Sabtu, 8 Juni 2013 Jelajah Sangiran

Oleh Erik Purnama Putra

Hari masih terlalu pagi, ketika saya bersama fotografer, Agung Supriyanto sampai di Jalan Raya Solo-Purwodadi kilometer 15, tepatnya di perempatan Kecamatan Kalijambe. Hal itu dapat dimengerti lantaran kereta yang membawa saya dari Jakarta sampai di Stasiun Balapan Solo pada pukul 05:00 WIB.

Setelah menumpang becak selama 10 menit, kami sampai di Terminal Tirtonadi, dan langsung naik bus jurusan Solo-Purwodadi. Karena jalanan masih sepi dan sopir bus tampak ugal-ugalan, jarak 15 km hanya ditempuh kurang dari 30 menit. Kami turun di perempatan Kalijambe, Kabupaten Sragen.

Tukang ojek yang biasanya mangkal di situ masih belum terlihat. Saya akhirnya memilih menikmati kopi sambil rebahan di warung terdekat, sekalian menunggu mentari beranjak tinggi. Usai sarapan pagi, sekitar pukul 07:00 WIB, sudah terlihat tukang ojek duduk-duduk di gapura.

Seolah bisa membaca tujuan kami, dia spontan mendekat dan menawarkan jasa transportasi menuju Museum Sangiran di Desa Krikilan, Kalijambe, Sragen. Memang benar tujuan kami ke situ. Karena sarana transportasi satu-satunya hanya lah ojek, tentu tidak ada pilihan selain menyetujui tawaran tukang ojek.

Setelah proses tawar-menawar, tukang ojek mau mengantar kami dengan biaya Rp 25 ribu untuk dua orang. Satu motor beber itu pun dengan terpaksa dinaiki tiga orang. Jarak gapura perempatan Kalijambe dengan Sangiran sekitar 3 km. Meski jalanan sedikit menanjak dan berboncengan tiga orang, dengan gas penuh, perjalanan hanya ditempuh 10 menit.

Sesampai di pintu gerbang, petugas loket masih belum terlihat. Penjaga keamanan memberi kode bahwa museum mulai dibuka untuk umum pada pukul 08:00 WIB. Sembari menunggu jam buka museum, kami mencoba melihat suasana alam di sekitarnya.

Setelah melihat petugas loket, saya merogoh kocek sebesar Rp 10 ribu untuk membeli dua tiket. Bagi wisatawan asing, dikenakan biaya tiket lebih mahal sebesar Rp 11.500 per orang. Karena merupakan museum arkeologi, nuansa peradaban purbakala langsung terasa dengan gerbang dua gading raksasa melengkung. Usai melewati gerbang, terdapat patung manusia purba setengah badan bertuliskan The Homeland of Java Man.

Museum ini buka setiap Selasa hingga Ahad. Setiap Senin, museum ditutup dari kunjungan pihak luar. Adapun, petugas museum libur pada Sabtu dan Ahad. Pada hari libur, ribuan pengunjung, yang kebanyakan anak sekolah bertandang ke museum ini. “Hari Senin dijadikan staf untuk membersihkan museum dan fosil yang dipajang agar tetap awet,” kata petugas keamanan Parmono akhir Mei lalu.

Mengunjungi museum

Menginjakkan kaki di tangga museum, kita disambut dengan sebuah keterangan yang menimbulkan kekaguman. Bagaimana tidak. Pasalnya, lapisan tanah tempat museum berdiri diperkirakan berusia 1,8 juta tahun. Lahan yang terbentuk dari lapisan vulkanis paling tua ini merupakan hasil aktivitas Gunung Lawu purba yang tidak mengandung fosil.

Lokasi museum berada di dataran tinggi sehingga bisa melihat pemandangan kehijauan di sekelilingnya. Pada 100 ribu tahun lalu, tempat museum berdiri merupakan gunung. Namun karena proses alam terjadi pelipatan dan pengangkatan lapisan tanah hingga membentuk kubah. Karena itu, Museum Sangiran terletak di kawasan Kubah Sangiran.

Situs Sangiran menjadi area penelitian kehidupan pra sejarah terpenting dan terlengkap di dunia, khususnya di Asia. Situs Sangiran diperkirakan terbentang sejauh 7×8 km yang meliputi Kecamatan Gemolong, Kalijambe, dan Plupuh di Sragen, serta Kecamatan Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar.

“Diperkirakan, di dalam lapisan tanah seluas itu, beragam fosil manusia purba masih terkubur,” kata Kepala Kepala Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran (BPSMPS) Harry Widianto.

Sebelum memasuki ruang diorama pertama, saya disambut dengan tingkah Merak Jawa (Pavo Muricus) yang tampak gelisah dengan kedatangan pengunjung. Saya meneruskan langkah menuju tempat pemajangan fosil binatang purba. Beragam tulang terpampang dengan gamblang. Hanya saja tertulis pesan agar pengunjung tidak menyentuh fosil tersebut agar kondisinya terjaga dan usianya lebih awet.

Suasana ruangan berukuran 3×6 meter itu sangat hening. Pasalnya kami berdua merupakan pengunjung pertama museum. Dari puluhan fosil yang dipajang, saya tertarik untuk mengamati tiga temuan fosil terbaru yang menjadi koleksi museum yang berdiri di atas lahan seluas 16.675 meter persegi ini.

Tiga benda itu terdiri dua fosil gajah purba dan tanduk kerbau yang diletakkan di lemari kaca sebelah kiri dari pintu masuk. Fosil tulang gajah purba ditemukan Parmin pada 14 Januari 2013, dan rahang bawah gajah purba ditemukan Witorejo pada 24 November 2012 di Dusun Grogolan, Desa Manyarejo, Kecamatan Plupuh, Sragen.

Di Sangiran, dulunya hidup tiga jenis gajah, yaitu Mastodon, Stegodon, dan Elephas yang hidup pada era 700 ribu tahun lalu. Mastodon adalah gajah paling primitif di Sangiran dengan gading yang panjang dan memiliki ciri tubuh lebih pendek. Demikian pula halnya Stegodon, gading gajah purba ini pun juga sangaat panjang sekali biasa mencapai lima meter dengan bentuk melengkung. Hal itu terlihat pada fosil gading yang dipajangkan di museum ini.

Sedangkan, Elephas adalah spesies gajah modern dengan gading yang pendek. Bentuknya hampir mirip gajah Sumatra. Hanya saja, ketiga spesies gajah itu telah punah, dan gajah yang hidup sekarang tidak terkait dengan ketiga spesies itu.

Adapun, Pak Subur menemukan fragmen tengkorak dan tanduk kerbau purba di Dusun Pucung, Desa Dayu, Kecamatan Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar pada 25 Mei 2012. Karena ditemukan di Formasi Kabuh, rentang kehidupan binatang sejenis ini diperkirakan pada 800 hingga 250 ribu tahun lalu.

Temuan kepala reptil dari keluarga buaya, seperti gavialidae yang memiliki panjang tubuh berukuran 3,5 sampai 6,2 meter dengan berat 159-181 kg, dan crocodylidae dengan panjang tubuh mencaspai 6,2 meter dan memiliki berat badan 1.200 kg.

Begitu pula dengan fosil banteng purba (bibos paleosandaicus), rusa purba (cervus hippelaphus), dan kerbau purba (bubalus paleokarabau) yang hidup pada era 300-700 ribu tahun lalu. Fakta itu tentu menjadi pegangan betapa kehidupan manusia dan binatang di Sangiran bisa selaras.

Periode 500 ribu tahun lalu, menurut Harry, dapat dikatakan sebagai masa keemasan Sangiran. Pasalnya, manusia dan binatang purba hidup berdampingan secara selaras di lingkungan terbuka yang berada di antara dua gunung api dengan aliran sungai dan danau di sekitarnya. Dengan aneka ragam fauna yang sangat kaya raya, manusia purba mulai memanfaatkan bebatuan untuk diasah sebagai alat berburu hingga meramu.

Menyusuri lebih dalam lagi, dipampang beragam fosil manusia purba beserta peralatan untuk berburu, bagian tubuh binatang purba, hingga tumbuh-tumbuhan yang hidup pada masa tersebut. Selain itu, juga terdapat fosil hewan bertulang belakang, binatang air, tumbuhan laut, serta beragam alat yang terbuat batu dengan beragam manfaatnya.

Harry menjelaskan, fosil yang ditemukan di Situs Sangiran menyumbang 65 persen temuan manusia purba di Indonesia, dan 50 persen temuan fosil dunia. Mengacu temuannya, situs di Sangiran mencakup kehidupan manusia tanpa terputus sejak era 2 juta hingga cikal bakal manusia modern. Bukti peninggalan pada era Pliosen akhir hingga Pleistosen Tengah bisa didapatkan di sini.

Semua fosil yang ditemukan menunjukkan, adanya keragaman kehidupan manusia, binatang, dan tumbuhan purba yang hidup sejak era 2 juta hingga 200 ribu tahun lalu. Hebatnya, kata dia, dari beragamnya fosil itu membuat para ahli bisa merangkai sebuah susunan kehidupan sejarah yang terjadi di Sangiran secara berurutan.

Hal itu wajar mengingat koleksi fosil yang tersimpan di museum mencapai 13.806 buah, yang terbagi dua tempat. Meliputi 2.931 fosil disimpan di ruang pameran, dan 10.875 di dalam ruang penyimpanan yang tidak dipertontonkan untuk umum. Data itu terus bertambah karena penemuan fosil oleh tim peneliti maupun masyarakat terus berlangsung. “Temuan fosil sekarang baru sekitar 30 persen, dan 70 persen sisanya diperkirakan masih berada di dalam lapisan tanah,” kata Harry.

Sehingga, ia tidak ragu mengklaim, wilayah Sangiran memiliki nilai historis sangat tinggi karena mengungkap sejarah kehidupan paling lengkap di dunia. Karena dianggap sebagai kawasan paling bersejarah se-Asia, organisasi bidang pendidikan dan kebudayaan PBB, Unesco menganggap Sangiran sebagai kawasan World Heritage (warisan dunia) nomor 593.

Sejarah museum

Perjalanan sejarah Museum Sangiran tidak bisa dilepaskan dari seorang ahli paleoantropologi Jerman yang bekerja untuk pemerintah kolonial Belanda, GHR Von Koenigswald. Penelitian tahun 1934, mengantarkannya pada penemuan 60 fosil Meganthropus Palaeojavanicus (manusia raksasa dari Jawa). Singkat cerita, berbagai temuan fosil hingga 1975 itu dikumpulkan di rumah Kepala Desa Krikilan, Bapak Totomarsono.

Pada 1977, menteri Pendidikan dan Kebudayaan menetapkan situs Sangiran sebagai cagar budaya. Karena semakin banyak orang yang penasaran ingin melihat temuan fosil tersebut, digagas untuk dibangunkan sebuah museum. Pada awalnya, Museum Sangiran di bangun di atas tanah seluas 1.000 meter persegi di samping Balai Desa Krikilan. Letaknya sekitar 300 meter dari tempat sekarang.

Sebuah museum representatif baru dibangun pada 1980 untuk bisa melayani pengunjung agar bisa leluasa menikmati fosil manusia purba. Setelah dibangun dengan gaya modern pada 2005, Museum Sangiran mengalami pemugaran pada 15 Desember 2011. Setelah diresmikan Presiden SBY, koleksi dan bangunan museum semakin lengkap dan luas.

Secara keseluruhan, terdapat tiga ruang pameran dan satu ruang multimedia yang menampung koleksi benda purba dan alat peraga lainnya. Di Ruang Pamer 1, kita disuguhi dengan pajangan fosil manusia purba, binatang purba, seperti gading, rahang bawah, dan paha gajah purba, tanduk kerbau purba, buaya purba, hingga tengkorak manusia seperti yang dicetuskan dalam teori evolusi Charles Darwin.

Ditampilkan pula foto penggalian ahli paleontologi, Eugene Dubois di lokasi situs Ngandong, Punung, Sangiran, Sampung dekat Ponorogo, dan Trinil di Ngawi. Untuk memberikan imajinasi, pengelola museum memberikan kesempatan kepada siapa pun untuk menyentuh fosil tulang gajah purba berusia 500 ribu tahun lalu. “Sentuh dan rasakan sensasi kepurbaanku,” demikian pesan tertulis agar setiap pengunjung menyentuh langsung fosil binatang purba yang telah punah itu.

Menginjakkan kaki di Ruang Pamer II kita akan mendapati sejarah lebih luas tentang terbentuknya tata surya, bumi, Pulau Jawa, hingga Sangiran. Pengunjung seolah dimanjakan dengan sarana tampilan multimedia yang dipasang di berbagai sudut ruang pameran.

Hal ini tentunya membantu kita untuk mengetahui perkembangan penemuan secara aktual. Di sini, pengunjung bisa melihat berbagai koleksi berkaitan dengan penemuan fosil purba, termasuk persebaran manusia purba.

Ruang Pamer III lebih menonjolkan era keemasan Homo Erectus yang hidup pada 500 ribu tahun lalu. Ruang ini paling besar karena menyajikan tiga buah diorama tentang aktivitas kehidupan manusia yang tampak bisa hidup berdampingan dengan binatang di zaman purba. Bahkan, di gedung berbentuk kerucut ini, sebuah diorama besar menampilkan manusia purba secara lengkap sedang berburu.

Bagi turis mancanegara tidak perlu khawatir. Ini lantaran setiap koleksi dan tampilan dilengkapi dengan deskripsi dua bahasa, Indonesia dan Inggris yang cukup lengkap. Sehingga, kalau tidak paham dengan sejarah peradaban purba seketika bisa membaca agar paham karena mendapatkan informasi secara detail.

Sumber air asin abadi

Terdapat satu objek menarik yang sering terlupakan sebagian besar pengunjung Museum Sangiran. Objek wisata itu adalah sumber air asin. Letaknya berada di Dusun Pablengan, Desa Krikilan, Kecamatan Kalijambe, dan Kabupaten Sragen. Untuk mencapai lokasi dua sumber mata air ini, hanya perlu dengan berjalan kaki.

Ini lantaran jaraknya dengan museum sekitar 700 meter. Namun karena sedang musim hujan dan lokasinya berada di tengah areal ladang, disarankan untuk mengenakan alas kaki yang sesuai. Kalau tidak, kaki dipastikan belepotan lumpur karena tanah yang dilewati sangat gembur.

Saya ditemani warga setempat, Waridi (33) ketika meninjau sumber mata air asin. Diameter sumber sekitar 30 cm, dan dari tengahnya bermunculan gelembung sebagai tanda keluarnya air. Berdasarkan penuturan versi orang tua di kampungnya, sumber air asin sudah ada sejak dulu. Dapat dikatakan, sumber ini muncul bertepatan dengan adanya Sangiran.

Ia menceritakan mengapa dusunnya diberi nama Pablengan. Hal itu tidak lain karena arti kata bleng bermakna air asin. Alhasil, Pablengan merupakan tempat munculnya sumber air asin. Ketika masih kecil, ia dulu gemar bermain di sekitaran sumber air asin.

Kalau sekarang tinggal dua, dulu, seingatnya ada empat sumber air asin. Volume air yang dikeluarkan pun, sekarang lebih sedikit daripada sebelumnya. Meski begitu, sumber ini terus menghasilkan air tanpa henti. Tiadanya perhatian dari pemda maupun pihak museum membuat keberadaan sumber air asin terancam.

Padahal, menurut dia, tidak sedikit biasanya rombongan datang untuk melihatnya. “Ketika masyarakat meminta pihak museum untuk membuat akses jalan, jawabannya kurang memuaskan,” kata Waridi.

Begitu pula saat ia meminta agar ada perhatian, berupa pembangunan gubuk atau bangunan sebagai sarana istirahat pengunjung, ia melanjutkan, jawaban pihak museum sangat mengecewakan. “Katanya, kalau di sini dibangun, nanti sumber air asinnya mati.”

Fenomena alam

Meski berada di dataran tinggi, munculnya sumber air asin sebenarnya bukan sebuah keanehan. Pasalnya, pada dua juta tahun lalu, wilayah Sangiran merupakan sebuah lautan dalam. Terjadinya pergeseran bumi dan letusan gunung berapi membuat hamparan laut itu berubah menjadi daratan.

Hal itu dibuktikan  dengan beberapa lapisan tanah  pembentuk  wilayah  Sangiran yang sangat berbeda dengan lapisan tanah di tempat lain. Setiap lapisan tanah di Sangiran ditemukan berbagai fosil sesuai jenis dan jamannya yang berbeda. Misalnya, fosil binatang laut banyak ditemukan lapisan tanah paling dasar, yang dulu merupakan kawasan pesisir.

“Adanya dua sumber air asin di dataran tinggi bukan sebuah keanehan, karena wilayah Sangiran dulunya merupakan lautan,” kata Kepala Kepala Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran (BPSMPS) Harry Widianto.

Menurut Harry, munculnya sumber air asin karena ketika terjadi pergeseran lapisan tanah, terdapat bagian air laut yang terjebak tidak ikut mengalir ke tempat lebih rendah. Meski hamparan lautan sudah menjadi dataran tinggi, namun karena volume air laut itu jumlahnya banyak, hingga kini sumber air asin masih terus mengalir.

Harry memprediksi, sesuai kajiannya, sangat mungkin sumber ini berhenti memproduksi air asin. Hal itu terjadi kalau pasokan air laut yang terjebak di dalam tanah itu sudah habis. Namun, ia tidak tahu kapan jangka waktunya sumber air asin ini mati. “Bisa saja nanti suatu saat airnya kering.”

Souvenir khas Sangiran

Sangiran tidak hanya menjual wisata sejarah kepurbakalaan. Pengunjung di sini juga bisa menikmati beragam kerajinan masyarakat yang berasal dari olahan batu-batuan indah dengan beragam jenisnya. Kebanyakan, hasil kerajinannya tidak jauh dari fosil manusia purba maupun binatang purba.

Toko souvenir di sekitaran Museum Sangiran hampir berderet di setiap rumah. Hanya saja, produk yang dijual hampir serupa. Kalau bukan manik-manik pecahan fosil, barang yang dijual berupa patung, seperti gajah dan badak. Adapula guci dengan berbagai ukuran yang merupakan produk olahan tangan warga setempat.

Pak Tanto, salah satu pedagang souvenir menjelaskan, bahan baku pembuatan souvenir didapat dengan menggali di perbukitan. Jenis batu yang digunakan adalah granit, jasper, dan kuarsa. Karena bahan baku kerajinan tangan terbuat dari batu berusia jutaan tahun, kata dia, arkeolog dan kalangan tertentu yang gemar membeli produknya.

Meski harganya terbilang mahal, selain karena kerumitan pembuatannya, ia mengaku, penggemar souvenir batu alam biasanya tidak terlalu mempermasalahkannya. Bahkan, tidak sedikit orang yang membeli batu pecahan utuh untuk dibawa pulang sebagai sarana penelitian. “Yang beli batu-batuan malah lebih banyak untuk digunakan sebagai penelitian,” katanya.

Tidak hanya wisatawan atau peneliti lokal, lanjutnya, orang luar pun sering berkunjung ke Museum Sangiran. Kebetulan, ia beberapa kali mendampingi orang asing itu untuk berkeliling lokasi yang sering ditemukan fosil.

Kemudian, saya menyambangi tiga toko penjual souvenir. Ternyata, sambutan yang didapat kurang mengenakkan ketika mengungkapkan tujuannya kedatangan saya hanya ingin wawancara. Ketiga penjaga toko itu selalu bilang, pemiliknya merupakan orang yang bekerja di Museum Sangiran. Karena itu, mereka kurang tahu harga jual masing-masing barang yang dipajang di ruang bagian depan rumah.

Advertisements