Negeri di atas awan

Mahameru/Erik Purnama Putra

Jumat, 12 Juli 2013

Oleh Erik Purnama Putra

Hujan menyambut kedatangan kami usai melewati titik Arcapada di ketinggian 2.900 meter dpl. Hari sudah Rabu (5/6), karena jam di tangan menunjukkan pukul 02:00 WIB. Sudah dua jam perjalanan kami tempuh dari tempat perkemahan di Kalimati.

Banyak ‘bonus’ alias jalan menanjak cukup tajam yang harus dilewati. Udara dingin, pencahayaan seadaanya, dan jalan setapak yang labil karena merupakan tanah vulkanik menuju puncak Gunung Semeru membuat perjalanan menjadi semakin menantang.

“Tenang saja, rintikan air ini fenomena alam dari awan yang menurunkan limpahan air sepintas, bukan hujan betulan,” pesan salah satu petugas Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) Mahmudin Rahmadan yang biasa dipanggil Pak Kades ini saat mendampingi perjalanan kami.

Benar saja, 20 menit berselang, hujan sudah berhenti. Jaket saya hanya basah di bagian luarnya saja. Ini lantaran embusan angin cukup kuat. Namun hal itu malah membuat tubuh menggigil karena udara terlampau dingin sekitar 10 derajat celcius.

Karena sudah terlalu capek, saya bersama empat jurnalis memilih beristirahat sambil selonjoran kaki dengan nafas tersenggal-senggal. Saya memilih menyandarkan diri ke pohon tumbang. Mengapa hanya bersama empat orang? Karena dua rekan memutuskan tidak ikut ke puncak, dan berhenti sampai di Ranu Kumbolo.

Posisi kami di Kelik, tempat vegetasi terakhir pohon cemara. Di sini, banyak ditemukan plakat in memoriam untuk mengenang pendaki yang meninggal sebelum sempat menginjakkan kaki di puncak di ketinggian 3.676 meter dpl. Nama Kelik diambil dari seorang pendaki yang hilang dan jasadnya tidak diketemukan.

Pemandu menyarankan agar kami lebih hati-hati saat beristirahat di Kelik. Ini lantaran di kanan kiri jalan ternyata jurang yang merupakan tempat aliran lahar. Terpeleset sedikit, nyawa taruhannya. Di kawasan yang disebut Blank 75 ini, banyak pendaki tersesat. Penyebabnya lebih karena mengalami disoerientasi akibat pandangan mata yang tak fokus dan kelelahan.

Setelah 15 menit berlalu, kami bergerak ke titik terakhir pendakian. Medan terasa semakin berat ketika langkah kaki memasuki jalanan berpasir. Kawasan ini disebut Cemoro Tunggal karena dulunya terdapat satu-satunya pohon cemara yang bisa hidup di daerah berpasir dan bebatuan vulkanik. Namun, cerita pohon cemara unik itu tinggal kenangan lantaran sudah rubuh beberapa tahun lalu.

Kalau ditarik garis lurus, jarak dengan Mahameru tinggal 700 meter. Perasaan optimis untuk bisa melihat matahari terbit (sunrise) di puncak tertinggi di Pulau Jawa terus terbersit. Apalagi, waktu menunjukkan masih pukul 03:00 WIB. Namun saya salah prediksi. Jalan pasir membuat kaki ini sering tergelincir dan terasa berat untuk melangkah.

Dengan tingkat kemiringan tanjakan mencapai 70 derajat, meski sepatu terasa sudah mencengkeram erat, beberapa kali laju kaki malah berjalan mundur. Ini lantaran kalau tidak hati-hati, satu langkah ke depan konsekuensinya bisa mundur dua langkah akibat tingkat kemiringan yang terlampau curam. Kondisi itu memaksa kami beberapa kali beristirahat cukup lama.

Saya sampai dibangunkan rekan karena tertidur selama 10 menit akibat kelelahan. Kepala saya sekali terbentur batu akibat spontan merebahkan diri ke pasir. Tapi, hal itu tidak terlalu menjadi masalah akibat rasa ngantuk menyergap.

Jarak kurang 100 meter ketika waktu menunjukkan tepat pukul 06:00 WIB. Saya telat memenuhi janji dalam hati untuk menikmati pemandangan matahari terbit di puncak. Tapi, karena kaki sudah gontai, saya memilih menyimpan tenaga lebih dulu, tidak ngoyo mencapai Mahameru.

Di kiri kanan dan atas bawah saya melihat puluhan pendaki tidur dan bersandar dengan posisi tidak beraturan akibat kelelahan. “Ayo, semangat! Sedikit lagi sampai puncak,” panggilan dengan nada keras dari rekan saya, Bagus Ary membuyarkan rasa kantuk yang menghampiri lagi.

Sontak teriakan itu membuat saya terbangun. Dua kali saya tertidur sebentar, ketika melihat rekan lainnya rebahan di pasir. Nyatanya, saya terbangun setelah mendengar teriakan salah seorang teman. Dengan tenaga tersisa sambil berjalan merangkak menggunakan kedua tangan, saya terus melanjutkan pendakian.

Mengutip lagu Mahameru karya Dewa 19, setiap orang disadarkan untuk tidak memelihara keangkuhannya. Pasalnya, jalan menuju puncak abadi para dewa ini hanya bisa dilalui dengan cara membungkuk. Memaksa tegak berdiri hanya membuat kita akan segera ambruk kelelahan. Hal itu juga diperparah dengan menipisnya oksigen.

Kawah Jonggring Saloka

Kawah Jonggring Saloka

Tidak sia-sia perjuangan saya. Tepat pukul 07:00 WIB, akhirnya saya menginjakkan kaki di Mahameru. Pemandangan dari puncak sangat indah sekali. Saya bisa melihat tumpukan awan membentuk mirip busa yang berbentuh rapi di sekeliling pegunungan Bromo Tengger Semeru.

Tidak seperti Gunung Arjuna dan Welirang di sisi kiri yang terlihat puncaknya, Gunung Bromo malah tidak tampak. Ini bisa dimaklumi karena ketinggian Bromo hanya 2.329 meter dpl.

Selama di puncak, saya berjalan berkeliling sambil memutari pandangan di bawah. Terlihat kepadatan rumah di Kabupaten Lumajang yang belum seramai di Kabupaten Malang.

Mungkin cuaca sedang berpihak sehingga saya bisa melihat jelas pemandangan bagus di bawah karena awan tersingkap akibat embusan angin yang kencang. Hiperbolanya, saya seperti bisa melihat kehidupan dari atas awan. “Indah sekali,” kata Iksan, rekan lainnya.

Uniknya, staf Pengendala Ekosistem Hutan Toni Artaka menemukan Tranverse Ladybug alias kumbang koksi yang biasanya habitatnya di kebun atau pekarangan rumah. Temuan itu tentu unik lantaran kumbang yang hidupnya menyebar di Asia Tenggara ini bisa bertahan hidup di atap Jawa yang didiami gunung berapi aktif. “Mungkin terbawa pendaki,” katanya.

Sambil menunggu satu teman yang belum sampai puncak, saya terus memandangi kawah Jonggring Saloko yang terletak di sebelah kiri Mahameru. Setiap 15 menit, kawah ini terus mengeluarkan wedhus gembel yang disertai dengan suara dentuman mirip meriam. Embusannya mirip cendawan yang langsung menyebar ke awan. Tentu saja, saya tidak lupa mengabadikan fenomena alam keluarnya gas beracun tersebut.

Setelah berfoto ria, saya menyempatkan diri untuk tidur sebentar. Pukul 08:20 WIB, teman saya sudah datang. Karena sinar matahari semakin terang, meski udara cukup dingin, kami berencana untuk segera turun. Apalagi kabut disertai bau belerang mulai menyebar di puncak. Sehingga, keputusan untuk berpisah dengan Mahameru tidak bisa ditawar lagi.

Turun gunung

Tidak seperti pendakian, proses menuruni puncak Semeru tidak terlalu sulit. Hanya saja, karena jalannya berpasir, jalan turun dilakukan dengan model tidak biasa. Karena tidak memungkinkan untuk jalan kaki seperti biasanya, saya memilih berakrobat seperti bermain ski pasir.

Jalanan licin dan bebatuan menjadi hambatan yang harus dihindari. Sesekali saya terjatuh karena terlalu cepat meluncur ke bawah. Setelah istirahat sekali, saya sampai di batas terakhir pasir yang ditandai berdirinya pohon cemara. “Cuma 50 menit dari atas ke bawah. Cepat sekali ya,” kata Iksan.

Sambil menunggu rekan lain yang belum sampai, saya beristirahat selama 15 menit. Setelah semua berkumpul, kami turun dengan penuh kehati-hatian. Selain karena fisik sudah terkuras, di sepanjang kanan dan kiri jalan terdapat jurang menganga. Meski cukup merepotkan, jalur setapak turun ke ke Arcapada berlangsung tanpa kendala.

Di sini, saya melihat papan memoriam yang katanya dulu bertebaran tinggal hitungan jari. Kabarnya, petugas membersihkannya karena dianggap mengganggu jalur pendakian. Dengan penghilangan batu nisan bisa membuat area berkemah menjadi lebih luas.

Apalagi tidak sedikit pendaki bermalam di sini daripada di Kalimati dengan alasan jarak ke puncak lebih dekat. Yang menjadi catatan adalah banyak sampah yang sepertinya sengaja ditinggalkan para pendaki yang abai dengan lingkungan.

Sayangnya, saya tidak sempat melihat Arcapada, yaitu patung arca kembar berbentuk sepasang laki-laki dan perempuan. Karena letaknya di tepi jurang yang cukup sulit dijangkau tanpa persiapan matang, dan jauh dari rute pendakian. Dalam tradisi Hindu, dua arca ini dianggap sebagai penjelmaan Kamajaya dan Kamaratih.

Sempat dinyatakan hilang, kondisi satu arca kepalanya hilang akibat tangan jahil seseorang. Karena itu, lokasinya yang jauh dari hilir mudik pendakian membuat Arcapada aman dari gangguan oknum tidak bertanggung jawab. Usai bersandar belasan menit, kami memutuskan untuk segera turun.

Tidak terasa, kami sampai di Kalimati pada pukul 12:00 WIB. Perjalanan ini terasa cukup cepat karena semua merasa kelaparan dan ingin segera makan. Tiba di daerah berketinggian 2.700 meter dpl ini, kami terlambat sejam daripada jadwal yang diagendakan. Mencium aroma masakan yang masih panas, kami seketika makan siang yang sudah disediakan panitia dari Balai Besar TNBTS.

Setelah istirahat dengan bersandar di pohon sembari tidur-tiduran, pukul 13:30 WIB, kami melanjutkan perjalanan ke Ranu Kumbolo. Perjalanan 11 kilometer ini melewati hutan cemara dan pinus di Jambangan, Cemoro Kandang, serta kebun bunga berwarna ungu sejenis lavender yang tumbuh liar di Oro-Oro Ombo.

Pemandangan serba ungu sangat mempesona bagi setiap pendaki hingga sangat disayangkan kalau tidak diabadikan dengan kamera. Luas kebun mencapai lima hektare. Masa tumbuh bunga sepanjang musim hujan. Ketika memasuki musim kemarau, bunganya berguguran dengan sendirinya hingga berkembang lagi kalau sudah turun hujan. Begitu siklusnya.

Toni Artaka menerangkan, tanaman sejenis lavender di Oro-oro Ombo sebenarnya bernama asli verbenaria brasiliesis yang berasal dari Amerika Selatan. Ia menduga orang Belanda sengaja membawanya ke Indonesia hingga tumbuh subur di kawasan Semeru.

Dalam perjalanan, ditemukan pula dendrobium jacobsonii yang termasuk jenis tanaman langka. Apakah benar penjelasannya, saya tidak tahu. Ia mengatakan, tanaman itu hanya berada di Jatim, khususnya di Gunung Lawu, Wilis, Arjuno, Kawi, dan Semeru. Biasanya anggrek ini hidup di ketinggian 2.300 hingga 3.000 meter dpl. “Ini jenis tanaman endemik khas pegunungan sini.”

Puas berfoto ria, Tanjakan Cinta menanti. Dengan kemiringan 45 derajat, tanjakan sepanjang 30 meter ini mampu membuat kami harus mengatur nafas. Namun kami memilih jalur samping, bukan di tengah kebun untuk menghindari tersedotnya energi. Tidak ingin memaksakan diri, kami tidak melanjutkan perjalanan terlebih dulu dan berhenti di atas bukit.

Dari perbukitan ini lah, keindahan Ranu Kumbolo yang airnya sangat jernih terpancar jelas. Ramainya aktivitas manusia dan warna-warni tenda di pinggir danau semakin melengkapi keindahan Ranu Kumbolo yang diselimuti kabut, meski pada sore hari. Usai berjalan menuruni bukit, pukul 16:30 WIB, kami beristirahat di tepi danau seluas 14 hektare ini untuk sekadar cuci muka.

Pemandangan Mahameru

Pemandangan Mahameru

Berselang 30 menit, kami beranjak meninggalkan Ranu Kumbolo untuk kembali ke Ranu Pani. Karena hari sudah terlalu sore, kami berjalan agak cepat untuk menempuh jarak sejauh 11 kilometer. Sesuai dugaan, belum sampai ke Pos 3, matahari sudah tenggelam. Tidak adanya cahaya menyulitkan perjalanan pulang.

Otomatis kami menggunakan senter maupun headlamp untuk menerangi jalur yang dilewati. Beruntung, saat itu di sepanjang jalan, banyak pendaki yang memulai keberangkatan menuju Ranu Kumbolo, mengingat besoknya hari libur peringatan Isra Mi’raj. Tidak seperti berangkat, waktu pulang jalan kami mirip ‘putri solo’ alias tidak terlalu cepat.

Keramaian itu sedikit banyak menolong perjalanan kami seringkali terantuk batu dan kayu yang menyilang di jalan setapak. Hanya, gara-gara itu, perjalanan kami sering tersendat karena harus mengalah saat berpapasan dengan rombongan lainnya. Meski medannya cukup datar, kami beberapa kali mengambil istirahat di tempat gelap maupun di tiga pos yang dilewati.

Meski berpeluh keringat, saya tetap mengenakan jaket karena udara cukup dingin. Istirahat dilakukan maksimal 10 menit agar cepat sampai. Namun karena sedari pagi terus bergerak, salah satu rekan, Hari Istiawan, harus terpincang karena kaki kirinya terkilir. Setelah berjalan sempoyongan karena kaki bengkak, tiba lah kami di Ranu Pani pukul 22:00 WIB.

Kami pun saling menjabat tangan masing-masing karena dua hari satu malam pendakian pulang pergi dari Ranu Pani-Mahameru-Ranu Pani berjalan lancar. “Pendakian kali ini terbilang ngoyo, karena idealnya harus bermalam dua hari,” kata Bagus Ary yang sudah tiga kali menginjakkan kakinya di Mahameru.

Advertisements