Merak Hijau/Republika

Merak Hijau/Republika

Kamis, 5 September 2013

Oleh Erik Purnama Putra

Jangan kaget. Di Indonesia, hanya ada satu penangkaran merak yang terbukti sukses. Itu pun bukan instansi pemerintah yang melakukannya. Penangkaran merak ini dilakukan oleh Surat Wiyoto, seorang petani tradisional yang tinggal di Dusun Suko, Desa Tawangrejo, Kecamatan Gemarang, Kabupaten Madiun.

Dari berbagai literatur, belum ada cerita kisah sukses seorang penangkar merak. Adapun, merak yang biasanya ditangkarkan di kebun raya atau taman wisata hanya dijadikan wahana hiburan pengunjung. Mengacu beberapa fakta itu, tidak mengherankan upaya Surat menangkar merak hijau (pavo muticus) layak diapresiasi.

Tempat tinggal Surat di sebuah dataran tinggi di kawasan hutan jati yang jauh dari kebisingan. Belum lama ini saya berkunjung ke sana. Dari Kota Madiun, dibutuhkan waktu 1,5 jam untuk mencapai wilayah perbukitan itu dengan menggunakan sepeda motor. Rumah Surat sangat sederhana karena sebagian masih berdinding kayu dengan beralaskan tanah.

Menangkar merak sebenarnya merupakan sebuah kebetulan yang tidak direncanakan sama sekali oleh pria berusia 55 tahun ini. Awalnya, seperti kesehariannya, ia mencari rumput di alas (hutan) yang masuk wilayah Sampung. Jarak hutan dari rumahnya sejauh lima kilometer. Di kawasan itu, akunya, memang beberapa warga pernah berjumpa dengan merak liar yang menjadi penghuni hutan.

Sebagaimana karakter binatang unggas ini, biasanya selalu menjauh atau kabur kalau bertemu dengan manusia. Sehingga, keberadaannya sulit dideteksi. Namun tanpa di sangka, dalam perjalanannya mencari rumput pada 1999, ia menemukan empat telur merak yang tergeletak di dalam hutan.

Karena merasa tidak ada yang memilikinya, Surat membawanya pulang. Karena tahu yang dibawanya itu telur merak yang memiliki ukuran sebesar telur angsa, ia tidak memasaknya. Ia memiliki firasat baik terhadap keberadaan telur tersebut.

Karena memiliki kandang ayam, Surat memilih untuk menaruh empat telur itu untuk dierami ayam. Berselang 15 hari, telur itu menetas dan empat merak kecil lahir dengan jenis kelamin masing-masing dua jantan dan betina (F-0). Setelah berusia dua bulan, ia memisahkan merak itu dari induk ayam.

Penangkaran merak dengan menggunakan induk ayam berulang dilakukannya. Hal itu lantaran setiap merak yang sudah dewasa enggan untuk mengerami telur. Ia pernah memaksakan merak yang bertelur untuk mengerami telur itu, namun hasilnya nihil. Alhasil, ketika merak sudah bertelur, ia segera meletakkannya di kandang ayam. Yang mengherankan, ayam itu selalu sukses mengerami telur itu hingga menetas.

Merawat merak, diakui Surat gampang-gampang susah. Ia memilih cara tradisional dalam menangkar merak dengan menyamakannya seperti memelihara ayam. Karena menganggapnya mirip dengan ayam, ia memberi makan merak berupa jagung, sayuran, poor atau pelet. Untuk memberi makan itu, ia mengeluarkan uang sebesar Rp 450 ribu per bulan hanya untuk membeli poor saja.

Karena tidak pernah mendapat bantuan dari instansi terkait atau pemerintah daerah, ia tidak bisa setiap hari memberi makanan layak kepada binatang unggasnya. Kalau sedang punya uang, ia pasti memberi makan merak dengan beras merah, yang memiliki khasiat bagus bagi stamina binatang unggas.

Cobaan sempat datang menghampirinya pada awal 2011. Ketika itu, petugas dari Badan Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) melakukan operasi untuk membawa seluruh merak di kandangnya. Hal itu lantaran merak hijau termasuk dalam daftar hewan yang dilindungi.

Namun ia tidak kalah akal. Dengan meminta bantuan dokter hewan yang biasanya datang ke kampungnya, ia meminta diuruskan ijin agar bisa terus memelihara merak. Singkat cerita, petugas tidak jadi menyita meraknya, dan hanya melakukan kontrol setiap sebulan sekali ke rumahnya.

Ketika wabah H5N1 (flu burung) menyerang unggasnya pada pertengahan 2011, ia sangat terpukul. Sedikitnya enam ekor merak generasi kedua (F-1) tiba-tiba menggelepar bersamaan, dan mati akibat penyakit ganas itu. Karena takut menular ke merak lainnya, ia menguburkan binatang yang dilindungi negara itu. “Saya sampai menangis saat mengetahui merak peliharaan saya mati,” kenangnya.

Beruntung, pada tahun lalu lahir sembilan ekor merak generasi ketiga (F-2) yang sekarang berusia antara enam hingga sembilan bulan. Kalau biasanya setahun hanya bertelur sekali, tahun lalu merak bertelur dua kali, dan itu membuatnya terkejut. “Ini baru pertama terjadi selama saya memelihara merak.” Ditambah dua ekor merak generasi kedua berusia 1 tahun lebih, Surat kini memiliki 14 ekor merak.

Dari 14 ekor, ia menempatkannya ke dalam enam sangkar di dua tempat terpisah. Ia memiliki kandang sederhana seluas 5×4 meter yang disekat menjadi tiga bagian. Bagian tengah dan memakan tempat terbesar diisi tiga merak, satu jantan dua betina dari generasi kedua. Satu tempat lagi dihuni sepasang merak berjenis jantan dan betina, yang disiapkan untuk disatukan ketika musim kawin pada September hingga November.

Enam merak berusia sekitar sembilan bulan dikandangkan bersamaan, dan tiga lainnya ditaruh di kandang yang diibuat dari kayu, dan ditaruh di halaman rumah. Dua merak sepasang dimasukkan dalam satu kandang, dan satu merak berusia enam bulan yang terlihat jinak dipisahkan. Luas kandangnya cukup sempit, sekitar 1×2 meter.

Surat sangat senang dengan merak yang satu ini, karena sangat penurut dengannya. Karena sudah 14 tahun menggeluti penangkaran Merak, Surat paham dengan kelakuan binatang piaraannya. Pada bulan Februari hingga November, kecuali sedang bertelur, semua merak itu lebih senang nangkring di atas daripada berjalan di tanah. Mereka turun hanya ketika makan saja.

Karena baru memiliki satu merak jantan berusia dewasa, hanya satu saja yang terlihat memiliki ekor panjang berwarna-warni. Pada musim kawin, bulu di ekor itu semuanya rontok untuk berganti baru. “Sekali rontok, ada sekitar 200 bulu yang berganti,” kata Surat.

Merak hijau/Republika

Merak hijau/Republika

Karena bulunya sangat indah dan khas, ada orang yang biasanya datang ke rumahnya untuk membelinya. Ia menghargai satu bulu seharga Rp 1.000. Biasanya, kata dia, bulu-bulu itu digunakan oleh sang pembeli untuk hiasan rumah atau hiasan reog Ponorogo.

Kalau sudah terdesak tidak memiliki uang, ia menjual sepasang merak yang baru berusia setahun. Surat mengaku, karena sudah merupakan keturunan ketiga, petugas BKSDA membolehkannya. Ia sebenarnya menyesal menjual meraknya. Namun karena belum memasuki masa panen dan butuh uang agar bisa membelikan makanan merak lainnya, ia melepaskan begitu saja.

Apalagi sudah sejak lama banyak orang mengincar merak miliknya, dan ingin sekalian berbagi dengan orang yang menginginkannya.  Ia mengaku sudah menjual beberapa ekor merak ke wakil bupati Ponorogo seharga Rp 4 juta sampai Rp 5 juta per ekor.

Kasus flu burung juga mengajarinya untuk lebih waspada dalam merawat merak. Kalau dulunya hanya memperlakukan sekadarnya, sekarang atas saran dokter hewan upaya antisipatif dilakukannya. Merak disemprot air agar badannya segar dengan frekuensi tiga hari sekali. Pun dengan kandang yang dibersihkan dua hari sekali.

Ia juga menyiapkan alat suntik dan bermacam-macam obat, seperti rivanol, medoxy LA, trimezyn, vaksin, dan vita chick yang sebenarnya diperuntukkan bagi ayam. “Ini hanya bentuk pengobatan sederhana atas saran mantri lembu di desa,” jelasnya.

Surat memiliki kisah menarik terkait merak yang dipeliharanya. Setiap kedatangan orang yang memiliki niat tidak baik ke rumahnya, merak-merak ini biasanya tempak gelisah dan tidak bisa berdiam diri. Merak itu juga akan mengeluarkan suara seolah mengirimkan kode kepadanya.

Kalau sudah begitu, ia selalu was-was dengan tamu yang datang. Sehingga, saat sang tamu melontarkan keinginan untuk membeli merak, seketika ia menolaknya. “Merak-merak ini yang memberi tahu saya,” katanya.

Pegiat budaya Madiun, Bernadi S Dangin mengatakan, merak yang dipelihara Pak Surat memiliki keunikan tertentu. Pasalnya, penangkaran dilakukan secara tradisional, namun malah bisa berkembang biak dengan baik. Hal itu jelas mengagetkannya lantaran sangat jarang terjadi orang biasa dapat sukses memelihara merak.

Apalagi, cara pemeliharaannya dilakukan secara sangat sederhana dan alami. “Bisa jadi, itu bakat alam Pak Surat, dan tempatnya yang berada di kawasan perbukitan yang jauh dari kebisingan membuat merak tidak merasa stres,” katanya.

Berdasarkan penelusurannya, kata Bernadi, hampir dipastikan setiap orang yang mencoba memelihara merak, gagal melakukannya. Kebanyakan merak itu mati lantaran mengalami tekanan stres. Jika pun tetap hidup, merak itu tidak bisa berkembang biak.

Alhasil, banyak orang, khususnya pejabat hanya menjadikan merak sebagai binatang peliharaan yang sifatnya untuk hiasan. “Cara pendekatan dan penanganan oleh Pak Surat, adalah di luar kebiasaan karena berhasil menangkar merak.”

Atas dasar itu, ia sangat kagum dengan kemauan dan ketulusan Pak Surat dalam melestarikan burung merak hijau. Dia mengimbau, pemerintah daerah setidaknya mau memperhatikan masalah itu. Itu karena sepengetahuannya, Pak Surat tidak pernah mendapat bantuan dari instansi mana pun. Diharapkan, dengan adanya perhatian maka upaya melestarikan merak dapat terus dilakukan.

Advertisements