Kamis, 13 Maret 2014

Kabah di Masjidil Haram, Senin (3/3).

Kabah di Masjidil Haram, Senin (3/3).

Oleh Erik Purnama Putra

Perjalanan keluar negeri selalu menyisakan pengalaman menarik. Tidak terkecuali ketika harus menjalani umrah. Pengalaman selama tujuh hari di Arab Saudi sangat mengesankan. Itu mungkin lebih lantaran untuk pertama kalinya menginjakkan kaki di sana. Meski begitu, wisata spiritual ini tetap layak untuk dikenang.

Kisahnya tidak ditulis secara detail. Bersama hampir 470 jamaah lainnya, semua menumpang pesawat Saudi Arabian Airlines Boeing 747-468. Pesawat jumbo ini bertingkat di bagian depan. Alhasil, dari kejauhan bentuknya sangat unik. Karena menampung jumlah penumpang sangat banyak, pesawat jenis ini dioperasikan untuk jarak jauh.

Jadwal keberangkatan dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta pada Rabu (26/2), tepat pukul 05:30 WIB. Namun, mulai pukul 03:00 WIB, semua jamaah sudah digiring ke bagian imigrasi dan ruang tunggu bandara. Pertimbangan banyaknya jumlah jamaah membuat pihak travel cepat tanggap dalam menginstruksikan para jamaah untuk segera memasuki ruang tunggu bandara.

Sekitar pukul 05:00 WIB, jamaah yang didominasi orang paruh baya dan kakek nenek itu berbaris rapi memasuki pesawat melalui dua garbarata. Sesuai jadwal, pesawat lepas landas di atas langit Tangerang, yang mulai tersinari matahari pagi. Penulis mendapat tempat duduk di kursi 31 C.

Selama penerbangan, dua kali penumpang disuguhi makanan. Menunya cukup mengundang selera. Nasi kotak dengan lauk ayam plus bubur. Roti dan salad tidak tersentuh sama sekali. Minumnya tersedia sari jeruk dan air mineral. Kalau haus, pramugari yang selalu berkeliling akan menawari penumpang air mineral.

Setelah menempuh perjalanan hampir 10 jam, pesawat mendarat di Bandara Internasional Pangeran Mohammad bin Abdul Aziz pukul 11:00 waktu setempat. Perbedaan waktu Arab Saudi lebih lambat empat dari waktu Indonesia bagian barat.

Matahari sedang terik-teriknya memancarkan sinarnya di atas Kota Madinah Al Munawwarah. Namun, embusan udara dingin sangat terasa. Kaki ini langsung melangkah ke dalam bus penjemput yang mengantarkan ke arah imigrasi. Pelayanan sigap bagian imigrasi yang membuka empat pintu pemeriksaan membuat ratusan jamaah tidak terlalu lama antre.

Keluar dari bandara, sebanyak 11 bus siap menjemput. Sempat muncul masalah ketika bus nomor 11 belum datang. Hal itu membuat jadwal menuju ke Hotel Western Al Harithia menjadi molor sekitar 30 menit. Tidak lama menyusuri jalanan lengang menuju Kota Madinah, sekitar pukul 13:00, semua jamaah tiba di penginapan.

Panitia langsung menyilakan rombongan untuk makan siang. Menunya cukup mengagetkan. Makanan buatan Indonesia tersaji di meja dalam bentuk prasmanan. Setiap orang bisa mengambil sendiri sesukanya. Sambil makan, diumumkan pula pembagian kunci kamar. Sekitar 14:00, akhirnya tubuh ini dapat rebahan di lantai 12.

Rekan mengajak Zuhur dan Ashar dijamak di Masjid Nabawi. Cukup berjalan kaki satu menit dari hotel sampai pelataran masjid yang di dalamnya terletak makan Rasulullah itu. Arsitektur masjid yang megah hanya sanggup mengundang decak kagum. Apalagi, di setiap sudut masjid disediakan tempat untuk minum air zam-zam bagi jamaah yang haus.

Menyempatkan diri ke Raudhah jelas merupakan momen istimewa. Karena antrean jamaah yang ingin masuk sangat panjang, memilih untuk shalat di sisi luar makam Nabi Muhammad SAW, menjadi pilihan realistis. Sempat pula mengunjungi sisi pintu ukuran kecil di sebelah selatan, yang katanya itu merupakan jalur ketika Malaikat Jibril menyampaikan wahyu.

Rutinitas tiga hari terus terulang seperti itu. Jarak dekat itu pula yang membuat semangat untuk menghabiskan banyak waktu di sana cukup besar daripada berdiam diri di hotel. Sangat menyenangkan tentu. Apalagi, bisa bertemu umat Islam dari belahan penjuru bumi, yang merasa terpanggil untuk datang ke Yasrib—tempat di mana dulu Rasulullah melakukan hijrah.

Dari Masjid Nawabi, dapat diambil pelajaran berharga. Aktivitas gerakan shalat yang bermacam-macam membuat umat Islam harusnya bisa lebih bijak dalam menilai kelompok Muslim lainnya. Pasalnya, berbagai pengikut empat mahzab bertemu dan dengan damai menunaikan shalat tanpa ada teguran sama sekali.

Bagi jamaah Indonesia yang mayoritas penganut mahzab Syafii, pemandangan shalat itu memang bukan hal biasa. Namun, faktanya banyak saudara Muslim yang melakukannya. Pandangan mata menangkap, warga Iran dan Afrika memiliki gerakan shalat yang agak berbeda dibandingkan orang Indonesia, meskipun menjalankan tata cara ibadah dan niat yang sama. Pesan moral yang dapat diambil adalah perbedaan itu harusnya menjadi rahmat, bukan menimbulkan kebencian.

Selama tiga hari keluar masuk Masjid Nabawi lima kali sehari, beberapa jamaah menyoroti ramput gondrong ini. Mereka tampaknya tidak biasa melihat seorang Muslim berambut panjang, mengenakan sarung dan kopiah di kepala. Namun, penulis cuek saja. Uniknya, beberapa penampilan yang dikenakan ini mendapat pujian dari orang Arab. Bahkan, tiga orang warga Irak mengajak foto bersama sebagai kenang-kenangan.

Masjid Quba di Madinah pada Jumat (28/3).

Masjid Quba di Madinah pada Jumat (28/3).

Di sela-sela itu, juga dilakukan city tour dengan mengunjungi kebun kurma, Masjid Quba, dan Bukit Uhud, tempat di mana kaum Muslimin menelan kekalahan perang gara-gara tergoda mengambil rampasan perang. Dua tempat terakhir tersebut menyimpan sejarah menarik tentang Nabi Muhammad SAW.

Uniknya, setiap keluar shalat lima waktu, di setiap pintu keluar hotel selalu terdapat pemandangan unik. Banyak warga Arab yang menjajakan dagangannya mirip dengan pedagang kaki lima di sini. Bermacam kerudung, pasmina, kopiah, tasbih, coklat, hingga kacang Arab dijual. “Khomsah Riyalkhomsah Riyal…lima Riyal…lima Riyal…murah…murah,” kata mereka mempromosikan barangnya.

Pada Sabtu (1/3) usai shalat Zuhur, jamaah sudah memakai baju ihram untuk menuju Makkah Al Mukarramah. Ketika sampai di Miqat Bir Ali, pembimbing tidak menyarankan kami untuk turun. Dengan mengucapkan niat menjalankan ibadah umrah di situ, mulai berlaku pula berbagai larangan yang harus dipahti jamaah. Misalnya, tidak boleh berbantahan, memotong kuku, dan membunuh binatang.

Perjalanan sejauh 450 kilometer tersebut memakan waktu hampir enam jam, dengan sekali berhenti di rest area. Jalanan yang lebar dan mulus membuat bus tidak bergoyang sedikitpun. Ingin rasanya memandangi bebukitan dan gurun pasir, serta onta yang dilepas liarkan di sepanjang pinggir jalan, namun ada daya mata tidak bisa diajak berkompromi.

Sekitar pukul 21:00, rombongan tiba di Hotel Al Harithyah Royal Dinar, untuk dipersilakan makan malam. Hotel ini masuk ring satu dari Masjidil Haram. Proses pembagian kunci juga dilakukan untuk menghemat waktu. Dua jam berselang, jamaah yang dibagi 11 kelompok berkumpul di lobi.

Dibimbing Ustaz Habib Daulay yang sudah bermukim selama 10 tahun di Makkah, jamaah diajak membaca talbiyah. “Labaikallah humalabaik. Labbaikallah syarikalakalabaik. Innalhamda walnikmata lakawalmulk. Lasyarikala,” bacaan itu terus berkumandang sejak menuruni eskalator hotel.

Setelah membaca doa masuk Masjidil Haram, tibalah momen menakjubkan itu. Kabah itu akhirnya terlihat juga dari pandangan mata. Meski malam, suasana pusat kiblat umat Islam di dunia ini tetap ramai. Pun dengan prosesi tawaf yang dilakukan ribuan jamaah, seolah membuat malam tidak terasa.

Tujuh kali putaran mengelilingi kubus suci yang dibangun Nabi Ibrahim AS ini membuat badan berkeringat. Hal itu malah mengasyikkan lantaran udara dingin menjadi tidak terlalu terasa. Kemudian, jamaah diajak ke Bukit Safa dan Marwa. Jarak antar bukit sekitar 300 meter. Prosesi Sai ini dilakukan tujuh kali, sesuai dengan Siti Hajar ketika kebingungan mencarikan air untuk bayinya, Nabi Ismail AS, yang kehausan.

Proses pemugaran dan pembangunan membuat Bukit Safa dan Marwa menjadi datar. Jamaah malah merasa sedang berada di bangunan newah dengan lapisan lantai marmer kualitas bagus. Namun, Kerajaan Arab Saudi masih menyisakan monumen bebatuan bukit untuk dilihat pengunjung.

Ketika menyelesaikan ujung putaran ketujuh, pembimbing langsung memotong ujung rambut jamaah. Penulis memilih membiarkan ramputnya tetap panjang, tidak mengikuti jamaah lain yang mencukur rambut hingga plontos. Begitupula ketika menunaikan badal umrah, rambut yang dipotong juga sedikit.

Tiga hari di Makkah, lebih banyak dihabiskan di Masjidil Haram dan istirahat di hotel. Jadwal city tour ke Jabal Rahmah, Padang Arafah, dan pemondokan jamaah haji di Mina, membuat mata ini enggan untuk melewatkannya. Melihat Terowongan Mina yang pernah terjadi peristiwa berdarah di situ membuat bulu kuduk ikut merinding.

Sangat menakjubkan sekali beberapa tempat itu yang hanya ramai ketika datang musim haji. Pun jalur monorel yang dioperasikan pemerintah hanya dijalankan setahun sekali untuk mengangkut jamaah membuat stasiun kosong-melompong. Wilayah bebukitan itu seolah menjadi kota mati lantaran tidak ada penduduk. Hebatnya, jutaan orang berduyun-duyung ke situ pada musim haji.

Pada Selasa (4/3) pagi, usai shalat Subuh, dilakukan Tawaf Wada. Kali ini tidak bersama rombongan, melainkan cukup berdua bersama rekan Agus, dosen Fakultas Dakwah IAIN Wali Songo, Semarang. Pertimbangannya lebih berdasarkan waktu. Pukul 07:15, ibadah perpisahan ini selesai dilakukan. Doa yang dipanjatkan tentu ingin agar bisa kembali menginjakkan Tanah Haram.

Makan pagi terakhir dijalani, dan langsung berkemas untuk menuju lobi hotel. Sekitar pukul 09:30, rombongan digiring menuju 11 bus. Setengah jam kemudian, iring-iringan bus berangkat menuju Jeddah. Makan siang di sebuah hotel dilanjut kegiatan yang dihelat pihak travel berlangsung hingga pukul 15:00.

Dari situ, pembimbing mengantar rombongan untuk mengunjungi Masjid Qisas. Entah mengapa, terasa ada suasana berbeda di masjid ini. Usai menunaikan shalat Ashar, penulis melihat tempat prosesi pemancungan. Hukuman qisas dijatuhkan kepada setiap orang yang diputuskan hakim di pengadilan melanggar peraturan.

Berdasarkan cerita, korban qisas lebih banyak berasal dari Asia Selatan, seperti Pakistan dan Bangladesh. Warga Indonesia juga sudah ada yang menjadi korban di pelataran utara masjid itu. Merinding kalau membayangkan prosesi pemancungan, yang bagi sebagian besar orang pasti tidak tega melihatnya.

Pada pukul 17:00, jamaah tiba di Hotel Red Sea. Sempat istirahat sebentar, usai shalat Isya dan dilanjut makan malam, pukul 20:00, jamaah diajak mengunjungi Al Balad Center. Jarak dari hotel hanya memerlukan waktu jalan kaki sekitar 10-15 menit. Melewati jalur pedestrian, jalan malam menjadi nikmat sembari menikmati pemandangan bangunan di sana.

Selidik punya selidik, mata ini tidak luput melihat sebagian besar mobil sedang milik warga setempat yang diparkir selalu menunjukkan goresan. Jarang sekali menemukan mobil yang mulus. Fakta bahwa orang Arab Saudi ketika menyetir mobil suka grusa-grusu terwajab dengan pemandangan itu.

Ketika tiba di Balad Center, suasanya terasa seperti di Tanah Air. Kawasan ini menjadi jujugan pusat belanja warga Indonesia yang melakukan ibadah haji atau umroh. Barang yang dijual memang cocok untuk menjadi cenderamata untuk sanak saudara, tetangga maupun rekan dekat.

Namun jangan salah, pemilik tokonya adalah orang Arab tulen. Penjaga tokonya sebagian orang Indonesia, sebagian pula orang berwajah Asia Selatan. Persamaannya, keduanya sama-sama fasih bahasa Indonesia. Bahkan, ada warga dari Asia Selatan itu dapat berbahasa Jawa medok.

“Kemari-kemari, monggo-monggo, mampir ke toko ini, murah-murah. Ayo-ayo,” kata dia mengajak pengunjung masuk ke deretan toko yang mirip dengan di pasar Indonesia itu. Puas berkeliling, tidak terasa, jam dinding di salah toko menunjukkan pukul 23:00. Langsung saja kaki ini melangkah menuju penginapan untuk beristirahat.

Pada Rabu (5/3), pukul 06:00 ketika matahari masih belum waktunya menampakkan diri, tiga jamaah gratisan langsung menuju ruang makan. Baru di Jeddah ini pihak travel mengumpulkan kami bertiga. Di dua kota sebelumnya, kami dipisahkan kamar.

Kami memang bersyukur dapat berangkat umrah tidak perlu mengeluarkan uang sepeserpun. Penulis dan Najih dari Yogya berstatus sebagai pemenang resensi buku 99 Cahaya di Langit Eropa. Sedangkan, Agus dari Semarang menjadi pemenang bedah buku milik Dirjen PHU Kemenag Anggito Abimanyu.

Bandara Internasional King Abdul Aziz di Jeddah, Rabu (5/3).

Bandara Internasional King Abdul Aziz di Jeddah, Rabu (5/3).

Dijadwalkan pukul 08:00, seluruh jamaah sudah berada di lobi. Nyatanya, bus baru berangkat sejam kemudian. Tujuannya tidak lain adalah Bandara Internasional King Abdul Aziz. Hampir sejam menyusuri Kota Jeddah, tidak temukan kemacetan lantaran jalanan yang lebar dan mulus. Yang tertangkap mata, di kiri dan kanan jalan geliat aktivitas pembangunan sangat terasa.

Dari kejauhan, bandara yang memiliki desain mirip penginapan jamaah haji di Mina itu sangat mencolok pandangan. Ketika sampai di pelataran, bandara seluas itu ternyata sepi dari penumpukan calon penumpang. Bahkan, luasnya area bangunan membuat bandara ini seolah kosong melompong.

Di saat ratusan jamaah lain antre untuk memasukkan koper, ketiga jamaah gratis ini langsung menuju petugas pemeriksaan imigrasi. Tentu saja, boarding pass sudah dalam genggaman tangan. Mendekati pukul 12:00, penulis memasuki ruang tunggu bandara. Pemeriksaan terakhir ini sangat ketat. Karena metal detector berbunyi, sepatu yang dikenakan harus dilepas.

Payahnya, jamaah lain yang membawa air malah dibiarkan saja. Jadi, pesan pembimbing bahwa jamaah yang membawa air akan bersamalah tidak terbukti. Kenyataannya, baik yang memasukkan botol air zam-zam ke dalam tas maupun bagasi sampai Jakarta aman-aman saja.

Pukul 13:00, pengumuman untuk meminta jamaah masuk pesawat berkumandang. Dengan diantar tiga bus, seluruh penumpang menuju pesawat Saudi Arabian Airlines Boeing 747-468. Ketika bertanya nomor kursi, pramugrasi asal Malaysia menyilakan semua penumpang untuk duduk di kursi yang disuka. “Bebas, kali ini tidak perlu sesuai nomor kursi,” kata wanita cantik itu.

Jawaban itu seolah menjadi berkah. Langsung saja, kaki ini mengarah ke arah tangga pesawat untuk menuju lantai dua. Karena merupakan pengalaman pertama, melihat pemandangan luar dari jendela yang cukup tinggi sangat mengasyikkan juga. Ah, tidak terasa rasa kantuk mulai hinggap.

Mata ini terbangun lagi ketika pramugrari menawarkan menu makan sore. Nasi kuning plus ayam, serta bubur menjadi pilihan yang layak dilahap. Rasa capai membuat mata ini kembali terpejam. Tidak berselang lama setelah pengumuman pesawat tengah berada di lautan yang masuk wilayah India, pramugari kembali menyuguhkan makanan.

Menunya adalah daging. Penulis menukar menu itu dengan ayam. Pramugrari agak kaget ketika mendapati penumpang tidak memakan daging. Meski menu ayam sepertinya sisa tadi sore, tidak mengapa. Rasanya tetap enak dilidah. Tertidur sebentar, terdengar pengumuman pesawat akan mendarat di Jakarta pukul 02:45 WIB.

Alhamdulillah, perjalanan umrah ini berlangsung secara lancar dan semua selamat sampai tujuan. Usai pengambilan koper, panitia membagikan botol kemasan air zam-zam berisi 10 liter. Cukup berat membawanya. Untuk memenuhi permintaan orang tua, penulis langsung bergegas meninggalkan Terminal 2D menuju 1B, untuk membeli tiket penerbangan pesawat ke Malang pada Kamis (6/3) paling pagi.

Karena harus membawa koper besar plus air zam-zam, barang bawaan mencapai 25 kilogram. Akhirnya, denda kelebihan muatan lima kg harus ditanggung dengan denda Rp 50 ribu. Tidak mengapa, akhirnya pukul 08:15 WIB, sampai juga dibandara Abdulrachman Saleh, Malang. Di sana, kedua ortu dan nenek sudah menjemput. Selesai pula menunaikan amanah dari mereka, meski harus kehilangan BlackBerry bosok yang tertinggal di hotel di Makkah.

Advertisements