Ahad, 17 Juli 2016 Militer mencoba melakukan kudeta di Turki, dan berakhir kegagalan.

Oleh Erik Purnama Putra

Masyarakat di Tanah Air terpecah menyikapi tentang kabar adanya kudeta militer di Turki pada Jumat (15/7) malam waktu setempat. Kudeta yang gagal mendongkel Recep Tayyip Erdogan dari kursi presiden Turki tersebut menjadi pembicaraan hangat masyarakat, khususnya netizen atau warganet.

Mayoritas percaya dengan rencana penggulingan yang dilakukan sekelompok militer itu. Hal itu didukung dengan kompaknya semua media ternama dari berbagai belahan dunia yang memberitakan tentang kudeta, yang menelan korban ratusan orang tersebut.

Namun, tak sedikit ada yang menyebut gerakan kudeta itu sebagai konspirasi. Maksud dari konspirasi di sini adalah kudeta itu merupakan ‘skenario’ yang dilakukan Erdogan sendiri untuk menaikkan citranya di mata rakyat Turki. Alhasil, bagi pemercaya teori konspirasi, kudeta militer itu dibuat-buat pihak Erdogan hingga akhirnya dapat ditangani dalam waktu singkat.

Tidak sedikit pula yang percaya dengan kabar seperti itu, yang dapat dibuktikan dengan berbagai posting-an di media sosial (medsos). Tentu saja penulis sangat menyayangkan bagaimana bisa orang percaya dengan kabar yang kebenarannya bertentangan dengan logika itu?

Kembali ke soal berita kudeta, masyarakat Indonesia terpecah terbagi dua dalam menyikapi kabar mengejutkan dari Turki. Ada yang ‘mengecam’ ada pula yang ‘menertawakan’ kudeta itu. Bahkan, jika ditarik kesimpulan, ada dua kelompok yang bertolak belakang dalam menyikapi berita Erdogan.

Bagi yang mengecam kudeta itu, mereka selama termasuk yang senang dengan gaya kepemimpinan Erdogan di Turki. Adapun bagi yang ‘menyerang’ Erdogan, mereka selama ini memang antipati dengan pemerintahan Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP).

Tidak salah kalau dikatakan, berita tentang kudeta di Turki seolah menyedot energi masyarakat. Di saat sebelumnya masyarakat tertarik membicarakan isu perombakan kabinet dan impor daging sapi, kerbau, dan jeroan, tiba-tiba saja topiknya beralih.

Turki yang secara geografis sangat jauh dari Indonesia, secara mendadak menjadi bahan pembicaraan utama masyarakat. Pembicaraan itu malah sampai mengerucut menjadi dua kubu, yang sangat keras pertentangannya.

Harus diakui, kesamaan agama antara Turki dan Indonesia, yang mayoritas masyarakatnya menganut agama Islam, membuat hubungan kedua negara seolah dekat di hati. Apalagi, Erdogan pernah berkunjung ke Indonesia pada tahun lalu.

Alhasil, penduduk Indonesia yang Muslim memiliki ‘ikatan batin’ dengan Turki. Sehingga, saat terjadi percobaan kudeta militer terhadap pemerintahan yang sah, publik Indonesia menjadikan berita itu sebagai konsumsi utama, menggeser isu lain yang tak kalah penting di dalam negeri.

Di medsos, baik Facebook maupun Twitter, terjadi semacam polarisasi dalam menyikapi kudeta di Turki. Polarisasi yang menurut penulis rasakan mirip dengan kondisi Pilpres 2014. Penulis bahkan berani menarik kesimpulan, polarisasi Pilpres 2014 itu masih terjadi hingga kini.

Termasuk dalam menyikapi pemberitaan Erdogan, mengapa bisa warganet malah ‘bertengkar’ satu sama lain. Mereka sampai berdebat dan saling kecam satu sama lain saat mengomentari berita tentang Erdogan. Sikap emosional hingga memaki-maki yang terjadi semasa kampanye Pilpres 2014, juga terjadi saat merespon pemberitaan kudeta di Turki.

Tidak sedikit di antara kedua kubu, mengaitkan berita Erdogan dengan Jokowi. Karena itu, sikap pendukung kubu capres lalu, masih belum berubah hingga sekarang. Masyarakat belum bisa ‘bersatu’ dan ‘mencair’, seperti keadaan sebelum Pilpres 2014.

Penulis jadi bertanya-tanya, mengapa sebuah berita yang sangat jelas itu menimbulkan pertentangan luar biasa di medsos. Mengapa hal itu bisa terjadi? Penulis berani menarik kesimpulan, sepertinya suasana kebatinan masyarakat yang terbelah akibat pesta demokrasi terus terjaga hingga hampir dua tahun berlalu.

Advertisements