Panen Apel

Senin, 20 Mei 2013

Oleh Erik Purnama Putra

Siang itu, sinar matahari terhalang tumpukan awan di atas Kota Batu. Cuaca tidak sedang mendung. Memang begitu lah cuaca keseharian Kota Batu yang berada di dataran tinggi dan dikelilingi bukit. Cuaca yang sangat bersahabat itu mendukung puluhan pekerja yang mendapat tugas memetik apel.

Baik laki-laki dan wanita tampak tangkas memanen apel. Setiap orang membawa tas kain yang diselempangkan di pundak sebagai wadah apel. Kalau penuh, segera saja mereka menumpahkannya ke keranjang yang disebar di kebun apel. Untuk pekerja laki-laki, mereka memiliki tugas tambahan keranjang apel yang penuh ke depan pintu kebun.

Di situ, sudah siap pekerja timbangan untuk mengukur jumlah berat apel di dalam keranjang. Rata-rata, berat perkeranjang sekitar 30 kg. Kalau sudah dicatat, keranjang yang terbuat dari bambu itu dinaikkan ke dalam pick up pengangkut yang di parkir di tepi jalan yang membelah kebun apel. Uniknya, pemilik kebun biasanya ikut bergabung bersama pekerja lain memetik hingga mengangkut hasil panen.

Dibanding hasil pertanian lainnya, pekerjaan memetik apel dirasa tidak terlalu berat. Belum lagi risiko kerja yang kecil. Meski begitu, upah yang diterima pekerja cukup besar, Rp 100 ribu per hari. Hitungan kerjanya, mulai masuk kebun pukul 07:00 WIB hingga pukul 12:00 WIB. Kalau bekerja sampai pukul 17:00 WIB, upah yang didapat pekerja sebesar Rp 150 ribu per hari plus makan dua kali dan rokoh sebungkus. “Inilah enaknya bekerja sebagai juru petik apel,” kata salah satu pekerja, Pak Suli.

Ia mengaku, pendapatan menjadi pemetik apel lebih besar daripada buruh petani. Namun demikian, pekerjaan yang didapatnya tidak setiap hari. Karena masa kerja pemetik apel hanya sebentar, Pak Suli selalu berpindah lahan sesuai order. Dicontohkannya, untuk panen apel di lahan seluas 20×20 meter alias satu gawang, diperlukan setidaknya 30 orang untuk memanen apel. Itu pun hanya memerlukan masa kerja dua hari hingga semua apel di pohon habis dipetik.

Atas dasar itu, kalau ada perintah memetik apel, mereka yang tergabung ke dalam pasukan khusus akan bekerja bersama-sama. Kalau berjalan sendiri-sendiri, Pak Suli tidak yakin bisa sering mendapat order panen. Hal itu dilakukan agar nilai tawar mereka tinggi.

Dengan begitu, setiap pemilik lahan yang ingin memanen apel, selalu mengontak kelompoknya. “Meski masa panen singkat, keuntungan kita bekerja berpindah-pindah karena lahan apel di sini sangat luas,” jelasnya.

Wisata petik apel

Sumardi dapat dikatakan sebagai salah satu juragan apel di Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu. Lahannya termasuk yang berada di lokasi tempat wisata petik apel yang digagas warga desa setempat. Setiap pengunjung harus membayar tiket Rp 20 ribu sebagai sarana untuk bisa masuk ke kebon apel. Usai menebus tiket, petugas memberi satu kantong kain sebagai wadah pengunjung untuk membawa pulang apel.

Dengan menggunakan tas kantong itu lah, setidaknya setiap pengunjung bisa membawa 1 kg apel. Keuntungannya, mereka bisa sesukanya memetik apel dari pohonnya langsung. Ketika saya datang, di pinggir jalan raya parkir empat bus ukuran besar dari Jawa Tengah, yang membawa ratusan siswa sekolah. Saya juga melihat guru yang mendampingi muridnya tampak ikut kalap memetik apel.

Sumardi menceritakan pengalamannya membudidayakan apel. Ia hanya meneruskan pekerjaan orangtuanya yang meninggalkan warisan lahan seluas 2 hektare. Sebagai generasi kedua, rata-rata usia pohon apel miliknya berumur 35 tahun. Berdasarkan pengalamannya, pohon apel bisa bertahan hingga usia 50 tahun kalau dirawat secara baik dan ketat.

Suwardi mengaku, pernah suatu ketika satu gawang menghasilkan 3 ton apel. Panenan itu merupakan rekor tertinggi dan hanya sekali terjadi. Biasanya, dalam satu gawang, jumlah apel yang dipanen sekitar 2 hingga 2,5 ton. Ia menengarai, faktor cuaca dan kesuburan tanah menjadi penentu mengapa hasil panen apelnya sangat tinggi.

Dengan kondisi sekarang, diprediksinya sangat sulit mengulang rekor panen itu. Hanya saja, ia bersyukur pohon apel di lahannya masih terus berbuah, meski sebagian buahnya selalu terserang hama.

Ia memiliki tips, bagaimana menjaga pohon apel yang sudah berusia tua tetap bisa berbuah lebat. Caranya, dua kali dalam sepekan pohon apel selalu disemprot dengan insektida, pestisida, dan pupuk agar hama tanaman rontok. Jika langkah preventif itu tidak dilakukan, serangan kutu sisik, lalat buah, lalat hitam, dan mata ayam bisa membuat kualitas pohon atau buah apel menurun.

“Pencegahan ini saya lakukan agar bisa terus-menerus memanen apel dua kali per tahun,” aku Sumardi yang ikut memanen apel bersama pekerja lainnya.

Untuk menjaga produktivitas apel, ia terus melakukan inovasi dengan cara stek apel. Ilmu itu ia dapatkan berkat sering ikut penyuluhan yang diadakan Pemkot Batu. Dampaknya, satu pohon apel miliknya bisa menghasilkan tujuh jenis apel. Antara lain, apel australia, manalagi, apel hijau, wanglin, rome beauty, royal red, dan apel hijau. Di kalangan petani apel, imbuhnya, sedang terus dicoba stek apel fuji dari Jepang. Namun proses itu belum berhasil secara sempurna.

Panen Apel

Panen Apel

Lain kisah yang dipaparkan Utomo. Lahannya berada tidak jauh dari Sumardi. Ia mengungkap, dalam satu gawang, rata-rata menghasilkan total 2 sampai 2,5 ton apel. Kadangkala, dari 1 ton apel, pernah 2 kuintal apel terkena hama atau busuk (kw2). Saat ini, harga apel di tingkat tengkulak dihargai Rp 10 ribu hingga Rp 11 ribu per kg, dan apel kualitas kedua dihargai Rp 3.000 per kg. Apel kw2 biasanya digunakan untuk produk turunan, seperti jenang, kripik, dan sari buah.

Pada bulan lalu, kata Utomo, harga apel mencapai rekor tertinggi sebesar Rp 15 ribu per kg. “Harga apel pas tinggi itu terjadi saat kebijakan impor buah ditutup pemerintah. Saya dengarnya begitu,” katanya.

Angka Rp 10 ribu per kg bagi petani apel dirasa sudah cukup bagus mengingat kalau sedang musim panen, pernah suatu ketika harganya anjlok hingga Rp 3.000 per kg. Dengan perhitungan rata-rata menggunakan persentase apel baik dan busuk, setiap kali panen setidaknya petani bisa menghasilkan pendapatan Rp 17 juta per gawang belum dipotong ongkos pekerja.

Dengan hitungan kasar, sedikitnya 1 hektare lahan bisa menghasilkan 50 hingga 75 ton apel. Dengan masa panen dua kali setahun, ia mengakui, cukup menguntungkan menjadi petani apel kalau mengacu harga jual yang tinggi. Namun, ia hanya berharap keberpihakan pemerintah kepada petani agar harga jual apel tetap tinggi. “Pembelinya biasanya dari luar daerah, dan tengkulak biasanya paling mendapat untung karena menjual harga apel cukup tinggi,” ujar Utomo.

Pemandian Air Panas Cangar

Batu dikenal sebagai daerah tempat wisata. Sehingga, tempat wisata sangat banyak dan beragam jenisnya. Dari tempat wisata petik apel di Bumiaju, saya memilih melanjutkan perjalanan terus ke utara. Di kawasan Taman Hutan Rakyat Raden Soerjo yang berbatasan dengan Kabupaten Mojokerto, terdapat pemandian air panas Cangar.

Tiket masuk ke tempat wisata di Desa Tulungrejo, Kecamatan Buamiaji, Kota Batu ini sebesar Rp 5.500 per orang. Meski langit terlihat mendung dan suasana perbukitan dikelilingi kabut, serta bukan hari libur, tapi jumlah pengunjung cukup banyak. Sumber air di kawasan ini semuanya hangat dan tidak ada yang dingin. Karena itu, jangan kaget setiap gemericik aliran air selalu dibarengi dengan uap.

Pengelola tempat wisata sepertinya jeli mencari uang. Meski di pintu masuk sudah dikenai tiket, namun pengunjung yang ingin mandi di kolam renang dikenakan tarif Rp 5.000. Kalau kita enggan mengeluarkan uang lagi, bisa mandi di kolam penampungan air yang tentu dipadati orang.

Saya tidak ikut menceburkan diri, dan hanya membasuh muka dengan air hangat. Sambil melihat pemandangan kolam yang dikelilingi pohon tua dengan akar menjuntai dari atas, saya memilih menikmati tape ketan hitam. Cukup dengan Rp 3.000, saya menebus makanan tradisional ini yang disajikan dalam piring ukuran kecil.

Puas menikmati sekeliling pemandian, saya melanjutkan perjalanan keluar kompleks pemandian Cangar. Ada dua tempat wisata lain yang bisa inikmati, yaitu Gua Jepang dan Coban Watu Kembar. Ketika sampai Jembatan Cangar I dan Cangar II, saya beruntung bisa melihat sepasang monyet berekor panjang sedang bergelantungan di kawasan yang ditumbuhi pohon besar.

Advertisements