Jumat, 14 Juni 2013 Holidin dan Bunga Bangkai

Oleh Erik Purnama Putra

Menjadi penangkar bunga bangkai (Amorphophalus) dilakukan Holidin (46 tahun) secara tidak sengaja. Pada periode 1998, sepulangnya dari berkebun, ia mendapati bunga bangkai di jalan setapak yang dilewatinya. Tempatnya berada di Desa Tebat Monok, Kecamatan Kepahiang, Kabupaten Kepahiang, Provinsi Bengkulu.

Pertemuan pertama itu tidak menggerakkannya untuk langsung menangkar spesies tanaman endemik yang hanya tumbuh di dataran rendah beriklim tropis dan subtropis ini. Namun, Holidin kecewa ketika keesokan harinya mendapati bentuk bunga bangkai rusak akibat tangan jahil seseorang.

Pun demikian ketika periode berikutnya, bunga kibut—panggilan masyarakat lokal—mekar lagi. Meski sempat mencuri perhatiannya, ia belum berkeinginan untuk merawatnya. Tapi, ia menyesal setelah tahu bunga yang ditemukan pakar botani asal Italia, Odoardo Beccari pada 1878 itu terpotong.

Ia menduga ada orang yang tidak suka dengan keberadaan bunga bangkai kalau melihat detail rusaknya. Ketika untuk ketiga kalinya dipertemukan dengan bunga bangkai yang sedang mekar, Holidin akhirnya tergerak untuk menyelamatkan keberadaan bunga Bangka yang tumbuh liar itu.

Ia berinisiatif untuk memindahkan ke tempat lebih layak dengan alasan agar bunga terbesar dan tertinggi di dunia itu tidak lagi menderita diusili orang yang tidak bertanggungjawab.

“Saya ambil saja, saya angkat dengan tanahnya untuk ditaruh di pekarangan rumah,” katanya kepada Republika, Kamis (23/5) malam. Pekarangan yang dimaksudnya milik orang tuanya dan dekat dengan jalan poros yang menghubungkan Kepahiang-Kota Bengkulu.

Proses pemindahan itu tidak seketika membuatnya peduli untuk menangkar bunga yang menyebarkan aroma khas tersebut. Ia hanya merawatnya dengan ala kadarnya. Sayangnya, tangan jahil seseorang tidak juga berhenti. Bunga bangkai di pekarangannya disiram air pestisida hingga layu seketika. Semenjak itu, Holidin mulai berencana untuk merawat bunga yang hanya mengalami fase vegetatif dan generatif itu.

Ia memotong bagian yang rusak agar perkembangan bunga bisa terus berlanjut. Tidak disangka, langkahnya itu berhasil. Bunga bangkai miliknya bisa terus berkembang dan memunculkan bibit baru. Alhasil, memasuki 2003, ia mulai serius untuk menangkar bungai bangkai karena sudah hafal karakteristik pertumbuhannya. “Pengalaman merawat bunga saya dapat dari pengalaman saya mengamati pertumbuhannya,” kata pria lulusan SMA ini.

Perkembangan bunga bangkai hingga bisa mekar membutuhkan proses waktu yang sangat lama. Satu kali masa pertumbuhan daun (vegetatif) membutuhkan waktu tujuh sampai delapan bulan dengan ditandai munculnya batang semu. Kemudian layu dan membusuk.

Setelah melalui masa vegetatif yang bisa dua hingga tiga kali, bunga bangkai memasuki masa tumbuh bunga (generatif) yang juga tergantung faktor lingkungan. Pertumbuhan dari tunas mulai muncul sampai bunga mekar membutuhkan waktu tiga pekan. Masa mekar bunga tidak lama, bisa sehari sampai tujuh hari.

Selama mekar terjadi pembuahan. Pada proses ini akan terbentuk buah-buah merah dengan biji pada bekas pangkal bunga. Biji ini yang nantinya bisa ditanam untuk dijadikan bibit hingga terbentuk pohon baru.

Paling langka

Hingga kini, setidaknya ia sukses merawat 50 bibit bunga bangkai. Kini, yang hidup tingal 15 bunga berusia rata-rata empat dan lima tahun. Bunga bangkai terdiri enam spesies, di antaranya jenis titanium, variabilis, paenifolius, dan gigas. Khusus untuk nama yang disebut terakhir merupakan salah satu yang paling langka di dunia.

Bunga bangkai jenis gigas yang terakhir mekar pada Maret lalu menjadi pembicaraan banyak orang. Tinggi bunga yang mencapai lebih empat meter mampu membuat takjub pengunjung. Hal itu dapat dimengerti karena jenis gigas paling jarang mekar, apalagi dibandung titanium yang cepat beradaptasi dengan lingkungan hutan lindung.

Berdasarkan penelitian Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), kata dia, total bunga bangkai di dunia terdiri 182 spesial, dan 11 di antaranya berada di Sumatra. Setiap spesies memiliki karakteristik, bentuk dan ukuran yang berbeda-beda. Setelah jumlah bunga bangkai banyak, penangkaran memanfaatkan lahan seluas tiga hektare di dalam hutan lindung Bukit Daun di bawah pengawasan Dinas Kehutanan Provinsi Bengkulu.

Untuk mengamankan bunga tersebut dari gangguan manusia atau satwa liar, bersama kelompoknya yang tergabung dalam Komunitas Peduli Puspa Langka, Holidin membuat pagar pengaman dari kayu dan bambu. Pembuatan pagar dibuat secara sekadarnya saja karena terbentur biaya. Apalagi, ia tidak pernah memungut biaya kepada setiap pengunjung. “Sayangnya, pagarnya juga tidak bertahan lama karena dirusak babi hutan,” ujarnya.

Terkait keberhasilannya itu, Holidin enggan disebut sukses sebagai penangkar bunga bangkai. Pasalnya, kalau dimasukkan ke dalam kategori berhasil, ia sudah hidup sejahtera memetik hasil yang didapatkannya selama menangkar bunga. Yang terjadi, menurut dia, kesejahteraannya tidak bertambah.

Atas dasar itu, merasa sudah ikut serta melestarikan bunga bangkai dan ditambah minimnya perhatian pemda, Holidin berharap adanya apresiasi terhadap aktivitas yang digelutinya. Hal itu dilakukannya bukan karena ingin mendapat pamrih, hanya saja ia ingin mengetuk hari pemerintah agar membuka mata untuk peduli terhadap nasibnya.

Pasalnya, Holidin hingga kini belum memiliki rumah. Sehari-harinya, ia menumpang di sebuah gedung dalam kompleks sekolah luar biasa di desanya. Ia mendapat fasilitas itu lantaran anaknya sekolah di situ. Secara kebetulan, ia juga menjadi staf kebersihan di sekolah luar biasa hingga diberi tumpangan tempat tinggal. Meski begitu, karena bukan rumahnya sendiri, ia enggan terus-menerus menumpang. “Saya belum punya apa-apa, masak dibilang sukses?” katanya.

Karena banyak pengunjung, baik lokal hingga mancanegara yang melakukan penelitian bunga bangkai, Holidin berkeinginan suatu saat bisa mendirikan homestay. Penginapan kecil-kecilan diharapkan bisa membuat tamu yang datang dari jauh tak perlu mencari penginapan yang jauh dari lokasi. Tentu saja, ia tidak memungkiri bisa mendapatkan pemasukan dari penginapan sebagai tambahan penghasilan yang didapat dari sumbangan sukarela pengunjung.

Advertisements