Kamis, 2 Mei 2013

Gong Si Bolong

Gong Si Bolong

Oleh Erik Purnama Putra

Adigum bahwa setiap daerah di Indonesia memiliki kesenian tradisional tidak perlu dipertanyakan lagi. Depok salah satunya yang memiliki kesenian tradisional yang lahir dari budaya masyarakat bernama Gong Si Bolong. Sebagaimana umumnya kesenian pribumi, keberadaan Gong Si Bolong cukup terancam kelestariannya. Itu lantaran generasi muda sekarang enggan mempelajari setiap kesenian daerah yang dianggap kuno.

Kondisi itu menjadi keprihatinan tersendiri bagi Buang Jayadi, penggiat sanggar kesenian Gong Si Bolong. “Anak muda semakin sedikit yang tertarik dengan kesenian daerah,” keluhnya ketika saya bertamu ke rumahnya di Jalan Tanah Baru Nomor 9, RT/RW: 01/07, Kelurahan Tanah Baru, Kecamatan Beji, Kota Depok belum lama ini.

Ia baru saja selesai menunaikan shalat Zuhur ketika saya bertamu ke rumahnya. Dengan hanya mengenakan kaos oblong, bersarung, dan memakai kopyah, Buang tampak gundah menghadapi tantangan agar bisa melestarikan budaya lokal. “Budaya luar sudah menggerus minat pemuda terhadap warisan budaya alat music Gong Si Bolong,” sentilnya.

Buang dikenal sebagai generasi ketujuh dari penemu kesenian Gong Si Bolong. Ia mengaku tidak pernah berpikir bakal menggeluti dunia seni tradisional. Namun karena pendahulunya mangkat dan mewariskan alat musik itu kepadanya, ia tidak bisa menolak. Padahal, ia tidak pernah diajari untuk memainkan alat musik yang menjadi bagian Gong Si Bolong. “Saya bisa memainkan berbagai alat karena dulu sering melihat saja,” katanya.

Bahkan, sejak 2007, ia diangkat sebagai pimpinan yayasan Gong Si Bolong. Ia harus merelakan sebagian rumahnya untuk dijadikan sanggar, meski dengan luas terbatas sekitar 3×5 meter. Di tempat itu, ia meletakkan berbagai peralatan musik tradisional yang biasanya digunakan latihan sepekan sekali.

Sejarah Gong Si Bolong

Buang mengemukakan asal mula Gong Si Bolong. Pada suatu malam di area persawahan yang dialiri air terjun di Sungai Krukut, Kampung Curug, Tanah Baru, seorang tokoh agama setempat, Jimin dikejutkan bunyi suara gamelan. Setelah dilakukan penelusuran, Jimin mendapati seperangkat gamelan yang tertimbun di tanah, dengan susunan rapih.

Karena merasa takjub dengan seperangkat alat musik tradisional itu, ia membawa pulang ke rumahnya. Jimin berani membawa pulang gamelan yang terdiri dari gong dan gendang yang diberi nama Si Gledek dan Bende itu lantaran tidak merasa yakin tidak ada pemiliknya. Dalam perjalanannya, Jimin terus merawat gong yang memiliki lubang (bolong) di tengahnya itu hingga tertarik untuk memainkannya.

Sepeninggal Jimin, alat musik itu berpindah tangan ke Anim, selaku generasi kedua yang alat musik yang kemudian disebut Gong Si Bolong. Begitulah silsilah keluarga ini menurunkan kreativitas dalam menjaga dan memainkan gong, gamelan, dan kendang, ketipung itu.

Pada awalnya, Buang tidak pernah berpikir bakal mendapatkan amanah untuk merawat warisan Gong Si Bolong dari generasi keenam, Bahrudin. Namun proses regenerasi yang ditentukan alam lantaran setiap leluhur yang meninggal selalu mewasiatkan kepada anak kandungnya, membuatnya kebagian amanah itu.

Karena merasa ada tanggung jawab pribadi dan punya ketertarikan untuk memainkannya, Buang mulai menekuni alat musik khas Depok ini. Alasan lain yang menggelayutinya, kalau bukan dirinya, siapa lagi yang mau menjaga aset budaya di daerahnya.

Menurut Buang, remaja sekarang semakin jauh meninggalkan identitasnya dengan budaya lokal. Ia berani bertaruh, sangat sedikit orang yang mampu memahami kebudayaan daerah lantaran terbawa arus modernisasi. Hal itu pula yang membuatnya tergerak untuk mencari kader yang mau menggeluti kesenian Gong Si Bolong agar tidak tergerus jaman dan bisa eksis di masyarakat.

Namun kegundahannya sedikit tertolong lantaran beberapa kali anak sekolah menengah atas (SMA) dan mahasiswa datang bertandang ke rumahnya. Memang tujuan mereka bukan ingin belajar langsung bagaimana memainkan beragam alat musik itu.

Motivasi siswa dan mahasiswa itu hanya ingin melakukan penelitian untuk menyelesaikan tugas sekolah dan kampusnya terkait benda sejarah. “Kalau yang datang kebanyakan mahasiswa ingin penelitian sejarah. Kami mengenalkan saja,” kata Buang.

Ia melanjutkan, kesenian Gong Si Bolong memerlukan setidaknya 13 orang setiap kali pentas di panggung. Sekali tampil, ia bisa mendapat bayaran Rp 6 juta atau bisa jauh di atas angka itu, tergantung siapa yang mengundang. Bayaran itu dibagi rata setiap pemain yang terlibat pementasan.

Biasanya, selain menampilkan tarian jaipong, juga bisa dipadu dengan wayang kulit, wayang betawi, ataupun wayang golek. Hal itu dilakukan sesuai tema penampilan agar penonton tidak bosan.

Meski perjalanan Sanggar Gong Si Bolong sempat mengalami pasang surut, namun pria berusia 67 tahun ini tidak menyerah menekuni permainan tersebut. Atas pengabdiannya itu, kepala lurah Tanah Baru pada 1996 Haji Liman mendirikan Tugu Tanah Baru dengan simbol Gong Si Bolong di perempatan jalan desa setempat.

Sejak ditunjuk sebagai pemimpin Sanggar Gong Si Bolong pada 2007, nasib baik berpihak padanya. Setelah sempat dipandang sebelah mata oleh pemerintah daerah setempat, ia malah mendapat banyak penghargaan dari pemerintah pusat. Pada 2011, sedikitnya ia memperoleh dua penghargaan dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf). Penghargaan di bidang Pelestarian dan Pengembang Warisan Budaya diberikan oleh mantan menteri Parekraf Jero Wacik.

Penghargaan lain berupa Anugerah Kebudayaan Tahun 2012 yang diberikan Wapres Boediono. Tidak cukup, ia juga mendapat bantuan uang tunai dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada 2012 yang digunakannya untuk memperbaiki sanggar Gong Si Bolong yang bertempat di rumahnya. “Alat-alat sementara disimpan, dan saya berharap sanggar segera diresmikan agar Gong Si Bolong bisa dipajang,” ujar bapak lima anak ini.

Karena proses renovasi sudah selesai, ia ingin secepatnya sanggar miliknya dapat diresmikan. Untuk itu, ia terus melakukan kontak intensif dengan Dinas Pemuda Olahraga Pariwisata Seni dan Budaya Pemkot Depok. Tujuannya agar saat sanggar diresmikan nanti bisa lebih meriah dan mendapat perhatian seluruh khalayak warga Depok.

Ikon yang dilupakan

Kendati urusan kesejahteraan sekarang bukan lagi menjadi persoalan lantaran tawaran manggung tampil datang silih berganti, namun Buang masih memendam harapannya untuk mempromosikan Gong Si Bolong. Hal ini terkait dengan keputusan pemda menjadikan buah belimbing sebagai ikon Kota Depok.

Buang merasa lebih tepat kalau Depok menjadi Gong Si Bolong sebagai ikon kota. Selain sebagai sarana melestarikan sejarah warisan budaya bangsa, sebuah simbol itu hendahknya menunjukkan karakter masyarakat setempat. Usulannya itu sempat mendapat perhatian pemda, dan menimbulkan pro kontra di kalangan warga. “Ini pernah saya obrolkan dan koordinasi dengan Dinas Pariwisata, tapi menimbulkan pro kontra,” ungkapnya.

Gara-gara kegigihannya memperjuangkan Gong Si Bolong, ia mendapat perhatian khusus daripada sebelumnya dari Pemkot Depok. Selain dianggap sesepuh yang peduli dalam menjaga kebudayaan, ia disebut sebagai tokoh yang layak diteladani lantaran berusaha memberikan sumbangsih terhadap pembangunan Kota Depok. “Langkah ini agar budaya kita tidak tergerus.”

Terlepas benar tidaknya legenda penemuan itu, kesenian Gong Si Bolong sudah menjadi warisan budaya tak ternilai yang dimiliki Depok. Sebab itu, menjadi tugas Pemkot Depok pula untuk ikut melestarikannya.

Advertisements