Parijs van Oost Java

Parijs van Oost Java

Senin, 20 Mei 2013

Oleh Erik Purnama Putra

Pada era penjajahan Belanda, Kota Malang mendapat julukan sebagai Paris van East Java. Julukan tersebut tidak mengada-ada. Pasalnya, mengacu tata kota dan lanskap, serta sebaran arsitektur rumah peninggalan pemerintah kolonial, Malang sangat layak dilabeli seperti itu.

Tidak seperti daerah lain, kondisi bangunan kuno di Malang cukup terjaga dengan baik, meski sebagian berganti fungsi. Salah satu buktinya dapat kita temukan ketika menyusuri Jalan Ijen. Sebagian rumah oleh pemiliknya memang dibongkar dan dibangun kembali dengan gaya modern, namun masih banyak rumah asli peninggalan Belanda yang terawat.

Keindahan kawasan boulevard ini terletak pada luasnya jalur hijau di kiri kanan jalan. Di kanan kiri jalan sepanjang 1 km ini ditumbuhi pohon palem raja berusia puluhan tahun yang bisa membuat teduh. Ditambah taman selebar empat meter yang ditumbuhi berbagai jenis bunga yang membelah jalan membuat suasana hijau tampak terasa. Trotoar yang lebar semakin membuat nyaman pejalan kaki saat menyusuri daerah ini.

Di jalan rancangan Ir Herman Thomas Karsten pada 1914 ini, dulunya warga bisa melihat empat gunung yang mengapit Kota Malang. Gunung Arjuno di sebelah utara, Semeru di timur, Kawi dan Panderman di barat, dan Kelud di selatan.

Di Jalan Ijen pula, festival tahunan Malang Tempo Doeloe dihelat. Setiap Ahad, Pemkot Malang menjadikan jalan ini terlarang bagi kendaraan bermotor. Melihat posisi pentingnya kawasan ini, tidak salah Jalan Ijen disebut sebagai landmark Kota Malang. “Sejak awal, Jalan Ijen memang diperuntukkan untuk kawasan elite dengan susunan rumah yang dirancang model vila,” kata pelestari sejarah Kota Malang, Hery Kurniawan.

Sayangnya, di ujung utara Jalan Ijen, tepatnya di kawasan Simpang Lima, terjadi perubahan fungsi jalan. Menurut Hery, pada jaman Belanda, tempat itu dulunya digunakan sebagai pacuan kuda. Sayangnya, warisan tempat bersejarah itu tidak dilestarikan dan sekarang dijadikan jalan umum. Hal itu jelas sangat disayangkan, mengingat penghilangan jejak bersejarah hanya membuat masyarakat sekarang awam terhadap sejarah dulu.

Ditambah pemugaran rumah seenaknya dan tidak mengindahkan estetika membuat keindahan Jalan Ijen cukup terganggu. Alhasil, keindahan Kota Malang yang mendapat julukan mirip Kota Paris mulai terkikis lenyap tidak berbekas. “Padahal, kata orang-orang tua, setelah Perang Dunia kedua, pemandangan Jalan Ijen ini lebih bagus daripada Kota Berlin,” sebutnya.

Karena itu, ia balik bertanya, apakah kemajuan yang dicapai Pemkot Malang sekarang ini sebenarnya dapat dikategorikan majunya sebuah peradaban atau malah kemunduran akibat hilangnya warisan bangunan bersejarah. “Pertanyaan ini yang harus dijawab.”

Siang itu, saya menyusuri Jalan Ijen yang cukup ramai, tapi terdengar tidak bising. Pohon dan taman sepertinya cukup mampu meredam hilir mudik kendaraan yang lewat. Tepat berada di tengah dan poros jalan, berdiri Monumen Melati Kadet Suropati. Tugu setinggi 7 meter ini ditandai mekarnya bunga melati yang disangga dua pilar dengan taman dan kolam di bawahnya.

Monumen ini didirikan sebagai bentuk penghargaan terhadap sekolah darurat awal pembentukan Tentara Keamanan Rakyat (cikal bakal TNI) di Malang pada 1946. Sekolah Tentara Divisi VIII yang berganti nama menjadi Sekolah Tentara Divisi VII Suropati dengan simbol melati ini lebih dikenal dengan nama sekolah Kadet Malang. Sayangnya, ulah orang iseng yang melakukan aksi vandalisme membuat nilai sejarah monumen ini menjadi terganggu.

Alun-Alun Tugu

Dari Monumen Melati, saya belok ke timur melewati Stadion Gajayana yang dibangun pada 1924 dengan tujuan Alun-Alun Tugu. Dinamakan Alun-Alun Tugu lantaran terdapat monument tugu yang dibangun khusus untuk merayakan kemerdekaan Indonesia dari tangan penjajah. Dulunya tempat ini adalah Taman Gubernur Jenderal Hindia Belanda J.P. Zoen Coen, pendiri Batavia yang dibangun pada 1905.

Nama lain Alun-Alun Bundar ini terletak persis di Jantung Kota Malang. Alun-alun ini dikelilingi kolam berisi bunga teratai dan taman yang ditata dengan indah. Tugu yang berada 100 meter dari Stasiun Kota Baru Malang ini didirikan pada 1945 untuk mengenang kemerdekaan Indonesia.

Meski Belanda yang menguasai Malang pada 3 Desember 1948 menghancurkan tugu, namun pemerintah Indonesia membangun kembali hingga tegak berdiri seperti sekarang. Presiden Soekarno hadir secara khusus untuk meresmikannya pada 1953.

Di depan tugu, terletak Balai Kota Malang yang merupakan gedung warisan berarsitektur kolonial. Pembangunan keduanya dilakukan berbarengan. Bangunan yang masih terawat dan kokoh berdiri ini dicat putih dan menjadi salah satu ikon yang menjadi daya tarik wisatawan.

Setelah memutari Alun-Alun Tugu yang dikelilingi rerimbunan pohon trembesi berusia puluhan tahun, saya bergerak ke Jalan Basuki Rahmat yang dulu bernama Jalan Kayutangan. Kawasan yang dulu merupakan pusat perekonomian pada era Belanda ini sebagian besar beralih rupa. Bangunan kuno yang tersisa terimpit gedung perbankan dan perkantoran, serta dealer sepeda motor yang mensesaki jalan utama menuju Alun-Alun Malang.

Saya masih mendapati beberapa rumah yang dibangun pada awal abad ke-20. Sayangnya, kondisinya sangat memprihatinkan dan ada yang baru saja dihancurkan oleh pemiliknya. Toko Kayutangan yang dulu sangat melegenda juga setali tiga uang. Meski tetap difungsikan sebagai toko, namun bangunan tua itu tampak kusam.

Yang kondisinya masih terjaga adalah Toko Oen yang berseberangan dengan Gereja Katolik Hati Kudus. Bangunan yang didirikan pada 1930 ini sejak semula masih difungsikan sebagai toko penjual ice cream. Karena letaknya strategis, bangunan yang depannya didominasi kayu dan kaca selalu ramai didatangi pengunjung yang ingin mencicipi jajanan khas Kota Malang ini. Setiap hari, banyak turis Belanda bernostalgia sambil menikmati pemandangan pusat kota.

Beranjak ke Alun-Alun Malang, yang baru diresmikan pada 1914, meski sudah ada sejak 1800. Letaknya yang dikelilingi pusat perbelanjaan membuat orangtua yang biasanya lelah berjalan-jalan memilih beristirahat di sini. Banyak pedagang asongan dan penjual berbagai mainan anak-anak membuat taman yang di tengahnya berdiri air mancur ini selalu ramai dikunjungi warga.

Di sebelah barat alun-alun, berdiri dua tempat ibadah kuno, yaitu Gereja Immanuel (1861) dan Masjid Jami (1890). Gereja dan masjid yang terletak di Jalan Merdeka Barat ini berdampingan, dan menunjukkan kuatnya rasa toleransi beragama warga Malang. Kebanyakan jemaah Masjid Jami yang menunaikan shalat adalah warga kebetulan yang tengah menikmati santai di alun-alun.

Selain masjid dan gereja, Kelenteng Eng An Kiong juga termasuk tempat ibadah kuno. Klenteng yang terletak di Jalan RE Martadinata atau di samping timur Pasar Besar Malang ini didirikan pada 1825. Kelenteng ini termasuk penganut Tri Darma, yaitu untuk para pengikut ajaran Budha, Tao dan Konfusius. Nuansa arsitek Tiongkok dengan gerbang berukuran naga menyambut setiap pengunjung. Setelah masuk gerbang, terdapat altar tempat sembahyang yang didominasi warna merah menyala.

Sayangnya, petugas keamanan kurang ramah menyambut kedatangan kami. Di pintu masuk altar juga tertulis larangan memotret area sembahyang. Sehingga, fotografer hanya bisa mengabadikan kelenteng dari luar dan arena parkir.

Hotel angker

Jalan Ijen, Malang/Erik Purnama Putra

Jalan Ijen, Malang/Erik Purnama Putra

Jauh dari keramaian Kota Malang, tepatnya di Kecamatan Lawang yang berbatasan dengan Kabupaten Pasuruan berdiri sebuah hotel tua berlantai lima yang didirikan pada 1918. Hotel Niagara namanya yang kondang dikenal karena keangkerannya. Meski berada tepat dipinggri jalan raya, kita bisa langsung merasakan suasana sepi ketika memasuki area hotel yang dirancang Fritz Joseph Pinedo. Perancang berdarah Brasil ini tinggal di Indonesia pada masa pendudukan Belanda.

Ketika saya berkunjung, tidak ditemukan satu pun mobil di lahan parkir. Demikian dengan parkir motor yang hanya terlihat tiga motor, yang sepertinya milik karyawan dan petugas keamanan yang berjaga di pintu gerbang. Adapun air mancur yang berada di depan hotel sepertinya sudah lama tidak berfungsi.

Suasana tempo dulu sangat terasa ketika memasuki lobi hotel. Hanya pintu sebelah kiri yang dibuka sebagai akses keluar masuk dari dua pintu kayu yang terpasang di lantai satu. Saya diterima dua resepsionis yang dengan cekatan menawarkan harga kamar, dengan tarif termurah Rp 100 ribu dan termahal Rp 300 ribu.

Melihat detail gedung dan nuansa hotel yang dipenuhi perabotan antik, tentu harga tersebut sangat murah. Namun karena tujuan saya hanya ingin mengambil gambar, wanita penerima tamu itu menyilakan pengambilan foto hanya di luar gedung.

Tiba-tiba saja, ada keluarga yang sepertinya sudah terbiasa dengan nuansa hotel itu langsung masuk ke dalam restoran hotel di lantai satu bagian dalam. Selebihnya, saya tidak mendapati pengunjung lain yang menginap di hotel yang memadukan arsitektur Brasil, Belanda, Tiongkok, dan Victoria ini.

Di kalangan warga Malang, citra Hotel Niagara kurang positif. Berkembang cerita hotel ini menjadi tempat bersemayamnya hantu. Kisahnya, dulu di hotel ini ada orang bunuh diri hingga kamar berdarah. Meski berbagai cerita menyeramkan itu coba ditepis resepsionis, namun di dunia maya kisah tentang hotel ini sangat banyak.  Nah, salah satu julukan Hotel Niagara adalah Three Beautiful Ghost Hotel.

Nuansa Perang di Museum Brawijaya

Suasana perang begitu terasa ketika kaki memasuki halaman Museum Brawijaya di Jalan Ijen, Malang. Sebuah tank AMP-Track beroda besi dan senjata meriam dipajang di depan jalan sebelum pintu masuk. Meski kondisi catnya sudah sebagian mengelupas, namun senjata berat itu menandai kemegahan musem yang berisi koleksi berbagai jenis senjata modern pada jamannya.

Tepat di depan pintu masuk, berdiri patung Panglima Besar Jenderal Soedirman yang dibuat setengah badan. Dengan menghadap ke timur, pengunjung seolah diajak mencermati ketegaran wajah Soedirman yang memancarkan semangat pantang menyerah. Sebuah petugas berkaos loreng seketika menyobek dua tiket, dan saya mengambil uang uang Rp 5 ribu dari kantong untuk menebusnya.

Saya mulai mengamati setiap detail benda yang dipajang di musem yang didirikan pada 4 Mei 1968 ini. Suasana militer dan peperangan sangat kental sekali saat menyimak setiap koleksi senjata. Ditambah ukiran di dinding yang menceritakan perjuangan rakyat Indonesia melawan kolonial seolah menggelorakan pengunjung untuk mencintai Tanah Air.

Museum ini menjadi tempat penyimpanan benda bersejarah pejuang Indonesia dalam mengusir Belanda dan sekutu yang mencoba menduduki Jawa Timur (Jatim). “Semua senjata mutakhir yang digunakan tentara sekutu bisa direbut berkat semangat pejuang Indonesia yang hanya bermodal pantang menyerah,” kata salah satu penjaga Museum Brawijaya, Samulin.

Di sebelah kanan pintu masuk museum, dipajang mobil sedan buatan pabrik De Soto Amerika Serikat (AS) yang digunakan Kolonel Soengkono sebagai kendaraan dinas saat menjabat panglima Divisi IV Narotama dan panglima Divisi Brawijaya (1948-1950). Di sampingnya, diletakkan meja dan kursi inventaris kantor gubernur Jatim yang digunakan untuk Konferensi Meja Bundar di Surabaya antara Indonesia dan pihak sekutu pada 29 Oktober 1945.

Dalam perundingan gencatan senjata itu, Indonesia diwakili Bung Karno, Bung Hatta, dan Kolonel Soengkono. Adapun tentara sekutu diwakili komandan Brigade 49 dari Divisi India ke-23 Brigjen Mallaby. Tokoh satu ini tewas dalam perang heroik dalam peristiwa 10 November 1945.

Seperangkat meja kursi, tempat tidur, peralatan makan minum, tempat wudhu, dan bendera yang pernah dipakai Soedirman pada waktu mengatur strategi perang menghadapi Belanda di Desa Bajulan, Nganjuk tidak luput dipamerkan. Benda peninggalan itu digunakan Soedirman ketika singgah di Nganjuk yang termasuk rute gerilya dari Yogya mulai 19 Desember 1948 menuju Kediri dan kembali ke Yogyakarta tanggal 10 Juli 1949 dengan jarak tempuh 1.009 km.

Di setiap sudut dinding dipamerkan pula senjata berat otomatis dan meriam sitaan dari tentara Jepang dan Belanda. Misalnya, fire stone rifle M 20 kaliber 70mm sitaan dari Jepang dan Belanda pada 1945-1949, senjata meriam APMK M-6  kaliber 37mm buatan AS dan meriam Orlikan kaliber 20mm sitaan tentara Jepang.

Belum lagi, senapan serbu otomatis SMR Medsen MK I.M.1925 1178 kaliber 6,50mm buatan Kobenhavn Denmark, SMS Rifle Boys MK I M 1942 buatan Inggris, SMR FN Herstal kaliber 7,62mm buatan FN Herstal Belgia, SMR Bruno Nomor 30855 kaliber 7,62mm buatan Italia, dan SMR Lewis M.1917 kaliber 7,62 buatan AS.

Tidak ketinggalan, senjata rudak buatan pabrik di Mrican, Kediri yang menjadi salah satu senjata pejuang Indonesia turut dipamerkan. Puluhan senjata, pistol hingga granat berbagai bentuk yang digunakan dalam perang kemerdekaan RI pada 1945 ditata rapih di dalam lemari. “Tiga samurai di dalamnya juga hasil sitaan dari tentara Jepang sebelum meninggalkan Indonesia,” kata penjaga museum.

Kelengkapan musem terlihat dari koleksi puluhan uang jepang yang sempat beredar di Indonesia, mulai setengah rupiah hingga terbesar Rp 50. Mata uang Belanda, mulai setengah gulden hingga een maupun tien gulden juga terbungkus rapih. Bergeser sedikit, di dalam ruang kaca ada burung merpati yang diawetkan. Foto pada era kemerdekaan dan peperangan mengusir penjajah juga ditampilkan.

Burung merpati ini dijadikan sebagai dipakai alat komunikasi Divisi Ronggolawe di daerah Lamongan dan Bojonegoro dalam perjuangan tahun 1946 untuk menyampaikan atau mendapat kabar terbaru dari pusat pemerintahan. “Semua koleksi perjuangan cikal bakal TNI di Jatim, lengkap ada di sini,” katanya.

Gerbong maut

Koleksi Museum Brawijaya tidak melulu tentang peralatan perang dan benda pendukung yang dijadikan pejuang dalam menghadapi sekutu. Museum yang diarsiteki Kapten Ir Soemadi ini juga memajang gerbong maut yang diletakkan di halaman bagian dalam.

Dinamakan gerbong maut karena satu dari tiga rangkaian gerbong ini dulunya digunakan militer Belanda untuk mengangkut 100 orang pejuang Indonesia dari Bondowoso ke rumah tahanan Bubutan di Surabaya pada 23 November 1947. Mendengar namanya yang horor, tentu ada kisah kelam terkait gerbong ini.

Karena Belanda ingin menjaga agar tahanan itu tidak kabur, selama perjalanan yang menempuh jarak 220 km itu, pintu gerbong ditutup. Akibat berdesak-desakan dan sirkulasi udara yang minim, sedikitnya 46 orang meninggal, 11 sakit payah, 31 sakit, dan hanya 12 orang yang sehat ketika sampai di Ibu Kota Jatim itu. “Penyebab puluhan orang meninggal, karena di perjalanan pintu gerbong ditutup dan dikunci.”

Bakso Malang

Tidak seperti daerah lain, bakso Kota Malang sangat terkenal dengan berbagai variasi isinya. Bakso Malang di luar daerah dikenal sebagai bakwan Malang, terdiri pentol (bakso) biasa, bakso bakar atau goreng, goreng (kerupuk), siomai (goreng kukus), tahu putih dan tahu kempos (goreng), mie putih dan kuning, usus, serta lontong.

Karena banyaknya menu, bagi pecinta kuliner biasanya meminta kuah dipisah dalam mangkuk tersendiri. Kalau dipaksakan, kuah dalam mangkuk itu bisa terserap berbagai isi menu bakso.

Salah satu penjual yang layak dikunjungi adalah Bakso Damas di Jalan Soekarno-Hatta. Karena berada di jalan protokol, warung bakso ini selalu dijubeli pembeli. Selain karena rasanya yang enak, harga seporsi cukup terjangkau. Saya memesan bakso berisi menu enam macam dengan kuah dicampur.

Meski mangkuk terlihat penuh, saya cukup merogoh kocek sebesar Rp 14 ribu. Selain mengenyangkan, usai menikmati bakso di sini, kita pasti ingin mencobanya lagi. Tidak percaya? Anda bisa mencobanya.

Petulo

Di sekitaran Stadion Gajayana, terdapat penjual petulo atau putu mayang dengan menggunakan gerobak. Setiap harinya, penjual petulo ini selalu dijubeli pembeli. Makanan tradisional khas Malang ini sangat pas jika dinikmati di saat dingin. Tentu cocok dengan iklim Malang yang termasuk cukup dingin.

Petulo dibuat dari tepung beras dan bentuknya mirip dengan mie. Makanan ini disajikan dengan kue serabi, dan ketan srikoyo yang diberi kuah santan. Agar santan terasa wangi, diberi resep daun pandan dan gula merah untuk melengkapi gula pasir. Satu porsi dijual dengan harga Rp 6.000. Meski disajikan dalam mangkuk ukuran sedang, dijamin perut langsung kenyang usai menikmati petulo.

Es krim Oen

Salah satu tempat kuliner paling kesohor di Malang adalah es krim Oen yang terletak di sebelah utara Alun-Alun Kota Malang. Menu unggulan di Toko Oen ini terkenal lantaran resep rahasianya yang sudah berlangsung turun-menurun sejak pertama kali dibuka pada 1930. Semua es krim dibuat secara manual dan tanpa bahan pengawet. Karena terus mempertahankan cita rasanya, harga per menunya cukup mahal.

Ketika melihat menu es krim, saya memesan Glace de Grand Marnier. Harganya sebesar Rp 35 ribu belum termasuk pajak 10 persen. Karena tidak diberi pewarna dan perasa buatan, sangat terasa kelembutan es krim ini daripada yang dijual di pasaran. Ditambah suasana bangunan berarsitektur Belanda dan pelayan yang mengenakan baju putih gaya kuno membuat cita rasa es krim ini terkesan mewah.

Saya mendapati banyak bule tengah menikmati es krim berbagai jenis. Sepertinya mereka sekaligus bernostalgia di toko yang mempertahankan model suasana tempo dulu ini. Memang tidak lengkap mencicipi kuliner Malang tanpa mencoba menu es krim yang dijual Toko Oen. “Welkom in Malang,” begitu slogan toko ini.

Advertisements