Simulasi MBT Leopard 2A6

Simulasi MBT Leopard 2A6/Erik Purnama Putra

Selasa, 5 November 2013 

Oleh Erik Purnama Putra

Pengalaman kunjungan ke tempat spesial tentu meninggalkan kesan tersendiri. Begitu pula yang saya alami cukup tidak terlupakan. Pada medio akhir Agustus lalu, saya bersama rombongan wartawan yang biasa meliput di Markas Besar (Mabes) Angkatan Darat (AD) mengikuti press tour.

Tujuannya ke Batalyon Kavaleri (Yonkav) 8/Tank Narasinga di Beji, Pasuruan dan Batalyon Artireli Medan (Yon Armed) I/105 Tarik di Singosari, Malang. Saya tidak sengaja mengikuti agenda ini. Ketika saya mendapat undangan dari staf Dinas Penerangan (Dispen) AD, informasi tersebut saya teruskan kepada teman saya.

Rekan saya tersebut menyanggupi untuk ikut. Sayangnya, ketika hari keberangkatan, dia malah baru bilang tidak bisa ikut. Akhirnya, saya kena getahnya.

Staf Dispen Mabes AD, Kapten Suwandi mengontak saya pada pukul 10:00 WIB. Mereka komplain dengan kejadian itu. Akhirnya, lantaran kunjungan itu bertepatan dengan jadwal cuti, saya yang akhirnya menggantikan rekan itu. Kebetulan ketika itu, saya sedang santai di rumah. Sehingga, saya langsung menerima ajakan tersebut sekaligus menjalin silaturahim dengan teman-teman.

Setelah berkoordinasi, rombongan terbang pukul 13:00 WIB dari Bandara Soekarno-Hatta. Sayangnya, pesawat Sriwijaya Air mengalami penundaan penerbangan selama sejam lebih. Alhasil, rombongan mendarat di Bandara Abdulrachman Saleh sekitar pukul 14:30 WIB. Tidak masalah menunggu, lantaran saya sudah mengenal seluk-beluk bandara yang dekat rumah ini.

Singkat cerita, sekitar 25 jurnalis dan 10 staf Dispen AD menginap di salah satu hotel di tengah Kota Malang. Besok paginya, pukul 07:00 WIB, rombongan menggunakan dua bus  meluncur ke Pasuruan dikawal polisi militer. Dengan situasi jalan lumayan ramai, sekitar pukul 08:30 WIB, rombongan sampai di lokasi.

Kunjungan pertama ini dipilih disebabkan Yonkav 8/Tank Narasinga bakal menjadi tempat parkir main battle tank (MBT) Leopard 2A6. Sebagaimana diketahui, Kementerian Pertahanan (Kemenhan) memastikan membeli MBT Leopard 2A6 sebanyak 100 unit dan tank medium Marder 50 unit dari Jerman. Kedatangan Leopard jelas bakal menggusur  Tank FV-101 Scorpian yang menjadi penghuni di sana sejak 1999.

Persiapan menyambut Leopard benar-benar sudah matang. Garasi berukuran besar sudah jadi, meski bau cat masih cukup menyengat. Tahap pertama, setidaknya 20 MBT Leopard siap menjadi penghuni garasi tersebut. Jalan di kompleks asrama juga sudah disesuaikan. Sumber daya manusia (SDM) juga sudah dilatih.

Kami disambut dengan pertunjukan atraksi permainan remote control tank di sebuah taman yang dibuat khusus untuk kegiatan simulasi. Bahkan, kami diberi kesempatan berkeliling asrama prajurit dengan menaiki Tank Scorpion. Sensasinya cukup menegangkan.

Meskipun dua MBT Leopard sudah sampai di Tanah Air, namun hal itu merupakan perkecualian. Pasalnya, dua Leopard itu hanya diikutsertakan di defile peringatan HUT TNI pada 5 Oktober lalu. Secara resmi, tank tercanggih di kelasnya itu bisa hadir di Pasuruan pada tahun depan.

Komandan Yonkav 8/Tank Narasinga Wiratama Letkol Otto Sollu menginginkan MBT Leopard bisa segera dihadirkan di Indonesia. Saat ini, satuannya diperkuat Tank FV-101 Scorpion sebanyak 53 unit. Tank Scorpion termasuk kelas medium. Adapun, Leopard termasuk tank kelas besar yang belum dimiliki TNI AD.

Melihat perimbangan kekuatan negara lain, Otto meminta dukungan semua pihak agar MBT Leopard segera menggantikan Tank Scorpion. Apalagi, pihaknya sudah membangun garasi yang telah disiapkan untuk menampung MBT Leopard. Keunggulan tank produksi perusahaan Rheinmetall itu, sambungnya, memiliki daya tahan dan kekuatan, serta akurasi tembakan paling canggih.

Karena alutsista TNI AD sudah ketinggalan zaman, ia berharap kedatangan MBT Leopard dipercepat demi menjaga kedaulatan NKRI. “Kita sudah siap menerima alutsista yang baru. Masa kita negara besar belum punya tank besar?” katanya.

Tank Scorpion/Erik Purnama Putra

Tank Scorpion/Erik Purnama Putra

Menurut Otto, dibanding negara tetangga, Indonesia jauh tertinggal. Bukan bermaksud merendahkan diri, kata dia, fakta itu membuatnya miris. Dia menyebut, Malaysia dan Singapura sudah diperkuat MBT Leopard dan Tank M1 Abrams. Adapun, Cina dan India sudah bisa membuat tank tempur utama hasil transfer teknologi dari Rusia. “Negara lain sudah punya. Agar TNI kuat, kedatangan Leopard harus didukung,” kata Otto.

Selain garasi, pihaknya sudah menyiapkan SDM untuk mengoperasikan MBT Leopard. Sebanyak 46 prajurit dan 12 cadangan sudah belajar mengemudikan tank melalui simulasi dan kajian berbagai referensi. Sebanyak 494 prajurit juga sudah menjalani kursus bahasa Jerman untuk memudahkan komunikasi dengan teknisi dalam pembelajaran transfer of technology (ToT). “Intinya prajurit sudah siap, kendaraan tempur yang belum datang.  Kita tunggu saja,” ujarnya.

Peremajaan alutsista juga dilakukan di Yon Armed I/105 Tarik, Singosari. Hari kedua, kami mengunjungi kompleks asrama ini dengan sambutan belasan meriam yang dijejer di pinggir lapangan. Rencananya, satuan yang menginduk ke Divisi Infanteri II/Kostrad itu bakal kedatangan kendaraan multi launcher rocket system (MLRS) Astros II MK6 dari Brasil.

Keunggulannya, peluncur roket itu mampu menjangkau sasaran musuh sejauh 300 kilometer dan mampu menghancurkan kapal induk beserta muatannya. Kira-kira, jika peluru roket itu ditembakkan dari Jakarta, sasaran di Semarang bisa diledakkan. Sedangkan, peluncur roket yang dimiliki TNI AD sekarang sudah jauh ketinggalan. Pasalnya jarak tembak ke sasaran hanya belasan kilometer.

Komandan Yon Armed Letkol Arya Yudha, mengaku siap menunggu kedatangan Astros yang diperkirakan datang pada 2014. “Selaku komandan saya bangga sekali menyiapkan dari segi kualitas sarana dan prasarana agar senjata itu nantinya dpat digunakan dan dipelihara sesuai fungsinya demi memperkuat satuan ini,” kata Arya.

Sebagai persiapan, di belakang kompleks sudah berdiri gedung parkir cukup luas dan kokoh sebagai tempat penyimpanan MLRS Astros II MK6. Tidak hanya itu, dibangun pula sebuah garasi yang dikamuflasekan seperti gundukan tanah. Hal itu dilakukan sebagai bentuk penyamaran agar tidak terdeteksi musuh. Karena termasuk salah satu lokasi vital penyimpanan alutsista, nantinya hanya orang tertentu saja yang bisa mengakses tempat itu.

Mari kita tunggu kedatangan alutsitas terbaru TNI. Bravo!!

Advertisements