Selasa, 21 Mei 2013  Candi Singosari

Oleh Erik Purnama Putra

Gemericik aliran sungai dan kicauan burung menyambut kedatangan saya dan fotografer Rakhmawati di situs Candi Sumberawan. Kondisi ini sebenarnya lumrah. Pasalnya, Candi Sumberawan terletak di kaki Gunung Arjuna, tepatnya di Desa Toyomarto, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Butuh perjalanan waktu sejam dari pusat kota ke arah utara dengan menggunakan sepeda motor untuk mencapai lokasi.

Area situs berada jauh dari permukiman penduduk. Di sekelilingnya ditumbuhi berbagai pepohonan dengan tinggi belasan meter. Pinus berdiri tegak bersanding dengan cemara di sisi timur dan utara yang menghasilkan suara khas ketika angin bertiup kencang. Adapun di sisi barat, beringin dengan akar menjuntai ke tanah tampak memayungi candi peninggalan Kerajaan Majapahit itu.

Sementara itu, berjarak 15 meter terdapat sumber mata air yang mengalir deras membentuk sungai kecil yang sangat jernih. Ikan memenuhi sepanjang aliran sungai. Suasana benar-benar jauh dari kebisingan dan tenang. Saya memilih merebahkan diri lebih dulu di rumput persis di depan candi beraliran Budha itu. Ditambah semilir angin yang berembus membuat hati terasa teduh.

Berdasarkan keterangan juru pelestari, penyebutan candi kurang tepat kalau melihat fungsi situs yang hanya dijadikan sebagai tempat meditasi dan bangunannya lebih mirip stupa berukuran besar. Karena tidak ada bukti prasasti, Candi Sumberawan diperkirakan dibangun pada abad ke-14 dan 15 masehi. “Tapi, candi ini merupakan satu-satunya situs beraliran Budha di Jawa Timur,” kata wanita dengan mimik wajah serius itu.

Mengacu prasasti Negarakertagama, Candi Sumberawan diidentifikasi sebagai Kasurangganan atau Taman Surga Nimfa. Petunjukknya, kompleks tersebut pernah disinggahi Raja Hayam Wuruk dari Kerajaan Majapahit pada 1359. Raja yang membawa Majapahit ke puncak kejayaannya itu menyempatkan singgah dalam perjalanannya keliling daerah yang menjadi kekuasaannya.

Karena fungsinya sebagai tempat bertapa, pantas saja bangunan candi yang ditemukan pemerintah Belanda pada 1845 dekat sebuah telaga ini sangat polos. Tidak ditemukan satu pun relief. Di sebelah utara candi, terdapat reruntuhan batu andesit yang diperkirakan dulu berupa stupa pendamping yang ukurannya lebih kecil dari stupa utama.

Kekurangannya, bagian atas candi tidak utuh sehingga atapnya terbuka. Bangunan yang ada sekarang merupakan hasil renovasi darurat pada 1937. Karena letaknya yang dikelilingi areal persawahan dan perbukitan, membuat situs ini sangat pas dijadikan tempat meditasi yang jauh dari kebisingan.

Peradaban tertua di Jawa Timur

Jauh sebelumnya atau enam abad lalu, sudah muncul peradaban di kawasan Malang. Dapat dikatakan Malang merupakan salah satu lahirnya peradaban tertua di Pulau Jawa. Hal itu ditandai dengan temuan prasasti Dinoyo I yang dibuat pada 682 tahun saka atau 760 masehi dan prasasti Dinoyo II pada 898.

Prasasti Dinoyo II disimpan di Museum Mpu Purwa. Dalam prasasti berhuruf Jawa dan berbahasa Jawa kuno itu, disebutkan Kerajaan Kanjuruhan berdiri pada abad ke-6. Karena terletak di aliran Sungai Brantas, masyarakat di bawah naungan Kerajaan Kanjuruhan hidup damai dan sejahtera.

Salah satu peninggalan Kerajaan Kanjuruhan adalah Candi Badut atau Candi Liswa yang dibuat pada 760 atau 10 tahun lebih tua daripada Candi Borobudur. Secara ringkas, prasasti menyebutkan ada seorang raja bijaksana bernama Dewasinga yang memiliki anak bernama Gajayana, yang nantinya menjadi raja paling terkenal.

Merujuk konstruksi candi yang terletak di kawasan perbukitan Tidar, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang ini, sangat kentara bangunan menganut peralihan gaya klasik kerajaan di Jawa Tengah (Jateng). Kuat dugaan, leluhur pendiri Kerajaan Kanjuruhan dulunya berasal dari Jateng. Ketika sampai di Malang, mereka mulai merintis kehidupan hingga keturunannya membentuk Kerajaan Kanjuruhan. “Karena itu, langgam Candi Badut sangat mirip dengan temuan candi di Jateng,” kata juru pelestari Harikusumo.

Karena termasuk candi tua berusia lebih 1400 tahun, bangunannya sangat sederhana. Kalau dibandingkan candi peninggalan Kerajaan Singosari atau Majapahit, candi ini terkesan polos dan relief hanya tampak di bagian depan. Bahkan, terkesan pembangunan candi tanpa memperhatikan estetika yang mendetail.

Buktinya, susunan batu yang disusun terlihat tidak beraturan karena ukuran besar dan kecil ditumpuk begitu saja. Tumpukan batu besar dan kecil disusun begitu saja dan sepertinya tidak terlalu presesi. Kekurangannya, atap candi terbuka karena susunan arca dan batu sudah hilang. “Karena pada era itu, teknologi belum semaju Singosari, apalagi Majapahit,” kata Harikusumo.

Candi berukuran 7,50×7,40 meter dengan tinggi 3,62 meter ini ditemukan dalam kondisi hancur tertimbun tanah. Bangunan yang tampak sekarang merupakan hasil rekonstruksi pada era Belanda tahun 1926 dan dipugar ulang oleh BP3 Trowulan pada 1990-1993. Hingga kini, masih ada dua candi yang diperkirakan berada di depan Candi Badut.

Satu candi dibiarkan terkubur tanah, dan satunya dinamakan Candi Perwara yang berada di sisi sebelah barat. Karena kondisinya tidak memungkinkan, situsnya hanya dikeruk dan dibangun mirip kolam renang yang hanya terdiri tumpukan batu dengan posisi tak beraturan. “Balai Besar Trowulan tidak sanggup menyusun ulang konstruksi candi, dan dibiarkan seperti itu,” kata Harikusumo.

Di setiap sisi Candi Badut, ada bagian relung yang semestinya berisi arca. Sayangnya, hanya relung bagian utara saja yang tersisa, berisi arca Durga Mahisasuramardini. Untuk  relung di timur dan selatan yang seharusnya berisi arca Ganesha dan Agastya (Siwa), serta dua relung di kanan dan kiri pintu alias bagian barat, semestinya terdapat arca Mahakala dan Nandiswara yang hingga kini tidak ditemukan keberadaannya.

Sebagaimana umumnya candi beraliran Hindu, di jalan menuju pintu atau ruang tengah, ditemukan lingga dan yoni sebagai simbol pemujaan Dewa Siwa dan Parwati. Bahkan, yoni di Candi Badut diklaim ukurannya termasuk paling besar dibanding candi lainnya dengan diameter hampir 20 centimeter dan terbuat dari batu andesit khusus. Sayangnya, akibat ulah segelintir orang tak bertanggungjawab, ada goresan yang mengganggu keindahan benda berbentuk lonjong itu.

Pelestari sejarah Kota Malang, Hery Kurniawan mengaku prihatin dengan nasib Candi Badut. Sebagai situs tertua di Kota Malang, bahkan Jatim, kondisi candi yang ditemukan warga Belanda, Maureen Brecher ini sangat memprihatinkan. Memang, untuk mencapai lokasi, kalau tidak teliti, sangat sulit bisa menginjakkan kaki ke kompleks Candi Badut.

Ia meminta Pemkab Malang yang memiliki otoritas melestarikan Candi Badut agar bertindak nyata menyelamatkan situs warisan Kerajaan Kanjuruhan ini. Pasalnya, jalan menuju pintu masuk ke area situs sangat tidak layak karena berupa tanah dan sempit. “Letak situs tertua ini sangat mengkhawatirkan karena sudah terdesak perumahan dan pergudangan,” katanya.

Hery menjelaskan, arsitektur Candi Badut memang sangat mirip dengan candi di Jawa Tengah (Jateng). Ada dua pendapat untuk menjawabnya. Pertama, Kerajaan Kanjuruhan masih berafiliasi atau berada di bawah kekuasaan kerajaan di Jateng. Kedua, pendiri Kerajaan Kanjuruhan dulunya berasal dari Jateng yang mengungsi ke Malang.

Candi Badut/Erik Purnama Putra

Asumsi kedua didasarkan cerita masyarakat yang dulu tinggal di sekitar Gunung Merapi yang mengungsi sebelum gunung berapi itu memuntahkan lava. “Keduanya adalah asumsi karena tidak ada bukti tertulis,” kata Hery. Yang pasti, imbuhnya, Candi Badut bisa dijadikan patokan bahwa peradaban di Malang sudah sangat tua.

Warisan Kerajaan Singosari

Setelah surutnya masa kejayaan Kanjuruhan, berjeda ratusan tahun, muncul lagi peradaban besar di Malang, yaitu lahirnya Kerajaan Singosari (1222-1293). Pendiri kerajaan beraliran Hindu dan Budha ini adalah Ken Arok. Setelah berhasil membunuh Raja Kediri Tunggul Ametung dengan menggunakan keris buatan Mpu Gandring, Ken Arok mulai mendirikan kerajaan yang berpusat di Tumapel.

Setelah mengawini Ken Dedes yang disebut sebagai ibu raja-raja Jawa, Ken Arok memperkuat wilayahnya. Sayangnya, kekuasaannya harus berakhir setelah dibunuh Anusapati. Diperkirakan, terbunuhnya Ken Arok oleh anak tirinya yang merupakan anak hasil perkawinan Tunggul Ametung dengan Ken Dedes itu sebagai kutukan yang diwariskan Mpu Gandring.

Untuk mengenang raja kedua Singosari yang memerintah selama 20 tahun (1227-1248) itu, didirikan Candi Kidal yang terletak di Desa Rejokidal, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang. Dalam kitab Pararaton, candi ini merupakan tempat pendharmaan Raja Anusapati yang diperkirakan wafat pada 1248. Candi dibangun setelah usainya upacara Sradha yang dilakukan 12 tahun setelah wafatnya sang raja.

Candi ini secara arsitektur, kental dengan budaya Jawa Timuran. Hal ini ditandai dengan dominasi relief yang menceritakan tokoh mitologi Hindu, Garuda yang dipahatkan di pilaster di setiap kaki candi. Isi ajaran cerita itu adalah pesan moral perjuangan dalam pembebasan dari perbudakan.

Meski disebut sebagai salah satu monumen penting, Candi Kidal kurang populer dibanding Candi Jago dan Candi Singosari karena letaknya yang jauh dari pusat kota. Butuh waktu sejam perjalanan menggunakan sepeda motor ke arah timur ketika ingin mengunjunginya. Candi berbentuk vertikal ini terbagi menjadi tiga bagian, yaitu kaki, tubuh, dan atap. Di dalam tubuh, tidak ditemukan arca satu pun, kecuali yoni.

Kondisi candi relatif baik. Hasil renovasi kedua pada 1986-1988 membuat struktur candi tepihat utuh, kecuali di bagian atap candi yang sebagian kecil hilang, dan diberi penangkal petir. Ukiran wajah Kala dengan mata melotot dan mulut terbuka lebar hingga menunjukkan kedua taringnya yang berada di bagian tubuh candi seolah menatap setiap pengunjung yang datang. Kala memang dikenal sebagai salah satu perwujudkan Dewa Siwa yang bertugas menjaga bangunan suci.

Berada di tengah perkampungan penduduk dan dikelilingi pohon besar dan rindang, serta taman yang tertata baik, tidak serta merta membuat pengunjung nyaman. Ini lantaran di sisi selatan candi terdapat peternakan ayam potong yang membuat bau kandang menyebar hingga mengganggu pengunjung. Di bagian kaki dan tubuh candi terdapat hiasan medallion serta sabuk melingkar menghiasi badan candi.

Kekurangan candi ini adalah arca Anusapati sebagai Siwa disimpan Royal Tropical Institute, Amsterdam, Belanda. “Karena candi ini yang menemukan adalah orang Belanda, sama mereka arcanya dibawa ke negaranya,” kata juru pelestari Siti Romelah.

Perjalanan dilanjutkan ke Candi Jago yang terletak sekitar 6 km dari Candi Kidal. Candi Jago disebut Jajagu dalam kitab Negarakertagama. Situs ini difungsikan sebagai tempat pendharmaan Raja Wisnuwardhana dari Kerajaan Singosari yang mangkat pada 1268. Bangunan candi berdenah empat persegi panjang ini jauh lebih besar daripada Candi Kidal dengan ciri khas pundek berundak.

Sesuai dengan agama Wisnuwardhana, Siwa Budha, di candi dipahatkan relief cerita Siwaistis dan Budhistis yang bercerita tantri atau pancatantra dan Kunjarakarna. Tantri berisi cerita binatang. Mulai sudut tenggara sampai utara terdapat relief yang belum diketahui ceritanya. “Pahatan relief candi ini banyak bergambar manusia dan binatang, seperti kura-kura dan burung angsa,” kata juru pelestari Mulyanto.

Menurut dia, pada 1834, kondisi Candi Jago terancam rusak. Kondisi ini terjadi lantaran akar pohon beringin besar menyebar dan seolah mencengkeram setiap sendi bangunan hingga menyebabkan keretakan pada kaki candi. Berkat renovasi, candi bertingkat tiga ini masih berdiri tegak hingga sekarang. Adapun, di lokasi candi banyak ditemukan batu dan arca, serta patung Amogapasha dan tiga patung muka Kalamakara dalam kondisi relatif bagus.

Kemudian, situs terakhir peninggalan Kerajaan Singosari adalah Candi Singosari. Candi yang disebut-sebut dibangun di pusat pemerintahan Kerajaan Singosari ini merupakan tempat pendharmaan raja terakhir, Kertanegara. Ia adalah raja pertama yang berambisi menyatukan Nusantara ini mangkat pada 1292 akibat serangan Jayakatwang dari Kerajaan Gelang-Gelang atau Kadiri.

Candi Singosari tepat menghadap ke barat, tepat arah Gunung Arjuna. Melihat hiasan luar candi yang seharusnya rata, besar kemungkinan candi ini belum selesai dibangun. Di kompleks ini juga ditemukan arca Prajnaparamita alias Dewi Kebijaksanaan, yang sekarang ditempatkan di Museum Nasional, Jakarta.

Yang menarik dari candi ini, kata juru pelestari Abdurrahman, adalah arca Resi Agastya. Arca ini merupakan satu-satunya yang masih tertinggal, dan terletak di bilik selatan. “Arca Resi Agastya kepalanya memakai surban,” kata Abdurrahman.

Ia mengatakan, kompleks Candi Singosari sebenarnya sangat luas, terbukti banyak ditemukan situs peninggalan yang tersebar di Desa Candirenggo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Ia memprediksi, sangat mungkin banyak situs lain yang belum ditemukan dan tertanam di rumah penduduk.

Koleksi Museum Mpu Purwa

Malang cukup beruntung dibanding daerah lain yang memiliki museum khusus untuk menyimpan situs bersejarah yang jumlahnya cukup banyak. Mulai prasasti, yoni, arca, stupa, hingga batu gores peninggalan Kerajaan Kanjuruhan pada abad ke-6, pemerintahan Mpu Sendok, hingga Kerajaan Majapahit abad ke-14 bisa ditemukan di Museum Mpu Purwa. Dinamakan Mpu Purwa lantaran sosok ini sangat spesial. Ia adalah seorang pendeta Buddha aliran Mahayana yang tertulis dalam kitab Pararaton sebagai ayah dari Ken Dedes.

Prasasti Dinoyo II yang dibuat pada 760 yang memuat tulisan dan bahasa Jawa kuno yang disimpan rapih di lantai. Prasasti batu andesit yang ditemukan pada 1984 ini ditemukan di Kelurahan Dinoyo, tepatnya di pertigaan Jalan Gajayana-MT Haryono dekat Universitas Brawijaya. Penemuan prasasti ini dilakukan secara tidak sengaja oleh penggali hingga batu pecah terkena ganco. Setelah disusun ulang oleh BP3 Trowulan, batu dapat tersambung lagi, meski ukiran tulisan sudah mulai pudar.

Di museum yang dibangun pada 2004 ini, kita dengan mudah menemukan situs bercorak Hindu dan Budha. Di pintu gerbang depan, kita sudah disambut patung Joko Dolog (Budha Aksobhya) pada abad ke-8, berukuran manusia yang ditemukan di kompleks Candi Singosari. Di sampingnya, ditempatkan pula sebuah Makara, yoni dan batu gores yang diperkirakan dari zaman prasejarah. Batu gores ditempatkan di luar museum karena ruangan di dalamnya sudah penuh dengan berbagai situs kuno.

Menurut juru pelestari Museum Mpu Purwa, Sumantri, batu gores fungsinya untuk mengasah benda tajam. Batu andesit berbentuk kotak ini mempunyai goresan selebar hampir tiga cm dengan panjang sekitar 50 cm. Ada lima goresan di atas batu yang digunakan untuk mengasah senjata.

Sumantri menjelaskan, dari ratusan situs bersejarah, terdapat tiga masterpiece yang menjadi koleksi Museum Mpu Purwa, yaitu patung Ganesha Tikus, arca Aghastia, dan arca Brahma era Kerajaan Singosari. Patung Ganesha terbuat dari batu andesit hitam yang ditempatkan di lemari kaca ini, misalnya cukup unik lantaran sedang menunjukkan ekspresi marah. Duduk di atas mushaka seekor tikus yang ukurannya kecil sebagai wahana, kata dia, cuma dapat dikenali di India.

Untuk arca Aghastia yang populer disebut Siwa Mahaguru, menurut Sumantri, disebutkan di dalam Prasasti Dinoyo I yang disimpan di Museum Nasional, Jakarta.  Tidak seperti arca Siwa Mahaguru lainnya, Aghastia koleksi Museum Mpu Purwa di bagian kepala yang diikat adalah rambut, bukan menggunakan surban. Hal itu dinilainya masih menerapkan ajaran klasik Hindu-Budha murni. Raut muka berjenggot dan berbadan kurus juga menunjukkan langgam kebudayaan yang lekat dengan kesenian India tulen.

Sedangkan, arca Brahma berkepala empat memiliki keistimewaan probo di belakang yang memuat siklus hidup dengan filosofi teratai dengan ukiran detail merupakan satu-satunya di Indonesia. “Sayangnya, dari empat kepala, hanya sisa satu,” katanya.

Advertisements