Media di BrasilRabu, 9 Juli 2014

Oleh Erik Purnama Putra 

Rasa traumatik masyarakat Brasil terhadap Piala Dunia 1950, masih belum sembuh dari ingatan. Meski sudah dua generasi berlalu, perasaan itu tidak lekas hilang.

Pengakuan Deputi Kementerian Olahraga Brasil Luis Fernandes bisa menjadi patokannya. Samba yang ketika itu lolos ke final rasanya bakal menggenggam trofi untuk pertama kalinya saat Albino Friaca Cardoso mencatatkan namanya di papan skor pada menit ke-46.

Sayangnya, Uruguay yang tampil mengejutkan mampu membalikkan keadaan dengan dua gol yang diciptakan Juan Schiaffino pada menit ke-61 dan Alcides Ghiggia pada menit ke-79. Skor 1-2 untuk Uruguay bertahan hingga akhir pertandingan.

Ketika peluit panjang dibunyikan wasit, sekitar 170 ribu lebih penonton yang memadati Stadion Maracana di Rio de Janeiro, sontak langsung lesu darah. Kondisi itu berbalik 180 derajat ketika para suporter bersorak-sorai menyambut gol perdana yang membuat seisi stadion bergemuruh bak suara ombak.

Harapan rakyat Brasil melihat timnya menjadi juara di negeri sendiri akhirnya tinggal angan-angan. Luis Fernandes mengakui, kekalahan dari Uruguay tidak pernah bisa dilupakan oleh seluruh rakyat Brasil.

Meski sekarang 90 persen populasi Brasil belum lahir ketika momen tragis tersebut terjadi, namun ia tidak memungkiri trauma itu seolah diwariskan ke generasi sekarang.

“Kami terus dihantui kekalahan dari Uruguay. Itu benar-benar trauma yang sulit dilupakan,” ujarnya. “Saya tidak lahir pada tahun itu namun mengidap trauma yang diceritakan oleh generasi sebelumnya.”

Sangat mungkin, bayang-bayang kegagalan itu menghantui tim Selecao. Status tuan rumah ternyata bukan menjadi keuntungan teknis, malahan di satu sisi menjadi beban tersendiri bagi David Luiz dan kawan-kawan.

Hal itu terlihat dari permainan Brasil yang tidak terlalu mengesankan sejak fase grup. Pun di babak perdelapan final dan perempat final, permainan Brasil dari filosofi Jogo Bonito.

Karena itu, ketika harus bertemu dengan Jerman di semifinal, status Brasil diunggulkan lebih disebabkan pertimbangan tampil di depan publik sendiri, bukan atas dasar permainan di lapangan.

Sedangkan, Mesut Oezil datang dengan modal meyakinkan setelah tampil mengesankan di fase grup, termasuk mengalahkan Portugal. Pun ketika Prancis mencoba mengadang laju Sang Panser di babak 16 besar, Les Bleus malah tergilas.

Jerman sempat harus mengeluarkan energi ekstra lantaran bermain selama 120 menit di perempat final, sebelum mereka sukses mendepak Aljazair dengan skor 2-1.

Karena itu, Brasil sebenarnya dalam situasi tidak menguntungkan ketika harus bertemu dengan Jerman. Ketiadaan Neymar dan kehilangan sang kapten, Thiago Silva membuat permainan Brasil tanpa pola. Hal itu diperparah dengan rendahnya disiplin antarlini, yang membuat tim asuhan Joachim Loew bisa leluasa mengacak-acak pertahanan mereka.

Sayangnya, kekalahan 1-7 dari juara dunia tiga kali itu sangat mengejutkan. Pasalnya, Brasil seolah bermain seperti tim antah berantah dan terlihat inferior melawan soliditas Jerman. Kekalahan telak itu tentu saja membuat marah masyarakat Brasil, yang merasa ikut dipermalukan.

Di mana kebahagiaan masyarakat Brasil dapat ditentukan dari hasil pertandingan, skuat besutan Luiz Felipe Scolari itu malah menghadirkan sebuah kesedihan mendalam. Pencapaian memalukan anak asuhnya tentu saja menimbulkan kemarahan rakyat yang kecewa, yang menggantungkan harapan dan prestasi kepada Brasil.

Boro-boro bisa memenuhi ekspektasi rakyat, timnas Brasil malah menorehkan hasil di luar nalar. Kekalahan lebih lima gol membuat Brasil sejajar dengan Zaire (1974) dan Haiti (1974). Dengan status sebagai juara dunia lima kali, ‘rekor’ itu jelas tidak bisa ditoleransi. Di negara, di mana sepak bola adalah agama maka rakyat berhak menuntut timnya untuk berprestasi.

Karena itu, kegagalan di kandang sendiri bisa membawa dampak besar bagi alam bawah sadar rakyat Brasil. Dua kali menjadi tuan rumah turnamen sepak bola terbesar empat tahunan itu malah tidak menghadirkan keberuntungan bagi Brasil semakin terbukti.

Sebelum perhelatan Piala Dunia 2014, sebenarnya Pele menyimpan rasa trauma itu. “Kami punya sebuah pengalaman pahit di tahun 1950 ketika kami menjadi tuan rumah dan disingkirkan Uruguay. Saat ini rakyat takut kenangan itu terulang kembali.” Kenyataannya, ketakutan Pele itu sekarang terbukti.

Advertisements