Muhammad Kusrin.

Muhammad Kusrin.

Ahad, 7 Februari 2016

Oleh Erik Purnama Putra

Nama Muhammad Kusrin (42 tahun), warga Dusun Jatikuwung, Desa Wonosari, Kecamatan Gondangrejo, Karanganyar, Jawa Tengah, belakangan ini terus menjadi perbincangan publik. Itu tidak lepas dari sosoknya yang dikenal sebagai perakit televisi, meski hanya lulusan sekolah dasar (SD).

Terangkatnya Kusrin, bermula dari kasus hukum yang menjeratnya pada 17 Maret 2015, karena memproduksi televisi rekondisi. Sebanyak 116 unit televisi rakitannya disita polisi.

Kusrin yang memanfaatkan tabung bekas komputer, dijerat Undang-Undang (UU) Perdagangan, UU Perindustrian, dan UU Perlindungan Konsumen, dengan ancaman lima tahun penjara. Pada Desember 2015, pengadilan memvonisnya enam bulan dengan masa percobaan satu tahun penjara, serta denda Rp 2,5 juta. Dampaknya, semua televisi yang belum sempat dijualnya dimusnahkan Kejari Karanganyar pada 11 Januari lalu.

Kabar itu sampai Presiden Jokowi, dan Kusrin diundang ke Istana Merdeka, 25 Januari 2016. untuk bertemu dengan orang nomor satu di Indonesia tersebut. Saat bertemu, Jokowi memberikan apresiasi kepada Kusrin, dengan pemberian modal usaha yang tidak disebutkan jumlahnya. Sebelumnya, pada 19 Januari 2016, ia menerima SNI dari Menteri Perindustrian Saleh Husin untuk usaha perakitannya itu.

Meski begitu, ia tidak merasa dunia seolah kiamat. Ketegarannya itu didapat berkat dukungan luar biasa dari sosok istri bernama Siti Aminah (43). Siti mengaku, suaminya tidak merasa kecewa atau dendam, meski sudah diperlakukan tidak adil oleh aparat. Dia merasa, suaminya sudah menjalani masa-masa itu dengan tabah dan tidak lagi mau mengingatnya lagi.

“Saya cuma mendampingi setiap ada masalah. Tetap mendampingi Bapak yang tidak putus asa, ini konsekuensi kita bersama,” ujarnya kepada Republika di Jakarta, akhir pekan kemarin.

Siti mengaku, ketika polisi mendatangi kediamannya hingga harus mengikuti proses persidangan, ia tidak pernah merasa takut menjalani semua itu. Menurut dia, apa yang dialami suaminya itu merupakan sebuah takdir yang harus dijalani.

“Sudah biasa, tidak masalah TV di sita, uang habis, sebelumnya juga uang modal pernah habis tahun 2011, iya ikhlas,” tutur Siti.

Kehidupan penuh liku yang dialaminya bersama Kusrin, membuat Siti terbiasa mengalami berbagai cobaan. Dia ingat, ketika merintis pembuatan televisi dari layar bekas komputer itu, uang hasil penjualan malah dibawa kabur rekanan suaminya. “Bapak dulu kerjanya di ruangnya, uangnya dihabiskan orang lapangan. Tahun 2012, mulai dari awal lagi dengan modal pinjam dari suadara-saudara,” kata Siti.

Kala itu, sambung dia, tidak pernah terbersit penyesalan dalam diri Kusrin. Siti pun akhirnya bertekad untuk selalu mendampingi dan mendukung suaminya agar bisnis yang ditekuninya itu bisa membuahkan hasil lebih baik ketimbang sebelumnya.

“Mulai 2012, awal lagi, saya dan Bapak thok (saja). Bapak malam buat TV, saya yang bersihin. Pagi kita bersama-sama menjual, saya bersama-sama Bapak.”

Kusrin menegaskan tidak ingin lagi mengingat kenangan buruk tentang penyitaan televisi hasil kerja kerasnya siang dan malam. Dia berupaya menatap ke depan, untuk terus mengembangkan bisnis kreatifnya, yang sempat terhenti akibat berhadapan dengan aparat itu.

Kusrin tidak masalah harus memulai dari awal bisnis pembuatan tiga merek televisi tabung buatannya, yaitu Maxreen, Veloz, dan Zener.
ang dirintisnya sejak 2011 itu. Dia hanya ingin agar pegawainya yang sempat menganggur kini dapat bekerja kembali. Menurut dia, meski sertifikat SNI sudah dikantonginya, namun rumah produksinya belum beroperasi secara normal, seperti sebelumnya.

“Sekarang baru 13 karyawan yang bekerja lagi, dari sebelumnya 20-an karyawan,” kata pemilik UD Haris Elektronika ini.

Kusrin menjadikan setiap kejadian yang dilaluinya sebagai momen untuk berkarya semakin baik. Karena itu, ia terus konsisten berupaya meningkatkan televisi produksinya untuk dapat dinikmati kalangan menengah bawah. Dia menjual televisi ukuran 14 inchi seharga Rp 400 ribu dan 17 inchi Rp 600 ribu.

Karena berupaya ingin memanfaatkan barang bekas di sekelilingnya, ia menyatakan, pekerjaannya itu juga turut membantu pelestarian lingkungan. Itu lantaran ia ingin memanfaatkan limbah monitor yang yang tidak terpakai bisa menjadi sarana hiburan warga kelas bawah. Karena itu, ia baru akan membuat televisi LCD sekitar tahun 2021. “Saya ingin menghabiskan limbah tabung lima tahun lagi, lima tahun lagi baru habis.”

Kusrin pun tidak menyangka roda hidupnya cepat berputar. Sempat menyandang status pesakitan di pengadilan, ia kemudian diundang Presiden Jokowi, hingga terpilih menjadi bintang iklan PT Sido Muncul bersama Vega Darwanthi. Hal itu membuatnya berdampingin dengan juara dunia tinju Manny Pacquiao maupun Chris John.

Kusrin hanya bisa berterima kasih kepada Sang Pencipta, yang telah mengubah nasibnya. Dia tidak mau jemawa, meski semakin banyak orang mengenalnya lantaran menyandang status bintang iklan. “Tuhan yang membalas semuanya,” ucap Kusrin.

Dirut PT Sido Muncul Irwan Hidayat menyatakan, sosok Kusrin bisa memberika motivasi terhadap anak-anak muda untuk selalu kreatif, meski hanya mengenyam pendidikan rendah. Dia mengatakan, diharapkan dengan iklan versi “Kusrin”, dapat memberikan informasi dan motivasi kepada generasi muda agar tidak mudah menyerah, serta bisa diterima di hati masyarakat.

“Pemilihan Kusrin adalah sebagai bentuk dukungan terhadap sosoknya, karena meski hanya lulusan SD, namun ia mempunyai kreativitas luar biasa dan mampu memberikan lapangan pekerjaan kepada masyarakat di sekitarnya,” kata Irwan.

Menurut dia, biaya iklan perusahannya dengan bintang iklan Kusrin menghabiskan dana Rp 10 miliar, agar bisa tayang di beberapa stasiun televisi nasional. Sehingga, ia merasa bantuan dana Rp 100 juta agar usaha Kusrin bisa semakin berkembang, tidak terlalu besar manfaatnya dibandingkan efek menjadi bintang iklan yang isinya menjangkau seluruh Nusantara. “Iklan ini seperti berita yang diulang-ulang sehingga produknya lebih dikenal oleh masyarakat,” katanya.

Irwan juga membantu mengurus hak paten ke Ditjen Hak Kekayaan Intelektual Kemenkumham, agar agar ke depannya televisi buatan Kusrin bermerek atas namanya, Kusrin. Adapun mereka Maxreen, Veloz, dan Zener, saran dia, lebih baik dilabelkan untuk ukuran televisi yang dijual.

Advertisements