Rabu, 29 Mei 2013 Citarum 3

Oleh Erik Purnama Putra

Tingkat pencemaran Sungai Citarum sangat parah. Sebelum melanjutkan perjalanan ke Waduk Saguling, kami singgah dulu ke Jembatan Cipatik di Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat. Melihat Citarum tanpa perlu terjun ke sungai sudah membuat saya bergidik.

Ini lantaran tumpukan sampah seolah menutup hampir seluruh sungai di sepanjang mata memandang. Kondisinya mirip ‘toserba’ karena berbagai macam barang, mulai botol hingga kasur terlihat mengambang.

Saking banyaknya sampah yang berbaur dengan eceng gondok, hingga membuat rumput liar tumbuh subur memenuhi permukaan sungai. Saat itu, debit air lumayan banyak sehingga sampah masih berpencar.

Pesan di poster bertuliskan, “Sungai Kita Masa Depan Kita, Mari Kita Jaga Bersama” hanya menjadi hiasan belaka. Pasalnya, di sisi kira papan pengumuman itu yang dipasang Badan Pengelola Lingkungan Hidup Jabar itu malah dikelilingi sampah.

Menurut Abrar Prasodjo, kalau musim kemarau tiba, para pemulung tidak lagi menggunakan sampannya karena terhalang tumpukan sampah setinggi tiga meter. Mereka bisa berdiri dan berjalan di atas sampah tanpa takut jatuh disebabkan volumenya sangat banyak.

“Kalau musim kering, perahu bahkan tidak bisa dipakai karena sampah sangat tebal dan hampir mengendap,” kata peneliti perairan ITB itu.

Usai merekam fakta itu, ekspedisi dilanjutkan ke Waduk Saguling. Tim memilih titik keberangkatan di sebuah benteng yang menjadi jalur penyeberangan utama penduduk yang tinggal di wilayah yang terpisah akibat pembangunan waduk yang dimulai pada 1980. Untuk bisa ke sana, jalan satu-satunya adalah harus melewati jalur di samping Lapangan Terbang Suparlan yang termasuk kawasan Pusdik Kopassus Batujajar.

Usai di tepi waduk, sebuah perahu penyeberangan bermesin yang menghubungkan Batujajar daratan dengan enam desa yang terisolasi, yaitu Desa Bojonghaleuang, Cikande, Girimukti, Cipangeran, Jati, dan Saguling menyambut kedatangan kami. Perahu yang dimiliki Pak Asep ini yang biasanya mengantarkan warga desa di perbukitan saat ingin ke Batujajar daratan.

“Tarif penyeberangan untuk satu orang sebesar Rp 5.000, untuk sepeda motor Rp 20 ribu, dan anak sekolah tidak dipungut karena kasihan,” katanya dalam perjalanan mengantarkan kami ke tempat pembangkit listrik yang memerlukan waktu satu jam.

Mudah sekali menemukan eceng gondok selama sejam menyusuri waduk. Mengacu kualitas air, banyaknya gulma sebenarnya bisa dipahami. Pasalnya, waduk yang berada 643 meter dpl ini difungsikan pula sebagai penyaring segala kotoran yang terangkut Citarum. Alhasil, buruknya kualitas air membuat Saguling lebih banyak difungsikan sebagai pembangkit listrik.

Sebelum sampai lokasi, kami mampir ke salah satu lokasi tempat budidaya jaring apung. Hampir di setiap penjuru waduk dipenuhi keramba dengan jumlah berbeda-beda. Beberapa jenis ikan, seperti mas, mujair, nila, dan patin menjadi andalan yang dibudidayakan. Salah satu perawat jaring apung, Pak Mansyur menjelaskan, ikan jenis tersebut saja yang cocok dikembangkan di Waduk Saguling.

Pakan yang diberikan adalah singkong, ubi, sosis, dan roti. Ia kedapatan tugas untuk menjaga 100 kapling keramba, yang setiap kapling berukuran 7×7 meter. Dengan kedalaman jarring 4 meter, satu kapling diisi sebanyak 5.000 bibit. Ketika mulai beranjak besar, segera dilakukan pemindahan tempat. Meski mengakui kualitas air tidak jernih dan keruh, Mansyur mengaku selama 10 bulan terakhir tidak ada ikan yang siap panen mengalami musibah. “Belum pernah gagal panen.”

General Manager PT Indonesia Power Saguling, Del Eviondra mengakui terjadi pencemaran berat di Saguling. Selain karena limbah bawaan Citarum, penyebab pencemaran adalah pakan yang tidak termakan ikan hingga mengendap di dasar waduk. Semakin parahnya kualitas air yang mengandung gas ammonium dan aroma sulfur yang kental pada musim kemarau tidak hanya membuat ikan yang dibudidayakan mengandung logam berat.

“Hal ini juga mengakibatkan peralatan besi, seperti dinding dan pipa mudah berkarat,” katanya. Alhasil, banyaknya kandungan pencemaran, air waduk hanya layak digunakan untuk kepentingan industri, dan tidak layak dikonsumsi. Tim bermalam dan menginap di Waduk Saguling.

Kondisi Waduk Cirata tidak beda jauh dengan Waduk Saguling. Tim menaiki perahu karet dengan tempat pemberangkatan di area Saguling dengan tempat pemberhentian di area pintu masuk utama di Desa Cadas Sari, Kecamatan Tegal Waru, Kabupaten Purwakarta. Menempuh waktu sekitar tiga jam, perjalanan terhambat dengan banyaknya eceng gondok yang jumlahnya tidak terkendali dan ribuan jaring apung. Di sini, tim hanya memantau langsung kondisi air dan mengambil sampel.

Kemudian, tim berganti menyusuri Waduk Jatiluhur yang terletak di Kecamatan Jatiluhur ini. Waduk terluas di Jabar ini lebih banyak difungsikan untuk sarana irigasi daripada pembangkit listrik. Kami terjun ke air dengan tujuan Desa Warung Jeruk, Kecamatan Tegalwaru yang merupakan pintu masuk Citarum ke Jatiluhur.

Jarak sekitar 15 km itu ditempuh dengan menggunakan perahu nelayan selama dua jam. Dibanding dua bendungan sebelumnya, air di bendungan yang dibangun pada 1957 ini relatif lebih jernih. Meski jumlah jaring apung jauh lebih banyak, namun sebaran eceng gondok sangat sedikit. Dapat dinilai, pencemaran air di Jatiluhur belum separah di Saguling dan Citara.

Sial menimpa kami dalam perjalanan kali ini. Perahu Pak Yusuf tiba-tiba mogok belum lama usai bertolak dari Warung Jeruk. Kondisi makin mencemaskan ketika hujan turun. Beruntung, di tengah situasi itu, ada perahu nelayan yang lewat.

Setelah diberi penjelasan dan dimintai tolong, akhirnya perahu kami ditarik hingga ke tepi waduk secara pelan-pelan tanpa ada gangguan. Ekspedisi hari keempat berhasil dilalui dengan selamat dengam menempuh jalur 147 km alias separuh rute.

Megahnya Bendungan Walahar

Ekspedisi Fortuga ITB hari kelima dimulai dari Bendungan Walahar. Dari titik ini, jarak yang sudah dilalui sepanjang 190 km. Bendungan yang terletak di Desa Walahar, Kecamatan Klari, Kabupaten Karawang ini memiliki peran strategis dalam mengatur debit Sungai Citarum.

Dari Bendungan Parisdo—sebutan populer lainnya—ini, limpahan sungai dibagi menjadi dua bagian. Satu anak sungai diarahkan untuk tujuan irigrasi yang mengitari Karawang, dan aliran satunya mengalir hingga ke hilir di Muara Bendera, Kabupaten Bekasi.

Banyak kisah menarik tentang berdirinya Bendungan Walahar. Tidak ada catatan pasti kapan bendungan yang dibangun oleh warga pribumi ini mulai didirikan. Hanya saja, terdapat prasasti di bagian atas dinding sisi timur yang menunjukkan bendungan mulai digunakan pada 30 November 1925.

Bangunan bercat kuning ini terlihat kokoh karena tidak ada satu pun retakan, dan sangat kental dengan gaya Eropa. Tiga ikon dari Bendungan Walahar adalah tembok tebal antara 30 cm hingga satu meter, atap dan pintu yang terbuat dari kayu jati, serta rantai ukuran besar.

Bendungan ini memiliki jalan selebar tiga meter yang membentuk lorong sepanjang 20 meter dengan lebar tiga meter yang berhiaskan rantai besar menjuntai ke bawah untuk mengatur pintu air. Kendaraan umum, kecuali truk bisa lewat jalur ini. Estetika bangunan semakin lengkap dengan berdirinya menara kontrol di sisi kanan sungai.

Bendungan pertama di Jabar ini difungsikan untuk mengairi areal persawahan di Karawang seluas 87.396 hektare. Karawang yang dikenal sebagai sentra beras mengandalkan aliran dari bendungan berarsitektur Belanda ini dalam mengatur debit dan sirkulasi air. Dua tahun lalu, bendungan direnovasi, tanpa mengubah bentuk dan warna. Hanya bagian atap, yaitu genteng diganti baru. Bangunan lainnya masih orisinil.

Juru bendung Walahar, Pak Obi (50) menjelaskan, bendungan masih berfungsi baik sebagai penahan air ketika Karawang bagian utara dilanda banjir. Terdapat enam operator dan satu juru bendung yang selalu bekerja memantau debit air. Kalau air laut meluap di sisi utara, pintu bendungan bakal dirapatkan agar aliran Citarum tidak melimpah menuju hilir.

Pak Obi menjelaskan, lebar bendungan sekitar 20 meter dan terbagi menjadi empat pintu air. Pada kondisi normal, hanya dua pintu air yang dibuka untuk mengalirkan air. Pada 2009, satu pintu air sempat jebol lantaran terlalu rapuh dan tidak mampu lagi menahan derasnya debit kiriman dari Jatiluhur.

“Secara keseluruhan, bangunan buatan Belanda ini kondisinya sangat baik dan mesin pembuka pintu air masih berfungsi dengan baik,” katanya. Untuk membuktikan ucapannya, Pak Obi pernah menancapkan paku ke dinding, namun tidak berhasil. Usaha itu baru sukses setelah dinding dilubangi dengan bor mesin. Itu pun memunculkan percikan api. “Kalau bor dengan kekuatan jelek, paku dipastikan gagal menancap.”

Kini, setelah 88 tahun berlalu, bendungan ini tidak hanya berfungsi sebagai alat pengairan semata. Pada hari Ahad, warga setempat menjadikan areal sekitar bendungan sebagai sarana rekreasi dan pasar rakyat. Apalagi di sekitar bendungan terdapat beberapa warung yang menjual makanan khas yang laris diburu, pepes ikan jambal.

Alhasil, Bendungan Walahar tidak pernah sepi dari aktivitas warga yang menikmati kuliner dengan sensasi suara gemuruh air yang keluar dari pintu air. Tim menempuh jarak 40 km dari sini dan berhenti di Rengasdengklok.

Di jalur ini, terdapat Cibeet yang merupakan anak sungai Citarum yang menjadi batas alami antara Kabupaten Bekasi dan Kabupaten Karawang. Jalur ini menjadi sarana transportasi Kerajaan Tarumanegara untuk mengangkut bahan yang digunakan untuk membangun kompleks Percandian Batujaya.

Percandian Batujaya

Dari Rengasdengklok, pada hari ketujuh, tim menuju Percandian Batujaya yang berjarak sekitar 30 km. Di kawasan yang disebut merupakan peninggalan Kerajaan Tarumanegara ini, semua situs terbuat dari batu bata merah. Hanya dua candi yang terbuka untuk umum, yaitu Candi Jiwa dan Blandongan.

Menurut juru pelestari Pak Kaisim, diperkirakan situs Percandian Batujaya seluas 5 km persegi. Saat ini, dari 36 situs, baru 30 situs yang dibukukan. “Situs percandian di sini, disimpulkan merupakan peradaban manusia pertama di Jawa,” katanya.

Uniknya Candi Jiwa adalah tiadanya ruang untuk semedi atau berdoa, sebagaimana candi pada umumnya. Sebagian susunan batu bata tidak asli karena bahannya sudah hancur. Seluruh bangunan tersusun berupa tumpukan batu bata berukuran besar.

Sehingga, kata Kaisim, ritual doa dilakukan dengan cara berkeliling mengitari candi. Karena berada di tengah pematang sawah, saya mendapati empat ekor kambing memakan rumput di areal candi yang kalau dilihat dari atas membentuk bunga meratai mekar itu.

Sekitar 500 meter dari Candi Jiwa, tim melanjutkan ekspedisi menyusuri Sungai Citarum dengan tujuan Muara Gembong. Perjalanan menyusuri sungai sepanjang 20 km banyak terhalang tali eretan. Di sepanjang bibir sungai, baik kiri dan kanan dipasang beton dengan ketinggian dua meter untuk mengantisipasi meluapnya sungai. Ini lantaran ketinggian rumah penduduk tidak jauh berbeda dengan aliran sungai.

Tim menginap di sini sebagai pemberhentian terakhir sebelum melanjutkan ke muara Citarum di Laut Jawa. Jarak Muara Gembong dengan mulut Citarum sekitar 11 km. Kawasan ini sudah termasuk air payau dan tanaman bakau sudah mulai bermunculan.

Keesokan harinya, Ahad (19/5), dengan menggunakan perahu karet dengan kapasitas belasan orang yang digerakkan dua mesin berkekuatan masing-masing 40 PK dengan cepat membelah sungai. Arus laut mulai terlihat dengan munculnya gelombang di sepanjang aliran sungai.

Tim turun sekitar 500 meter menjelang mulut Citarum menuju Muara Bendera. Fortuga menanam 1.973 bibit mangrove di bibir pantai yang terkena abrasi. Menurut Iwan Bungsu, penanaman bibit diharapkan bisa mengembalikan ekosistem laut yang rusak akibat penebangan hutan bakau.

Dede Suprajat, polisi hutan yang bertugas menjaga Muara Bendera menyatakan, kawasan ini mengalami abrasi sepanjang 1,5 km. Akibat pengalihfungsian lahan mangrove membuat berbagai fauna liar menghilang. “Dulu banyak burung dan binatang liar di sini, tapi sekarang tidak ada lagi,” katanya.

Setelah penanaman bibit bakau selesai dilakukan, puluhan anggota Fortuga ITB yang hadir tampak semringah. Acara ekspedisi ditutup dengan pemanjatan doa sebagai tanda syukur karena misi bisa terlaksana dengan lancar. Saya berpisah dengan memilih kapal menuju Pelabuhan Tanjung Priok. Adapun rombongan utama pulang lewat jalur Cilincing, Jakarta Utara.

Advertisements