Kover buku 'Ladang Pembantaian'.

Kover buku ‘Ladang Pembantaian’.

Ahad, 20 Desember 2015

Oleh Erik Purnama Putra

Manusia itu sejatinya tidak bisa dipisahkan dari sejarah. Karena itu, setiap orang yang memiliki masa lalu, masa kini, dan masa depan, diharapkan tidak pernah berhenti untuk belajar sejarah. Sarana belajar sejarah tidak melulu harus melalui media buku, kali ini kita bisa mempelajarinya dengan membaca cerita pendek (cerpen).

Eko Darmoko melalui buku Ladang Pembantaian yang terdiri 15 cerpen berbeda-beda tema, yang sebagian sudah dimuat di berbagai media massa, ini mencoba menghadirkan cara baru bagaimana seseorang dapat mempelajari sejarah dengan gaya penuturan berbeda dari biasanya. Penulis mencoba menyajikannya dengan cara tak biasa, kalau tidak boleh dikatakan luar biasa.

Dalam cerpen berjudul ‘Dolly’, misalnya, Eko menyajikan sebuah kisah baru tentang asal usul berdirinya lokalisasi tersohor di Surabaya itu. Penulis mengajak pembaca untuk belajar sejarah tentang asal-usul lokalisasi Dolly.

Dari cerpen ini, kita bisa menarik kesimpulan tentang sosok Dolly dan salah kaprah pemahaman masyarakat tentang siapa itu Dolly, yang ternyata malah tidak pernah terlibat dalam praktik bisnis lendir yang konon terbesar di Asia Tenggara tersebut. Tentu saja untuk bisa mengungkap fakta itu, penulis harus melakukan riset turun lapangan demi membuktikan kebenaran, berdasarkan penuturan narasumber A1 dari keluarga Dolly.

Dalam cerpen lain, penulis mengajak pembaca untuk menikmati kisah petualangan. Gaya cerpen traveling yang tertuang dalam judul ‘Keyko’ ini di mana disajikan kisah perjalanan menegangkan ke Gunung Semeru, yang tentu menarik untuk diikuti.

Pun dengan model cerpen reportase dengan judul ‘DPO’ yang diambil dari kisah sebenarnya, namun dengan tokoh fiktif tentang kasus korupsi yang dilakukan pejabat Pemprov Jatim. Dari sini, kita diajak belajar bagaimana seorang jurnalis–profesi penulis–dalam mengorek informasi tanpa membuka jati diri dengan mengelabui narasumber selayaknya detektif kawakan.

Dengan membaca buku ini, kita akan dapat menikmati percakapan khas Surabaya, yang mendominasi latar belakang tokoh dalam beberapa cerpen. Karena itu, jangan kaget ketika berbagai tokoh dalam cerpen ini sangat mudahnya mengeluarkan makian atau umpatan warga ibu kota Provinsi Jawa Timur tersebut.

Seperti dalam judul cerpen ‘Surabaya Kita; Dulu, Kini, dan Esok’ muncul kalimat, “Asu!”. Pun dengan cerpen ‘Perkosa’, salah satu tokoh berteriak, “Setan gundulmu.” atau ada juga, “Mau apa Kecoak itu telpon kamu malam-malam gini?” Dalam cerpen ‘Sudah Lama Aku Tak Membunuh Orang’ muncul ucapan, “Hei keparat.”

Tak hanya di Surabaya atau sekitar Jawa Timur, buku ini juga menghadirkan cerpen dengan latar belakang di luar negeri, tepatnya di Paris, Prancis. Tidak heran, diambil dari kisah ‘Bulan Khatulistiwa’ dan ‘Pusara’ maka terdapat menara Eiffel dalam kover buku ini.

Adapun terkait ‘Ladang Pembantaian’–yang menjadi salah satu cerpen–mengapa menjadi judul buku ini? Eko menerangkan bahwa sembari mencari dan menemukan diri, kita (jika boleh menyebutnya) sebenarnya hidup pada sebuah ladang untuk dibantai. Hanya saja, kita tidak sadar telah menghabiskan hari-hari yang membosankan. Seandaianya kita sadar, bisa jadi kita akan berbuat suatu hal yang tak bisa demi menemukan jati diri.

Tidak salah, nukilan sejarah, penggalan biografi atau otobiografi, juga etnografi, feature, bahkan fantasi dalam anggitan pengarang, bisa melampaui maknanya berkat subjektivitas yang tinggi. Belasan cerpen Eko menunjukkan bahasa adalah medan tualang, memperkaya tafsir dari bentuk-bentuk kenyataan, peristiwa, yang terlanjut dilembagakan-mungkin oleh jurnalistik, faham relisme, bahkan oleh mitos dalam pikiran manusia sendiri.

Penulis sangat piawai mencapai (dan kemudian mengisahkannya) puncak-puncak ruang dari tualang nilai subjektivitasnya, berupa kisah cinta yang menyentuh, persetubuhan yang brutal, perdagangan orang yang menggiurkan, dongeng mistik nan fantastik, pembunuhan yang mencengangkan, religiositas yang menggelikan dan bahkan memilukan.

Sebagai karya yang kaya karena tradisi tualang yang bagus, moralitas cerita-cerita dalam buku ini tak cuma di sebalik kemiskinan, perempuan, korupsi atau penyakit sosial. Moralitas bisa terbit dari sembarang suasana, tak terkecuali dari partitur Jim Morrison, Frederick Chopin, Bob Dylan, Janis Joplin, Rolling Stones, Kurt Cobain atau dari tabiat para pengarang dan penyair dalam tokoh ceritanya.

Singkat cerita, buku yang diluncurkan Dewan Kesenian Surabaya (DKS) ini layak menjadi salah satu koleksi untuk menambah wawasan bagaimana mengenal dunia cerpen yang dituturkan dengan gaya penulis yang mengekplorasi percakapan dengan ungkapan-ungkapan tegas tanpa basa-basi, sebagaimana menjadi watak wong Suroboyo, yang dikenal asal njeplak dalam percakapan sehari-hari.

Judul : Ladang Pembantaian
Penulis: Eko Darmoko
Penerbit: Pagan Press
Tebal : viii + 151 halaman
Edisi : 2015

Advertisements