Ahad, 26 Mei 2013 Citarum 1

Oleh Erik Purnama Putra

Semilir angin menyambut kami saat menginjakkan kaki di area Situ Cisanti yang terletak di 1.800 meter di atas permukaan laut (dpl). Situ ini terletak di kaki Gunung Wayang.

Suara burung yang berkicau di antara pepohonan cemara dan kayu putih seolah menyambut kami. Saya menyempatkan berjalan mengitari situ sembari menikmati udara sejuk dan hawa segar, sekalian menikmati pemandangan bukit yang menghijau.

Kedatangan saya bersama rombongan Forum Tujuh Tiga (Fortuga) yang merupakan alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) 1973 bertujuan untuk melakukan ekpedisi menyusuri Sungai Citarum sekaligus meneliti kualitas air di sepanjang aliran.

Hal ini tidak mengherankan, lantaran Situ Cisanti merupakan hulu Sungai Citarum yang merupakan sungai terbesar di Jawa Barat (Jabar). Situ Cisanti berada sekitar 60 km di selatan Kota Bandung. Diperlukan waktu 3 jam untuk mencapai lokasi ini.

Situ yang terletak di kampung Pejaten, Desa Tarumajaya, Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung ini menjadi titik sentral kehidupan jutaan warga Jabar. Apa pasal? Dari tempat ini, Sungai Citarum mengalir sepanjang 300 kilometer (km) hingga berakhir di Pantai Muara Bendera, Kecamatan Muara Gembong, Kabupaten Bekasi.

Situ ini dibangun pada 2001. PT Perhutani selaku penguasa lahan yang melihat potensi debit air membuat pintu air untuk membendung kawasan ini. Sebelumnya, situ ini hanya berupa rawa-rawa yang banyak ditumbuhi rumput liar di tengah hutan.

Mengingat keberadaannya yang sangat penting, maksimal permukiman penduduk harus berjarak 1 km. Begitu pula perbukitan dijaga dan dipantau ketat. Pepohonan diawasi agar tidak ditebang. Kebijakan itu membuat debit air di Situ Cisanti cukup stabil sepanjang tahun. Dengan berbagai langkah itu, diharapkan sumber yang ada terus mengeluarkan air tanpa henti.

Saya langsung menuju kompleks mata air Pangsiraman yang menjadi sumber penghasil debit air terbesar di Situ Cisanti. Di kawasan ini, terdapat tujuh mata air, yaitu Cisanti, Cihaniwung, Cikahuripan, Cikawedukan, Cikoleberes, Cisadane, dan Cisanti. Penjaga situ, Kang Yana (40 tahun) membuka gembok gerbang, dan menyilakan masuk ketika pintu sudah terbuka.

Saya tidak bisa menahan diri untuk membasuh muka dari salah satu sumber yang bersebelahan dengan makam Rangga Wulungsari itu. Kesegaran sangat terasa ketika tangan ini menyentuh air. Demi menjaga kemurnian air dan fungsi sumber sangat vital, area ini dikelilingi pagar besi.

Dengan luas sekitar 7 hektare, situ ini mampu menampung debit air sebanyak 80 ribu kubik. Kedalaman situ rata-rata 1,5 meter, dan ketinggian air berkurang 5 cm ketika memasuki musim kemarau. “Dari sini lah, Sungai Citarum mengalir,” kata pegawai perum Jasa Tirta II Bandung itu.

Ekspedisi Fortuga

Fortuga ITB melakukan penelitian lantaran sangat prihatin dengan keadaan Sungai Citarum. Sungai yang memiliki peran penting sebagai jalur perdagangan dan peradaban manusia sejak awal Hindu-Budha hingga Kerajaan Tarumanegara pada abad ke-4 ini sekarang mirip kondisinya sangat mengkhawatirkan.

Dari 45 penduduk Jabar sesuai sensus 2012, setidaknya 15 juta warga menggantungkan hidupnya dari sungai ini. Sayangnya, akibat perilaku manusia yang gemar membuang sampah sembarangan, pencemaran pembuangan limbah pabrik, dan penggundulan hutan membuat kualitas air Citarum menurun drastis.

Bahkan, media populer Amerika Serikat, Huffington Post  pada 2010 menempatkan Citarum termasuk ke dalam daftar sungai terkotor dan paling tercemar di dunia! Merasa prihatian atas realita itu, belasan orang ikut dalam ekspedisi yang dibuka anggota Fortuga yang mantan menteri perhubungan Djusman Syafii Djamal di Situ Cisanti tersebut. Kegiatan menyusuri sungai dimulai pada Senin (13/5) hingga Ahad (19/5).

Ketua Ekspedisi Sungai Citarum, Iwan Bungsu menjelaskan, ekspedisi dihelat dengan tujuan melakukan penyelamatan lingkungan dengan menelusuri 10 titik di Provinsi Jabar. Ekspedisi ini mengambil jalur darat dan sungai dimulai sejak 27 April lalu dari Ujung Genteng, Sukabumi dan berakhir 28 Mei di Kepulauan Seribu.

Saat penyusuran Citarum, tim melakukan pengamatan tentang pencemaran Citarum dari hulu sampai muara. Tidak lupa, pengambilan sampel air di belasan titik dilakukan untuk diteliti kandungan kebersihannya di laboratorium seusai ekspedisi dilakukan.

Untuk melengkapi data, tim memetakan masalah dengan membuat foto dokumentasi dari darat dan udara. Guna memaksimalkan perjalanan, Fortuga menggandeng perhimpunan pendaki gunung, Wanadri dan komunitas pengarung sungai, Arus Liar.

Curug Jompong

Banyak bukti peradaban kuno ditemukan di sepanjang aliran Sungai Citarum. Salah satunya adalah situs geologi bernama Curug Jompong yang terletak di Desa Jelegong, Kecamatan Kutawaringin.

Dalam Bandung Purba karya T Bachtiar, Curug Jompong terbentuk dari sisa lava gunung api yang mengelilingi Bandung sekitar 4 juta tahun lalu. Kawasan ini sudah termasuk hilir pertama Citarum yang berjarak 68 km dari Situ Cisanti.

Untuk mencapai tempat ini, harus menuruni jalan setapak sepanjang 40 meter dengan medan curam. Kalau tidak hati-hati, jalur yang licin itu bakal membuat orang yang melewatinya pasti terpeleset. Hal itu dialami salah satu anggota tim ekspedisi Fortuga, Abrar Prasodjo.

Karena jalurnya berkelok, Curug Jompong mirip dengan air terjun dengan ketinggian rendah. Aliran deras seolah mencari celah untuk membelah bebatuan andesit, lempung, dan kapur ukuran besar setinggi di atas dua meter. Batu besar itu diperkirakan terbentuk pada empat juta tahun silam. Masyarakat setempat menyebut kawasan ini sebagai tanggul alami.

Curug Jompong memiliki peran sentral di Citarum. Ini lantaran lokasinya menjadi titik temu antara Sungai Citarum yang di arah baratnya merupakan Waduk Saguling. Gulungan arus yang menimbulkan suara bergemuruh menciptakan suasana waspada bagi siapa pun yang mendekat ke tempat tersebut.

Pemandangan bebatuan yang tampak kokoh memecah aliran sungai sangat indah untuk dilihat. Sayangnya, konsentrasi saya terganggu dengan bau limbah pabrik dan sampah yang terbawa aliran sungai. Belum lagi warna air yang terlihat keruh, meski mengalir deras membuktikan pencemaran Citarum sudah sangat akut.

“Sekarang, warga tidak lagi mandi di kawasan sini karena airnya bikin gatel,” kata Sutisna (47), warga setempat yang mendampingi kami turun ke tepi sungai. Bahkan kalau musim kemarau tiba saat debit air mengecil, air cenderung berwarna hitam dan mengeluarkan bau busuk yang dapat dicium hingga radius puluhan meter.

Ia menceritakan, Curug Jompong mengalami masalah luar biasa akibat pencemaran limbah. Warga Jelegong yang banyak bekerja sebagai pembuat batu bata saja sudah mulai enggan menggunakan air sungai. Pasalnya, kalau memaksakan diri, risikonya tangan mengalami gatal-gatal. Alhasil, ia bersama pekerja lebih memilih menggunakan air sumur untuk membuat olahan bahan batu bata.

Kondisi itu jelas sangat kontras dengan yang terjadi sekitar 25 tahun lalu. Ia masih ingat, sebelum era 1990, setiap harinya banyak warga memanfaatkan aliran air untuk mandi di tepi sungai. Bahkan, karena masih jernih tidak sedikit yang memanfaatkannya untuk keperluan minum sehari-hari.

Karena keindahannya, kata dia, Curug Jompong menjadi langganan kunjungan turis lokal maupun mancanegara. Pelancong dari Belanda, Swiss, dan Jerman sering terlihat mengunjungi tempat ini. Sekarang, boro-boro ada wisatawan. Pasalnya, warga setempat saja kalau tidak ada keperluan mendesak tidak bakal mau turun dan hanya melihat Curug Jompong dari atas.

“Tahun 1985, airnya masih bening. Setelah banyak limbah dan sampah, tidak ada yang ke sini,” kenang Sutisna.

Advertisements