Air Force One

Kabin pesawat kepresidenan/Erik Purnama Putra

Rabu, 23 Oktober 2013

Oleh Erik Purnama Putra

Setelah hampir sembilan bulan tidak menjejakkan kaki di Base Ops Lanud Halim Perdanakusuma, saya akhirnya berkesempatan lagi mengunjungi area militer paling tertutup itu. Hal itu dapat dimaklumi lantaran Base Ops hanya diperuntukkan untuk penerbangan tertentu saja.

Kebetulan pula, saya ikut kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ke Pacitan dan Yogyakarta pada 15 hingga 19 Oktober. Terakhir kali saya merasakan penerbangan dari situ ketika ikut kunjungan Wamenhan Sjafrie Sjamsoeddin ke Surabaya pada awal tahun 2013.

Usai menunaikan shalat Idul Adha, saya berkemas ganti baju dengan memakai batik dan celana kain untuk bersiap berangkat. Terlebih dulu saya ke kantor untuk untuk memarkir sepeda. Selanjutnya, karena jalanan lengang, sekitar 25 menit kemudian saya sampai di Lanud Halim Perdanakusuma pukul 9:40 WIB. Jadwal penerbangan ke Lanud Adi Sutjipto pukul 11:00 WIB.

Meski baru pertama kali ikut rombongan RI-1, saya merasa nyaman. Apa pasal? Lantaran di ruang tunggu Suma 3, saya bertemu dengan rekan wartawan yang sudah saya kenal. Meski cukup lama pula tidak berjumpa dengan mereka, saya bisa cepat terlibat dengan obrolan mereka yang membahas soal hukuma, politik, dan kekuasaan.

Kurang 50 menit dari jadwal, rombongan wartawan dipersilakan masuk ke pesawat. Sebelum masuk pesawat lewat pintu belakang, pemeriksaan yang dilakukan Paspamres harus dijalani lebih dulu.

Sajian makanan ringan/Erik Purnama Putra

Karena pesawat kepresidenan berstatus menyewa dari maskapai Garuda Indonesia, ketika masuk ke dalam rasanya tidak terlalu asing. Hanya saja, karena termasuk jenis Airbus A330-300, kabin terasa cukup luas.

Kursi masih banyak yang melompong karena rombongan utama belum datang. Meski begitu, pramugari dengan ramah sudah menawari kami jus kacang hijau. Penyajiannya dihidangkan dengan gelas kecil. Kata teman-teman, menu ini hanya khusus ada di pesawat kepresidenan.

“Enak sekali,” batin saya merasakan pengalaman pertama menikmati jus kacang hijau. Bersandar di kursi sebentar, tidak terasa rombongan RI-1 sudah datang. Setelah lepas landas, pramugari menyajikan hidangan makanan ringan. Menunya cukup lengkap, mulai lemper, roti, coklat, manisan buah, hingga air mineral.

Menjelang tengah hari, kaki saya menginjakkan tanah Yogyakarta. Usai bersantap siang dengan menu soto di ruang tunggu khusus di Lanud Adi Sutjipto, rombongan langsung meluncur ke Pacitan.

Perjalanan kali ini sangat seru. Lantaran harus melewat jalur lintas selatan (JLS), saya bisa menikmati pemandangan Gunung Kidul dan Wonogiri sebelum sampai di kampung halaman Presiden SBY. Sepanjang jalan, kanan dan kiri hanya terdapat pegunungan. Suasananya gersang.

Sempat berhenti sebentar di tengah jalan, rombongan baru sampai di Pantai Klayar, Pacitan pada pukul 15:30 WIB. Saya memilih berjalan-jalan sendiri ketika rombongan wartawan lain memilih mengikuti RI-1 dan para menteri mengelilingi pantai yang identik dengan pasir putih dan batu pasir gampingan ini.

Pesawat Kepresidenan

Pesawat kepresidenan/Erik Purnama Putra

Menjelang maghrib, rombongan balik menuju pusat kota Pacitan. Ketika sampai Pendopo Pacitan, jam menunjukkan pukul 19:30 WIB. Usai makam malam, kami meluncur ke penginapan. Karena termasuk kota kecil, jangan bayangkan hotel di sana kondisinya bagus.

Pada Rabu (16/10) pukul 06:00 WIB, rombongan wartawan dan staf Biro Pers Istana sudah berkumpul di ruang makan hotel. Sekitar 30 menit kemudian, rombongan meluncur lebih dulu ke acara peresmian PLTU Pacitan di Sukorejo, Kecamatan Sudimoro. Sekitar pukul 11:00 WIB, kami ikut rombongan besar menuju peresmian Akademi Komunitas Negeri Pacitan.

Setelah itu, agenda RI-1 adalah shalat siang di Masjid Agung Pacitan. Menjelang sore, kami balik ke penginapan. Usai maghrib, kami diarahkan menuju Alun-Alun Pacitan untuk mengikuti acara hiburan. Ternyata, acaranya adalah pengumuman pemenang lomba menyanyikan lagu ciptaan SBY. Sekitar pukul 10:30 WIB, acara baru selesai. Akhirnya, saya bisa istirahat.

Pada Kamis (17/10) pukul 06:30 WIB, usai makan pagi, kami menuju Goa Gong. Lokasinya sekitar 30 kilometer arah barat daya dari pusat pemerintahan Pacitan. Karena datang lebih dulu, saya dan rekan wartawan mencoba masuk ke dalam gua yang menyimpan kekayaan stalaktit yang masih hidup tersebut. Karena pintu dikunci, kami lebih dulu melobi Paspamres hingga diizinkan masuk.

Ketika Presiden SBY dan beberapa menteri masuk gua, saya dan teman-teman gantian turun. Tujuannya adalah mencari cenderamata khasa Pacitan. Saya membeli kaos dan sandal bertuliskan Goa Gong. Harganya? Jangan ditanya, cukup murah. Ketika sampai di bawah, dekat parkir mobil, saya bertemu dengan Staf Khusus Presiden bidang Pembangunan Daerah dan Otonomi Daerah, Velix Wanggai.

Di warung yang dimiliki wanita yang sudah lanjut usia itu, Velix mengaku kaget dengan murahnya harga makanan dan minuman. Dia mencontohkan, segelas teh hangat ukuran gelas besar dibanderol Rp 1.000. “Biasanya, di tempat wisata harga makanan atau barang lebih mahal, tapi di sini murah sekali,” katanya. Di warung itu, saya membeli gula merah dengan harga Rp 5.000 untuk satu kantong plastik.

Menuju Yogyakarta

Lewat tengah hari, usai mengunjungi Goa Gong, rombongan RI-1 melanjutkan perjalanan ke Yogyakarta. Kali ini, karena terlalu capek, saya lebih banyak tidur sepanjang perjalanan. Tahu-tahu, ketika mata ini terbuka, iring-iringan mobil sudah sampai di perbatasan Gunung Kidul dan Bantul.

Saya terus mengarahkan pandangan ke kiri jalan melihat masyarakat berdiri melihat iring-iringan mobil. Akhirnya, setelah melewati Malioboro, kami sampai di Gedung Agung. Letak Istana Yogyakarta, nama lain Gedung Agung, berada persis di depan Benteng Vredeburg.

Gedung Agung/Erik Purnama Putra

Gedung Agung/Erik Purnama Putra

Saya dan teman-teman menikmati makan siang. Saya memilih menu soto. Sekitar pukul 14:00 WIB, kami bergerak menuju Stadion Mandala Krida. Sekitar pukul 15:00 WIB, Presiden SBY membuka kegiatan Hari Olahraga Nasional (Haornas). RI-1 juga memberi penghargaan kepada petinju Crish John dan atlet wushu Lindswell Kwok.

Menjelang pukul 17:00 WIB, kami sudah sampai di press room Gedung Agung. Karena pukul 19:00 WIB, dijadwalkan dihelat konferensi pers oleh Menkopohukam Djoko Suyanto, saya menghabiskan waktu dengan mengetik di situ. Tentu saja semua rekan juga sibuk dengan gadget dan laptopnya masing-masing.

Jadwal konferensi pers yang membahas soal Perppu 1/2013 tentang Penyelamatan MK molor 30 menit dari jadwal semula. Ketika digelar sesi tanya jawab, saya mengajukan satu pertanyaan dari dua pertanyaan yang diajukan jurnalis. Usai mengetik sekitar 30 menit, kami akhirnya bisa istirahat di penginapan.

Pada Jumat (18/10) pukul 06:00 WIB, kami semua sudah bertemu di tempat makan. Setengah jam kemudian, rombongan menuju Hunian Tetap Pagerjurang, Cangkringan, Sleman. Pukul 10:00 WIB, iring-iringan RI-1 balik menuju Gedung Agung.

Sempat dijadwalkan bakal shalat Jumat di Korem 072/Pamungkas, Presiden SBY akhirnya menunaikan ibadah di dalam kompleks Istana Yogya. Pertimbangan shalat Jumat di Korem yang terletak di samping Gedung Agung lantaran SBY dulunya pernah menjabat sebagai komandan Korem 072/Pamungkas.

Pukul 13:00 WIB, kami meluncur ke Kemusuk, Kecamatan Sedayu, Sleman. Agendanya adalah RI-1 mengunjungi Memorial Jenderal Besar HM Soeharto. Bangunan memorial ini sangat unik dengan ciri khas bangunan pendoponya.

Memorial Jenderal Besar HM Soeharto/Erik Purnama Putra

Sekitar pukul 16:00 WIB, RI-1 menuju Purworejo. Karena acaranya adalah internal keluarga, yakni nyekar ke makam Sarwo Edhie, rombongan wartawan tidak diajak. Pukul 16:30 WIB, kami sampai di Gedung Agung.

Setelah berdebat, diputuskan rombongan satu mobil menuju hotel, dan satunya jalan-jalan. Saya ikut yang ke hotel untuk melepas lelah sekaligus ingin mandi lantaran gerah. Sambil tidur-tiduran, tidak terasa jam sudah menunjukkan pukul 19:00 WIB.

Usai makam malam, saya dan tiga rekan wartawan dari Detik.com, TransTV, dan Indosiar, menuju Malioboro. Tentu saja, saya membeli oleh-oleh di sana. Uniknya, pedagang kaki lima (PKL) yang menjual pakaian hampir semua memajang kaos bergambar Soeharto. “Piye kabare bro? Penak jamanku tho? Beras murah,” begitu tulisan yang terteri di kaos bergambar the Smiling General.

Usai jalan-jalan, kami mampir di angkringan. Saya hanya pesan minuman jeruk untuk menghapus dahaga. Sekitar pukul 10:30 WIB, kami balik ke hotel. Tiba di sana, saya tidak langsung istirahat. Saya menata barang bawaan agar besoknya sudah rapi dan siap dibawa. Bagi yang membawa bagasi, diinfokan untuk meletakkan barangnya sekitar pukul 07:00 WIB untuk diangkut ke pesawat.

Jus Kacang Hijau/Erik Purnama Putra

Karena hari terakhir tidak ada agenda, kami tertawa bersenda-gurau di ruang makan hotel. Wartawan RRI, Rachmad Zein menjadi sasarannya. Dia di-bully habis. Bahkan, Kepala Biro Pers Istana Kolonel Minulyo Suprapto ikut nimbrung bersama kami. Usai makan pagi, baru balik ke kamar untuk mandi pada pukul 8:40 WIB.

Santai sebentar, diinfokan rombongan pukul 10:00 berkumpul di lobi hotel. Molor 20 menit dari jadwal, rombongan menuju Bandara Adi Sutjipto. Tepat pukul 11:00 WIB, kami masuk ke pesawat. Rasa lelah terbayar lunas dengan sajian jus kacang hijau. Entah lupa, pramugari memberi saya dua kali menu jus yang hanya bisa ditemukan di pesawat kepresidenan itu.

Tepat pukul 12:00 WIB, pesawat lepas landas menuju Lanud Halim Perdanakusuma. Penerbangan selama 50 menit terasa sangat cepat. Usai menyantap sajian makanan dan mendengarkan musik, tidak terasa pesawat sudah mau mendarat. Akhirnya, perjalanan lima hari mengikuti RI-1 berakhir sudah. Saya mendapat pengalaman baru. Cihuy!!

Advertisements