Pesawat ATR42-500 twin-turboprop

Pesawat ATR42-500 twin-turboprop

Selasa, 29 April 2014

Oleh Erik Purnama Putra 

Banyak hal menarik yang bisa didapatkan dari pekerjaan yang saya geluti. Salah satunya adalah perjalanan keluar kota. Pada masa kampanye pemilihan legislatif (Pileg) 9 April lalu, saya tiga kali ikut kampanye capres Wiranto.

Beruntungnya, ketua umum Partai Hanura tersebut menggunakan pesawat jenis ATR 72-500 yang berkapasiras 36 penumpang milik Hary Tanoesoedibjo ketika mendatangi lokasi kampanye. HT—sapaan akrabnya—sebagaimana diketahui adalah cawapres pendamping Wiranto yang memiliki perusahaan maskapai Indonesia Air.

Dengan bertolak melalui Bandara Halim Perdanakusuma pada Rabu (27/3) pukul 07:00 WIB, pesawat mendarat di Bandara Tunggul Wulung, Cilacap, Jawa Tengah, setelah menempuh perjalanan 40 menit. Meski termasuk jarak pendek, sekitar 20-an penumpang disuguhi makan lantaran waktu masih termasuk pagi hari.

Lokasi kampanye adalah Kabupaten Cilacap dan Purbalingga. Wiranto di dua lokasi kampanye itu hanya menghabiskan waktu satu jam, terdiri orasi, joget, dan pelaksanaan simulasi pencoblosan partai. Jadinya, waktu lebih banyak dihabiskan di jalur darat. Sekitar pukul 16:45 WIB, seluruh penumpang sudah di dalam pesawat untuk pulang ke Ibu Kota.

Keesokan harinya, perjalanan lebih seru lantaran lokasi kampanye berada di Kota Denpasar, Bali dan Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB). Karena perjalanan cukup jauh, pesawat dijadwalkan berangkat pukul 5:30 WIB. Tentu saja, saya sudah di Bandara Halim Perdanakusuma sekitar 45 menit sebelumnya.

Tidak terasa, pukul 8:30 Wita pesawat sudah mendarat di parkiran VIP Bandara Ngurah Rai. Meski ke Lapangan Kompyang Sujana, Jalan Gunung Agung, Denpasar, hanya membutuhkan waktu 30 menit, namun tetap saja momen ini paling seru. Pasalnya, untuk pertama kalinya saya bisa berkunjung ke Pulau Dewata.

Memang, setahun sebelumnya sudah pernah menginjakkan kaki di Bali. Namun, ketika itu hanya dua kali transit sebelum melanjutkan perjalanan ke Kabupaten Sumbawa Besar, dan kembali ke Jakarta, setelah singgah di Lombok Tengah.

Sekitar pukul 12:00 Wita, rombongan berangkat ke Kabupaten Sumbawa Besar. Bersyukur untuk kedua kalinya bisa menikmati keindahan alam di tempat ini. Kalau pada awal 2013, saya menyusuri Kabupaten Bima, Dompu Pulau, dan Sumbawa Besar dalam blusukan Menteri PDT Helmi Faishal Zaini, kali ini hanya kunjungan kampanye di Stadion Pragas, Sumbawa Besar.

Usai makan siang di sebuah rumah singgah bupati yang merupakan kader Hanura, Wiranto mengikuti jadwal kampanye selama 1 jam 30 menit. Tidak terasa, jam dinding menunjukkan pukul 16:00 Wita ketika rombongan tiba di Bandara Sultan Muhammad Kaharuddin.

Istirahat sekitar 15 menit, satu per satu penumpang memasuki pesawat. Sekitar pukul 16:30 Wita, pesawat yang mengangkut sekitar 30-an penumpang mengangkasa menuju Jakarta. Ketika mendarat di Jakarta pukul 17:30 WIB, cuaca sedang hujan deras hingga harus diangkut mobil.

Sembari mengetik di longue VIP Bandara Halim Perdanakusuma, sekitar 20 menit kemudian, saya bertemu rombongan wartawan yang mengikuti kampanye Aburizal Bakrie di Solo, Denpasar, dan Malang. Bertemu dengan beberapa teman lama, kami berbincang tentang suasana ketika mengikuti perjalanan capres masing-masing.

ATR 42-500 twin-turboprop

ATR 42-500 twin-turboprop

Kesempatan terakhir datang dengan mengikuti kampanye ke Kabupaten Tegal dan Batang. Pesawat dengan teknologi dua baling-baling tersebut tepat mendarat di Bandara Ahmad Yani, Semarang pada Ahad (30/4) pukul 08:00 WIB. Setelah melanjutkan perjalanan darat sekitar 1 jam 30 menit, sampailah kami di Batang.

Terlebih dahulu istirahat, Wiranto sampai lokasi kampanye di Stadion Mohammad Sarengat, yang hanya diikuti tidak sampai 1.000 massa itu pukul 10:00 WIB. Berselang sejam kemudian, rombongan yang terdiri enam mobil itu menuju Tegal. Sekitar pukul 12:30 WIB, rombongan mampir ke warung untuk menikmati sate daging dan ayam bakar.

Sempat beristirahat di hotel, pukul 13:30 WIB, Wiranto sampai di Lapangan Dukuh Salam, Slawi, Tegal. Kali ini, ribuan massa seolah tumpek blek hingga membuat lapangan terisi kader dan simpatisan Hanura. Tepat pukul 14:30 WIB, rombongan melanjutkan perjalanan ke Kabupaten Cirebon selama kurang lebih dua jam.

Ternyata, perjalanan pulang ke Jakarta tidak melalui jalur darat, melainkan udara. Saya baru tahu bahwa di Cirebon terdapat Bandara Cakrabhuwana. Landasannya sangat pendek, dan di sisi kiri maupun kanan sudah banyak rumah penduduk. Meski begitu, sangat seru akhirnya mendapat pengalaman terbang dari Cirebon menuju Jakarta yang hanya memakan waktu 25 menit.

Dari serangkaian perjalanan itu semua, satu hal yang patut disyukuri adalah pengalaman mengunjungi berbagai bandara di negeri ini. Tentu saja, untuk bisa mendarat di bandara kecil solusinya adalah menggunakan pesawat pribadi atau maskapai tertentu yang melayani rute pelosok.

Dari pekerjaan sebagai jurnalis ini, setidaknya kaki ini sudah meningalkan bekas tapak sepatu di  bandara atau landasan udara (lanud) yang tersebar di Pulau Jawa. Anugerah itu harus diakui sebagai sebuah hal yang tidak ternilai harganya. Ini juga merupakan sebuah rekor pribadi yang layak dibanggakan.

Lokasi yang sudah didarati singgahi adalah Bandara Soekarno-Hatta dan Halim Perdanakusuma (Jakarta), Bandara Husein Sastranegara dan Lanud Suparlan (Bandung), serta Bandara Tunggul Wulung (Cilacap). Adapula Bandara Ahmad Yani (Semarang), Bandara Adi Soemarmo (Solo), Adi Soetjipto (Yogyakarta), Lanud Iswahjudi (Madiun), Bandara Abdulrachman Saleh (Malang), dan Bandara Juanda (Surabaya).

Advertisements