Rabu, 21 Agustus 2013 12 Menit

Novel 12 Menit menyuguhkan gambaran secara utuh bagaimana seorang anak bangsa mampu mengharumkan daerahnya dengan berkompetisi di tingkat nasional. Sebuah kisah mengharukan tentang perjuangan beberapa remaja yang tergabung dalam Marching Band Bontang Pupuk Kaltim.

Mereka rela berpanas-panasan di bawah terik matahari selama ribuan jam hanya demi 12 menit penentuan. Mereka berupaya membuktikan pada dunia agar bisa tampil sempurna di kancah Grand Prix Marching Band (GPMB). Di tengah konflik pribadi yang dihadapi anggota dan pelatih marching band, tidak ada yang patah arang dalam mewujudkan mimpinya demi sebuah janji dalam diri yang harus ditepati.

Emosi saya ikut bergetar ketika mendapati perjuangan sosok Lahang dalam mewujudkan mimpinya yang ingin melihat Monumen Nasional (Monas). Karakternya mirip Lintang di kisah Laskar Pelangi yang harus berjuang keras dalam menjalani hidup. Bagi sebagian orang keinginan Lahang memang sederhana, namun tidak untuknya.

Tinggal di daerah pesisir Bontang yang jauh dari pusat kota membuat Lahang harus mengorbankan fisik hanya demi bisa menjalani latihan bersama kelompoknya. Ia harus berlari, ya berlari puluhan kilometer setiap harinya demi bisa memenuhi janjinya kepada almarhum ibunya. Cara satu-satunya untuk mewujudkan mimpinya itu adalah dengan bergabung Marching Band Bontang Pupuk Kaltim.

Hidup bersama orang tua yang serba terbatas membuat remaja berdarah Dayak ini menjadi pribadi yang keras. Pascakematian ibunya, ia harus menerima kenyataan ayahnya divonis kanker otak oleh dokter.

Ketika bapaknya dalam kondisi kritis, Lahang mengalami dilema lantaran harus berangkat bersama rombongan marching band ke Jakarta. Berkat dorongan bapaknya, ia memutuskan meninggalkan Bontang. Tidak disangka, Lahang mendapati kabar ajal menjemput bapaknya menjelang pertandingan di Istora Senayan.

Ia seketika menangis dan merengek ingin pulang. Di tengah situasi tidak menentu itu, sang pelatih Rene, memberi semangat dengan penuh kehati-hatian. Ia meminta Lahang untuk tetap berkonsentrasi agar sekembalinya dari Jakarta bisa menggembirakan almarhum kedua orangtuanya jika mampu berprestasi.

Setelah emosinya terguncang hingga lari keluar dari Istora, ia mendapati burung Elang melayang-layang di angkasa. Ia segera tersadar pesan bapaknya untuk bisa merengkuh prestasi dengan berani mencoba segala tantangan. Segera saja ia bangkit dari keterpurukan dan berkonsentrasi menyiapkan diri menjalani fouettes.

Kesuksesannya dalam melakukan gerakan dalam tari balet, dengan tubuh berputar di atas satu kaki selama 20 kali semakin menyempurnakan atraksi kelompoknya. Alhasil, latihan selama 12 bulan terbayar lunas dengan penampilan 12 menit yang memukau juri. Dampaknya, Marching Band Bontang Pupuk Kaltim untuk pertama kalinya meraih juara GPMB.

Pelajaran berharga lainnya bisa kita dapat dari sosok Elaine, yang lebih memilih ikut berpartisipasi di GPMB daripada menjadi delegasi sekolah di ajang Olimpiade Fisika. Tentu saja keputusan gadis bermata sipit ini penuh risiko. Ayahnya, Josuke seorang pria berkebangsaan Jepang marah besar karena putrinya lebih memilih kegiatan ‘bersenang-senang’ daripada mengikuti kegiatan yang bisa menjamin masa depannya itu.

Saking jengkelnya, Josuke sampai mendamprat Rene dan melarang anaknya itu untuk mengikuti latihan akhir menjelang pelaksanaan GPMB. Namun bukan Elaine kalau langsung menyerah. Meski ketakutan lantaran dimarahi habis-habisan ayahnya, ia mencari celah untuk bisa tetap tampil sebagai field commander. Berkat dukungan ibunya, ia mampu meraih simpati Josuke yang dikenal berpendirian tegas dan sakelek.

Akhirnya, pilihan gadis yang andal bermain biola ini terbukti. Elaine sukses memimpin 120 kawan-kawannya dalam sebuah satu kesatuan, irama, dan melodi hingga mampu membuat seluruh orang terkesima dengan Marching Band Bontang Pupuk Kaltim. Josuke yang menginginkan anaknya menjadi ilmuwan kali ini harus memberikan ucapan selamat dan mengakui prestasi anaknya.

Didedahkan pula perjalanan Tara, remaja berprestasi pemegang snare drum yang harus menjalani terapi setelah peristiwa tragis kecelakaan mobil merenggut nyawa ayahnya. Tidak hanya itu, ia harus kehilangan pendengaran dan kehilangan kepercayaan dirinya hingga menjadi pribadi yang murung. Bergabung dengan marching band membuatnya menemukan dunia yang hilang.

Tidak ketinggalan, sang tokoh utama Rene yang harus bisa membuktikan kapasitasnya sebagai pelatih untuk membawa Marching Band Bontang Pupuk Kaltim bisa meraih juara di GPMB. Dengan rekam jejak sangat mengangumkan, alumnus marching band profesional berskala internasional, Phantom Regiment dan membawa sebuah marching band perusahaan meraih GPMB tiga kali ini mencoba tantangan memoles potensi daerah agar bersinar di kompetisi paling prestisius di Indonesia.

Di balik semua itu, kemenangan tidak diraih dengan mudah. Rene harus menggugah semangat anak asuhnya agar tidak merasa kecil, meski hidup di kawasan yang terletak secara geografis jauh dari Ibu Kota. Ia hampir patah arang melihat satu demi satu hambatan yang muncul dalam latihan. Hal itu jelas menguras fisik dan psikisnya.

Namun demi janjinya yang ingin membuktikan diri tidak melulu hanya berhasil dalam menangani marching band di kota besar, ia kadang sampai harus mengalah dengan meminta maaf kepada anak didiknya. Tidak salah, kombinasi sikap keras dan penuh perhatiannya dalam memoles bakat dan potensi anak-anak Borneo mampu menghadirkan prestasi yang selama ini hampir dianggap mustahil.

Penulis Oka Aurora berusaha untuk tidak terlalu menonjolkan satu tokoh dalam novel yang merupakan karya perdananya ini. Selain keempat orang itu, ditampilkan pula beberapa nama pelatih dan anggota tim inti Marching Band Bontang Pupuk Kaltim yang meraih trofi di GPMB pada 1994 dan merupakan satu-satunya grup dari daerah yang bisa menjadi juara.

Meski sebagian berisi ketegangan, kadang kita bakal diajak untuk tertawa ngakak mengikuti serunya perjalanan mereka dalam mewujudkan mimpinya. Kelucuan itu salah satunya tertangkap dalam Bab 8 ‘Panggil Aku Toyib’ yang mengisahkan tentang susahnya menentukan tim inti marching band.

Belajar dari perjalanan berbagai tokoh di novel ini, dapat ditarik garis besar terakit pesan agar kita tidak gampang ciut nyalinya dalam memperjuangkan sesuatu. Pesan moralnya, untuk mencapai kesuksesan secara jelas harus disertai tekad bulat.

Dari novel yang diangkat ke layar lebar dengan judul sama ini, kita bisa belajar banyak tentang arti sebuah perjuangan dalam menatap masa depan.  Mengutip pendapat penyanyi Oppie Andaresta, “Novel ini berisi cerita orang-orang yang tak pernah takut meraih mimpi…” Vincerooo!

Buku               : 12 Menit

Penulis             : Oka Aurora

Penerbit           : Noura Books

Edisi                : Mei 2013

Tebal               : XIII + 343 halaman

Peresensi adalah Erik Purnama Putra, pemilik akun Twitter, @erik_purnama

Advertisements