Kamis, 16 Januari 2014

CR7/Keystone

CR7/Keystone

Oleh Erik Purnama Putra

Cristiano Ronaldo sudah ditahbiskan sebagai Pemain Terbaik Dunia 2013 dalam pemilihan di markas FIFA di Zurich, Selasa (14/1) dini hari WIB. CR7 yang meraih suara 1.365 poin (27,99 persen) sukses menyingkirkan Lionel Messi yang mengumpulkan 1.205 poin (24,72 persen) dan Franck Ribery yang mendapat 1.127 poin (23,36 persen).

Kontroversi pun merebak. Mantan pelatih Bayern Muenchen Jupp Heynckes dan Presiden UEFA Michel Platini merasa pemberian penghargaan kepada Ronaldo kurang adil. Itu lantaran Ronaldo tidak mampu meraih prestasi apapun bersama Real Madrid pada musim lalu.

Kritikan paling keras dilontarkan Platini. Dia kecewa dengan mekanisme pemilihan FIFA Ballon d’Or. Platini merasa jengkel lantaran aspek raihan trofi tidak lagi menjadi pertimbangan dalam penentuan penghargaan. Alhasil, Ribery yang merupakan kompatriotnya harus gigit jari.

Padahal, Ribery sukses mempersembahkan lima gelar untuk Bayern Muenchen selama 2013. Di saat bersamaan, Jupp Heynckes yang menghadirkan treble winners untuk FC Hollywood diganjar sebagai Pelatih Terbaik.

“Saya sangat kecewa untuk Franck Ribery. Sejujurnya, hari ini pada tahun depan atau tahun depannya lagi, itu (Ballon d’Or) akan kembali ke Messi atau Ronaldo lagi,” cetus legenda Les Bleus tersebut.

Tentu saja, pendapat Platini sah-sah saja dijadikan bahan introspeksi lantaran mengandung fakta. Namun, jika mau merujuk pada kontroversi, masalah itu sebenarnya sudah muncul sejak pemilihan Ballon d’Or 2010. Suara-suara sumbang bernada mengingatkan mulai menggugat sistem pemilihan Pemain Terbaik yang baru diterapkan sejak tahun itu.

Tidak seperti tahun sebelumnya, mulai 2010, pemberian Ballon d’Or yang diinisiasi majalah France Football digabung menjadi satu dengan Penghargaan Pemain Terbaik Dunia (FIFA World Player of the Year) yang dihelat FIFA. Dampaknya, penghargaan individual paling dinantikan pesepak bola itu berubah nama menjadi FIFA Ballon d’Or.

Konsekuensinya, pemain yang meraih prestasi luar biasa bersama klubnya tidak otomatis selalu terpilih. Padahal, kalau menengok lima tahun ke belakang saja, penerima penghargaan biasanya dipilih setelah mengantarkan klubnya berprestasi, khususnya trofi Liga Champions.

Karena itu, ketika Messi (2009), Ronaldo (2008), Kaka (2007), dan Ronaldinho (2005) dipilih menjadi Pemain Terbaik Dunia, semua pada memakluminya. Pun ketika Fabio Cannavaro dijadikan Pemain Terbaik Dunia 2006 dengan pertimbangan sukses membawa timnas Italia meraih trofi Piala Dunia, pecinta bola pada mafhum.

Situasi berbeda terjadi di pemilihan Ballon d’Or 2010 yang dihelat pada awal 2011. Messi yang tidak diunggulkan menerima penghargaan Pemain Terbaik Dunia untuk kedua kalinya. Dia menyisihkan Andres Iniesta dan Xavi Hernandez. Hasil itu jelas mengejutkan.

Kalau merujuk prestasi, Messi hanya mampu mempersembahkan trofi La Liga Spanyol untuk Barcelona. Adapun, Iniesta dan Xavi yang merupakan rekan setim malah sukses mengantarkan timnas Spanyol menjuarai Piala Dunia 2010.

Bahkan jika mau jujur, perdebatan sengit sudah muncul ketika FIFA mengumumkan tiga nama nominasi beberapa bulan sebelumnya. Tidak munculnya nama Wesley Sneijder dalam daftar nominasi tiga besar merupakan kabar mengagetkan. Padahal, selama 2010, mantan pemain Real Madrid itu tampil mengesankan bersama Inter Milan dan timnas Belanda.

Dia berhasil mempersembahkan lima trofi untuk I Nerazzurri, di antaranya adalah Liga Champions dengan menyisihkan Barcelona. Sneijder juga mengantarkan de Oranje ke final Piala Dunia 2010, serta menjadi top skorer dengan lima gol, meski hanya berposisi sebagai gelandang. Hanya karena kalah dalam mencetak assist, Sepatu Emas (Golden Boot) akhirnya didapat bintang timnas Jerman, Thomas Mueller.

Dengan torehan seperti itu, Sneijder masih kalah bersaing dengan Iniesta dan Xavi. Dua nama terakhir itupun akhirnya harus merelakan trofi itu ke Messi yang dipilih berdasarkan rajin mencetak gol di kompetisi domestik.

Tidak salah, Zlatan Ibrahimovic yang pada musim 2009-2010 pernah satu tim di Barcelona secara terbuka sampai mempertanyakan mengapa penggawa Tango tersebut bisa terpilih lagi. “Messi memiliki musim yang fantastis, tapi dia hanya meraih trofi liga. Jika juri ingin sedikit lebih adil, mereka harus memberikannya kepada pemain lain.”

Dengan kenyataan itu, kekhawatiran Platini bahwa Ballon d’Or tahun depan akan jatuh ke tangan Messi atau Ronaldo, besar kemungkinan dapat terjadi. Dengan usia Messi sekitar 27 tahun dan Ronaldo 29 tahun pada 2014, keduanya tentu masih dalam masa keemasan.

Kalau tidak terkena cedera, persaingan keduanya yang belum menunjukkan penurunan produktivitas gol hampir pasti menenggelamkan pemberitaan tentang pencapaian prestasi pesepak bola lainnya. Karena itu, tanpa adanya kriteria seorang pemain harus mengantarkan klubnya mendapat trofi, sangat kecil peluang munculnya pemain baru dalam daftar nominasi Ballon d’Or.

Alhasil, memprediksi nama Ronaldo dan Messi masuk ke dalam nominasi Pemain Terbaik 2014, sudah bisa dilakukan mulai saat ini. Kalau sudah begitu, hanya berharap kedua pemain yang menyabet Pemain Terbaik Dunia dalam enam edisi terakhir itu pensiun adalah upaya realistis.

Advertisements