Helikopter Mi-17 di Lapangan Temajuk, Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas.

Helikopter Mi-17 di Lapangan Temajuk, Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas.

Selasa, 7 Oktober 2014

Oleh Erik Purnama Putra

Beberapa bulan terakhir, saya mendapat mendapat pengalaman seru dengan mengunjungi beberapa kota di Indonesia. Meski kunjungan itu terasa singkat, namun tetap saja ada kesan tersendiri yang layak dikenang.

Uniknya, kesempatan langka itu berhubungan dengan institusi militer. Selama lima bulan terakhir, setidaknya lima kali saya dapat menginjakkan kaki ke berbagai daerah.

Pertama pada awal Mei lalu, saya diajak Kementerian Pertahanan (Kemenhan) menghadiri acara kompetisi siber tingkat siswa SMA dan antarprajurit TNI. Acaranya dihelat di Komando Pengembangan dan Pendidikan Angkatan Laut (Kobangdikal) di Surabaya.

Tentu saja, perjalanan ke Lanudal Juanda dari Bandara Halim Perdanakusuma dilakukan dengan menggunakan pesawat angkut Hercules. Ini adalah partama kalinya merasakan penerbangan dengan pesawat angkut militer turboprop tersebut. Bersama puluhan perwira, bintara, dan PNS Kemenhan maupun Mabes TNI AD, AL, dan AU, rombongan dapat menikmati penerbangan dengan lancar.

Namun, untuk kenyamanan, tentu jangan dipertanyakan. Karena tipikal pesawat militer, tentu rasa pengap lantaran kepanasan harus dirasakan. Beruntung, ketika sudah lepas landas, pendingin dalam pesawat mulai hidup. Alhasil, keringat yang sudah mengucur deras karena kepanasan berganti hawa dingin.

Saat itu pula, di dalam lambung pesawat terdapat mobil kawal Polisi Militer. Dampaknya, tidak sedikit penumpang yang harus berdiri. Saya bersyukur masuk lebih dulu sehingga dapat tempat duduk. Tiga hari kemudian, pengalaman itu juga saya rasakan ketika balik dari Surabaya menuju Jakarta.

Pada hari ketiga di Surabaya, saya bersama rombongan Kemenhan mendapat kesempatan mengunjungi Markas Komando Armada Timur (Koarmatim) di Dermaga Ujung. Di sana, kami naik KRI Sultan Iskandar Muda (367), dan berkeliling mendekati Jembatan Suramadu. Sungguh indah memandangi laut menjelang senja.

Berselang sebulan kemudian, tepatnya pada Rabu, 18 Juni, saya bersama empat rekan wartawan ikut perjalanan Wamenhan Sjafrie Sjamsoeddin. Karena bersama para pejabat Kemenhan, kami menaiki pesawat CN-235. Pengalaman seru tentunya bisa naik pesawat angkut ringan buatan Airbus Military bekerjasama dengan PT Dirgantara Indonesia.

Pesawat CN-235 ini memiliki bentuk tempat duduk kombinasi. Separuh ruangan disusun model tempat duduk berjumlah belasan menghadap ke depan, sebagaimana kita dapati ketika naik pesawat sipil. Separuh badan pesawat lainnya, memiliki tempat duduk menghadap ke samping. Kendati berada di belakang, rasa nyaman tidak kalah, mungkin disebabkan pesawatnya masih baru.

Setelah mencicipi soto ayam di ruang Suma 1, pesawat take off pada pukul 07:00 WIB. Sekitar 30 menit kemudian, pesawat sudah mendarat di Bandara Husein Sastranegara. Perjalanan terasa sangat singkat. Buktinya, suguhan kotak berisi kue pun belum sempat terjamah semua. Hal itu dapat dimengerti lantaran jarak Jakarta ke Bandung memang tidak terlalu jauh sekitar 150 kilometer.

Pesawat langsung menuju Hangar PT DI. Setelah meninjau proses pembuatan pesawat CN-239 dan CN-295 selama sejam, rombongan beralih menuju ke PT Pindad. Lama perjalanan sekitar 30 menit. Di pabrikan pembuat kendaraan taktis (rantis) dan kendaraan tempur (ranpur) ini, Wamenhan hanya berkunjung selama sejam. Sesudah itu, rombongan balik.

Dari Bandara Husein Sastranegara, sekitar pukul 11:30 WIB, kami melanjutkan perjalanan ke Bandara Raden Inten II. Perjalanan udara melawati Selat Sunda berlangsung sekitar sejam. Usai transit 30 menit di ruang tunggu, rombongan menyusuri Kabupaten Lampung Selatan menuju pinggir pantai.

Di sana, Wamenhan dan pejabat Kemenhan meninjau galangan kapal PT Daya Radar Utama (DRU) Shipyard. Di sini, sedang dibangun landing ship tank (LST). Kapal pendarat tank tersebut saat ini sudah diserahkan ke TNI AL. Fungsi kapal angkut pertama yang dimiliki TNI AL tersebut adalah untuk mengangkut MBT Leopard 2A4. Kalau ada perintah ingin memindahkan MBT Leopard, misal dari Jawa ke Kalimantan, setidaknya 10 tank buatan Jerman tersebut dapat dimasukkan ke lambung kapal.

Usai menyusuri kapal yang memiliki panjang 100 meter, Wamenhan menggelar sesi wawancara bersama wartawan di geladak. Karena masih berada di darat, suasana wawancara terasa berada di gedung tinggi lantaran embusan angin pantai yang cukup kuat. Setelah itu, rombongan balik ke bandara. Rombongan mendarat di Halim Perdanakusuma sekitar pukul 16:00 WIB.

Pesawat Boeing 737-400 VIP milik TNI AU.

Pesawat Boeing 737-400 VIP milik TNI AU.

Perjalanan ketika dan keempat ini lebih mengasyikkan. Saya ikut rangkaian kunjungan Panglima TNI Jenderal Moeldoko ke berbagai daerah. Karena berstatus sebagai penumpang VIP, maka jangan ditanyakan pelayanan maksimal yang didapatkan selama perjalanan. Kunjungan pertama bertepatan ketika ramai dibincangkan kasus Babinsa memihak capres tertentu.

Ketika menghadiri acara di Makassar (Lanud Hasanuddin), Ternate (Bandara Sultan Babullah), Ambon (Lanud Pattimura), dan Kendari (Lanud Wolter Monginsidi), Jenderal Moeldoko selalu mengadakan audiensi dengan prajurit TNI.  Dia menekankan agar prajuritnya netral.

“Ancamannya pecat, kalau ada prajurit yang berani bermain-main tidak memih capres tertentu,” tekan dia. Dalam perjalanan dari Ternate ke Ambon, dan Ambon ke Kendari, rombongan Kapolri Jenderal Sutarman menumpang pesawat Boeing 737-400 VIP milik TNI AU.

Jenderal Moeldoko sengaja mengajak rekan satu angkatan 1981 di Akmil tersebut lantaran Jenderal Sutarman hanya menaiki pesawat angkut kecil dengan kursi terbatas. Meski rombongan Panglima TNI dan Kapolri bergabung, namun jumlah keterisian kuris pesawat Boeing 737-400 masih sangat longgar. Pasalnya, pesawat jenis ini bisa menampung sampai 130 penumpang.

Hanya di bagian depan saja kursi yang diduduki para jenderal terisi penuh. Saya dan empat rekan wartawan lain duduk sendiri-sendiri lantaran banyak baris kursi yang kosong. Usai memberikan pembekalan di Lanud Wolter Monginsidi, Jenderal Moeldoko berpisah dengan Jenderal Sutarman. Pesawat yang kami tumpangi langsung pulang ke Jakarta, sementara Kapolri melanjutkan kunjungan ke Kalimantan.

Pengalaman kedua ikut perjalanan dinas Panglima TNI terjadi pada awal Agustus lalu. Bedanya dengan perjalanan pertama, kali ini rombongan berangkat menggunakan pesawat Fokker F-28, dari Lanud Halim Perdanakusuma menuju Lanud Supadio. Karena kapasitas terbatas, kursi pesawat hampir terisi penuh oleh penumpang.

Meski kunjungan kali ini adalah ke Pontianak, namun tujuan utama adalah ke daerah perbatasan RI-Malaysia. Usai bermalam di ibu kota Provinsi Kalimantan Barat itu, rombongan sudah berkumpul di Lanud Supadio pada pukul 06:00 WIB. Rombongan akan melihat langsung pembangunan mercusuar di Tanjung Datu, Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas, dengan terlebih dulu singgah di markas Rindam-XII Tanjungpura di Singkawang.

Rombongan wartawan bersama Kapuspen TNI Mayjen Fuad Basya, serta Kepala Bais Mayjen Erwin Syafitri menumpangi helikopter Mi-17. Rombongan asisten dan staf khusus Panglima TNI naik helikopter Super Puma NAS 332. Adapun, rombongan utama yang dinaiki Jenderal Moeldoko menggunakan helikopter Bell 412 EP.

Naik helikopter merupakan pengalaman pertama yang sangat sulit dilupakan. Karena terbang rendah, di sepanjang perjalanan hanya terhampar pepohonan. Sempat terhalang cuaca buruk usai singgah di Singkawang, perjalanan dilanjutkan dengan menyusuri garis pantai. Sekitar pukul 11:00 WIB, setelah terbang berkeliling dua kali di atas mercusuar yang dibangun Malaysia di garis pantai Tanjung Datu, rombongan mendarat di Lapangan Desa Temajuk, Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas.

Di sini, Panglima TNI menggelar audiensi dengan tokoh masyarakat yang berada di ujung perbatasan tersebut. Jenderal Moeldoko berharap, aspirasi warga yang diterimanya itu bisa diteruskan ke instansi terkait agar bisa dieksekusi pemerintah pusat. Sekitar 50 menit mendengar permintaan warga yang meminta pembangunan di perbatasan digalakkan, kami semua bertolak meninggalkan Desa Paloh. Sekitar sejam 30 menit, rombongan mendarat dengan selamat di Lanud Supadio.

Sempat transit untuk makan siang selama 30 menit, rombongan akhirnya terbang menuju Jakarta. Lucunya, kali ini rombongan balik dengan pesawat Boeing 737-400. Padahal, pesawat Fokker F-28 yang membawa rombongan masih terparkir di landasan. Usut punya usut, ternyata jumlah rombongan yang bertambah dan barang bawaan yang tidak muat di bagasi membuat kami akhirnya berpindah ke pesawat yang ukurannya jauh lebih besar tersebut.

Perjalanan terbaru terjadi pada akhir pekan lalu. Bersama 70 wartawan lainnya yang biasa meliput di Puspen TNI, semuanya terbang pulang pergi menggunakan Hercules C-130 menuju Markas Koarmatim. Rutenya tentu Lanud Halim Perdanakusuma dan mendarat di Lanudal Juanda.

Agenda di sana adalah melihat gladi bersih HUT TNI ke-69. Wartawan sendiri bermalam dan menikmati makan di KRI Makassar (590). Masih banyak kisah seru yang perlu dituliskan selama kunjungan ke luar kota, tapi di lain kesempatan tentunya.

Advertisements