Jumat, 24 Januari 2014 

Fredy Guarin/Soccerlans

Fredy Guarin/Soccerlans

Oleh Erik Purnama Putra

Situasi pelik menjurus krisis sedang menerpa Inter Milan. Kegagalan meraih kemenangan selama 2014, menjadi penyebabnya. Dari empat laga, Rodrigo Palacio dan kawan-kawan hanya mengemas satu hasil imbang dan tiga kali kalah. Bahkan, salah satu kekalahan atas Udinese itu membuat La Beneamata tersingkir di babak 16 besar Coppa Italia.

Sempat menyandang sebagai tim paling produktif, mereka kini seret dalam perbendahraaan gol dengan menciptakan satu gol dari empat pertandingan terakhir. Ketika menutup tahun 2013 dengan kemenangan 1-0 dari AC Milan, jarak mereka dengan Napoli sangat dekat. Sekarang, peluang menembus zona Liga Champions semakin jauh dalam jangkauan.

Dampak hasil buruk itu membuat peringkat Inter terperosok. Mereka menduduki peringkat kelima dengan torehan 32 poin. Inter terpaut 11 poin dari Napoli. Pun jika tidak hati-hati, posisi Inter bisa disalip Hellas Verona yang hanya kalah produktivitas gol.

Padahal, urutan kelima merupakan zona Liga Eropa. Kalau sampai tergelincir, I Nerazzurri bisa mengulangi torehan musim lalu yang gagal berkompetisi di luar Italia.

Di tengah keterpurukan itu, Interisti dikagetkan dengan kebijakan transfer klub. Secara tiba-tiba, muncul kabar terjadi barter antara Fredy Guarin dan Mirko Vucinic. Beredar kabar, keputusan itu diambil untuk merespon usulan pelatih Walter Mazzarri.

Mantan pembesut Napoli tersebut merasa permintaannya untuk mendatangkan ujung tombak baru tidak pernah diindahkan klub. Kekalahan atas Genoa, 0-1 menjadi puncak kegerahan Mazzarri. Berbeda dengan lini belakang dan tengah yang memiliki stok melimpah, lini depan Inter sangat minim opsi.

Selalu mengandalkan Rodrigo Palacio seorang diri di depan jelas sangat riskan. Adapun, Diego Milito sudah kehilangan ketajamannya. Sementara itu, Mauro Icardi (20 tahun) dan Ishak Belfodil (22) masih butuh jam terbang tinggi untuk menjadi striker utama.

Alhasil, ditempuhlah cara instan, namun kurang populer. Petinggi Inter siap melepas penggawa andalannya ke musuh terbesar. Sontak informasi itu mendapat respon keras dari Ultras Curva Nord. Suporter garis keras tersebut mengecam keputusan Direktur Olahraga Marco Branca dan Piero Ausilio itu.

Pertimbangan para pendukung setia Inter sangat logis. Proses tukar guling itu jelas merugikan klub satu-satunya di Serie A Liga Italia yang tidak pernah terdegradasi itu. Secara fisik, Guarin yang berusia 27 tahun selalu menjadi andalan dan tampil prima. Berbeda dengan Vucini yang umurnya sudah berkepala tiga dan sering mengalami cedera.

Meski Inter mendapat tambahan kompensasi 2 juta euro atau sekitar Rp 32,5 miliar untuk penyesuaian nilai pasar kedua pemain, namun secara nyata kebijakan itu seolah memperkuat klub rival. Masalah utama yang lebih serius, jika saja Vucinic yang sudah menjalani tes medis di Milan jadi direkrut, hal itu bertolak belakang dengan misi Erick.

Pasalnya, sejak awal kedatangannya di Giuseppe Meazza, ia selalu menekankan pentingnya peremajaan tim. Dia siap memberikan banyak porsi untuk pemain muda dalam skuat klub peraih treble winners satu-satunya di Italia itu. Karena itu, mendatangkan bomber timnas Montenegro itu merupakan blunder besar.

Dampaknya, kemarahan mereka sampai pada puncaknya dengan mengirimkan petisi untuk Erick. Para suporter meminta Sang Presiden untuk mencurahkan energinya demi Inter, bukan malah tersita mengurusi sepak bola di Amerika Serikat. Bahkan, sempat dikabarkan para suporter akan berkumpul dan melakukan demo di depan markas Inter.

Beruntung, petinggi Inter tampak cekatan. Erick berkoordinasi dengan Presiden Kehormatan Massimo Moratti dan Wakil Presiden Angelomario untuk meredam situasi pelik itu. Secara cepat diambil keputusan proses pembahasan dengan Si Nyonya Tua dihentikan.

“Saya merasa itu tidak mungkin untuk mencapai perjanjian pada kesepakatan di mana pendapat dari kedua belah pihak berbeda dan tidak menawarkan manfaat keuangan atau teknis yang jelas ke klub,” ujar Erick.

Apakah badai sudah berlalu? Tentu saja belum. Masalah yang dihadapi Erick sekarang adalah memulihkan hubungannya yang renggang dengan Ultras Curva Nord. Pernyataan keras pendukung militan Inter itu jelas menandakan kekecewaan yang mendalam kepada Sang Presiden.

Di akun media sosial, Interisti menyuarakan agar Erick memecat Branca. Dia dianggap sebagai biang keladi ketidakbecusan dalam kebijakan beberapa transfer pemain Inter. Setelah sempat dikecewakan dengan pelepasan Philippe Coutinho ke Liverpool pada 2013, sekarang adalah tahap puncak dari kekesalan itu.

Masalah lain yang mendesak dicarikan solusi adalah menghentikan penurunan performa Inter. Tiadanya pemain baru yang masuk tentu membuat Mazzarri harus berpikir keras. Dia wajib memaksimalkan potensi pemain yang dimiliki, meski dengan kedalaman skuat yang terbatas.

Nasib Guarin juga harus diperhatikan. Keinginannya memperkuat Juventus pasti menciptakan ekses negatif dengan rekan setim. Membekukan Guarin tentu bukan langkah bijak. Namun, tak menjatuhkan hukuman jelas bakal menciptakan sinisme luar biasa dari pemain lain yang setia membela klub.

Persiapan secara matang harus dilakukan Mazzarri. Kekalahan sekali lagi jelas tidak bisa diterima. Hal itu akan semakin menjerumuskan tim ke dalam jurang krisis lebih dalam. Karena itu, kemenangan atas Catania di Giuseppe Meazza Ahad (26/1), tidak bisa ditawar lagi.

Raihan poin maksimal setidaknya dapat meredam gejolak internal dan mengobati rasa haus Interisti yang terus dikecewakan. Masa transisi—meminjam istilah Erick—wajib dilewati dengan berhasil.

Kalau pada fase ini Erick gagal mendapat kesempatan memperbaiki citra klub dari pendukung, sangat berat baginya untuk mewujudkan misi membesarkan Inter dan membuat finansial klub sehat.

Advertisements