Candi Jiwa (3)

Candi Jiwa/Erik Purnama Putra

Sabtu, 1 Juni 2013

Oleh Erik Purnama Putra

Akhir bulan Mei, saya berkesempatan mengikuti ekspedisi bersama Fortuga ITB menyusuri Sungai Citarum dari hulu ke hilir. Dengan menempuh jarak 300 km, dibutuhkan waktu tujuh hari untuk menyelesaikan ekspedisi ini. Salah satu perjalanan paling berkesan bagi saya adalah ketika memasuki hari keenam.

Setelah menginap di rumah bersejarah Rengasdengklok, yang pernah dijadikan tempat Bung Karno menyusun naskah proklamasi kemerdekaan, perjalanan dilanjutkan ke kompleks Percandian Batujaya. Karena kali ini, saya memilih jalur darat, jarak Rengasdengklok ke Percandian Batujaya sekitar 30 km hanya ditempuh sekitar 45 menit.

Meski wisata bersejarah kalah populer dibanding wisata alam, tapi kunjungan saya ke Percandian Batujaya meninggalkan kesan mendalam. Kompleks percandian ini merupakan banguan warisan Kerajaan Tarumanegara pada abad ke-2.

Ciri bangunan candi di sini tersusun dari batu bata. Uniknya, di lokasi candi juga ditemukan kumpulan kulit kerang. Pak Kaisim menjelaskan, kulit kerang merupakan salah satu bahan untuk mengeraskan bangunan mirip teknologi beton masa lalu.

Diperkirakan, penguasa Kerajaan Tarumanegara memanfaatkan aliran Sungai Citarum untuk mengangkut bahan baku pembuatan candi dari hilir Citarum di Pantai Muara Bendera, Kabupaten Bekasi. Teori ini sangat masuk akal lantaran jarak candi dengan sungai sekitar 700 meter.

Lokasi penemuan candi dulunya adalah lahan kosong yang terdiri unur atau gundukan tanah setinggi 60-100 cm. Unur yang tersebar di areal persawahan ini dulunya ditumbuhi tanaman pisang, kelapa, dan semak-semak.

Kompleks bersejarah ini ditemukan pada 1894. Diperkirakan luasnya mencapai 5 km persegi. “Luas lokasinya masih kontroversi, ada yang bilang 5.000 meter persegi,” kata juru pelestari Pak Kaisim.

Bisa dikatakan, candi ini merupakan yang tertua di Pulau Jawa. Pasalnya, belum ada bukti sejarah lain adanya kerajaan sebelum Tarumanegara berdiri. Mengunjungi candi ini, kita perlu berjalan kaki menyusuri jalan kaki yang dibangun membelah sawah sawah sepanjang 150 meter.

Ia menyatakan, di areal percandian terdapat 36 situs, baik besar maupun kecil. Namun hingga kini, yang masuk data pembukuan resmi baru 30 lokasi. Yang terbuka untuk umum baru dua situs, yaitu Candi Jiwa dan Candi Blandongan.

Karena merupakan situs bersejarah, di sekeliling candi dipagari kawat besi agar kondisinya tetap terjaga. Sayangnya, lantaran dimakan usia dan terbuat dari batu bata, tidak ada bentuk candi yang utuh. Meski sudah tidak utuh lagi, bentuk Candi Jiwa diperkirakan mirip bunga teratai kalau dilihat dari atas.

Dibanding candi lainnya, Candi Jiwa memiliki keunikan tiadanya ruang untuk semedi atau berdoa. Sebagian susunan batu bata tidak asli karena bahannya sudah hancur. Seluruh bangunan tersusun berupa tumpukan batu bata berukuran besar. Sehingga, kata Kaisim, ritual doa dilakukan dengan cara berkeliling mengitari candi.

Usai kejadian itu, kami bergeser ke Candi Blandongan untuk menuntaskan wisata bersejarah ini. Dibanding Candi Jiwa, Candi Blandongan memiliki bangunan lebih besar. Karena kondisinya sangat mengkhawatirkan, pengunjung dilarang menaiki candi dan hanya bisa melihat-lihat dari samping.

Dengan berjalan di tengah hamparan tanaman padi yang menghijau, suasana terik matahari tidak terlalu terasa bagi saya. Kunjungan ke Percandian Batujaya sulit untuk dilupakan, apalagi melihat kambung nyelonong masuk ke dalam candi!

Advertisements