Sabtu, 8 Februari 2014

Mourinho dan Ashley Cole/Republika

Mourinho dan Ashley Cole/Republika

Oleh Erik Purnama Putra

Jose Mourinho membuat analogi menarik terkait perebutan gelar Liga Primer Inggris musim ini. Setelah Chelsea mengalahkan Manchester City, 1-0 di Etihad Stadium, Selasa (4/2) dini hari WIB, Mourinho tidak lagi sesumbar.

Dia malah terkesan merendah. The Special One menyebut timnya sebagai kuda kecil dan dua pesaingnya sebagai kuda besar. Sebagai kuda kecil, the Blues baru ikut balapan sebenarnya pada musim depan. Alasannya, Eden Hazard dan kawan-kawan baru memasuki tahap evolusi.

Karena merupakan tim yang sedang berkembang, Mourinho merasa Chelsea belum pantas untuk bekejaran dengan Arsenal dan City. Sehingga, mantan pembesut Real Madrid dan Inter Milan tersebut seolah menempatkan Chelsea sebagai underdog.

Kalau mau jujur, tentu saja Mourinho tidak benar-benar mencoba menyerah. Pasalnya, stabilitas permainan Chelsea semakin membaik. Setelah mudah kehilangan angka pada awal musim, klub yang bermarkas di Stamford Bridge tersebut tampil menghentak sepanjang 2014.

Di luar hasil imbang 0-0 kontra West Ham United pada akhir Januari lalu, Chelsea menyapu semua laga dengan kemenangan. Tidak hanya piawai dengan menyungkurkan lawan di kandang, mereka juga sanggup tampil menghentak.

Agresivitas City berhasil diredam. Tidak hanya itu, rekor selalu mencetak gol di 61 pertandingan maupun lesakkan 115 gol the Citizens ke berbagai klub sepanjang musim ini, harus terputus gara-gara racikan tangan dingin Mourinho.

Alhasil, kedua klub sama-sama mengoleksi 53 poin. City dan Chelsea berurutan menduduki peringkat kedua dan ketiga. Keduanya hanya dipisahkan produktivitas gol yang cukup besar. Adapun, the Gunners duduk manis di puncak klasemen dengan keunggulan dua angka.

Mengapa Liverpool tidak dimasukkan? Walaupun masih memiliki peluang untuk meramaikan papan atas, target realistis the Reds adalah mengamankan posisi empat besar. Setelah memuncaki klasemen pada Natal lalu, Luis Suarez dan kawan-kawan tampak keteteran mengejar tiga kuda yang berlari kencang.

Manajer Brendan Rodgers bahkan menyebut, kedalaman skuat timnya belum selevel dengan tiga klub yang berada di atasnya. Alhasil, misi Liverpool sekarang adalah mengamankan tiket Liga Champions dengan mencoba mengadang laju Everton, Tottenham Hotspur, dan Manchester United (MU).

Dengan menyisakan 14 laga, pacuan kuda ketiga klub tersebut pasti semakin seru. Kuda kecil tentu tidak akan menyia-nyiakan peluang untuk menyalip di tikungan. Meski Mourinho lebih mengunggulkan Arsenal dan City, juga bisa diprediksi dalam hatinya terbersit harapan agar kedua rivalnya tergelincir.

Mengacu jadwal sisa, Chelsea sebenarnya lebih diuntungkan lantaran hanya melakukan lawatan ke Anfield melawan Liverpool. Tim kuat lainnya yang berpotensi mengganggu laju Chelsea dihadapi di depan publik sendiri.

Sementara itu, Arsenal harus menghadapi Tottenham Hotspur, Chelsea, Everton dengan status tim tamu. Tentu saja potensi kehilangan poin di laga itu sangat besar. Sedangkan, City harus melawan MU dan Liverpool di kandang lawan. Arsenal dan City juga masih harus bentrok di Emirates Stadium pada 30 Maret nanti.

Dengan begitu, sangat terbuka bagi Chelsea untuk dapat menyalip rivalnya di tikungan. Namun demikian, segala strategi Mourinho dapat berantakan jika masalah seretnya gol yang dihadapi Chelsea gagal dicarikan solusi. Meski lini tengah, seperti Hazard, Oscar, dan Ramirez siap setiap saat untuk membukukan namanya di papan skor.

Tetapi, mereka sangat kesulitan menghadapi tim dengan pertahanan ketat. Kurang tajamnya Samuel Eto’o, Fernando Torres, dan Demba Ba wajib segera diatasi. Yang tidak boleh dilupakan, ada kemungkinan juara nanti ditentukan melalui produktivitas gol. Kalau skenario itu terwujud, bisakah juru taktik dengan status doktor kehormatan Universitas Teknik Lisbon tersebut menghindarkan kuda kecil dari situasi tidak menguntungkan itu?

Advertisements