Depok Lama

Depok Lama

Kamis, 2 Mei 2013

Oleh Erik Purnama Putra

Siapa sangka, kalau Kotamadya Depok pernah mempunyai presiden. Bahkan, presiden warga Depok sudah ada sebelum Republik Indonesia berdiri. Meski begitu, daerah hasil pemekaran Kabupaten Bogor ini memiliki presiden bukan dalam kapasitas sebagai kepala negara. Presiden yang dimaksud adalah pendiri Depok lama, yang merupakan cikal bakal berdirinya kota berikon belimbing dewa ini.

G Jonathans adalah presiden Republik Depok yang terakhir karena pada 4 Agustus 1952 pemerintah Indonesia mengambil alih seluruh tanah partikelir Depok. Kecuali gereja, sekolah, balai pertemuan, dan lahan pemakaman, semuanya diambil alih dikuasai pemerintah dengan kompensasi ganti rugi sebesar Rp 229.261,26.

Depok pada abad ke-18 merupakan daerah administratif yang memiliki gemeente bestuur alias pemerintahan sipil. Penguasa pertama Depok bernama Cornelis Chastelein. Pria kelahiran Amsterdam, Belanda (10 Agustus 1657-28 Juni 1714) ini dapat dikatakan sebagai pendiri Depok pada 18 Mei 1693, setelah menguasai seluruhnya tanah di daerah itu.

Di tahun itu, pria berdarah Prancis ini mbabat alas dengan tujuan membuka lahan garapan. Cakupan teritorialnya sangat luas. Selain menjadi tuan tanah di area administratif Depok sekarang, Pasar Minggu (Jakarta Selatan) hingga Gambir (Jakarta Pusat) termasuk yang dikuasainya. Hal itu sebenarnya tidak mengherankan, sebab Chastelein merupakan pedagang ulung yang sukses dalam merintis usahanya.

Meski demikian, capaiannya itu tidak bisa dinafikan berkat bantuan para budaknya yang berasal dari berbagai suku daerah. Tidak ada angka pasti berapa jumlah budak itu.  Tercatat, hamba sahaya itu berasal dari Jawa, Sunda, Bali, Bima, Bugis, hingga Ambon. Saat itu, praktik perbudaan masih marak dan berlangsung di berbagai belahan dunia, tidak terkecuali Indonesia.

Namun sebagai penganut Kristen Protestan yang taat, Chastelein dikenal sebagai pribadi welas asih. Atas pertimbangan kemanusiaan dan ketentuan penghapusan perbudaan di Amerika Serikat dan Eropa, ia mengikuti arus untuk memerdekakan budaknya. Chastelein memberi perhatian lebih bagi mereka yang mau masuk agama yang dianutnya.

Namun berdasarkan catatan Yayasan Lembaga Cornelies Chastelein (YLCC), para pekerjanya itu dibagi ke dalam dua belas marga, yaitu Bakas, Isac, Jonathans, Joseph, Laurenz, Leander, Loen, Samuel, Sudira, Tholence, Yakob, dan Zadoch. Nama yang disebut terakhir berjenis kelamin perempuan. Karena menganut sistem budaya paternalistik, garis keturunannya berhenti pada diri Zadoch. Mereka inilah yang menurut YLCC sebagai penduduk pertama yang mendiami Depok.

Berkat keharmonisan dengan mantan budaknya itu, pedagang VOC tersebut menjadikan daerah penyangga Batavia ini menjadi kawasan berkembang seperti sekarang. “Pusat keramaiannya berada di kawasan Depok laman,” kata Pembina YLCC Pendeta Carlo Leander.

Saksi sejarah

Sisa-sisa pusat peradaban Chastelein dan 12 marga itu dapat dengan mudah dijumpai di kawasan Depok lama. Sayangnya, sebagaimana kebiasaan masayarakat kita yang kurang peduli akan warisan sejarah membuat bangunan kuno itu kondisinya memprihatinkan. Ditambah kebijakan Pemkot Depok yang tidak menjadikan kawasan ini sebagai cagar budaya membuat aura tempoe doeloe menjadi pudar.

Saya mencoba menyusuri area Depok lama yang terletak di Kecamatan Pancoran Mas. Cukup mudah mencapai kawasan ini. Dari arah Jakarta, kita bisa menghabiskan Jalan Raya Margonda hingga bertemu perempatan. Nah, ketika sampai di ujung jalan, wilayah itu sebenarnya sudah masuk kawasan bersejarah.

Kalau ingin lebih dalam menyaksikan bangunan kuno, bisa memilih opsi lurus melewati Jalan RA Kartini atau belok kiri ke Jalan Siliwangi, tempat Rumah Sakit (RS) Hermina berdiri. Di kawasan ini, penduduknya didominasi penganut agama Kristen, karena mereka keturunan langsung d dengan banyak gereja berdiri kokoh.

Di belakang RS Hermina, sekitar 100 meter saya menyusuri masuk Jalan Kamboja. Di situlah letak pemakanan seluruh keturunan 12 marga pendiri Depok lama. “Luas lahan di sini sekitar 8.800 meter persegi,” kata Yoseph (55 tahun), penggali kubur yang sudah bekerja selama 44 tahun. Saat itu, bersama ketiga rekan lainnya, ia baru saja memakamkan generasi kedelapan dari salah satu budak Chastelein.

Cukup mudah menandai bahwa kuburan ini sudah berusia kuno. Saya menemukan banyak nisan orang meninggal bertuliskan abad ke-19. Batu nisan milik Adolf van Der Capellen di antaranya tertulis lahir pada 15 Januari 1825 dan meninggal pada 6 April 1888. Karena berusia dua abad, kata Yoseph, areal makam sudah penuh. Otomatis untuk menyiasatinya kalau ada yang meninggal, tempat pemakamannya digabung dengan keluarga yang lebih dulu mangkat.

Ia sudah lupa berapa kali memindah makam atau menyatukan rangka keluarga untuk dimakamkan di situ. Berdasarkan estimasinya, tidak kurang sekitar 2 ribu orang sudah dikubur di taman pemakaman khusus penyandang 12 marga. “Tempat pekuburan ini termasuk bersejarah dan bisa menjadi salah satu bukti betapa peradapan Depok sudah ada sejak lama,” katanya.

Saya melanjutkan perjalanan menyaksikan heritage ke blok lain di Jalan Pemuda. Di sinilah pusat keramaian Depok masa lalu berada. Terbukti, banyak peninggalan bangunan tua yang masih bisa disaksikan, meski sebagian sudah berganti menjadi rumah pribadi dan perkantoran.

Salah satu gedung tua yang kondisinya masih terlihat bagus adalah Rumah Sakit Harapan Depok (RSHP). Tempat ini dulu merupakan kediaman Chastelein. Karena dirawat YLCC, arsitektur rumah sakit tertua di Depok tetap dipertahankan. Saya menyempatkan diri masuk ke dalam gedung untuk menengok aktivitas warga yang tengah berobat atau memeriksaan kesehatan, dan berbincang dengan staf medis. Kesan gedung kuno yang masih terawatt terlihat dari tembok, tiang penyangga, dan atap yang masih kokoh.

Di depan RSHP, masih tersisa satu rumah kuno dalam kondisi terawat. Yang mencolok, tentu saja arsitekturnya yang berbeda dengan deretan rumah di sampingnya, karena menonjolkan kesan Eropa. Hanya saja, ketika saya ke situ, rumah tampak tertutup dan sepertinya tidak ada aktivitas dari penghuninya di dalam.

Berjalan terus ke arah timur, saya mendapati SD Pancoran Mas II yang merupakan bangunan lawas peninggalan Belandan. Geser sedikit, ada Gereja Jemaat Masehi yang didirikan pada 1714, yang sekarang berganti nama menjadi GPIB Immanuel Depok. Bersebelahan dengan gereja, berdiri sekolah menengah pertama (SMP) Kasih.

Saya masuk dan menginjakkan kaki di situ. Mencoba memandangi bangunan, saya merasakan sendiri kualitasnya masih sangat terjaga dan tampak terawat. Sebagian gedung SMP Kasih dijadikan pusat aktivitas pengurus YLCC. Mereka inilah yang selama ini mengurusi semua aset 12 marga keturunan budak yang dibebaskan Chastelein.

Gedung YLCC yang terletak di Jalan Pemuda, Depok, sangat khas berarsitektur Belanda. Coraknya adalah tiang di depan bangunan dan atap yang tinggi sangat menonjolkan kesan kegagahan gedung, meski berusia lebih dari 200 tahun. Di dalamnya terpampang sejumlah lukisan dan foto Abraham Schurkogell, pendeta yang datang ke Depok pada era 1817-1827. Sayangnya, saya tidak menemukan foto Chastelein.

Tetapi, jejak peninggalannya dapat terlihat di dinding kantor YLCC dekat pintu masuk. Di situ terukir surat wasiatnya kepada 12 marga untuk mengelola lahan garapan yang ditinggalkannya. Pesan Chasetelein ditulis dalam bahasa Belanda dengan terjemahan bahasa Jawa ejaan lama.

Carlo menyarankan pemda agar tergerak mengeluarkan kebijakan guna melestarikan kawasan bersejarah, khususnya di Jalan Pemuda. Pasalnya, sebagai cikal bakal Kota Depok, sangat tepat kalau Depok lama mendapat perhatian khusus. Selain untuk menghidupkan pariwisata karena memiliki nilai sejarah tinggi, kata dia, agar bangunan bersejarah yang tersisa tetap terjaga.

Sesuai analisisnya, kalau saja wilayah Jalan Pemuda ditata dan dikembangkan, ia optimis bakal banyak wisatawan yang datang ke tempat tersebut. “Harus disosialisasikan karena banyak situs cagar budaya bersejarah yang perlu dilestarikan di sini,” ujarnya.

Hilangnya bangunan bersejarah

Cukup mudah menemukan berbagai peninggalan tersisa di Depok lama. Usai menyusuri Jalan Siliwangi dan Jalan Pemuda, saya melanjutkan perjalanan ke Jalan RA Kartini. Di tempat ini, situs peninggalan bangunan sudah banyak yang hilang. Rumah buatan Belanda sudah berganti menjadi ruko karena dijual pemiliknya yang merupakan keturunan dari 12 marga yang mendapat warisan dari Chastelein.

Tidak cukup, rumah tertua dari salah satu keluarga budak itu sudah berganti menjadi stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU). Tempat pengisian bahan bakar yang terletak di sisi barat jalan ini terbilang baru kalau dilihat dari bangunanannya. Ada tiga tangki pengisian plus satu tangki yang diperuntukkan khusus motor.

Madun, pria yang sehari-hari bekerja sebagai penarik becak menjadi saksi pembongkaran rumah-rumah tua. Ia memang tidak tahu secara persis alasan pemilik rumah menjual tanah dan bangunan yang memiliki nilai sejarah tinggi itu. Hanya saja, berdasarkan informasi yang diterimanya dari penuturan warga setempat, pemiliknya sengaja menjual rumahnya karena dibeli dengan harga. Hal ini bisa dimaklumi lantaran lokasinya sangat strategis, berada di jalur utama Kota Depok.

Si seberang SPBU, kata Madun, deretan ruko baru saja dibangun dan selesai pada 2011. Padahal, dulunya di situ berdiri rumah dengan ciri memiliki halaman yang ditanami pepohonan hijau. “Rumah aslinya sudah dibongkar. Mereka menjual tanah di situ, dan tidak tahu sekarang tinggal di mana,” ujarnya.

Setelah ditelusuri lagi, di belakang ruko itu masih ada satu rumah kuno yang terselamatkan. Rumah berarsitektur Negeri Kincir Angin itu didiami warga keturunan dari 12 marga. Namun sayang, ketika itu rumah dalam keadaan tertutup rapat dan tidak terlihat penghuninya.

Di jalan itu pula saya mendapati tiang setinggi sekitar 10 meter yang termasuk warisan penjajahan kolonial Belanda. Tiang yang menjulang di pinggir jalan raya itu dulunya digunakan sebagai tiang telepon satu-satunya yang dibangun pada 1900. Sebagai salah satu situs serajah, tentu kondisinya tidak terbilang layak karena dibiarkan tanpa terawatt. Tentu pula, kalau ada rencana pelebaran jalan keberadaan tiang itu dipastikan terancam.

Kemudian, di sela Jalan Kartini itu saya masuk gang untuk melanjutkan perjalanan ke Stasiun Depok lama (Stadela). Jarak stasiun dari jalan raya sekitar 40 meter. Selain ramai dilewati kendaraan dan orang jualan, deretan warung dan parkir yang semrawut semakin menambah kesan kusam di salah satu stasiun tertua di Jabodetabek ini.

Stasiun Stadela sangat strategis karena berada di tengah jalur kereta dari Jakarta (Batavia)- Bogor (Buitenzorg). Stasiun ini dibangun pada masa kemerdekaan, seiiring makin berkembangnya wilayah Depok. Sebelum stasiun ini dibangun, penggunaan kareta api rel listrik  antara Stasiun Kota (Beos)-Bogor sudah dioperasikan sejak tahun 1930. Hanya saja saat itu, kereta tidak berhenti di Depok karena masih jarangnya penduduk di daerah itu,

Melewati Jembatan Panus

Jembatan Patus

Jembatan Patus

Merasa cukup memandangai dan menjelajahi stasiun, saya bergerak ke arah timur di Jalan Tole Iskandar menuju Jembatan Panus lama. Keberadaan jembatan ini dapat dikatakan sebagai saksi bisu perkembangan sejarah Depok. Jembatan yang telah mengalami beberapa kali pemugaran ini dibangun pada 1917. Pencetus jembatan ini adalah seorang insinyur Belanda, Andre Laurens. Penamaan Panus dikaitkan dengan seorang warga bernama Stefanus Leander yang tinggal di samping jembatan tersebut.

Jembatan yang membelah Sungai Ciliwung ini dulunya merupakan jalur penghubung tunggal warga yang mau melanjutkan perjalanan ke Bogor. Seiiring berjalannya waktu, karena lebar jembatan sekitar empat meter, kemampuan jembatan dalam menerima beban kendaraan berat cukup mengkhawatirkan. Maka, dibangun jembatan baru di samping jembatan lama yang dipergunakan sebagai jalur kendaraan bermotor. Adapun Jembatan Panus lama, hanya digunakan warga yang tinggal di daerah perbukitan di sekitar situ.

Meski begitu, ada sisik unik dari jembatan ini. Ternyata di tiang-tiang jembatan tua ini sengaja diberikan tanda sebagai pengukut ketinggian air sungai yang berasal dari hulu sungai di Puncak dan Bogor  yang menuju ke Jakarta. Makin tinggi permukaan air tentu terukur di tiang-tiang, yang menandakan semakin besar kemungkinan Jakarta dilanda banjir kiriman. Sehingga, dari Jembatan Panus ini dapat diukur berapa besar potensi ancaman banjir di Ibu Kota.

Sayangnya, ketika saya ingin bertamu ke rumah warga setempat yang merupakan keturunan langsung 12 marga, kesan tertutup saya rasakan. Salah satu warga enggan berkomentar ketika saya datangi, dan menyarankan untuk bertanya kepada Pak RT. Sayangnya, perlakuan sama saya dapatkan. Pak RT dengan entengnya mengaku sebagai pendatang dan orang Jawa, sehingga kurang tepat kalau berbicara sejarah warga Depok lama.

Padahal, sebelum melakukan survei tempat, saya mendapati bahwa warga yang tinggal di sisi barat Sungai Ciliwung, sebelum Jembatan Panus merupakan warga keturunan 12 marga yang merupakan pemeluk kristiani. Namun, kesan menghindar sudah saya dapatkan ketika sejak awal percakapan mereka menunjukkan bahasa tubuh ingin segera mengakhiri perbincangan.

Akhirnya, berkat bantuan seorang pemuda, saya diajak bertamu ke rumahnya untuk bertemu Pak Alexander (73 tahun). Ia merupakan sesepuh di kampung tersebut, dan masih menjalankan tradisi leluhurnya. Meski begitu, ia hanya mau menjawab sepintas beberapa pertanyaan saya, sebelum izin undur diri karena ingin istirahat.

Menurut Alex, Jembatan Panus dulunya merupakan jembatan gantung yang menjadi transportasi vital warga Depok. Karena belum ada jembatan yang bisa menghubungkan sisi barat dan timur yang dibelah Sungai Ciliwung, keberadaan Jembatan Panus menjadi jantung transportasi bagi warga yang ingin berpergian ke Bogor. “Jembatan yang asli sudah berubah, pondasinya tidak begitu. Tapi, ini termasuk jembatan sejarah,” katanya.

Di rumahnya yang terbilang cukup representatif itu, Alex menjelaskan bahwa sebagian keturunan dari 12 marga masih menjalankan tradisi leluhurnya. Selain menggelar temu kangen sebulan sekali yang dibungkus acara arisan, juga acara ritual khusus yang menjadi tradisi keluarga besar mereka tetap dipertahankan.

Bahkan, baru-baru ini sudah terbentuk dua yayasan yang bertugas untuk menggelar pertemuan antarkerabat. Pada bulan Desember, kata dia, pertemuan berlangsung meriah karena sekaligus memperingati Hari Raya Natal dan perayaan tahun baru. Alex menghitung, ada sekitar 200 kepala keluarga yang tinggal di daerah yang merupakan tanah warisan Chastelein itu. “Sebagian pekerjaan warga adalah bertani, karena di sini banyak pohon rambutan, duku, durian, dan kecapi,” katanya.

Advertisements