Rabu, 9 September 2015

Oleh Erik Purnama Putra

Belum lama ini, saya mendapat kesempatan untuk meliput Milan Expo 2015. Selama di sana, saya bertugas untuk meliput rangkaian upacara 17 Agustus di Paviliun Indonesia. Ketika ada waktu luang, saya bersama rekan wartawan lain berkeliling Milan. Tentu sangat menyenangkan bisa menjelajahi sudut kota mode tersebut.

Paviliun Indonesia usai upacara 17 Agustus.

Paviliun Indonesia usai upacara 17 Agustus.

Berikut catatan singkatnya:

Duomo
Banyak tujuan yang ingin saya kunjungi. Tentu saja landmark Milan, satu per satu saya kunjungi. Kesempatan pertama, rombongan mengunjungi Duomo. Duomo ini sudah menjadi ikon Milan. Di sini, kita bisa dengan mudah menemukan bangunan bersejarah khas Eropa. Kami berkunjung ke Solo Inter Store terlebih dulu ketika turun dari mobil. Lokasi tokonya terletak persis di depan toko resmi Ferrari.

Di sini, seorang rekan membeli scarf Inter Milan seharga 10 euro. Di toko resmi klub milik pengusaha Indonesia Erick Thohir, ini, beberapa rekan media tampak berfoto-foto dengan background foto-foto pemain Nerazzurri dari masa ke masa. 

Kemudian, tentu saja kami berjalan kaki untuk melihat Duomo di Milano. Salah satu katredal terbesar di dunia yang memiliki gaya arsitektur gothik dan unik. Saking besarnya, katredal ini katanya sanggup menampung 40 ribu orang. Wisatawan dari berbagai mancanegara berkumpul di pelataran katedral. Tentu saja mereka berfoto ria, baik sendiri maupun bersama pasangan atau rombongannya.

Tapi, perlu hati-hati ketika berjalan sendiri di sini. Pasalnya, banyak imigran asal Afrika yang tiba-tiba menyapa dan menawarkan gelang warna-warni. Ketika kita menyodorkan tangan, otomatis gelang itu akan dipakaian ke tangan kita. Apa yang terjadi?

Tentu saja kemudian mereka meminta uang. Polisi memang ada di sekitar situ, Duomonamun hal itu dibiarkan saja. Biasanya sejumlah turis asing yang menjadi incaran para imigran yang berusaha mencari uang dengan cara ‘legal’ tersebut. Rekan saya, ada yang menjadi korban. Entah mengapa, dia mau-mau saja ketika gelang tersebut dipakaikan ke tangannya.

Tidak hilang akal, rekan saya tersebut mengaku tidak membawa uang euro. Dia hanya menyodorkan selembar uang Rp 2.000. “This is equal with 2 euro,” katanya sambil mengibas-ibaskan uang yang setara 12 sen euro tersebut. Satu euro saat ini setara dengan Rp 15,880.

Entah karena percaya atau tidak tahu nilai tukar rupiah, sang imigran tersebut mau-mau saja menerima uang tersebut. Dua rekan kami tertawa cekikikan menceritakan kepada rombongan atas kejadian yang dialaminya tadi, heee.

San Siro
Selain dunia fashion, Milan terkenal dengan dunia sepak bola. Ada dua klub besar yang memiliki penggemar di seluruh penjuru dunia, yaitu AC Milan dan Inter Milan. Kebetulan, kedua klub tersebut bermarkas di San Siro atau Giuseppe Meazza. AC Milan biasaya menggunakan nama San Siro. Adapun, Inter lebih condong memakai Giuseppe Meazza sebagai bentuk penghormatan klub kepada sang legenda pemain. Hanya saja, stadion ini milik pemerintah kota Milan.

San Siro atau Giuseppe Meazza.

San Siro atau Giuseppe Meazza.

Ketika berkunjung ke sini pukul 09.30, sudah tampak antrean beberapa orang yang membeli tiket masuk untuk bisa melakukan tur stadion. Bagi yang berumur di atas 12 tahun, setiap pengunjung dikenakan tiket 17 euro. Bagi yang berumur 6 sampai 12 tahun, hanya perlu membayar tiket 12 euro. Dan usia di bawah enam tahun, tiket masuk gratis.

Sesi memasuki ruang ganti pemain sangat tidak terlupakan. Dari pintu masuk, kita akan langsung tertuju pada ruang ganti pemain AC Milan. Tentu saja lorong menuju ruang ganti sangat kental dengan nuansa Rossoneri alias merah hitam. Di ruang ganti AC Milan, setiap pemain mendapatkan tempat duduk. Di tengah ruangan, terdapat logo AC Milan.

Bergeser sedikit, kita akan sampai ke ruang ganti pemain Inter Milan. Tidak berbeda jauh, ruang ganti Inter didominasi warna biru hitam. Di sini, kita bisa dengan mudah melihat beberapa pemain Inter ketika meraih treble winners pada musim 2009/2010. Hanya, suasana ruang ganti pemain Inter berbeda dengan AC Milan. Di Inter, tidak ada kursi empuk yang diduduki pemain yang ikut bertanding. Semua pemain duduk sama rata di bangku melingkar yang tersedia.

Erik PP

Lorong ruang ganti pemain AC Milan.

Kemudian, kami tentu tidak melewatkan untuk berfoto dari tribun. Saya mendapati, kursi stadion sudah sangat usang. Stadion yang menjadi tempat final Liga Champions musim 2015/16 ini, saat itu sedang dalam renovasi. Kita dengan mudah banyak menjumpai pekerja yang sedang mempercantikan setiap sudut stadion.

Usai keluar stadion, kami berkunjung ke San Siro Store. Toko resmi yang berada di pelataran stadion ini, menjual beragam baju dan jersey duo Milan. Meski harga bajunya relatif mahal, namun rata-rata dari kami hampir semuanya membeli baju sebagai bentuk kenang-kenangan agar teringat San Siro. Saya tidak lupa membelikan jersey Milan keluaran terbaru dengan harga 80 euro!

Serravalle Designer Outlet
Di sini, lokasi yang pas bagi yang ingin belanja dengan barang-barang bermerek, khususnya Italia, namun dengan harga miring. Butuh waktu sekitar sejam dari pusat kota Milan untuk menuju Serravalle. Pusat factory outlet dan butik tersebut didesain semenarik mungkin hingga membuat betah pengunjung berlama-lama di sini. Ketika datang ke lokasi, saya disambut hujan rintik-rintik hingga membuat udara menjadi sejuk.

Serravalle Designer Outlet

Serravalle Designer Outlet

Setiap toko menyajikan barang beragam dengan diskon sampai 70 persen dibandingkan dengan yang dijual di pusat perbelanjaan. Di Nike Factory Store misalnya, dapat dijumpai berbagai jersey, seperti Borussia Dortmund dan Paris Saint-Germain dengan harga 30-an euro. Hanya saja, kostum klub sepak bola yang harga jualnya sudah didiskon tersebut merupakan keluaran musim sebelumnya.

Setiap harinya, diperkirakan puluhan ribu pengunjung memadati pusat perbelanjaan pakaian tersebut. Semua rombongan pada akhirnya menenteng tas belanjaan masing-masing. Rata-rata, selain membelikan baju, sepatu, dan jam tangan untuk keluarga, juga beberapa rekan membeli sebagai hadiah untuk rekan kantornya.

Corso Buenos Aires
Tak berbeda dengan Serravalle, kawasan Corso Buenos Aires juga menjadi lokasi favorit belanja para turis. Lokasi ini dipilih lantaran katanya banyak menjual pakaian dan suvenir dengan harga murah. Menurut sopir kami, Bregas, kawasan ini dinamakan Buenos Aires karena merupakan sister city Milan dengan ibu kota Argentina tersebut. Erik PP

Tepat di perempatan yang menjadi tempat pemberhentian bus dan pintu masuk kereta bawah tanah, kami berhenti. Hampir semua toko merupakan bangunan kuno dengan arsitektur menarik.

Di seberang jalan, sudah ada beberapa orang mengantre di toko sepatu. Saya tertarik untuk melihat lebih dekat. Ketika pintu toko dibuka, ternyata belasan orang sudah menyerbu toko yang menjual sepatu dengan harga 15 euro tersebut. S

alah satu sepatu yang saya beli terlihat unik, lantaran terdapat bendera Italia di bagian bawah dan samping. Selain sepatu, saya juga membeli beberapa pakaian dan oleh-oleh buat sanak saudara. Di sini saya sengaja memisah dengan rekan-rekan karena ingin menjelajah Buenos Aires.

Milano Centrale
Jam menunjukkan pukul 07.00 ketika rombongan pertama sampai di Milano Centrale. Suasana stasiun pusat Kota Milan ini sudah ramai dan terasa sangat menakjupkan. Saya masih terkagum-kagum dengan besar dan luasnya stasiun yang dibuka pada 1 Juli 1931 tersebut.  Rekan saya, Argo, juga tidak bisa menyembunyikan kekagumannya dengan stasiun yang memiliki 20 jalur tersebut. “Wow, besar sekali,” katanya.

Kalau saya perbandingkan dengan Stasiun Jakarta Kota, Milano Centrale mungkin lima kali lebih besar. Itu pun stasiun yang memiliki bangunan tinggi dan kokoh tersebut memiliki halaman yang cukup luas di depannya. Rel yang berada di stasiun ini, tidak termasuk jalur trem yang memang dapat dengan mudah ditemukan di sepanjang jalan. Dapat dikatakan, jalur transportasi berbasis rel maupun bus listrik menjangkau hampir setiap sudut Kota Milan.

Erik PP

Milano Centrale railway station

Sebanyak 12 orang akhirnya mencoba perjalanan dari Milan ke Roma melalui jalur kereta. Di sini, kami mencoba kereta cepat Trenitalia menuju Roma Termini dengan keberangkatan pukul 08.15. Kata salah satu petugas, penumpang boleh masuk kereta 10 menit sebelum keberangkatan. Dengan jarak sekitar 575 kilometer, kami sampai tepat waktu pukul 11.35. Kami cuma berhenti di Bologna sekitar 15 menit dan Firenze 20 menit.

Hanya saja, kendalanya mungkin terkait harga tiket sebesar 86 euro sekali jalan. Karena rasa penasaran meliputi, akhirnya tetap saja duit sebanyak itu tidak masalah berganti dengan tiket yang dibeli melalui mesin.

Kereta melaju kencang tanpa terasa ada goyangan sedikit pun di sepanjang perjalanan. Asyiknya menikmati kereta cepat, di kira kanan bisa melihat pemandangan alam pegunungan dan areal perkebunan warga. Beberapa kali kereta melewati terowongan yang membelah bukit dan bawah tanah. Pun sesekali berpapasan dengan jalan tol yang lengang. Meski mobil terlihat kencang melaju di tol, namun kecepatannya kalah jauh dengan kereta yang kami tumpangi.

Colosseum
Sampai di Roma Termini yang merupakan stasiun utama ibu kota Italia tersebut, kami langsung dijemput sopir Kedubes Indonesia untuk Italia. Sepanjang hari ini, kami akan diantar ke berbagai lokasi wisata yang ada di Roma. Sekitar pukul 11.50, kami sudah sampai di Colosseum. Kami berhamburan keluar mobil ketika melihat Colosseum di depan mata.

Erik PP

Colosseum di Kota Roma.

Tempat bertandingnya para gladiator tersebut ternyata sedang direnovasi. Meski udara sangat panas akibat sinar matahari yang terik, namun ribuan turis tetap saja asyik antre untuk bisa masuk ke Colosseum. Ternyata, di sekitar Colosseum banyak bangunan bersejarah lain yang masih berdiri, meski tidak utuh. Sempat berkeliling sebentar, waktu sudah menunjukkan pukul 12.40.

Kami sepakat berkumpul untuk bertemu dengan Dubes Indonesia untuk Italia August Parengkuan. Dalam mobil, saya bertanya dalam hati, bagaimana bisa pemerintah Italia sanggup menjaga bangunan peninggalan Romawi yang dibangun ratusan tahun sebelum masehi, hingga kondisinya tetap terawat seperti sekarang?

Taman Spanyol
Dalam perjalanan dari Colosseum, saya lagi-lagi terpana dengan berbagai bangunan yang berdiri di kiri kanan jalan. Saya bisa melihat kantor wali kota Roma maupun rumah pribadi mantan perdana menteri Italia Silvio Berlusconi, maupun bangunan-bangunan kuno lainnya. Tidak sampai 10 menit, kami sudah sampai di salah satu restoran yang berada tepat di depan Kedubes Spanyol. Kawasan ini, selain banyak restoran, juga berjejer beberapa toko dengan brand ternama.

Erik PP

Taman Spanyol di Kota Roma.

Sebenarnya, mobil tidak boleh masuk kawasan sini. Hanya saja, kata sopir, perkecualian bagi mobil dengan plat nomor kedutaan dan pejabat, maka bisa masuk area yang  dipenuhi wisatawan yang ingin berjalan-jalan tersebut. Sekitar pukul 13.05, Dubes August datang. Kami dijamu makan siang Pak August beserta istri.

Lalu, kami diajak foto bersama di sekitar Taman Spanyol. Pak August menjelaskan, lokasi tersebut dinamakan Taman Spanyol karena berada dekat dengan Kedubes Spanyol. “Di sini, kadang jalanan bisa penuh,” katanya menunjuk ramainya wisawatan kala itu tidak ada apa-apanya dibandingkan hari-hari liburan,” katanya.

Pusat keramaian tentu saja berada di air mancur, di mana banyak orang duduk-duduk sembari mencuci muka untuk menyegarkan wajah. Pak August beserta istri pulang duluan, dan kami masih menyempatkan untuk berkeliling sebentar.

Vatikan City
Sekitar pukul 14.30, kami bergerak menuju Vatikan. Kami diturunkan di halaman utama. Meski cuaca sedang panas-panasnya, namun pemandangan antrean turis yang ingin masuk untuk melihat gedung tetap mengular begitu panjangnya.

Erik PP

Vatikan City

Di sini, lagi-lagi saya memisahkan diri dengan rekan-rekan. Usai foto-foto bersama, saya keliling untuk melihat toko-toko souvenir. Karena harga yang ditawarkan cukup mahal, akhirnya saya hanya foto-foto saja bangunan-bangunan kuno dan gerbang Vatikan.

Ketika pukul 16.30, hanya tersisa satu orang yang masih belum terlihat. Mbak Mano paling akhir muncul. “Tadi saya masih ikut misa,” katanya menjelaskan kepada kami mengapa ia terlambat. Akhirnya, menjelang pukul 17.00, kami bergerak menuju Wisma Dubes August yang terletak bersebelahan dengan Kedubes Indonesia untuk Italia.

Wisma Kedubes
Es jeruk dan teh disediakan ketika kami datang. Hal itu tentu menjadi pelepas dahaga di tengah cuaca panas yang menyelimuti Roma. Pak August didampingi Wakil Dubes Des Alwi menjelaskan bahwa wisma tersebut dibeli dari Kedubes Belgia pada era Bung Karno. Di areal wisma yang berusia seabad tersebut, terdapat dua benda yang memiliki nilai sejarah tinggi yang dihadiahkan pemerintah Italia untuk Indonesia. Syaratnya cuma satu, barang tersebut tidak boleh dibawa keluar dari Italia.

Erik PP

Kedutaan Besar Indonesia di Roma

Pertama, patung venus yang katanya cuma ada dua di dunia, dan kedua lukisan yang menceritakan Yesus. Banyak obrolan menarik dan info terkini yang diberikan Pak August dan Des Alwi kepada kami. Di sela-sela obrolan tersebut, saya menyempatkan diri mencari mushala. Alhamdulillah, saya bisa menemukan tempat bermunajat di ruang bawah tanah Kedubes.

Sekitar pukul 18.40, cuaca masih panas dan matahari masih bersinar terang, kami menyudahi pertemuan tersebut. Sebelum pulang, kami berfoto bersama di halaman yang menjadi lokasi upacara 17 Agustus. Ah, saya tidak akan melupakan pertemuan ini.

Masjid Agung Roma
Sekitar pukul 18.50, dua mobil yang mengangkut kami melaju ke Masjid Agung Roma. Sebenarnya, kami sudah harus menuju Roma Termini untuk pulang ke Milan. Kami memilih kereta cepat dengan jadwal terakhir sekitar pukul 20.20. Dalam perjalanan itu, Pak Irfan yang bekerja di JakTV meminta untuk bisa melihat Masjid Agung Roma. Permintaan tersebut dipenuhi sang sopir. Sekitar pukul 19.10, kami sampai di Masjid Agung Roma. Erik PP

Meski dalam waktu singkat hanya berkunjung di halaman masjid, Tampak kekagum ketika pertama kali melihat arsitektur La Moschea di Roma. Masjid ini sebenarnya hanya dibuka ketika hari Jumat. Di luar itu, tidak tampak aktivitas jamaah masjid yang berdiri di atas lahan 30 ribu meter persegi tersebut.

Menurut Wakil Dubes Indonesia untuk Italia Des Alwi, pemerintah Roma memang tidak bisa membuka masjid tersebut sepanjang waktu. Hal yang jamak ditemukan masjid di Tanah Air. Meski begitu, kata dia, ada sebagian ruang yang bisa digunakan kaum Muslim kalau ingin menunaikan shalat. Hanya saja, itu bukan ruang utama masjid.

“Ini pertimbangannya lebih ke keamanan. Masjid tidak dibuka sepanjang waktu,” kata Des Alwi saat berkisah kepada kami di Wisma Dubes. Dari 12 orang, hanya tiga orang yang tertarik turun untuk foto-foto. Satu orang lainnya adalah Mbak Meni dari TVOne. Hanya lima menit, kami langsung buru-buru kembali ke mobil. Meski begitu, saya bersyukur bisa berkunjung ke masjid yang didirikan berkat tekanan negara-negara Islam kepada pemerintah Italia tersebut (kisahnya bisa dicari di Google).

Olimpico
Jam sudah menunjukkan pukul 19.15, sekarang gantian pak sopir yang berasal dari Lembang, Bandung, dan sudah 25 tahun berada di Roma tersebut menawarkan kepada saya untuk melihat Olimpico, stadion yang menjadi kandang AS Roma dan Lazio. “Daripada penasaran dan belum tentu bisa kembali ke sini, saya antar sebentar melihat stadion Olimpico ya,” katanya.

Tawaran itu tentu saja saja terima dengan senang hati. Rupanya, pertanyaan saya ketika masih di Vatikan masih diingat sang bapak. Ketika itu, saya bertanya, “Apakah lokasi Olimpico jauh dari Vatikan?” Dijawab, “Cukup jauh karena Olimpico terletak di pinggiran Roma”. Erik PP

Kami yang berada di mobil pertama, tiba-tiba putar jalan. Mobil kedua akhirnya mengikuti. Grup WhatsApp tiba-tiba ramai, bertanya mau ke mana lagi, lantaran jadwal ke stasiun sudah mepet. Dengan kecepatan penuh, tidak sampai 15 menit, kami sampai di pintu luar Olimpico. Di Italia, hanya San Siro dan Juventus Stadium yang memiliki museum yang dibuka untuk wisatawan setiap harinya.

Karena Olimpico tidak memiliki museum klub, stadion ini hanya dibuka ketika ada jadwal pertandingan. Meski hanya berada di luar pagar, saya tampak puas bisa berfoto dengan latar belakang Olimpico. Baru sekitar dua menit, rekan-rekan sudah gaduh memanggil untuk mengingatkan agar segera kembali ke mobil.

Sudah dapat foto yang dinanti, akhirnya rombongan melaju cepat menyusuri highway Roma. Dalam hati, saya bergumam seolah kejadian tadi mimpi yang menjadi nyata. Bisa mengunjungi San Siro dan Olimpico merupakan sebuah momen yang bakal tak terlupakan seumur hidup. Pasalnya, sebagai generasi 90-an yang menggemari Serie A Liga Italia, dulu ketika kecil saya hanya bisa memandangi dua stadion tersebut melalui layar televisi. Sekarang, saya bisa melihatnya langsung.

Usai dari Olimpico, kami semua sempat deg-degan lantaran jam sudah menunjukkan pukul 20.00, dan stasiun masih belum terlihat. Beruntung, tiga menit kemudian kami sampai di pintu utama Roma Termini. Kami langsung masuk stasiun, dan pak sopir memarkir kendaraan. Beruntung, kereta yang kami tumpangi belum datang. Akhirnya, kami masih bisa duduk santai-santai dan membeli roti croissant untuk menyiasati perut yang mulai keroncongan.

Akhirnya, kereta tiba pukul 20.30, dan berangkat pukul 20.40, tepat ketika malam mulai datang. Karena kelelahan, saya sempat tertidur, meski berusaha untuk tetap melihat pemandangan kiri kanan kereta. Uniknya, kereta tiba tepat waktu di Milano Centrale pukul 23.45. Kami dijemput sang sopir untuk kembali ke hotel, sebelum besoknya menuju Bandara Malpensa untuk pulang ke Jakarta.

 

Advertisements