Arca peninggalan Kerajaan Ngurawan

Selasa, 7 Mei 2013

Oleh Erik Purnama Putra

Padahal, di sisi luar lumpang terdapat ukiran bertuliskan 1340 saka atau 1418 masehi. Situs itu adalah peninggalan Kerajaan Gegelang yang wilayahnya tunduk pada kekuasaan Kerajaan Majapahit. Kerajaan beraliran Hindu itu runtuh menjelang awal abad ke-16.

Semakin surutnya pengaruh Majapahit, Kerajaan Gegelang ditundukkan Kesultanan Demak hingga hanya meninggalkan beberapa prasasti yang tersisa sebagai bukti adanya peradaban pertama di Madiun.

Situs bersejarah ini ditemukan di Dusun Tambak Boyo, Desa Ngurawan, Kecamatan Dolopo, Kabupaten Madiun. Butuh waktu 45 menit dari pusat kota untuk mencapainya. Daerah ini cukup mudah dijangkau transportasi lantaran berada di jalur utama Madiun-Ponorogo. Dari jalan raya, hanya butuh waktu 5 menit dari jalan raya menggunakan sepeda motor untuk sampai ke area situs.

Ketika berkunjung pada akhir April kemarin, lumpang yang dulunya berfungsi sebagai tempat menumbuk padi difungsikan sebagai pot bunga. Karena sudah berpuluh tahun, akar pohon beringin semakin mencengkeram erat setiap sisi lumpang. Meski lumpang berdiameter hampir 1 meter dengan ketebalan 10 centimeter, bukan tidak mungkin beberapa tahun lagi bakal retak dan hancur kalau terus dibiarkan begitu saja.

Pasalnya, situs bersejarah itu sudah berpuluh tahun tergeletak di pelataran rumah Ibnu Huda yang menjadi satu kompleks dengan Masjid Maqomul Hidayah. Ibnu Huda adalah pengurus masjid yang menjadi generasi kelima dari Zainal Abidin, seorang ulama yang merupakan perintis berdirinya Desa Ngurawan pada abad ke-18.

Juru pelestari situs Ngurawan, Syaiful Huda mengaku tidak bisa berbuat apa-apa terkait nasib lumpang itu. Ia bukan bermaksud lepas tangan, namun tidak tahu harus bersikap bagaimana menyikapi situs paling tua di wilayah eks Karesidenan Madiun itu. Syaiful tidak berani mengingatkan pemilik rumah, yang merupakan orang paling dihormati di desanya agar memfungsikan lumpang sebagaimana mestinya.

Begitu pula, kata dia, petugas Balai Pelestari Peninggalan Purbakala (BP3) Trowulan yang pernah mendata situs tersisa tidak bisa berbuat apa-apa melihat kenyataan itu. Ia hanya berharap, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Madiun yang selama ini abai untuk memperhatikan situs bersejarah itu agar kondisinya bisa lebih baik lagi. “Lumpang ini sudah tidak terurus sejak lama, dan tidak ada perhatian dari pemda,” katanya.

Peradaban pertama Madiun

Selain lumpang, terdapat dua punden yang ditaruh di depan gerbang Masjid Maqomul Hidayah. Punden itu difungsikan sebagai penahan ketika pintu gerbang dibuka. Berjarak 100 meter dari masjid, ada dua punden yang tergeletak di perkebunan warga. Karena faktor berat dan tidak ada tempat untuk penyimpanan, situs bersejarah itu dibiarkan tergeletak begitu saja.

Adapun, Syaiful menyimpan lima situs lain yang tersisa, yaitu miniatur candi, arca dewi pawarti, dua jaladwari, dan satu patung lembu. Itu pun ia menaruhnya di luar karena merasa tidak ada ruang lagi di rumahnya yang cukup sederhana itu. Khusus untuk situs berbentuk manusia dan hewan berbentuk tanpa kepala. “Berdasarkan cerita, pasukan Kerajaan Demak menghancurkan simbol-simbol yang dianggap berhala,” ujar Syaiful.

Ia melanjutkan, bukti Kerajaan Gegelang sebenarnya cukup banyak. Hanya saja, ketika Kyai Zainal Abidin membangun masjid, dan mendapati banyak situs peninggalan kerajaan Hindu, hampir semuanya dihancurkan untuk dijadikan bahan bangunan. Selain dikenal kualitasnya bagus, kata Syaiful, Kyai Zainal yang makamnya di belakang masjid ingin agar masyarakat bisa menjalankan ritual agama dengan baik. “Versi lain, situs-situs itu ditanam di bawah masjid,” katanya.

Pusat pemerintahan baru

Setelah Kerajaan Gegelang berhasil ditaklukkan, putra mahkota Demak Pangeran Surya Patiunus menikahi putri kerajaan Raden Ayu Retno Lembah Putri. Sebagai era baru, Pangeran Surya memindahkan pusat pemerintahan ke Desa Sogaten. Ketika itu, ia menamakan daerah pemerintahannya sebagai Purabaya (sekarang Madiun).

Pangeran Surya memerintah kesultanan hingga tahun 1521, dan diteruskan oleh Kyai Rekso Gati. Kyai Rekso mulai melaksanakan tata pemerintahan modern dengan melantik Pangeran Timoer menjadi bupati Purbaya tanggal 18 Juli 1568. Sejak saat itu, berakhir pula pemerintahan pengawasan Kesultanan Demak di Purabaya yang menjadi daerah administrasi mandiri.

Kemudian, pada 1575 pusat pemerintahan dipindahkan dari Desa Sogaten ke Desa Kuncen, Kecamatan Mejayan, Kota Madiun. Untuk memperkuat pemerintahannya, Pangeran Timoer saat itu juga mendirikan Masjid Nur Hidayatullah atau yang populer disebut Masjid Kuncen. Masjid dengan arsitektur bercorak Hindu itu kehilangan bentuk aslinya sekarang, disebabkan mengalami beberapa kali renovasi.

Pada 1586, Pangeran Timoer menyerahkan tampuk kekuasaan kepada putrinya, Raden Ayu Retno Djumilah. Di bawah kendali Raden Ayu, Purabaya sukses menahan serangan Kerajaan Mataram pada 1586 dan 1587.

Namun berselang 13 tahun kemudian, pendiri Kesultanan Mataram Danang Sutawidjaja berhasil menguasai Purabaya. Setelah Sutawidjaja mempersunting Raden Ayu, pada Jumat legi tanggal 16 November 1590, nama Purbaya diganti menjadi Madiun.

Mengacu sejarah itu, hari ulang tahun (HUT) Madiun yang diakui Pemkab Madiun adalah pada 18 Juli 1568. Sehingga, pada Juli mendatang, Madiun akan memperingati HUT ke-445. “Seharusnya hari jadi Madiun bisa lebih tua dari yang dirayakan kalau mengacu situs Ngurawan,” ujar Syaiful.

Pendapat itu diperkuat Koordinator Madiun Heritage Community Bernadi S Dangin yang menilai sebenarnya usia Kabupaten Madiun bisa lebih tua kalau mengacu situs Kerajaan Gegelang. Pasalnya, patokan Pemkab Madiun adalah dimulainya tonggap pemerintahan baru.

Padahal, kalau mau ditarik ke belakang dengan adanya bukti tertulis di lumpang peninggalan Kerajaan Gegelang, bisa dijadikan hari jadi Kabupaten Madiun. “Bisa jadi peringatan hari jadi Madiun lebih lama karena adanya bukti situs itu,” kata Bernadi.

Advertisements