Senin, 10 Juni 2013 Jelajah Sangiran 3

Oleh Erik Purnama Putra

Kabupaten Sragen tidak melulu dikenal sebagai tempat wisata bersejarah. Bumi Sukowati ini juga dikenal sebagai penghasil batik tulis berkualitas tinggi. Di Jawa Tengah, Sragen menjadi sentra produksi batik terbesar setelah Pekalongan dan Solo. Sentra batik Sragen terdapat di Kecamatan Plupuh, dan tersebar di Desa Kliwonan, Pilang, Pungsari, dan Sidodadi.

Karena berada di sekitaran aliran Sungai Bengawan Solo, sebutan batik girli alias penggir kali menyemat di kalangan masyarakat setempat. Dari total 15 ribu pembuat batik di seluruh Sragen, geliat ekonomi di tiga tempat tersebut mampu memberdayakan hampir 5.000 perajin dan menyerap tenaga kerja 7.000 orang.

Untuk mencapai sentra batik ini terbilang cukup sulit lantaran lokasinya cukup pelosok. Dengan menggunakan bus jurusan Solo-Purwodadi, saya turun di perempatan Gemolong. Karena tidak ada angkutan umum, transportasi ojek adalah pilihan satu-satunya untuk mencapai lokasi dengan biaya Rp 30 ribu.

Meski di beberapa titik jalanan rusak, dengan kecepatan tinggi perjalanan ditempuh sekitar 30 menit. Tukang ojek sempat bingung dengan lokasi sentra batik. Namun setelah bertanya dengan warga, kami berhenti di Kampung Tanjungsari, Desa Pungsari, Kecamatan Plupuh.

Keputusan ini diambil setelah warga desa setempat menyatakan, produksi batik di desa satu dengan lainnya hampir serupa. Dengan kata lain, semuanya memiliki kesamaan corak dan hanya dibedakan letak geografis.

Pemandangan unik langsung tersaji saat memasuki Kampung Tanjungsari. Deretan puluhan rumah joglo dikelilingi persawahan. Di depan setiap pintu rumah, tersaji pemandangan orang-orang sedang membatik. Aktivitas ini dilakukan ibu-ibu yang menorehkan lilin dalam canting ke kain dengan sangat teliti.

Uniknya, sang ibu tidak sendirian lantaran didampingi sang buah hatinya. Pun halnya dengan Bu Sumarsih (37 tahun) dan putrinya, Bella (9) yang sibuk dengan masing-masing tugasnya. Sehari-hari, ia berkutat dengan aktivitas membatik.

Dengan duduk di dingklik (kursi kayu), Sumarsih dengan teliti membuat pola (nyorek) di atas kain yang ditaruh di gayungan. Ia hanya mengolesi pola tertentu dengan lilin di motif yang sudah ada.

Adapun, Bella kebagian tugas menutup bagian dasar kain (nembok) dengan lilin di dalam kaleng yang sedang dipanaskan di perapian kecil. Keduanya berkonsentrasi penuh menyelesaikan pekerjaan agar tidak ada kesalahan sedikit pun dalam pembuatan motif batik.

Secara keseluruhan, proses batik tangan dilakukan sebanyak lima tahap. Pertama, pemotongan kain sebagai bahan baku (mori) sesuai kebutuhan. Kain yang digunakan bisa katun atau sutra berukuran sampai 2,5 meter. Kedua, mengetel, yaitu menghilangkan kanji dari mori dengan cara membasahinya dengan larutan minyak atau soda secukupnya.

Ketiga, nglengreng, yaitu menggambar atau memberi motif di kain. Keempat adalah isen-isen alias memberi varisasi ornamen di bidang. Kelima, menutup bagian dasar kain yang tidak perlu diwarnai. Proses tersebut belum termasuk pembilasan dan pengeringan. Setiap tahapan pembuatan batik, biasanya dikerjakan oleh orang yang berbeda.

Sumarsih mengatakan, sentra batik di kampungnya baru berdiri sejak 17 tahun terakhir. Hal itu terjadi setelah ada tetangganya yang berani banting setir dari perajin menjadi pengusaha batik. Sebelum itu, semua warga berbondong meninggalkan kampung untuk bekerja di sebuah perusahaan batik di Solo, dan baru pulang setiap akhir pekan. “Setelah mulai muncul bos-bos baru, saya dan warga di sini tidak lagi bekerja ke Solo,” katanya.

Ia kurang mengetahui sejarah batik di kampungnya. Keterampilan batik yang didapat warga biasanya karena sejak kecil sering melihat sang ibu membatik. Keterampilan itu pula yang secara alamiah menurun kepada putrinya. Sudah setahun ini, anaknya yang baru kelas IV SD sudah mulai lihai memainkan canting.

Hanya saja, kemampuan Bella masih terbatas dan perlu diasah. “Keterampilan membatik didapat dari warisan turun-menurun,” ujar Sumarsih.

Ia menjelaskan, batik Sragen memiliki kemiripan dengan Solo. Kondisi itu terbentuk lantaran pengaruh budaya Solo yang menyebar ke daerah sekitarnya. Belum lagi, pekerja batik di Sragen kebanyakan mendapat ilmu keterampilan dari Solo.

Terkait ciri khas batik tulis, kalau ditarik garis besar lebih banyak bermotif wayang, bunga, dan burung. Kalau ada motif lain, tambahnya, dipastikan merupakan batik cetak. “Motif batik di sini berunsur klasik karena sudah diturunkan hingga mendarah daging.”

Berbeda dengan Bu Kinah (50) yang menjadikan pekerjaan membatik sebagai sampingan. Wanita yang sudah membatik selama 40 tahun ini tengah mengerjakan pesanan nembok di batik biru bermotif burung. Namun belakangan ini, ia hanya semampunya dalam mengerjakan pesanan. Faktor usia menjadi kendala sehingga sekarang, tidak semua tahapan membatik bisa dilakukannya.

Ia hanya mengerjakan tugas ketika pulang dari sawah atau pada hari libur. Hal itu dilakukannya untuk mengisi waktu senggang. Selain itu, ia hanya mengerjakan bagian yang tidak menuntut kedetailan terlalu rumit. Aktivitasnya diteruskan anaknya yang bekerja di tempat pembuatan batik.

Mulai bekerja usai Zuhur, sehari ia bisa menyelesaikan garapan lima hingga enam kain per harinya yang diselesaikannya sebelum Maghrib. Meski dibayar rendah, ia tetap menikmatinya. “Seminggu bisa dapat Rp 50 ribu yang dibayarkan majikan pada Sabtu,” katanya.

Puas berbincang dengan perajin batik, saya menyambangi toko batik tulis ‘Cahaya Sari’. Pemiliknya bernama Pak Bejo (50). Ia merupakan salah satu bos batik di kampungnya dan juga perintis sentra batik Sragen.

Pak Bejo berkisah, sebelum tahun 1990, ia bersama istrinya masih bekerja di Solo. Setelah merasa memiliki kemampuan dan modal cukup, ia memberanikan diri untuk berhenti dari pekerjaannya.

Keputusannya itu tidak salah. Sekarang, ia bisa menikmati hasilnya. Bisnis batiknya berkembang, dan diikuti sebagian rekannya. Warga kampungnya pun terbantu dengan keberadaannya lantaran tidak perlu lagi bekerja ke Solo. Setidaknya, ia sukses memberi pekerjaan 200 orang.

Dengan upah yang tidak berbeda jauh, mereka lebih senang mengerjakan pesanan batik ‘Cahaya Sari’. Dalam sebulan, pemilik usaha batik ini mampu memproduksi sekitar 3.000 kain batik, terdiri 2.500 batik cetak dan 500 batik tulis. “Saya memberdayakan warga sini, dan setiap tahapan pembuatan batik sebagian besar saya serahkan ke mereka,” katanya.

Pak Bejo menyatakan, pembuatan satu kain batik bisa sampai tiga pekan hingga sebulan. Hal itu lantaran prosesnya yang bertahap dan rumit karena sangat memperhatikan detail motif. Alhasil, tidak jarang selembar kain batik tulis harganya sangat mahal. Ia mencontohkan, harga selembar batik berbahan katun di pasaran dijual dengan harga Rp 500 ribu.

Menurut dia, corak batik Sragen dan Solo memiliki kesamaan. Berbeda dengan batik Pekalongan yang identik memiliki corak ramai. Gaya klasik yang diusung batik Sragen merupakan ciri khasnya. “Dari segi warna memang batik di sini mirip dengan Solo karena dipengaruhi sana,” kata Pak Bejo.

Ia optimisi bisnis kain batik bisa terus berkembang. Selain menjadi identitas budaya lokal, permintaan pasar terhadap baju batik terus meningkat. Karena itu, ia berharap kepada pemda untuk bisa membantu mencarikan pasar baru. Saat ini, batik hasil produksinya hanya tersebar di Solo, Yogyakarta, dan Surabaya. “Kami ingin ada perhatian dari pemda, karena selama ini tidak pernah ada bantuan dari mereka,” harap Pak Bejo.

Ternyata, batik punya ciri khas tersendiri. Ternyata pula, beda kota, beda pula ciri khas batiknya. Ini yang membedakan.

Batik Yogyakarta  

Berlatar putih, mempertahankan motif gaya keraton yang baku, seperti parang, kawung, dan sebagainya.

Batik Surakarta

Batik ini berlatar hitam atau gelap, mempertahankan motif gaya keraton yang baku, seperti parang, kawung, dan sebagainya.

Batik Pekalongan dan pesisiran

Batik berlatar warna cerah mencolok. Motif batik kecil-kecil dengan jarak yang rapat sehingga berbeda dengan batik Sragen.

Batik Sragen

Lebih kaya dengan ornamen flora dan fauna, terkadang  dikombinasi dengan motif baku. Jadilah, motif tumbuhan atau hewan yang disusupi motif baku, seperti parang, sidoluhur, dan lain sebagainya. Guratan motif batik Sragen dewasa ini cenderung menyiratkan makna secara tegas, lebih lugas daripada corak Yogyakarta dan Surakarta.

Advertisements