Mendikbud Muhadjir Effendy.

Mendikbud Muhadjir Effendy.

Rabu, 10 Agustus 2015

Oleh Erik Purnama Putra

Masyarakat Indonesia dihebohkan dengan wacana full day school atau sekolah seharian. Wacana itu dilemparkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy. Menurut Muhadjir, gagasan itu sudah mendapat lampu hijau dari Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Konsep sekolah sehari penuh lebih ditujukan untuk siswa sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP). Muhadjir mengatakan, sasaran siswa SD dan SMP agar mengikuti konsep belajar seharian karena pada tahap itulah karakter anak bisa terbentuk. Sekolah seharian dipandang mampu menjadi salah satu solusi untuk membangun generasi penerus berkualitas. Selama di sekolah, banyak hal yang bisa dipelajari anak-anak untuk menambah wawasan mereka.

Siswa direncanakan sekolah mulai pukul 07.00 WIB diselingi istirahat dan diisi kegiatan lain hingga baru pulang pukul 17.00 WIB. Ketika selesai jam pelajaran pada waktu normal, siswa diajak untuk mengikuti kegiatan ekstrakurikuler yang menyenangkan dan bermanfaat. Kompensasinya, siswa diberi libur hari Sabtu dan Ahad agar memiliki waktu lebih banyak bersama keluarga. Tentu saja konsep sekolah seharian ini muncul mengingat banyaknya ayah dan ibu yang sama-sama bekerja sehingga meninggalkan anak di rumah. Ketimbang anak tidak terkontrol ketika pulang sekolah, Muhadjir mencoba menawarkan ide tersebut.

Sayangnya, meski masih sebatas gagasan, ide itu menjadi pembicaraan masyarakat di dunia maya. Kebetulan pula Republika.co.id yang pertama kali menaikkan berita tersebut saat Muhadjir berada di Malang pada Ahad (7/8). Tautan berita tersebut menjadi viral dan disebar ke berbagai media sosial (medsos). Tidak mengagetkan, hingga tulisan ini dibuat berita berjudul ‘Mendikbud Baru Anjurkan Pelajar Sehari Penuh di Sekolah’ sudah dibaca hampir 450 ribu pembaca.

Karena sudah menjadi isu yang menggelinding dan ditolak netizen atau warganet, kontak saja Muhadjir menjadi sasaran bullying atau perisakan. Muhadjir dianggap gegabah dalam menyampaikan sebuah aturan yang masih belum matang. Meski sekolah seharian itu masih berupa wacana, warganet dengan berbagai argumen menolak dan bahkan mengeluarkan sumpah serapah. Mereka geram dengan munculnya kebijakan yang baru sebatas dikemukakan ke publik itu.

Alhasil, karena berita itu sudah menjadi viral, ketika Muhadjir mencoba menjelaskan terkait rencana kebijakan yang bakal diambilnya itu, klarifikasi yang dilakukannya menjadi sia-sia. Opini masyarakat sudah terbentuk bahwa kebijakan sekolah seharian akan membuat anak menjadi terpenjara. Program itu malah memisahkan anak dari lingkungan sekitar dan alam.

Dengan berbagai argumen yang dikeluarkan Muhadjir untuk menjernihkan duduk persoalan, semuanya sudah terlambat. Masyarakat sudah kompak sinis menyikapi kebijakan itu. Meski sekolah seharian sebenarnya bukan barang baru, sebab sudah dipraktikkan di beberapa sekolah di kota besar, namun masyarakat sudah tidak mau tahu. Para orang tua yang merasa memiliki anak langsung menghakimi Muhadjir ingin agar anak Indonesia menjadi generasi mesin.

Hanya saja, penulis mencoba bersikap hati-hati dalam menyikapi gagasan sekolah seharian itu. Penulis tidak mau larut dengan berbagai kecaman yang dilontarkan warganet. Penulis berupaya menyikapi masalah itu dengan kepala dingin. Memang setiap kebijakan ada plus dan minusnya. Pun dengan wacana sekolah seharian itu pasti menimbulkan pro dan kontra di masyarakat. Namun demikian, rencana sekolah seharian tersebut tidak seseram yang digambarkan sebagian khalayak ramai.

Penulis berandai, kalau sekolah seharian dianggap menyeramkan dan membuat anak-anak menjadi tidak kenal dengan lingkungan sekitarnya, bagaimana dengan sistem pemondokan? Tidak sedikit orang tua yang sudah memondokkan anak sejak masih kecil. Memang untuk usia siswa SD, jumlah anak yang dipondokkan tidak sebanyak anak usia siswa SMP. Bahkan, banyak pondok pesantren atau boarding school tingkat SMP yang berdiri di penjuru Tanah Air.

Bagi yang mengikuti program mondok atau boarding school, konsekuensinya siswa sudah harus bangun sejak sebelum Subuh. Mereka harus mengikuti serangkaian kegiatan hingga malam hari hingga istirahat sampai terlelap tidur. Tentu saja dalam kesehariannya, siswa tidak hanya mengikuti kegiatan belajar di kelas. Ada serangkaian kegiatan ekstrakurikuler yang harus diikuti.

Pertanyaannya, apakah siswa yang mondok itu lebih tertekan dibandingkan dengan siswa umum? Apakah siswa yang mengikuti sistem boarding school tidak bisa berinteraksi dengan lingkungan sekitar? Apakah mereka lebih tertekan ketimbang sekolah reguler? Jawabannya tergantung, bisa iya bisa tidak. Namun, menurut penulis, sistem pondok malah jauh lebih ‘kejam’ ketimbang full day school yang dikecam oleh warganet.

Meski penulis tidak memiliki data pasti, sampai sekarang, fenomena masyarakat memondokkan anak masih berlangsung dan jumlahnya terus bertambah. Hal itu ditandai dengan maraknya berdiri sekolah dengan konsep boarding school maupun ponpes yang membuat masyarakat kepincut untuk memondokkan anaknya di situ. Tapi, tidak ada warganet yang memprotes hal itu, karena hal itu didasarkan keputusan orang tua masing-masing.

Advertisements