Kampung Warna-Warni di Kota Malang.

Kampung Warna-Warni di Kota Malang.

Kamis, 14 Juli 2016

Oleh Erik Purnama Putra

Angga bersama empat temannya duduk di dinding pembatas permukiman warga dengan Sungai Brantas. Berkaus hitam dan celana pendek, Angga duduk santai persis di depan toilet umum milik warga Kampung Jodipan, yang dindingnya didominasi warna hijau. Sambil bernyanyi diiringi alat musik temannya, Angga tampak riang gembira menatap ke arah Sungai Brantas. Remaja yang sejak kecil tinggal di daerah aliran sungai (DAS) Brantas ini mengaku merasa nyaman tinggal di permukiman padat penduduk itu. Apalagi, setelah rumahnya dan rumah tetangganya dicat dengan warna berbeda.

Meski harus tinggal di kampung sempit nan padat rumah, Angga sudah terbiasa kalau sewaktu-waktu rumahnya terkena banjir akibat meluapnya Sungai Brantas. Meski rumahnya kadang terkena banjir karena terletak persis di bibir sungai, ia merasa nyaman saja tinggal di situ. “Kadang kalau banjir sampai lapangan, bahkan sampai mushala itu,” kata Angga memperagakan banjir setinggi lima meter yang pernah menerjang RW 02 Kampung Jodipan, Kecamatan Blimbing, Kota Malang.

Angga mengaku kini bertambah bangga tinggal di kampungnya. Setelah sebelumnya tempat tinggalnya dicap sebagai kawasan kumuh, kondisi tersebut sekarang berubah total. Itu setelah sekitar 90 rumah di RT 06, 07, dan 09 ditata tampilannya dengan cara dicat. Rumah orang tua Angga kebetulan mendapat bagian cat kuning. Menurut dia, dengan adanya pengecatan rumah warga, penampilan kampungnya menjadi lebih enak dipandang. Kampungnya juga menjadi terlihat lebih bersih.

Angga berujar, banyak orang saat ini menjuluki kampungnya sebagai Kampung Warna-Warni. Dilabeli begitu karena setiap rumah dicat dengan berbagai warna mirip pelangi, yaitu merah, kuning, biru, ungu, hijau, hingga jingga. Gara-gara pengecatan itu, kampungnya mendapat sorotan media. Dampaknya, semakin banyak warga, baik Kota Malang maupun luar daerah yang berkunjung ke kampungnya.

Nama kampungnya semakin terkenal setelah kabar pengecatan Kampung Jodipan menjadi pembicaraan di media sosial. Pengecatan yang dilakukan salah satu perusahaan itu merupakan bentuk tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR. “Ini pengecatannya sekarang lagi berhenti, nanti dilanjutkan lagi setelah Lebaran,” ujarnya.

Penulis sempat mengambil gambar ‘Kampung Warna-Warni’ dari jembatan yang menghubungkan Jalan Panglima Sudirman menuju Jalan Gatot Subroto. Pemandangan Kampung Jodipan dari jembatan yang terletak sekitar 500 meter dari Stasiun Kota Malang ini, memang menakjubkan. Untuk menuju lokasi, pengunjung bisa masuk lewat sebuah gang kecil dari Jalan Ir Juanda. Karena jalan sempit dan sedikit curam, pengunjung yang membawa sepeda motor diharapkan turun demi keamanan.

Rumah warga di Kampung Jodipan dicat warna-warni.

Rumah warga di Kampung Jodipan dicat warna-warni.

Ketika sampai di lokasi, mendapati beberapa remaja laki-laki dan perempuan sedang berfoto dengan latar belakang rumah bercat berbagai warna. Ada juga yang mengambil swafoto sambil tersenyum. Di sebuah lahan kosong dekat sungai atau bagian paling bawah, ada sekelomp

ok remaja perempuan mengambil gambar melalui kamera SLR yang terpasang tripot. Mereka terlihat serius dalam mengambil foto rumah bercat biru dan ungu tersebut.

Salah satu warga Kampung Jodipan, Imam Arifin mengakui, selama pengecatan berlangsung, tiba-tiba banyak orang luar daerah yang sekadar mampir melihat kampungnya. Dia tahu kampungnya semakin terkenal setelah ada stasiun televisi dari Jakarta dan lokal Malang yang menayangkan aktivitas pengecatan.

Imam melihat sendiri, kampungnya setiap harinya saat ini lebih ramai daripada sebelumnya. Rata-rata, orang luar yang berkunjung, ada yang hanya untuk memenuhi rasa penasaran setelah melihat ‘Kampung Warna-Warni’ di media sosial (medsos) atau memang ingin mengambil gambar. “Banyak yang foto-foto, sekarang jadi banyak pengunjungnya. Ini dinamakan rumah pelangi,” ujar Imam dengan logat Madura.

Dia menjelaskan, semua rumah yang terletak di bagian selatan daerah aliran sungai (DAS) Brantas akan dicat dengan batas sampai di bawah jembatan rel kereta api. Dia tidak paham mengapa rumah di bagian utara Sungai Brantas tidak ikut dicat. Hanya saja, ia menyambut baik tentang pengecatan itu lantaran terbukti sukses mengubah wajah kampungnya dan menimbulkan citra positif di masyarakat. “Ini katanya ‘Kampung Warna-Warni’ kedua di Indonesia. Yang pertama ada di Yogyakarta. Malah katanya mirip kampung yang juga dicat di luar negeri,” ujarnya.

Imam menyatakan, warga Kampung Jodipan mengapresiasi perusahaan yang mengecat setiap rumah di Kampung Jodipan, lantaran warga tidak mengeluarkan biaya sepeser pun. Semua biaya dan tenaga kerja disediakan pihak perusahaan. Dia juga menyebut, prajurit Paskhas TNI AU ikut digerakkan untuk mengecat dinding rumah yang memiliki ketinggian tertentu hingga sulit dijangkau.

Prajurit TNI AU itu, kata dia, harus bergelantungan menggunakan tali demi dapat memperindah rumah warga. Mereka juga membuat logo Paskhas di dinding depan rumah warga dan ikut membersihkan lingkungan sekitar DAS Brantas. “TNI AU memang dilibatkan, karena ada rumah yang tinggi itu tidak bisa dicat dan dijangkau warga tanpa bantuan alat tali untuk bergelantungan,” katanya.

Warga lainnya Bu Ima juga menyampaikan rasa terima kasih setelah rumahnya ikut dicat. Menurut dia, saat ini banyak orang yang berkunjung ke kampungnya untuk melihat rumah-rumah warga. Dia berharap, kampungnya bisa menjadi lokasi wisata dan kedatangan pengunjung itu bisa menjadi pemicu bagi warga untuk mendapatkan penghasilan, entah dari berjualan atau tiket parkir. “Ini tiga RT dicat semua setelah Lebaran. Sekarang semakin ramai pengunjung,” kata Bu Ima menunjuk rumah tingkat di depannya yang belum dicat.

Komandan Batalyon Komando (Danyonko) 464 Paskhas Letkol Yosafat Soelya mengakui, prajuritnya terlibat dalam pengecatan di Kampung Jodipan, yang dilakukan sebagai bentuk kepedulian dan bakti sosial terhadap masyarakat Kota Malang. Dia menuturkan, warga terkendala karena beberapa dinding di ketinggian tertentu tidak bisa dijangkau dalam proses pengecatan.

Sehingga, Yonko 464 Paskhas dilibatkan untuk membantu warga mengatasi kesulitan tersebut dengan menggunakan vertical rescue. “Sebagai prajurit TNI kita siap membantu upaya masyarakat untuk mewujudkan lingkungan aman dan nyaman,” katanya.

Penggagas ‘Kampung Warna-Warni’ adalah sekelompok mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang tergabung dalam Guys Pro. Salah satu inisiator Guys Pro, Salis Fitria menyatakan, ide program pengecatan rumah itu muncul, awalnya hanya untuk memenuhi tugas mata kuliah. Dia bersama tujuh temannya mendapatkan tugas dosen untuk membuat sebuah kegiatan dengan menggandeng klien perusahaan.

Ide itu muncul setelah ia melakukan penelusuran di dunia maya untuk melihat ‘Kampung Warna-Warni’ di luar negeri, seperti kawasan Izamal (Meksiko), Nyhavn (Denmark), St John (Kanada), Cinque Terre (Italia), dan kawasan serupa di negara lain. Setelah melihat kawasan permukiman padat yang dikonsep dengan penataan warna secara menarik itu, Salis terinspirasi untuk menerapkannya di Kampung Jodipan.

Kampung Jodipan setelah dicat warna-warni.

Kampung Jodipan setelah dicat warna-warni.

Setelah memilih beberapa klien, pihaknya berhasil berkolaborasi dengan sebuah perusahaan cat untuk mengadakan CSR. Dengan berpatokan riset yang sudah dibuat, dipilihlah Kampung Jodipan dengan alasan teknis yang disesuaikan dengan misi perusahaan cat.

Salis melanjutkan, setelah terjun ke lapangan, ia miris melihat kondisi Kampung Jodipan. Itu lantaran Jodipan dipilih lantaran termasuk kawasan kumuh yang terletak di jantung Kota Malang. Dia dan teman-temannya juga dihadapkan beberapa masalah, salah satunya kegemaran warga membuang sampah ke Sungai Brantas.

Warga beralasan tidak tersedianya tempat pembuangan sampah (TPS) membuat mereka bertindak praktis dan mudah saat membuang sampah. Salis bersama rekannya pun berpikir untuk menciptakan lingkungan yang bersih, indah, dan berwarna di sebuah lokasi yang termasuk permukiman padat. Hal itu wajib dilakukan untuk dapat menggugah kesadaran warga agar lebih peduli dengan lingkungan tempat tinggalnya.

“Mengapa pilih Jodipan? Karena Jodipan menjadi satu dari 11 kelurahan di Kota Malang yang dikategorikan sebagai kampung kumuh. Selain itu berdasarkan riset kami dari wawancara, sebanyak 90 persen warga kerap membuang sampah ke sungai karena lokasi TPA yang jauh dari lokasi,” katanya.

Salis menyatakan, peresmian program itu dimulai pada 22 Mei dan baru tanggal 6 Mei pengecatan dimulai. Setelah berhenti karena pekerja libur Lebaran, kata dia, pengecatan dimulai lagi pada 14 Juli. Karena tak ingin terlihat monoton, kata Salis, dilakukan juga pembuatan mural di salah satu tangga masuk di RT 09 RW 2 Kampung Jodipan.

Selain itu, demi mempercantik Jodipan, gapura di pintu masuk juga diwarnai. Tujuannya dari semua agar Kampung Jodipan semakin hidup dan lebih berwarna. Sehingga, ia mengharapkan, warga di sana nantinya bangga untuk merawat wilayahnya dan meninggalkan kebiasaan buruk mencemari sungai dengan sampah. Ternyata, kata dia, programnya itu sanggup menyita perhatian banyak pihak, karena mengubah sebuah permukiman kumuh menjadi indah tidak membutuhkan biaya besar.

Ketua RW 02 Kampung Jodipan S Parin menyampaikan rasa terima kasih tak terhingga kepada semua elemen yang terlibat, yaitu pihak perusahaan, mahasiswa, dan prajurit Paskhas yang menyulap wajah Kelurahan Jodipan menjadi kawasan warna-warni. Dia mengatakan, seluruh warga menyambut baik upaya mahasiswa dan perusahaan cat itu yang membuatnya wajah kampungnya berubah 180 derajat.

Dia pun berharap, warga bisa lebih menjaga lingkungan sekitar setelah nantinya proses pengecatan selesai secara keseluruhan. “Tentu warga senang dengan adanya pengecatan ini. Warga merasa kampungnya jadi lebih bersih,” kata Parin.

Dia tidak memungkiri, pengecatan itu menjadi berkah bagi kampungnya. Dia mengungkap, sebelum adanya pengecatan itu, kampungnya masuk dalam daftar Pemkot Malang yang akan dibenahi. Kampung Jodipan, kata dia, dimasukkan ke dalam kawasan kumuh. Belum lagi, Kampung Jodipan berimpitan dengan Sungai Brantas sehingga perlu ditata. “Penataan itu dulu sebelum program pengecatan ini dilakukan. Tidak tahu jadi apa gak kampung ini ditata setelah kondisinya kini berubah,” ucap Parin.

Parin meminta warganya untuk tanggap melihat potensi ‘Kampung Warna-Warni’. Dia menyadari, kampungnya saat ini menarik perhatian banyak orang, karena setiap harinya banyak pengunjung yang datang melihat rumah-rumah warga yang dicat. Dia pun berharap Kampung Jodipan bisa dijadikan kawasan percontohkan untuk menjadi tujuan wisata lokal hingga asing. Sayangnya, ia tidak melihat upaya Pemkot Malang untuk mewadahi keinginan warga itu.

“Gagasan ini berawal dari ide mahasiswayang ingin mengubah Jodipan, yang semula kumuh dan kotor disulap menjadi kawasan objek wisata baru dengan tampilan warna-warni,” ucap Parin.

Yang terpenting, kata dia, pandangan orang terhadap Kampung Jodipan sudah berubah. Jodipan yang dulu dikenal sebagai permukiman kumuh hanya tinggal sejarah. Warga pun memiliki kebanggaan lebih tinggal di Kampung Jodipan. Pihaknya punya keinginan agar niatan Pemkot Malang yang akan menata kampungnya, tidak melakukan penggusuran, karena terbukti menata permukiman warga bisa dengan cara menyenangkan.

Advertisements