Ngontel

Bersepeda di depan Istana Negara/Erik Purnama Putra

Rabu, 28 Agustus 2013 

Oleh Erik Purnama Putra

Kini, bersepeda sudah menjadi bagian gaya hidup masyarakat, terutama di kota besar. Kegiatan olahraga ini semakin digemari karena bisa sekaligus menjadi sarana alternatif transportasi. Pasalnya, dengan tingkat kemacetan yang semakin parah, bersepeda tentu menjadi pilihan realistis.

Selain tidak perlu mengeluarkan biaya untuk membeli bahan bakar minyak (BBM), faktor kegesitan menjadi pilihan. Tidak lupa, esensi bisa menyehatkan karena membuat tubuh bergerak menjadi keunggulannya. Karena itu, tidak heran kita semakin mudah mendapati fenomena pekerja berangkat ke kantor dengan mengayuh sepeda.

Dengan berangkat pagi dan memakai baju olahraga, mereka tampak lincah membelah kemacetan jalan. Setelah sampai kantor, pekerja akan mandi dan ganti baju. Tentu mereka lebih segar karena baru saja menjalani latihan fisik tanpa terjebak kemacetan. Memulai kerja tanpa stres bisa menjadi keuntungan tersendiri bagi perusahaan.

Biasanya, para pengayuh ini memilih jalur busway yang berlawanan arah sebagai rute keberangkatan. Hal itu terpaksa dilakukan karena jalur yang tersedia sudah habis terpakai mobil dan sepeda motor. Pun dengan trotoar yang tidak mungkin lagi dilewati karena pengendara motor sudah menjadi raja di jalur yang seharusnya diperuntukkan untuk pejalan kaki ini.

Pengalaman serupa juga saya alami. Ketika setiap harinya harus bertugas di sekitaran Monas, Jakarta Pusat, sesekali ngontel menjadi pilihan untuk berangkat kerja. Berangkat dari kawasan Warung Buncit, Jakarta Selatan, saya malah merasa nyaman mengayuh sepeda. Ini lantaran jalan di Mampang Prapatan menuju Kuningan yang menjadi jalur ke Monas dipastikan sudah macet sejak pukul 06:00 WIB.

Karena merupakan jalur tengkorak, kemacetan tidak bisa diprediksi. Bahkan, sampai siang kawasan ini tetap padat kendaraan hingga jalanan mirip parkir mobil. Memang ada pilihan naik moda Transjakarta, tapi melihat bejubelnya penumpang di setiap halte membuat alternatif itu kadang saya kesampingkan.

Karena rute berangkat sudah macet total, pilihan realistisnya adalah masuk ke jalurBusway. Namun kalau memilih jalur yang searah, tentu sangat riskan. Pasalnya, kita tidak tahu, umpama tiba-tiba angkutan massal ini sudah berada di belakang, nyawa taruhannya. Belum lagi biasanya puluhan motor ikut nyelonong masuk jalur khusus itu demi mempercepat jarak tempuh.

Karena itu, paling realistis adalah memilih jalur kanan yang berlawanan arah. Selain bisa melihat kedatangan Busway sehingga bisa bersiap-siap menepi, juga dipastikan jalurnya sangat lancar. Ini karena setiap jam berangkat kerja, rute berlawanan selalu bebas hambatan. Meski hal itu jelas melanggar aturan, namun karena menjadi cara satu-satunya untuk bersepeda dengan aman, menjadi logis untuk dipilih.

Mengayuh sepeda tanpa ada halangan menimbulkan sensasi tersendiri yang menyenangkan. Pasalnya dengan menengok ke sisi kiri, kita bisa melihat pemandangan pengendara yang terjebak kemacetan. Bersepeda dengan suasana seperti itu sangat menyenangkan.

Melihat pengemudi di dalam mobil yang tampak menahan kesabaran maupun pengendara motor yang terus memutar gas untuk memacu kendaraannya lantaran tidak sabar merupakan sebuah pengalaman luar biasa. Menikmati pemandangan kota dengan kecepatan santai menghadirkan pengalaman baru. Apalagi selepas masuk Kuningan, kita bisa melihat gedung pencakar langit di kanan dan kiri jalan.

Bagi pengendera mobil dan motor, maupun kendaraan umum lainnya juga bisa melakukan hal serupa. Hanya saja, memandanginya dengan cara bersepeda bisa menghadirkan sensasi kedetailan dalam melihat sebuah bangunan.

Memasuki kawasan ini, saya memilih jalan paling kiri karena jalurnya sudah lebar. Risikonya, saya harus menjaga hati agar tidak terpancing emosinya. Pasalnya, pengendara motor sangat agresif dan menganggap saya sebagai halangan untuk dapat melaju kencang. Dengan sekenanya, saya beberapa kali terkaget diklakson dari belakang. Hal itu mengganggu kenyamanan bersepeda.

Sayangnya, asap kendaraan yang cukup mengganggu pernafasan juga menjadi masalah bagi pesepeda. Belum lagi kebisingan yang diciptakan para pengendara motor yang bergaya pembalap jalanan membuat saya harus berhati-hati. Namun, semua itu tidak membuat saya surut untuk terus mengayuh karena saya bisa menikmati setiap momen tersebut.

Jalanan mendatar dan lurus di kawasan perkantoran ini bukan berarti dapat ditempuh dengan cepat. Pasalnya, kawasan sibuk ini selalu dipadati kendaraan sepanjang hari. Otomatis mau tidak mau harus pandai-pandai mencari celah agar roda terus berputar. Kalau tidak begitu, kaki bisa lebih sering menginjak tanah daripada pedal.

Selepas Kuningan, Jembatan 66 menanti di depan mata. Jalur agak naik ini harus saya lewati. Tapi, karena sudah ancang-ancang maka saat mengayuh di jalur ini menjadi lebih ringan. Berhenti di tengah jembatan memberikan kesan menakjubkan. Saya selalu menyempatkan berhenti di sini.

Pemandangan Kanal Banjir Barat (KBB) yang sempat jebol hingga menggenangi Bundaran HI beberapa waktu lalu sangat menarik untuk dilewatkan. Melengok ke atas, gedung pencakar langit dengan gagah berdiri. Kawasan perkantoran Kuningan juga terlihat jelas. Panas sinar matahari tidak menjadi soal. Ini lantaran selain ingin mengatur nafas, saya juga ingin merasakan embusan angin untuk menghilangkan gerah akibah peluh yang memenuhi badan.

Selepasnya, menikmati jalanan menurun dan mendatar ke arah Menteng cukup membantu mengurangi rasa lelah. Apalagi melalui Taman Menteng dan perumahan elite di sini membuat perjalanan ini terlalu indah untuk tidak dinikmati. Kayuhan pedal membawa saya sudah sampai di Stasiun Gambir.

Di sini, saya kadang memilih rute Jalan Medan Merdeka Selatan, dengan melewati Kedutaan Besar Amerika Serikat dan Istana Wakil Presiden. Atau kalau ada tugas di Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), saya terus menyusuri Jalan Medan Merdeka Timur, sebelum belok ke Jalan Medan Merdeka Utara.

Begitulah rutinitas saya ketika memilih mengayuh sepeda ketika berangkat kerja. Meski hanya sesekali saya lakukan, terutama ketika hanya meliput di satu tempat, tapi tetap saja hal itu menyenangkan untuk dilakukan. Selain mendukung kampanye lingkungan, juga sebagai upaya penghematan BBM.

Dengan begitu, kita turut membantu upaya pemerintah menghemat anggaran. Memang alasan tersebut terlihat terlalu melangit, namun faktanya seperti itu. Kita juga mesti bangga ikut berkontribusi mengurangi polusi yang semakin akut di Ibu Kota.

Pesan moral yang bisa didapat dari aktivitas mengayuh sepeda adalah kita bisa merasakan menjadi warga kelas dua. Maksudnya adalah masih kuatnya perspektif di masyarakat bahwa pemakai sepeda adalah orang yang bukan dari kalangan berada. Fakta membuktikan, saya seringkali mendapati pengendara yang tidak sabaran untuk menyalip.

Pesepeda mungkin dianggap mereka sebagai penghalang karena kecepatannya jauh lebih rendah daripada kendaraan bermotor. Hal ini sebenarnya wajar, mengingat karakter masyarakat Ibu Kota adalah pekerja yang mobilitasnya tinggi. Sehingga waktu begitu berharga bagi mereka.

Pengalaman buruk kedua ketika saya dihentikan petugas di pintu masuk Kemendagri. Saya ditanya macam-macam terkait keperluannya. Padahal, ketika saya biasanya menggunakan sepeda motor, langsung dipersilakan masuk oleh petugas.

Sepengamatan saya, semua tamu langsung bisa masuk. Hanya pengendara mobil yang harus berhenti sebentar karena mengambil karcis parkir tanpa perlu turun dari kendaraannya. Pengalaman kecut itu saya simpulkan karena petugas itu menganggap orang yang menaiki sepeda patut dipertanyakan kelasnya ketika memasuki kompleks instansi.

Alhasil, bersepeda belum mendapat tempat di hati masyarakat. Tanpa adanya dukungan dan komitmen pemerintah jangan harap wacana menggerakkan masyarakat agar mencintai gaya hidup sehat bisa dilakukan. Kecuali pada momen car free day atau hari bebas kendaraan bermotor yang peruntukan jalan untuk pejalan kaki dan sepeda semata, pada hari biasa cukup sulit menemukan orang mau mengayuh sepeda.

Belum lagi tiadanya jalur khusus pesepeda di wilayah Jakarta Utara menandakan masih belum berpihaknya pemerintah kepada penggiat maupun komunitas sepeda. Hal ini tentu sangat miris. Pasalnya, dikuasainya jalan yang hanya diperuntukkan untuk kendaraan pribadi hanya membuat kota ini semakin semrawut. Konsekuensinya, udara bersih semakin sulit didapat, yang berimbas pada ancaman menurunnya kualitas kesehatan warga DKI.

Karena itu, sebagai salah satu solusi untuk mengatasi kemacetan adalah menyediakan jalur khusus sepeda. Selain membangun transportasi massal bermutu, pembangunan jalur khusus sepeda tidak bisa dipandang sebelah mata. Tentu setelah tersedia, jangan sampai jalur khusus itu malah dijadikan tempat parkir oleh angkot maupun kendaraan pribadi.

Yang pasti, keberadaan hari bebas kendaraan bermotor di sepanjang Jalan Sudirman hingga Jalan MH Thamrin setiap Ahad, mulai pukul 06:00 hingga 11:00 WIB layak didukung. Saya hampir selalu menyempatkan diri untuk menikmati jalanan protokol ini dengan mengayuh sepeda secara santai. Kebijakan menutup akses kendaraan bermotor itu ternyata mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat.

Premis yang menyatakan budaya bersepeda telah luntur di kalangan masyarakat akibat hegemoni kendaraan bermotor ternyata luntur dengan sendirinya kalau kita menikmati hari bebas kendaraan bermotor. Untuk itu, mengapa tidak kita menggalakkan hidup sehat dengan bersepeda?

Advertisements