Istana Siak/Erik Purnama Putra

Istana Siak/Erik Purnama Putra

Selasa, 1 Oktober 2013 

Oleh Erik Purnama Putra

Belum lama ini, saya berkesempatan mengunjungi Siak, Provinsi Riau. Kabupaten ini baru berdiri pada 1999. Sebelumnya, Siak merupakan salah satu kecamatan di bawah naungan Kabupaten Bengkalis. Namun melihat potensi kekayaan alam dan luas lahan, akhirnya daerah ini memekarkan diri sesuai semangat otonomi daerah.

Namun tidak disangka, kawasan ini ternyata menyimpan sejarah menarik lantaran dulunya menjadi pusat Kesultanan Siak Sri Indrapura pada 1723 hingga 1945. Ketika Soekarno-Hatta memproklamasikan Republik Indonesia (RI), Kesultanan Siak Sri Indrapura langsung mengakui lahirnya sebuah negara baru.

Sultan Syarif Kasim II (1893-1968), selaku raja terakhir, secara ikhlas menyerahkan seluruh wilayah kedaulatannya. Kekuasaan Kesultanan Siak Sri Indrapura termasuk sanat luas. Wilayahnya mencakup pesisir timur Sumatra, pesisir barat Kalimantan, Semenanjung Malaka, dan di daratan hingga ke Deli Serdang, Sumatra Utara.

Selain hak penguasaan tanah, semua harta kekayaan dan properti yang dimilikinya diberikan untuk perjuangan kemerdekaan RI. Termasuk kompleks Istana Asherayah Al-Hasyimiyah juga dihibahkan sebagai bentuk dukungan atas kemerdekaan Indonesia. Istana Asherayah Al-Hasyimiyah letaknya di jantung kota, tepat di depan Alun-Alun Kabupaten Siak.

Tidak hanya itu, uang kas kesultanan sebesar 13 juta gulden juga diberikan kepada duo proklamator Indonesia. Dengan penghitungan kurs pada 2011, uang 13 juta gulden itu setara dengan 69 juta euro atau sekitar Rp 1,074 triliun. Adapun, salah satu bukti warisan tanah yang diberikan kepada negara adalah lahan yang sekarang menjadi masukBandara Internasional Sultan Syarif Kasim II di Pekanbaru.

“Seluruh kekayaannya dan 12 daerah tahta Kesultanan diserahkan demi Republik untuk membela kemerdekaan. Beliau meninggal dalam keadaan miskin di rumah peraduan,” ujar penjaga Istana Asherayah Al-Hasyimiyah, Zainuddin. Rumah peraduan bentuknya sangat sederhana dan berada di sisi barat kompleks Istana.

Menurut dia, Sultan yang meninggal di Pekanbaru pada 23 April 1968 ini rela mendedikasikan secara total hidupnya untuk membantu pejuang lantaran berdirinya RI adalah sebuah keniscayaan yang dinantikan. Setelah ratusan tahun dijajah bangsa Eropa, berdirinya sebuah negara baru lewat proses kemerdekaan merupakan sebuah pilihan paling baik.

Selain itu, keputusan menghibahkan segala hal yang dimilikinya disebabkan Sultan Siak ke-12 ini tidak memiliki zuriat (keturunan) dari istrinya yang berdarah Turki. Karena itu, demi kebaikan bersama, Sultan yang menempuh pendidikan di Eropa ini menyerahkan kedaulatan yang dipegangnya kepada Soekarno-Hatta.

Setelah merasa mantap dengan pilihannya, ditemani Teuku Muhammad Hasan (gubernur Sumatra pertama), Sultan Syarif Kasim II menyerahkan mahkota kerajaan kepada Soekarno di Istana Negara pada 1945. Dengan berpakaian kesultanan lengkap, penyerahan mahkota tersebut sebagai simbol bergabungnya seluruh wilayah Kesultanan Siak untuk melebur menjadi bagian RI.

“Atas totalitas bantuannya makanya beliau diangkat sebagai penasihat oleh Presiden Soekarno. Pertimbangan lainnya juga karena Sultan orang yang cerdas dan berwawasan luas,” terang Zainuddin. “Sayangnya, Bung Karno belum pernah berkunjung ke sini (Istana),” sesalnya.

Bupati Siak, Samsuar mengisahkan, Sultan Syarif Kasim II sangat total dalam mendukung terbentuknya RI. Hal itu dibuktikan dengan berhentinya sistem administrasi dan kepegawaian yang mengabdikan hidupnya untuk Kesultanan Siak.

Alhasil, ketika pejuang kemerdekaan benar-benar mengusir penjajah, Sultan berdarah Melayu ini tidak lagi memiliki apa-apa untuk diwariskan. “Sultan meninggal dalam keadaan miskin. Hal ini berbeda dengan kesultanan lain yang masih menyimpan kekayaan. Bahkan, di Solo, sekarang dua kubu berebut,” kata Syamsuar.

Salah seorang petugas Istana Asherayah Al-Hasyimiyah menjelaskan, Sultan Syarif Kasim II setengah-setengah dalam memberikan segala yang dimilikinya. Gara-gara itu, seluruh tatanan kesultanan yang terdiri, armada prajurit, pelayan kerajaan, pegawai administrasi, dan semua orang yang mengabdi kepada Sultan harus kehilangan pekerjaan.

Hal itu berbeda dengan kesultanan di Jawa (Kesultanan Surakarta, Yogyakarta, dan Cirebon) yang mengakui tegaknya RI hanya lewat dukungan administrasi. Ketiga kesultanan tersebut tidak mendukung kedaulatan penuh lantaran tak disertai penyerahan kekayaan kepada negara.

“Sejak saat itu, Kesultanan Siak berhenti, dan bisa dilihat tatanan kesultanan di Jawa, seperti abdi dalem masih komplet hingga sekarang,” kata pegawai negeri sipil yang enggan disebutkan namanya itu.

Istana Siak

Selama enam hari lima malam di negeri Istana—julukan Siak—saya menyempatkan untuk berkunjung ke Istana Asherayah Al-Hasyimiyah atau populer disebut Istana Siak. Saya mengelilingi area seluas 3,5 hektare ini sekitar pukul 16:00 WIB hingga 20:00 WIB. Halamannya cukup asri dan hijau dengan penataan tanaman yang sangat rapi.

Waktu kedatangan saya jelas sudah melebihi batas waktu berkunjung. Namun karena saya termasuk rombongan jurnalis dari Jakarta yang meliput even Tour de Siak 2013, kami difasilitasi untuk menjelajahi secara detail Istana Siak.

Tentu saja kami ditemani Pak Zainuddin ketika mengelilingi istana yang dibangun pada 1889 ini. Hingga, kami mendapat cerita menarik dari beliau. “Untuk mengharumkan ruangan ini, Sultan menggunakan kayu cendana atau gaharu,” kata Zainuddin memulai pembicaraan tentang kisah seluk-beluk Istana Siak.

Istana yang dirancang arsitek Jerman itu memiliki beragam properti yang ditinggalkan Sultan Syarif Kasim II. Pemilik nama asli Yang Dipertuan Besar Syarif Kasim Abdul Jalil Saifuddin ini ternyata sangat gemar menyimpan koleksi berbagai barang bernilai tinggi. Properti dari berbagai penjuru Eropa, mulai Belanda, Cekoslovakia sampai Turki terawat dengan baik.

Simbol kerajaan berukiran naga yang berada di depan pintu masuk menjadi salah satu koleksi yang mampu menyedot perhatian saya. Menurut Zainuddin, naga yang dimaksud bukan merupakan kepercayaan yang bersumber dari Cina. “Hanya sebagai lambang kekuatan armada laut,” katanya.

Koleksi Istana Siak/Erik PP

Koleksi Istana Siak/Erik PP

Properti lain yang mengundang mata adalah sebuah cermin yang diletakkan di ruang tengah. Namun jangan salah sangka, cermin ini bukan sembarang cermin. Zainuddin menjelaskan, cermin berukuran sedang ini bukan terbuat dari kaca, melainkan hasil tumbukan kristal yang diberi kekuatan zikir.

Properti ini dibuat di Turki sekitar tahun 1700an. Cermin ini merupakan hadiah dari Kekhalifahan Utsmani lantaran keduanya memiliki kesamaan dalam menjalankan pemerintahan berdasarkan semangat keislaman. “Ketika belum ada bedak, istri sultan menjadikan beras yang ditumbuk sebagai penghias wajahnya dan selalu bercermin di sini,” kata pria berperawakan kurus ini.

Zainuddin melanjutkan, berkembang kisah di masyarakat barang peninggalan berharga itu dilabeli sebagai cermin awet muda. Dia tidak mengetahui pasti mengapa bisa muncul isu seperti itu. Namun cerita sudah berkembang kemana-mana. Sehingga, beberapa artis menyempatkan untuk berkunjung ke Istana Siak, dan tidak lupa untuk menyempatkan diri berias dan bercermin sebentar.

“Desy Ratnasari, Dorce, dan Iyeth Bustami pernah berkunjung ke sini,” kata pria berdarah Melayu ini sambil menunjukkan layar handphone berlatar belakang fotonya bersama Dorce.

Selain barang yang sudah disebutkan, Istana berlantai dua dan memilki bunker ini juga menyimpan beberapa peninggalan berharga. Antara lain, meriam, ketipung, replika burung elang, serta piagam penghargaan Gelar Pahlawan untuk Sultan Syarif Kasim II yang diberikan Presiden BJ Habibie pada 6 November 1998.

Di luar bangunan istana, terdapat kereta kencana dan replika perahu yang digunakan Sultan Syarif Kasim II ketika mengelilingi Benua Biru dan Timur Tengah. Sultan Siak terakhir ini memang memiliki kegemaran mengunjungi beberapa Negara Eropa untuk menimba ilmu. Terdapat pula sebuah gardu bundar berukuran kecil yang kondisinya masih bagus, yang sekarang fungsinya mirip pos satpam.

Advertisements