Selasa, 7 Mei 2013 Jelajah Madiun

Oleh Erik Purnama Putra

Perjalanan berdirinya pemerintahan di Madiun tidak bisa dilepaskan dari Kesultanan Demak. Adapun salah satu tokoh yang berperan aktif menyebarkan Islam adalah Hadratussyeh Eyang Kyai Ageng Basyariyah alias Raden Bagus Harun. Ulama asli Ponorogo ini adalah mbah warengnya pendiri Nahdlatul Ulama (NU) Kyai Muhammad Hasyim Asy’ari. Dengan kata lain, Abdurrahman Wahid alias Gus Dur adalah keturunan ketujuh dari Raden Bagus Harun.

Untuk menjalankan syiar Islam, Raden Bagus mendirikan Masjid Sewulan di tanah perdikan hasil pemberian Paku Buwono II pada 1743. Hadiah itu diberikan Paku Buwono lantaran Raden Bagus membantunya dalam menumpas pemberontakan RM Gerendi. Paku Buwono II yang sempat kehilangan tahta akibat Pemberontakan Pacinan di Batavia pada 1941 yang merembet hingga menduduki tampuk Kesultanan Mataram.

Karena berutang jasa, Raden Bagus mendapat kompensasi untuk mengelola tanah yang dikuasai Mataram itu. Letaknya sangat strategis karena berada di tepi sumber mata air dan sungai dengan aliran bening. “Wilayahnya membentang dari Ponorogo, Madiun, Nganjuk, hingga Kediri,” kata pengelola Masjid Sewulan, Muhammad Baidowi alias Gus Mamad.

Menurut dia, penamaan Sewulan diambil lantaran Raden Bagus memulai pendirian masjid di Bulan Ramadhan. Karena menginginkan malam Lailatul Qadar alias malam seribu bulan atau dalam bahasa Jawa disebut sewu wulan dan disingkat Sewulan.

Masjid Sewulan terletak sekitar 6 kilometer arah selatan dari Kota Madiun. Masjid seluas 30×30 meter ini memiliki motif unik karena merupakan perpaduan budaya Islam dan Hindu. Tidak salah, seni Jawa sangat mendominasi nuansa masjid yang memiliki atap mirip pura itu. Pendiriannya melibatkan seluruh masyarakat dengan pemilihan material bangunan terbaik agar penyelesaiannya cepat.

Gus Mamad menjelaskan, tempat ibadah yang dibangun leluhurnya itu meniru arsitek bangunan di pusat pemerintahan Mataram. Namun karena semangat transformasi budaya dari Hindu ke Islam sangat kuat, pendirinya mencoba memadukannya dalam sebuah rancangan masjid yang tampak kokoh.

Tidak heran, pilar masjid dibuat dari kayu jati pilihan yang berusia tua agar sanggup tegak ratusan tahun. Yang membedakan dengan masjid lainnya adalah dinding Masjid Sewulan tebalnya sekitar 1 meter. “Dan sekarang, setelah berusia 270 tahun, masjid masih berdiri tegak,” katanya.

Ia menyatakan, setiap sisi bangunan masjid masih asli seperti sedia kala. Yang berubah hanya lantai yang dikeramik setelah direnovasi Kyai Pengulu Surabaya Mohammad Qolyubi bin KM Ilyas pada 1921. Sebelumnya, lantai masjid beralaskan tanah. Sebagai salah satu keturunan Raden Bagus, Kyai Mohammad Qolyubi mendatangkan tegel porselen dari Belanda.

Setelah tiba di Pelabuhan Tanjung Priok, tegel itu diangkut kereta api untuk dibawa ke Stasiun Madiun, dan selanjutnya dibawa ke masjid. Selain itu, pemugaran mencakup pelebaran area depan yang diberi atap sehingga lebih luas. “Selebihnya, bangunan masjid yang ada sekarang asli.”

Untuk menjaga kesucian masjid, setiap orang yang memasuki masjid akan melewati genangan air di setiap pintu masuk. Alhasil, ketika ada kaki kotor pasti terendam lebih dulu sebelum menginjak masjid.

Tempat ziarah Gus Dur

Ketika menjabat presiden Republik Indonesia keempat, kata Gus Mamad, Gus Dur menjadikan Masjid Sewulan sebagai tempat favorit untuk didatangi. Ia masih ingat, ketika politik di Ibu Kota sedang panas-panasnya, Gus Dur mengunjungi makam Raden Bagus, yang terletak di belakang masjid. “Tiga bulan sebelum lengser, Gus Dur datang berziarah ke makam,” katanya.

Menurut Gus Mamad, kebiasaan itu ternyata terbawa usai mantan ketua umum PBNU itu tidak lagi menjabat orang nomor satu di negeri ini. Kalau sebelumnya kedatangan Gus Dur terkait kunjungan kenegaraan, selanjutnya agendanya hanya sebuah kunjungan keluarga. Gus Dur masih mengunjungi makam leluhurnya sembari menggelar dialog antarumat beragama dan aliran kepercayaan.

Sekarang, ia melanjutkan, aktivitas masjid sangat hidup karena tidak hanya dijadikan sarana shalat saja. Masjid Sewulan ramai dikunjungi peziarah yang menyempatkan mampir dalam perjalan ke makam Wali Songo. Selain itu, setiap malam jumat legi, sekitar seribuan orang datang silih berganti berdoa dan beribadah di masjid. Pengurus masjid juga menyelenggarakan ibadah khusus, yaitu shalat tasbih dan hajat yang dilakukan jamaah khusus yang dimulai pukul 00:00 WIB. Ritual diakhiri dengan bacaan tahlil dan surat yasin.

Mengunjungi Situs Mangir

Di Madiun, terdapat banyak situs berusia ratusan tahun yang terongok begitu saja di lahan terbuka. Salah satunya adalah situs Mangiran yang terletak di kawasan hutan jati yang dikelola PT Perhutani di Desa Mangirejo, Kecamatan Saradan, Kabupaten Madiun. Petunjuk untuk mencapai lokasi benda peninggalan Kerajaan Majapahit menjelang keruntuhannya itu cukup mudah.

Ketika menemukan tempat penampungan kayu (TPK) Saradan yang terletak di jalur Caruban-Nganjuk, kita bisa langsung masuk ke dalam area pengelolaan kayu jati. Jalan selebar empat meter yang dulunya merupakan jalur kereta pengangkut kayu peninggalan Belanda itu akan mengantarkan kita menuju lokasi situs. Sebelum sampai sana, kita melewati jembatan besi yang di bawahnya merupakan jalur kereta yang menghubungkan Madiun-Surabaya.

Ketika masuk area hutan jati, hanya kendaraan roda dua yang bisa digunakan untuk menyusuri jalan setapak. Di situ, ditemukan jejak Pendopo Watu Gilang peninggalan Ki Ageng Mangir, yang dikenal sebagai salah satu pendiri Kerajaan Mataram pada abad ke-16. Hanya kawat berduri berbentuk segi empat sepanjang 5×10 meter yang dipasang untuk melindungi situs batu itu.

Kisahnya, meski tinggal di daerah Yogyakarta, Ki Ageng Mangir diperkirakan pernah menetap atau setidaknya mampir dalam jangka waktu tertentu di Saradan. Uniknya, sejak ditemukan hingga kini, situs berupa batu berbentuk melingkar yang dulunya digunakan Ki Ageng Mangir untuk beraudiensi dengan masyarakat masih utuh.

“Situs ini dijadikan tempat pertemuan agar pemimpin bisa dekat dengan rakyatnya,” kata juru pelestari Lambang. Ia memprediksi, melihat rangkaian situs yang tersebar di hutan, terdapat kehidupan warga pada abad ke-14 hingga 17 masehi dengan corak Hindu dan Islam.

Di luar Pendopo Watu Gilang, terdapat tumpukan peninggalan situs Kerajaan Majapahit karena terbuat dari batu. Situs itu antara lain, lingga, batu lumpang dan lesung yang fungsinya untuk mennumbuk padi, umpak penyangga tiang rumah, batu bata berukuran besar berbentuk kotak dan bulat, dan berbagai ornamen pecahan arca dan puncak candi.

Lambang menjelaskan, semua benda-benda kuno itu hanya ditaruh di papan terbuka, sehingga ada sebagian yang hilang dicuri orang. Ia menyatakan, belum ada solusi untuk mengamankan berbagai situs itu lantaran tidak ada tempat representatif untuk menyimpannya. “Jumlah barang-barang kuno yang ditemukan bisa lebih banyak karena sebelumnya baru sebagian kecil wilayah hutan yang ditelusuri,” katanya.

Sekitar 200 meter ke arah barat dari Pendopo Watu Gilang, ada aliran sungai yang di sampingnya merupakan sumber mata air sendang yang merupakan salah satu petilasan Ki Ageng Mangir. Di kawasan yang masuk Dusun Pepe, Petak 19, Caruban itu, ada pemandian abadi berukuran 1,5×2 meter yang dibangun dari batu bata dengan kedalaman air tiga meter yang difungsikan sebagai tempat mandi khusus raja.

Berjarak setengah meter, sedikitnya ada tujuh buah sumur kecil berdiameter 50 cm yang hingga kini belum diketahui fungsinya. Ancaman nyata beberapa situs itu, kata Lambang, selain tidak terawat, juga kawasan itu masuk ke dalam area jalur pembangunan tol Solo-Kertosono. “Situs ini harus dilindungi bagaimana pun caranya,” kata Joko Widodo, salah satu juru pelestari lainnya.

Advertisements