Il Presidente Erick Thohir bersama Interisti Indonesia/Republika

Il Presidente Erick Thohir bersama Interisti Indonesia/Republika

Selasa, 3 Desember 2013

Oleh Erik Purnama Putra

Mata pria itu terus memandangi lapangan. Dari tribun khusus, ia mengamati permainan yang diperagakan Javiez Zanetti dan kawan-kawan. Kamera televisi terus menyorot kehadirannya. Meski sudah mengenakan jaket tebal dan sarung tangan, ia masih tampak berusaha beradaptasi dengan cuaca dingin di Kota Milan.

Pria yang mampu menyedot perhatian dunia tersebut adalah Erick Thohir. Pengusaha muda Indonesia ini untuk pertama kalinya sejak resmi menjadi presiden Inter Milan pada pertengahan November lalu, berkesempatan menonton langsung klubnya bertanding. Erick hadir didampingi Presiden Kehormatan Massimo Moratti di Giuseppe Meazza, Ahad (2/12) malam WIB.

Sayangnya, di laga itu, Inter harus menerima kenyataan ditahan imbang Sampdoria, 1-1. Sempat unggul lewat gol Freddy Guarin pada menit ke-18, tuan rumah harus mendapatkan kekecewaan setelah Fernandes Garcia Renan melesakkan gol semenit menjelang peluit panjang dibunyikan wasit.

Kegagalan memetik tiga angka jelas mengecewakan. Pasalnya, di laga itu juga ditonton puluhan legenda klub yang sengaja diundang untuk menyaksikan langsung kehebatan Inter. Gianluca Pagliuca, Francesco Toldo, Marco Materazzi, dan Luis Figo adalah sederet nama yang hadir.

Bahkan, sebelum laga dimulai, Erick menyempatkan diri untuk berfoto bersama dengan mantan pemain I Nerazzurri itu. Dia memamerkan jersey kebanggaan klub berwarna biru hitam dengan nomor punggung 1 yang bertuliskan namanya, Thohir. “Pertama kalinya di San Siro (nama lain Giuseppe Meazza)? Tidak dapat dipercaya!” kata Erick kepada laman resmi klub.

Dia sangat senang dapat merasakan langsung atmosfer markas besar klub peraih 18 Scudetto itu. Erick sangat kagum bisa melihat kedatangan Interisti yang memadati stadion berkapasitas 80 ribu tempat duduk itu. Sayangnya, meski terus berupaya mengumbar senyum sepanjang laga, ia cukup kecewa dengan hasil akhir yang didapat Inter.

Menurut analisisnya, intensitas permainan Inter pada babak kedua menurun drastis. Hal itu menjadi penyebab kemenangan yang ada di depan mata bisa lenyap. Dia mengingatkan, tim sepak bola hanya bisa menang kalau tampil baik sepanjang 90 menit. Meski begitu, ia memahami di dunia sepak bola apapun dapat terjadi sebelum wasit menghentikan pertandingan.

“Saya pikir, kami telah bermain bagus pada babak pertama,” ujar Erick. “Ya, itulah yang terjadi dan itulah yang membuat sepak bola begitu indah. Ini bukan semata permainan yang menghibur, tapi Anda juga mendapat drama.”

Dua media olahraga terkemuka di negeri Pizza, mewartakan kehadiran Erick itu di halaman depan koran mereka. La Gazzetta dello Sport melaporkan, “Debut Thohir, tapi Internya Tertangkap”. Tutto Sport menulis, “Thohir Membeku di San Siro”.

Entah merasa tidak enak lantaran memberikan sajian buruk, pelatih Walter Mazzarri sampai harus meminta maaf kepada Erick. Gara-gara kehilangan dua angka, peluang Inter menembus posisi tiga besar atau zona Liga Champions urung terwujud.

“Ini hanya sebuah hal yang memalukan kami tidak dapat memberikan kemenangan di kandang, itu akan menjadi hebat untuk Presiden baru dan juga baik bagi tabel klasemen” sesal Mazzarri.

Bagi Materazzi, kehadiran Erick dapat membawa aura kebaikan bagi masa depan klub. Setelah beberapa musim terakhir mengalami keterpurukan, ia optimistis Esteban Cambiasso bakal segera bangkit. Kolaborasi Erick dan Moratti diharapkannya bisa membawa Inter kembali jajaran elite klub Eropa.

Pahlawan Gli Azzurri saat meraih Piala Dunia 2006 tersebut mengharapkan, untuk jarak dekat performa Inter dapat segera bangkit untuk meraih prestasi. “Dari apa yang sudah saya lihat, tampak bahwa niatnya (Erick) adalah untuk mencocokkan segalanya dengan apa yang sudah Presiden Moratti lakukan,” kata Materazzi.

Erick resmi menjadi pemilik saham mayoritas Inter pada 15 Oktober lalu. Bersama Rosan Roeslani dan Handy Soetedjo, ia menebus saham klub Italia satu-satunya peraih treble winners itu dengan harga 350 juta euro atau sekitar Rp 5,25 triliun. Melalui konsorsium International Sports Capital (ISC), Erick sukses menjadi pemilik 70 persen saham klub.

Sebulan berselang atau pada 15 November, pria berusia 43 tahun ini didaulat menjadi presiden Inter. Dia menggantikan Massimo Moratti yang dengan rela melepaskan posisinya yang diemban sejak 1995. Target pertama yang diusung Erick adalah membangun tim yang kompetitif dengan menggabungkan pemain berpengalaman dan pemain muda. Selain itu, ia bakal mengurusi bisnis agar finansial klub lebih sehat.

Sebelum menguasai Inter, Erick terlebih dulu sudah menjadi pemilik sebagian saham klub sepak bola Amerika Serikat (MLS), DC United. Dia juga menjadi pemilik saham klub ISL, Persib Bandung. Di bidang bola basket, ia memiliki klub Satria Britama dan Indonesia Warriors. Hanya saja, ia baru-baru ini melepas kepemilikan sahamnya di klub NBA, Philadelphia 76ers.

Il presidente bakal menginjakkan kakinya lagi di Giuseppe Meazza pada akhir bulan ini. Dia berjanji hadir untuk menyaksikan langsung Derby della Madonnina yang dikenal prestisius. “Saya akan di sini lagi untuk laga derby karena itu bagus untuk mendukung mereka. Bagaimana pun saya akan melihat mereka di ruang ganti sesudahnya, untuk memberi mereka dukungan,” kata pemilik Harian Republika ini kepada Sky Sport Italia.

Advertisements