Senin, 27 Mei 2013  Citarum 2

Oleh Erik Purnama Putra

Dari Situ Cisanti, tim menuruni perbukitan untuk menyusuri daerah aliran sungai (DAS) Citarum. Permukiman penduduk yang semakin padat membuat banyak lahan di perbukitan ditanami sayuran. Hanya terlihat satu dua pohon cemara tersisa di tengah ladang. Perbukitan terlihat gundul.

Setelah menyusuri jalur berkelok menurun sekitar 10 km dari hulu Citarum, tim menghentikan laju kendaraan untuk mengambil sampel air di Desa Sukarame, Kecamatan Pacet. Dipilihnya titik ini lantaran Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Bandung menjadikan lokasi ini sebagai tempat intake yang masuk ke dalam pipa untuk diolah.

Di sini, air terlihat berwarna kecoklatan karena bercampur dengan tanah dari dataran tinggi yang terkikis aliran sungai. Meski begitu, karena kualitas airnya masih bagus, PDAM mengambil air di kawasan ini. “PDAM hanya memanfaatkan sebagian kecil aliran sungai, sebanyak 150 meter per kubik,” kata salah satu petugas. Di Sukarame, sungai hanya terlihat keruh, dan hanya terkotori sampah rumah tangga yang jumlahnya relatif sedikit.

Karena kontur tanah cenderung menurun dan lebar sungai menyempit menjadi tiga meter hingga menyebabkan aliran sungai cukup deras, dua orang menggunakan kayak mencoba sensasi arung jeram sepanjang 2 km. Meski sempat terguling hingga digulung arus, namun tim kayak dari Wanadri bisa melewatinya. Banyaknya bebatuan besar dan dangkalnya aliran menjadi kendala hingga tim kayak dan perahu karet mengurungkan niat untuk terus menyusuri sungai.

Perjalanan selanjutnya berhenti di Jembatan Majalaya. Rumah penduduk di kawasan ini sering menjadi langganan banjir kalau Citarum meluap. Pasalnya, hujan sebentar saja jalanan sudah tergenang. Kedalaman air sangat dangkal, rata-rata satu meter. Terlihat pula bekas banjir setinggi dua meter yang mengotori dinding rumah yang berdiri tepat di bibir sungai.

Kekeruhan sungai diperparah dengan aktivitas penambangan pasir. Ada 15 orang yang setiap harinya mengeruk pasir di sini. Sampah juga mulai terlihat mengotori sungai. Salah satu penambang pasir, Pak Wahyu (38) mengaku berhenti mencari pasir ketika terjadi banjir bandang. Faktor hujan dan limpahan air dari gunung yang menyebabkan kawasan Kecamatan Majalaya tergenang.

Meski terlihat sampah berserakan, namun sepanjang aliran sungai belum terkena pencemaran serius. Terbukti, masih terlihat banyak orang setiap sorenya berusaha memancing. “Di sini, ikan masih banyak,” kata pria yang setiap harinya mendapat penghasilan Rp 50 ribu dari pekerjaan mencari pasir itu. Tentu saja, tidak lupa diambil sampel air untuk dimasukkan ke dalam botol air mineral berukuran sedang.

Limbah pabrik

Tim menaiki perahu karet dengan berangkat dari Jembatan Majalaya dan garis finis di Jembatan Kopo. Selepas melewati titik keberangkatan, mulai terlihat berderetan pabrik di kanan kiri sungai yang membuang limbah dengan seenaknya. Pipa pabrik dengan diameter 30 cm langsung mengucur ke sungai.

Limbah cair berwarna hitam pekat bercampur dengan segala macam sampah dan barang bekas rumah tangga mengotori sungai yang warnanya mulai kecoklatan. Di beberapa belokan sungai, sampah menggunung karena tidak terbawa arus. Ada pula pabrik yang melakukan kamuflase dalam membuang limbah industrinya.

Caranya adalah dengan menaruh pipa pembuangan di bagian atas dengan tujuan terlihat pandangan banyak orang. Pipa itu hanya membuang air sisa dengan warna jernih. Namun berjarak tidak jauh dari situ, terlihat aliran hitam mengalir cukup deras. Kalau tidak jeli, kita tentu bakal melewatkan pemandangan yang bisa menipu mata itu. Namun, bau menyengat menjadi pertanda adanya limbah pabrik yang dibuang ke sungai.

“Pabrik menanam pipa pembuangan sebenarnya di dalam tanah sehingga limbah langsung terbuang ke sungai,” kata Ketua Tim Ekspedisi Fortuga ITB, Iwan Bungsu.

Setelah ditelusuri, pembuangan limbah model seperti itu tidak hanya dilakukan satu atau dua pabrik. Bahkan, pabrik tekstil dan plastik yang yang berlokasi jauh dari Sungai Citarum juga memiliki saluran pembuangan ke situ. Pemilik pabrik sepertinya sudah merancang saluran pipa untuk ditanam di bawah tanah hingga mengalir menuju sungai.

“Pabrik yang membuang limbah di sini, jaraknya ada yang 5 km dan berada di Bandung Barat,” kata Pak Tata, warga kampung Bojong, Desa Dayeuhkolot yang ditemui di pinggir sungai.

Banyaknya limbah membuat sangat sedikit ikan yang ditemui di sepanjang kawasan ini. Meski di beberapa titik ada pemancing ikan, ia yakin sangat susah untuk mendapatkan ikan karena kualitas air sudah tercemar. Pengamatan saya, tidak terlihat ikan yang muncul ke permukaan sepanjang perjalanan menyusuri sungai menuju Jembatan Kopo.

Karena sinar matahari mulai menghilang berganti sinar bulan, ditambah minimnya penerangan membuat perjalanan tidak berlangsung mulus. Selain mesin perahu karet sering tersendat karena menyangkut sampah, juga adanya tali eretan atau perahu penyeberangan yang membelah sungai dengan posisi rendah membuat beberapa kali perjalanan berhenti.

Sepanjang perjalanan lebih 10 km ini, tim hanya sekali bertemu dengan perahu yang menyusuri sungai untuk mencari ikan. Hanya lambaian tangan penduduk yang mengobati sepinya perjalanan kami. Kondisi itu jelas sangat kontras dengan fungsi Sungai Citarum di masa lalu yang menjadi jalur transportasi utama.

Padahal sejak era Kerajaan Tarumanegara hingga pemerintah Kolonial Belanda, sungai ini menjadi jalur transportasi utama yang menghubungkan daerah pedalaman dengan pesisir untuk mengangkut hasil pertanian. Kebijakan industrialisasi pada 1980-an membuat sungai ini menjadi tempat pembuangan limbah yang jumlahnya tidak terkendali. Bertambah mudahnya sarana transportasi darat juga membuat peran Citarum semakin tersisihkan.

Disebabkan keberangkatan dimulai sore hari, tim mencapai titik finis menjelang azan Isya. Hari pertama ekpedisi, kami bermalam di mes Angkatan Udara di Kopo, Bandung.

Rumah sejarah Rengasdengklok

Usai menempuh perjalanan melelahkan menyusuri sungai sejauh 40 km dari Bendungan Walahar ke Rengasdengklok, tim ekspedisi bermalam di rumah sejarah Rengasdengklok pada Jumat (17/5). Jarak rumah ini sekitar 300 meter dari lokasi pemberhentian tim, yang turun tepat di jalur penyeberangan eretan.

Keputusan menginap di rumah milik pria berdarah Cina, Djiaw Kie Siong itu bukan tanpa alasan. Rumah ini menjadi tempat bersejarah lantaran Soekarno pernah diculik kelompok pemuda yang mendesaknya untuk segera mengumumkan kemerdekaan Republik Indonesia (RI) dari penjajahan Jepang. Di rumah yang sudah dikukuhkan sebagai cagar budaya ini pula, naskah proklamasi yang dibacakan pada 17 Agustus 1945, disusun sehari sebelumnya.

Rumah bersejarah itu sebenarnya letak aslinya berada 100 meter dari tempat sekarang. Pada 1957, rumah ini dipindah untuk menghindari ancaman sapuan air. Lahan lama sekarang termasuk ke dalam aliran Sungai Citarum. “Tanah rumah yang lama sudah terkikis karena berada di aliran sungai,” kata penunggu rumah, Cik Iin.

Dari pintu masuk, terdapat dua kamar yang sisi kanan dulunya digunakan tidur Bung Karno, dan di sisi kiri ditempati Bung Hatta. Di ruang tamu, terdapat beberapa foto dan presiden pertama RI itu. Termasuk pula dipajang foto kunjungan Megawati dan Prabowo Subianto sebelum Pemilu 2009. Hanya saja, banyak koleksi foto dan aksesoris asli peninggalan Soekarno hilang lantaran tidak terselamatkan akibat kebijakan Orde Baru.

Desain rumah ini sangat sederhana. Tepat di pintu masuk langsung berhubungan dengan ruang tamu. Di bagian kanan dan kiri terdapat kamar berukuran 2,5×3 meter. Kamar di bagian kanan berisi tempat tidur kuno lengkap dengan kelambunya. Kamar di sisi kanan dulunya ditempati Soekarno dan Muhammad Hatta kebagian di sisi kiri.

Meski rumah ini berdinding kayu jati, namun kondisinya sangat terawat dengan baik. Kebersihan juga terjaga. Lantai dibiarkan seperti semula yang terbuat dari tegel. Kaki terasa dingin menyentuh tegel ketika malam datang. Tempatnya sangat representatif untuk dijadikan penginapan.

Cik Iin hanya menyediakan karpet dan matras. Meski begitu, ia menyilakan kami untuk tidur di sembarang tempat. Tidak ada larangan untuk tidur di kasur yang pernah ditempati Soekarno-Hatta itu. Tapi, ia mewanti-wanti agar kami tidak tidur di kasur. Alasannya sangat sepele.

Karena sprei kamar tidak pernah diganti. Kalau memaksa tidur di situ dijamin kulit bakal gatal. “Selamat tidur di kamar Bung Karno, siapa tahu dapat ilham,” katanya berseloroh sebelum meninggalkan kami.

Saat itu, kami terdiri sembilan orang. Tiga orang tidur di ruang sisi kanan, tiga di ruang tamu, dan sisanya di ruang kiri. Saya kedapatan tidur beralaskan matras di ruang tengah, tepat di depan altar Djiaw Kie Siong yang bersanding dengan foto Soekarno. Karena rumah ini dikelilingi areal persawahan, nyamak tidak henti-hentinya mendatangi kami.

Tapi karena dalam kondisi capai setelah melakukan perjalanan selama lima hari, kami tidur dengan pulas. Suara jangkrik yang kadang-kadang muncul semakin menambah kenyamanan suasana tidur malam itu. Seru juga tidur di rumah bersejarah Rengasdengklok.

Besoknya, belasan anggota Fortuga ITB dari Jakarta datang berkunjung dan bergabung bersama kami. Cik Iin menyediakan menu nasi kuning dengan lauk telur dadar yang diiris tipis-tipis dan tempe bacem plus kerepuk sebagai hidangan makan pagi rombongan.

Advertisements