Urban farming di tepi Sungai Ciliwung, Jakarta Selatan.

Urban farming di tepi Sungai Ciliwung, Jakarta Selatan.

Selasa, 24 Februari 2014

Oleh Erik Purnama Putra

Sungai Ciliwung selalu dikaitkan dengan lingkungan yang kotor. Di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) Ciliwung, mudah didapati pemukiman padat penduduk, mulai dari Bogor, Depok, hingga Jakarta. Nyatanya, keberadaan Ciliwung tidak melulu terkait dengan sampah dan banjir.

Memang berdasarkan laporan Kementerian Lingkungan Hidup periode 2010-2014, Sungai Ciliwung bersama 12 sungai lainnya termasuk ekosistem yang mengalami tekanan beban pencemaran sangat tinggi di Pulau Jawa. Karena itu, Sungai Ciliwung merupakan satu dari 13 sungai prioritas nasional yang perlu dilakukan revitaliasi.

Ketika pemerintah baru selesai dalam tahap kajian, sebagian kelompok masyarakat sudah bertindak langsung berkontribusi membuat kondisi bantaran sungai menjadi lebih baik. Sempitnya lahan tidak menghalangi mereka untuk turut andil dalam membudidayakan berbagai jenis tanaman.

Malahan, bagi individu maupun kelompok kreatif, Ciliwung bisa menjadi inspirasi. Bahkan, sebagian masyarakat mendapat banyak manfaat dari sungai terbesar di Ibu Kota tersebut dengan menjadikannya daerah konservasi. Tidak percaya?

Tengok saja aktivitas warga Kelurahan Cikoko, Kecamatan Pancoran, Jakarta Selatan. Tepat di belakang salah satu jaringan swalayan internasional di Jalan MT Haryono, berdiri sebuah camp atau tepatnya saung Komunitas Masyarakat Peduli Ciliwung (Mat Peci).

Saung yang terbuat dari bambu berukuran 3×5 meter ini menjadi bukti bahwa keberadaan Ciliwung dapat diberdayakan. Markas Mat Peci tidak sekadar menjadi tempat buat kumpul-kumpul anggota semata. Dari situ pula 107 orang dari 14 koordinator wilayah (Korwil) sering adu gagasan dalam upaya melestarikan Ciliwung. Tidak hanya itu, saung tersebut juga difungsikan sebagai rumah pembibitan.

Tidak jauh dari markas Mat Peci, terdapat berbagai jenis tanaman, baik holtikultura, sayuran, maupun toga yang terletak di bantaran Sungai Ciliwung. Di sini, pemandangan unik yang sukar didapatkan di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) Citarum lantaran serba hijau dan indah tersaji.

“Terdapat ratusan jenis tanaman di sini, yang semuanya dapat diolah dan dirasakan manfaatnya untuk keperluan anggota Mat Peci dan masyarakat sekitar,” kata salah satu perintis Mat Peci, Haji Munakib kepada Republika, belum lama ini. Munakib ketika itu tengah asyik membersihkan sisa lumpur yang mengendap di sayuran.

Munakib menjelaskan, terdapat ratusan jenis bibit tanaman yang dirawat Mat Peci untuk dikembangkan di lahan percontohan sepanjang 200 meter dengan luas kurang 20 meter. Untuk sayuran, terdapat bayam, jagung, jengkol, terong, sawi, dan ketela yang rutin ditanam.

Ada pula pohon pisang, jeruk, dan nangka. Sedangkan jenis tanaman toga lebih bervariasi. Berbagai bibit ini akan menggantikan tanaman liar di bantaran Sungai Ciliwung. Pasalnya, ketika tanaman di pinggir sungai mengalami kerusakan atau dipanen maka bisa diganti seketika dengan bibit yang tersedia.

Sehingga, ketika ada tanaman di bantaran sungai yang rusak atau sudah dipanen maka bisa diganti seketika dengan bibit yang tersedia. Dengan begitu, kawasan tersebut akan selalu lestari dengan pemandangan hijau yang menyegarkan bagi siapapun yang berkunjung. Alhasil keberadaan rumah pembibitan ini sangat vital.

Urban farming 20141221_094746
Sebelum bernama Mat Peci, komunitas yang terbentuk pada 2009 ini, dulunya bernama Cikoko Hijau Lestari (CHL). Komunitas ini diinisiasi seorang warga setempat bernama Usman Firdaus.

Usai mengikuti festival kampung green and clean pada 2011, Usman mengajak anggota CHL agar meluaskan gerakan cinta lingkungan. Tidak semata peduli dengan daerah yang ditinggali saja, melainkan juga kawasan Sungai Ciliwung.

Melihat kondisi Ciliwung yang terabaikan, Usman semakin tergerak untuk memberdayakan warga sekitar. Akhirnya sejak tiga tahun terakhir, CHL berubah nama menjadi Mat Peci. Kiprah Mat Peci akhirnya semakin eksis dengan berbagai aksi dalam menjaga dan merawat Sungai Ciliwung.

Terbukti, tujuh instansi kementerian mengajak mereka kerjasama dalam upaya memberdayakan pemuda dalam mencintai lingkungan. Pun dengan Suku Dinas Pertanian Jakarta Selatan, menjadikan mereka sebagai program percontohan terkait upaya melestarikan alam dengan mengandalkan sumber daya masyarakat sekitar.

Di tangan mereka, kerusakan lingkungan di sebagian pinggir sungai sanggup diatasi. Berkat kepedulian itu, selain ingin menjaga kebersihan sungai, Mat Peci juga mencoba menyulap lahan tidur. Dengan mengajukan konsep pertanian perkotaan (urban farming), bantaran Ciliwung disulap menjadi area produktif.

Selain berfungsi untuk penghijauan dan menjaga agar abrasi tidak semakin parah, keberadaan berbagai tanaman mampu memberikan manfaat signifikan bagi anggota Mat Peci. Tentu saja yang utama adalah agar lahan di tepian Sungai Ciliwung yang selama ini tak terurus dan rusak parah bisa menjadi rindang.

Menurut Munakib, ketika belum terbentuk CHL, di sepanjang pinggir Sungai Ciliwung masih berupa pepohonan belantara. Tumpukan sampah yang tersangkut di pinggir menjadi pemandangan khas sehari-hari warga. “Di sini memang banyak pohon dan sampah menumpuk semua, dulunya,” kata pria asal Malang yang merantau ke Jakarta pada 1975 ini.

Ketika Mat Peci mulai giat dalam menata bantaran sungai maka suasana asri dapat dinikmati semua orang. Keinginan untuk memberdayakan tanaman produktif dilakukan dengan penuh dedikasi.

Model pertanian modern diterapkan dalam mengelola lahan. Dengan memakai sistem tumpang sari, ditanam lah kombinasi pepohonan besar dan obat-obatan yang seolah mengapit sayuran yang tumbuh rapi di tengah lahan.

Mereka juga membuat bak penampungan yang terdiri beberapa kolam ikan untuk memelihara ikan lele. Setiap jengkal lahan dimanfaatkan semaksimal mungkin hingga menghasilkan sumber makanan sendiri.

Menurut Munakib, dari berbagai tanaman yang dirawat Mat Peci, jenis toga paling memberi manfaat masyarakat. Dia mencontohkan, kelompok tanaman yang dijadikan jamu, seperti kunir, kunyit, lengkuas, jahe, dan daun cincau rutin diminta warga. Dia juga menyebut tetangganya yang gemar meminta kumis kucing dan daun jarak untuk digunakan sebagai obat tradisional penurun demam anaknya.

Dia menjelaskan, warga yang butuh cukup meminta kepada anggota yang sedang berjaga di markas Mat Peci, dengan memilih jenis obat yang dibutuhkan. Karena biasanya sudah kenal, pihaknya tidak segan memberikan secara cuma-cuma kepada yang membutuhkan. Kalau pun ada warga yang memberi imbalan uang tidak seberapa, Munakib menganggapnya sebagai sedekah untuk jerih payahnya dalam merawat tanaman.

Kendati begitu, lanjut dia, merawat lahan pertanian perkotaan bukan tanpa kendala. Persoalannya bukan terletak pada hama yang mengancam keberlangsungan tanaman, melainkan pada curah hujan. Ketika memasuki musim penghujan, hampir dapat dipastikan Sungai Ciliwung meluap.

Dampaknya, tentu saja sayuran dan tanaman toga akan terendam air berlumpur. Kalau hal itu berlangsung cukup lama, bisa dipastikan seluruh tanaman itu akan hancur. Pun dengan kotak penangkaran ikan akan rusak. Hanya pepohonan besar, seperti nangka, pisang, jengkol, dan kedelai yang masih bertahan.

“Ini baru dihantam habis. Kalau sudah begini, ya tanaman mati, ditata lagi mulai awal. Karena setiap hujan pasti permukaan air naik dan langsung terendam,” katanya.

Pria yang berstatus sebagai tenaga kebersihan tersebut mengaku, sebenarnya dengan luasan lahan yang terbatas, metode pertanian perkotaan yang dijalankannya jauh dari kata ideal. Maksudnya, pemanfaatan lahan pinggir sungai tidak sebanding dengan kerusakan yang ditimbulkan warga dengan terus membuang sampah seenaknya ke sungai setiap harinya.

Hanya saja, Manakib, sedikit khawatir terkait masa depan lahan pertanian yang dikelolanya. Itu lantaran komunitasnya sudah mendapatkan sosialisasi dari Pemprov DKI Jakarta tentang rencana normalisasi Sungai Ciliwung. Eksesnya, pinggiran sungai akan dipasangi turap untuk menahan pengikisan tanah.

Selain itu, lahan yang sekarang berdiri berbagai tanaman akan dikepras untuk dialihkan menjadi jalur inspeksi sungai. Dia memahami, meski tanah itu milik negara, namun ia sangat menyayangkan kalau sampai hal itu terjadi. Pasalnya, lahan pertanian itu akan hilang berganti menjadi tanaman penghias semata.

“Saya dengernya kita dikasih lahan dua meter sisa untuk lahan tanaman yang digunakan penghijauan,” katanya. “Lahannya habis, mau gimana lagi?”

Tanaman langka Ciliwung
Salah satu anggota Mat Peci yang baru bergabung dua tahun, Rahmad menyatakan, lahan yang dikelolanya sebenarnya kurang luas. Kalau mau, masih ada ruang di sepanjang bantaran sungai bisa saja ditanami dan dikelola Mat Peci. Hanya, ia tidak menutup mata bahwa kendala pemukiman penduduk yang tinggal di pinggir sungai menjadi penghalang.

Meskipun demikian, ia merasa puas dengan pencapaian yang sudah dilakukan komunitasnya. Pasalnya, pihaknya selain memberdayakan tanaman bermanfaat, juga melestarikan pepohonan langka, seperti pohon kemang, menteng, jati, dan bermacam-macam lainnya.

Pemilihan budidaya tanaman didasarkan atas kemanfaatan. Karena itu, dapat dipastikan di setiap tanaman yang tumbuh terkandung nilai yang bisa memberikan keuntungan bagi anggota Mat Peci dan masyarakat sekitar.

“Kami langsung bertanam pohon yang menghasilkan, sayur mayur, toga, buah-buahan, dan pohon langka. Ini menjadi tanggung jawab bersama perawatan Sungai Ciliwung dengan program urban farming,” kata Rahmad.

Meski bergabung belakangan, ia mengungkapkan, keberadaan Mat Peci bertujuan ingin mengajak warga untuk menumbuhkan kesadaran dalam mencintai lingkungannya. Sehingga, pihaknya juga memiliki pekerjaan tambahan untuk mengumpulkan sampah organik yang dikelola untuk menjadi pupuk kompos.

Nah, dengan mendaur ulang sampah menjadi pupuk untuk pertumbuhan tanaman, maka segala potensi yang ada di Sungai Ciliwung menjadi anugerah.

“Mat Peci secara tidak langsung ikut berkontribusi dalam penyelamatan lingkungan. Tidak semata menghasilkan tanaman yang berguna untuk warga, melainkan juga membantu terjaganya kelestarian Sungai Ciliwung dari limbah yang mengotori sungai,” kata Rahmad.

Salah satu warga Cikoko, Iwan S mengapresiasi keberadaan Mat Peci. Meski ia tidak pernah terlibat langsung dalam kegiatan menjaga kebersihan dan kelestarian Sungai Ciliwung, namun ia memberi kredit terhadap mereka yang peduli terhadap kelangsungan lingkungan. Pasalnya, area sekitar lahan pertanian bisa juga menjadi daerah resapan air.

Dia pun semakin kagum dengan tekad Mat Peci yang sanggup mengelola lahan pertanian di bantaran kali dengan mendaur ulang sampah organik menjadi pupuk kompos. “Kegiatan mereka positif. Ikut mengurangi beban pemerintah soal sampah dan menyediakan kebutuhan sendiri,” puji Iwan. Kegiatan Mat Peci patut dicontoh bukan?

Advertisements