantai Kuta, saya tidak menemukan kambing, kerbau, dan sapi di sepanjang jalan yang berkeliaran.

Ternyata, di sepanjang pantai sudah banyak berdiri tempat penginapan hingga hotel. Kami diantar sang pengemudi ke arah bibir pantai di dekat Resort Mandalika. Baru turun dari mobil, sekitar tujuh anak laki-laki yang mengaku masih berstatus siswa SD itu menawarkan kelapa muda.

Kami semua cuek saja ketika ditawari lantaran belum merasa haus. Setelah semuanya puas berfoto ria dan berjalan kaki mengelilingi karang yang menjorok ke laut, kami duduk berteduh di bibir pantai yang steril dari sampah itu. Ketika itu, di sepanjang bibir pantai tidak ada wisatawan satu pun. Hanya ada satu perahu pariwisata yang sandar ditinggal pemiliknya.

Namun, anak-anak yang kulitnya gelap karena terpapar sinar matahari itu sepertinya melihat peluang. Dengan rada sedikit memaksa agar dagangannya laku, mereka meminta kami membeli kelapa muda itu seharga Rp 10 ribu per buah. Entah kasihan atau sudah haus, Pak Rodiyat, kepala bagian pemberitaan Kementerian PDT, membeli enam kelapa muda.

Setelah ditawar, harga yang dijual seharga Rp 5 ribu per buah. Setelah itu, Dengan cekatan mengunakan golok, mereka membuat lubang di atas batok kelapa untuk diserahkan kepada kami. Melihat dagangan rekannya laku, tiga anak kecil perempuan mendekat ke saya. Itu setelah lima orang lain tampak tidak berminat dengan gelang yang dijual anak-anak itu.

Tiga anak itu menjual satu gelang dengan harga Rp 5 ribu. Saya bergeming. Mereka terus merengek minta barangnya dibeli. Setelah saya tidak merespon tawaran mereka, ketiganya kompak menurunkan harga menjadi Rp 10 ribu dapat tiga gelang. “Belilah mas, gelangnya bagus-bagus, asli sini,” desak mereka.

Karena kasihan dan memang ingin membawa oleh-oleh untuk teman-teman di Jakarta, saya buru-buru mengeluarkan selembar uang Rp 50 ribu. Tampak senyum mengembang ketika saya menyetujui tawaran mereka. Saya memilih secara asal sembilan gelang dari tiga anak itu, sebelum mendapat kembalian Rp 20 ribu. Itu lantaran kelima rekan saya sudah menunggu di mobil yang akan bergeser ke Bukit Mandalika, sekitar satu kilometer dari lokasi sekarang.

Saya pikir, harga gelang yang ditawarkan ketiga anak itu sangat murah kalau dibandingkan dengan yang dijual di bandara. Bahkan, di banding dengan gelang yang saya beli di Bandara Sepinggan, harganya lebih murah empat kali lipat.

Eksotisme Pantai Kuta Bibir Pantai Kuta, Mataram

Hanya butuh tiga menit, sebelum sang sopir memarkir mobilnya hingga kami turun untuk menyeberangi jembatan kayu yang rapuh guna menuju Bukit Mandalika. Di tengah jembatan sepanjang 15 meter itu, didirikan monumen seorang putri cantik yang dikejar tiga pangeran tampan.

Menurut Adenan, berdasarkan legenda masyarakat setempat, dahulu kala di situ merupakan tempat putri Mandalika yang cantik melakukan aksi bunuh diri dengan melompat dari atas bukti. Sang putri melakukan itu lantaran gamang dalam menghadapi kegelisahan hatinya yang dikejar banyak pangeran. Karena tidak bisa memilih dan takut menyakiti pemuja yang mengejarnya, ia lebih memilih mengakhiri hidupnya.

Ternyata, di balik bukit itu cukup banyak pengunjung termasuk bule yang memilih menikmati keindahan pantai dari situ. Itu lantaran ombak di sepanjang pantai lebih besar dan cocok buat mereka yang ingin menikmati olahraga berseluncur papan.

Jam menunjukkan pukul 17:30 WITA. Salah seorang mengingatkan waktu dan mengajak untuk bergegas pulang. Namun, saya belum bersemangat untuk meninggalkan Pantai Kuta. Saya meminta agar 30 menit lagi balik ke bandara. Karena usulan satu orang itu kalah suara, segera ketujuh orang, termasuk sang sopir menuju bukit Mandalika.

Gila! Ternyata pemandangan laut tampak eksotik dari atas. Dengan nafas sedikit tersenggal, saya mengeluarkan Samsung Galaxy Tabs untuk memotret objek karena kamera tertinggal di mobil. Saya sampai memutar badan untuk mengagumi keindahan alam yang luar biasa itu. Kemudian, kami merebahkan kaki sebentar untuk bercengkerama sambil melihat pemandangan di bawah.

Pukul 17:50 WITA yang masih terlihat terang di sana, kami menuruni bukit menuju mobil. Dengan cekatan, sang sopir menghidupkan AC untuk menghilangkan rasa gerah kami yang terlihat bercuruan keringat. Sekitar pukul 18:15 WITA, rombongan sampai di bandara. Karena sudah mengurus check in keberangkatan, kami menunggu di café, tempat rombongan lain memilih berdiam di bandara.

Tidak lama kemudian, panggilan dari maskapai Garuda Indonesia dengan penerbangan tujuan Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta dengan lebih dulu transit di Bandara Ngurah Rai berkumandag. Hanya perlu 32 menit untuk sampai di Bali. Karena ada jeda 1 jam 30 menih, saya staf Kementerian PDT untuk mencari tempat makan di luar bandara yang sedang direnovasi itu. Mereka menyanggupinya lantaran juga lapar.

Usai makan, kami segera menuju gate 19, karena pesawat segera berangkat. Tentu saja, sepanjang perjalanan itu saya manfaatkan untuk memejamkan mata setelah seharian beraktivitas. Saya bersyukur, karena tidak perlu mengeluarkan duit sepeser pun sepanjang menikmati perjalanan kunjungan kerja dua hari ke NTB.

Serunya, baru kali ini sekali tugas keluar kota, bisa menginjakkan kaki di lima bandara. Rutenya adalah, berangkat dari Jakarta pesawat transit di Denpasar sebelum turun di Bandara Salahudin, Dompu, Rabu (21/3). Sore usai acara panen raya jagung di Kabupaten Dompu, rombongan Menteri PDT Helmy Faishal Zaini menyusuri jalur darat ke Sumbawa selama empat jam. Sempat terjadi insiden salah satu mobil menyerempet sapi yang tiba-tiba menyeberang jalan, namun rombongan terus melaju.

Rombongan disambut Bupati Sumbawa Jamaludin Malik untuk dilanjutkan sebuah ramah tamah dengan beberapa tokoh setempat di pendopo yang merupakan rumah dinasnya. Pukul 23:00 WITA, usai makam malam, saya menginap kota yang menjadi tempat pabrik pendulang emas, PT Newmont itu.

Rombongan menteri sendiri, pulang sejam lebih awal setelah berpisah di Bandara Sultan Kaharuddin dengan menyewa pesawat milik PT Newmont dengan tujuan Bandara Ngurah Rai, sebelum bertolak menuju Jakarta. Ah, pengalaman tidak terlupakan!

Advertisements