Kamis, 13 Oktober 2016 Di depan Katedral Saint Vitus.

Oleh Erik Purnama Putra

Saya beruntung berkesempatan berkunjung ke Republik Ceska, negara yang dijuluki 1.000 menara. Semakin beruntung pula bisa menjelajahi tiga kota utama di negara yang tidak memiliki laut ini. Pada akhir Agustus lalu, saya menjelajahi Kota Praha, Kutna Hora, dan Cesky Krumlov selama lima hari. Ada satu persamaan di antara tiga kota yang dikunjungi tersebut. Semua wilayah di negara pewaris Kerajaan Bohemia ini memiliki ciri khas adanya gereja, katedral, dan kapel yang tersebar di seantero negeri. Tidak salah, Republik Ceska dijuluki negeri seribu menara.

Kota tujuan utama saya adalah Praha. Untuk mencapai ibu kota yang memiliki sekitar 1,2 juta penduduk ini, saya membutuhkan waktu hampir sehari penerbangan dari Jakarta menggunakan maskapai KLM Royal Dutch. Maskapai milik pemerintah Belanda ini singgah di Bandara Internasional Kuala Lumpur dan Bandara Schiphol di Amsterdam, sebelum mendarat di Bandara Vaclav Havel di Praha. Berbeda jauh saat transit di Bandara Schiphol yang megah, saat sampai di Bandara Vaclav Havel sekitar pukul 13.30 waktu setempat, hampir tidak ada tanda-tanda keramaian.

Kota Praha jelas tidak asing bagi masyarakat Indonesia. Belum lama ini, ada film berjudul ‘Surat dari Praha’ yang mengambil seting di sana. Pun beberapa tahun sebelumnya juga sudah ada novel dengan judul sama seperti film itu. Pada masa Sukarno, ratusan mahasiswa Indonesia dikirim ke Praha dan sekitarnya ketika negeri ini masih menjadi kawasan satelit Uni Sovyet ini.

Ketika sampai Kota Praha, suhu udara pada pagi hari sekitar tujuh  derajat. Karena memasuki musim semi, tidak heran mayoritas orang yang hilir mudik memakai jaket tebal. Patut diketahui, ibu kota Republik Ceska ini dipenuhi para pejalan kaki. Warga setempat maupun turis memenuhi trotoar yang lebar dan rapi di sepanjang sudut kota.

Rombongan yang terdiri enam orang, termasuk saya, langsung dijemput sebuah minibus yang memuat belasan  penumpang. Butuh waktu sekitar 30 menit dari Bandara Vaclav Havel untuk sampai di pengingapan yang terletak di  Kota Tua Praha. Kebetulan, saya menginap di Ibis Hotel yang berdampingan dengan Palladium Mall. Jalanan depan hotel yang hanya satu lajur untuk dua jalur ini harus berbagi dengan jalur trem.

Di Kota Praha.

Di Kota Praha.

Sepanjang perjalanan dari bandara menuju pusat kota tidak ditemukan adanya kemacetan. Pemandangan bangunan tua dan kota bernuanda vintage langsung terasa ketika minibus mulai memasuki kawasan permukiman. Meski dalam kondisi capek, namun dorongan untuk bisa langsung melihat berbagai bangunan bersejarah di kota ini membuat saya bersemangat meninggalkan penginapan. Setelah mandi dan berganti baju, saya dan rekan lainnya memilih jalan kaki untuk menuju Old Town Square. Patut diketahui, Kota Tua Praha ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia Unesco sejak 1992.

Jangan bayangkan jalanan di sana beraspal, melainkan berlapis bebatuan yang semakin mengesankan Praha sebagai  kota kuno. Hanya perlu berjalan 10 menit, saya sudah sampai Old Town Hall yang dikelilingi berbagai bangunan  tua. Alun-Alun Kota Lama ini kerap menjadi titik pertemuan para turis. Di berbagai penjuru, dapat dengan mudah ditemukan para penjual, semacam PKL dan kafe berkonsep out door yang dipenuhi wisatawan.

Ada satu bangunan tinggi yang mencolok karena dikerubuti banyak orang, yaitu The Clock Tower. Di sisi kanan menara terdapat Jam Astronomi Praha (Prague Astronomical Clock) yang memiliki nama lokal Prague Orloj. Kerumunan wisatawan bakal semakin banyak kalau jam tersebut sedang berbunyi, karena banyak yang penasaran dengan salah satu ikon Kota Praha ini.

Týn Church.

Tyn Chruch.

Di dunia, disebut-sebut hanya ada tiga jam astronomi berukuran besar. Namun, Jam Astronomi Praha satu-satunya yang tertua dan masih aktif hingga kini. Jam yang sudah beroperasi sejak 1410 atau sudah berumur 606 tahun ini dapat menjadi jembatan bagi turis untuk menerawang masa lalu. Jam dengan ragam hiasan menggunakan angka romawi ini dalam periode tertentu bisa menyuguhkan hiburan bagi para turis.

Jam ini, menurut dokumen, dibuat oleh Mikulas bersama Jam Sindel, yang merupakan profesor matematika di Universitas Charles. Versi lainnya, jam ini dibuat oleh Jan Ruže atau Hanus yang memang dikenal sebagai pembuat jam pada zamannya.

Masih di Old Town Hall, di seberang The Clock Tower, berdiri Týn Church. Gereja bergaya gotik ini memang sangat mudah dikenali, lantaran memiliki dua menara kembar. Tyn Church yang memiliki nama lengkap Chruch of Our Lady Before Tyn ini, mulai dibangun pada 1365 dan selesai pada 1511. Di samping gereja, berdiri bangunan yang pada abad ke-14 hingga 19, digunakan sebagai sekolah. Penyanyi Jason Marz menghadirkan bangunan ini dalam pembuka video klip “Lucky” yang diluncurkan tahun 2009.

Wenceslas Square

Saya dan rekan kemudian beranjak ke Wenceslas Square atau Vaclvske Namesti yang terletak di kota baru yang menjadi pusat bisnis Praha. “Wenceslas ini, merupakan tokoh paling berpengaruh kedua di Ceska, setelah Pangeran Charles IV. Makanya namanya diabadikan di sini,” kata salah satu rekan, Andy Nahil Gultom yang sudah tujuh kali mengunjungi Kota Praha. Saint Wenceslas (14 Mei 1316–29 Nopember 1378) yang merupakan raja kedua Kerajaan Bohemia ini memang putra Raja Charles IV.

Dua kali saya berkunjung ke sini, pada sore dan malam hari. Pemandangan pada malam hari sangat indah, lantaran bangunan yang tertata rapi di kiri kanan jalan terlihat lebih eksotik. Apalagi kalau dilihat dari posisi patung berkuda Saint Wenceslas maka pemandangan deretan hotel, kafe, restauran, pusat perbelanjaan, dan tempat hiburan malam sepanjang 750 meter dapat terlihat jelas dari ini.

Wenceslas Square menjelang pergantian malam.

Wenceslas Square menjelang pergantian malam.

Hal itu lantaran lokasi patung yang terletak di seberang Museum Nasional ini dapat agak meninggi, sehingga kita bisa melihat pemandangan kawasan pusat perbelanjaan dan hiburan di Praha ini. Di Wenceslas Square pula, dulu masyarakat, khususnya kaum reformis menggelar demonstrasi untuk menuntut pemerintahan Komunis. Jatuhnya era Komunis terjadi setelah ada didemo besar-besaran yang dilakukan masyarakat pada tahun 1989.

Wenceslas Square memang menjadi saksi bersejarah perjalanan negara Republik Ceska. Di lokasi ini, Velvet Revolution, pendudukan tentara Nazi, serangan militer Uni Sovyet, hingga kemerdekaan Cekoslovakia, menjadi titik berkumpul massa yang melakukan perlawanan. Saya sempat mengambil brosur berisi wisata sejarah peninggalan pemerintahan komunis dengan berbagai gambar kemarahan rakyat kepada pemerintahan Komunis.

Sama seperti di lokasi lain, banyak sekolah money changer di kiri kanan Wenceslas Square. Namun, kita sebaiknya menghindari untuk menoleh ke arah tempat penukaran mata uang asing tersebut. Seperti yang saya alami kala melihat nilai kurs saat itu, tiba-tiba saja ada seseorang yang mendekat menawarkan diri untuk membantu menukarkan uang. “Apakah Anda mau menukar uang? Mata uang apa yang anda punya, Euro atau dolar AS?” begitu tanya laki-laki yang merupakan warga lokal tersebut. Siapa dia? Tentu saja orang itu calo! “Tidak, terima kasih,” begitu saya menolak dengan halus tawaran calo tersebut.

Ada satu hal yang saya ingat ketika berjalan melewati taman yang membelah kanan dan kiri Wenceslas Square yang memiliki lebar sekitar 60 meter ini. Selain ditumbuhi tanaman indah yang ditata rapi, ada pula kafe trem di tengah taman. Uniknya, kafe ini berdiri di atas rel hingga mengesankan kesan trem asli.

Charles Bridge

Saya dan rekan bergeser ke Charles Bridge atau dalam bahasa lokal dipanggil Karluv Most. Lokasi Jembatan Charles sebenarnya tidak terlalu jauh. Namun, demi menghindari kaki yang sudah capek, naik kendaraan merupakan cara terbaik. Dapat dikatakan, Jembatan Charles adalah landmark paling terkenal di Kota Praha. Jembatan yang menghubungkan Old Town dan Lesser Town Praha ini dibangun pada 1357 dan selesai 1402. Tentu saja perancang jembatan yang memiliki panjang 621 meter dan lebar hampir 10 meter ini adalah Raja Charles IV.

Prewedding di Charles Bridge.

Prewedding di Charles Bridge.

Karena datang pada sore hari, tidak mengejutkan kalau sepanjang mata memandang turis mancanegara memenuhi jembatan ini. Sangat mudah sekali menemukan turis dari Asia Timur dan Tenggara yang sibur berfoto ria di Jembatan Charles. Malahan, kala itu saya melihat ada calon penganting yang melakukan foto prewedding di jembatan yang sejak 1978 ini diperuntukkan bagi pejalan kaki semata.

Lantaran penuh sesak pengunjung, ditambah banyaknya warga lokal yang mencari uang dengan cara mengemis, mengamen, melukis, hingga berdagang souvenir, untuk sekadar berjalanan pun terasa cukup sesak. Seperti yang kerap terlihat dalam foto-foto yang beredar di internet, merasakan berada di jembatan yang dibangun pada 1357 ini seolah menghasilkan sensasi tersendiri.

Saran saya, untuk mendapatkan foto bagus, lebih baik mengunjungi jembatan yang memiliki deretan 30 patung dan berada di atas Sungai Vlatva ini pada malam hari. Hal itu lantaran deretan lampu yang menerangi jembatan bergaya gotik akan terlihat indah untuk dipandang, apalagi buat latar belakang foto.

Miss Eva Dvorakova yang mendampingi kami, sempat menerangkan salah satu patung yang berada di tengah Jembatan Charles. Dari sekitar 30 patung yang berdiri di sepanjang jembatan, salah satunya merupakan patung Raja Charles IV. “Kalau Anda menyentuh patung dengan tangan kiri, konon Anda akan diberikan kesehatan dan dilancarkan jodohnya,” ujarnya. Saya pun mencoba saja buat sekadar iseng-iseng sambil tertawa ketika menyentuh patung tersebut.

Marina Grosseto Ristorante.

Marina Grosseto Ristorante.

Menjelang petang hari, saya dan rekan bergesar jembatan di seberang. Berbeda dengan Jembatan Charles yang diperuntukkan bagi pejalan kaki, jembatan yang saya kunjungi kali ini merupakan jalan penghubung kendaraan bermotor dari Old Town menuju Lesster Town. Karena perut sudah terasa lapar, kami semua menikmati makan di restoran Italia bernama Marina Grosseto Ristorante. Dari restoran yang berada di kapal yang sedang bersandar di tepi Sungai Vlatva ini, saya bisa menikmati tenggelamnya matahari sekitar pukul 19.00 waktu setempat.

Tentu saja pemandangan dengan latar belakang Kastil Praha sangat indah untuk dilewatkan. Sembari menikmati grill ikan salmon, detik-detik datangnya malam menjadikan sebuah pengalaman tak terlupakan. Sangat disarankan bagi siapa pun yang memiliki pasangan untuk menikmati restoran di sini pada waktu menjelang tenggelamnya matahari, karena bisa memunculkan suasana romantis.

Pragua Castle
Salah satu lokasi lain yang sayang untuk dilewatkan adalah Prague Castle (Praszky Hrad). Kastil Praha ini sebagian bangunannya difungsikan sebagai Istana Kepresidenan Republiks Ceksa. Sebagai kompleks kastil terluas di dunia versi Guinness Book of World Record dengan luas 700 ribu meter persegi, pembangunannya dimulai abad ke-9 hingga 14. Di bawah Pangeran Charles IV, Istana Kerajaan didesain dengan gaya gotik yang dikelilingi benteng kokoh.

Terletak di perbukitan, ada beberapa bangunan yang menonjol di sini, yaitu Chruch of Saint Virgin, Basilica of Saint George, dan Saint Vitus Cathredal. Karena pembangunan tidak dilakukan dalam satu periode raja, konsekuensinya ornamen maupun gaya dalam satu gereja bisa berbeda satu sama lain.suasana-old-town-hall

Saya masuk ke kompleks Kastil Praha melalui pintu utama. Siang itu, antrean wisatawan tidak terlalu panjang. Diperlukan waktu sekitar 20 menit hingga sampai di pemeriksaan yang dilakukan oleh polisi. Kalau pada waktu libur, antrean pengunjung bisa mengular sampai jalan raya yang membutuhkan antrean hingga sejam. “Sejak banyak kejadian teror di Eropa, penjagaan diperketat. Barang bawaan pengunjung diperiksa demi keamanan,” kata Miss Eva.

Berjalan sekitar 100 meter, tibalah kami di pintu gerbang kompleks Kastil Praha. Karena sebagian terbuka untuk umum dan sebagian lagi digunakan sebagai kantor Presiden Republik ceska, tentu ada dua penjaga, semacam Paspampres yang berada di sisi kanan kiri gerbang. Saya dan rekan lain berfoto ria di depan pengawal yang memakai seragam khas biru tersebut.

Decak kagum terus terlontar dari mulut saya ketika menjelajahi satu demi satu area bangunan di kompleks kastil ini. Belum lagi, ada  empat courtyard (halaman dalam istana) yang bisa dijadikan lokasi berfoto dan istirahat. Karena keindahannya pula, penyanyi Jason Marz untuk lagu ‘Lucky’ memilih syuting di lokasi ini.

Setelah berpuas foto di dalam maupun di luar katredal, langkah kaki ini tiba-tiba terhenti di sebuah gang kecil bernama the Golden Line. Pandangan mata langsung tertuju ke rumah mungil bernomor 22. Di rumah yang pintu masuknya agak rendah dengan warna merah tua dan abu-abu ini, cerpenis Franz Kafka pernah tinggal menumpang di suadara perempuannya.

Lokasi rumah yang sederetan berukuran kecil, bahkan untuk masuk ke dalam rumah harus menundukkan kepala ini, masih terletak dalam kompleks Kastil Praha. Saking populernya Kafka, beberapa bukunya sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa, termasuk Indonesia. Untuk mengenang kontribusinya, pemerintah mendirikan Museum Franz Kafka, namun saya tidak sempat berkunjung ke situ.

Petrin Hill
Sesuai namanya, Petrin Hill berada di sebuah bukit yang lokasinya masih di sekitar pusat Kota Praha. Persisnya di sisi kiri Sungai Vlatva yang masuk bagian Lesser Town.

Pemandangan di Petrin Hill.

Pemandangan di Petrin Hill.

Saya dan rekan berjalan kaki untuk menaiki bukit yang dipenuhi pepohonan besar yang rindang ini. Dari Bukit Petrin, beberapa objek wisata di Praha dapat terlihat jelas, seperti Kastil Praha dan Jembatan Charles. Bukit dengan ketinggian 318 meter ini terdiri area taman dan dinding bernama Hunger Wall, yang dulu fungsinya sebagai benteng. Tentu tidak lengkap ke sini kalau tidak menikmati pemandangan dari Petrin Tower.

 

Menurut masyarakat setempat, Menara Petrin dibuat selayaknya Menara Eiffel mini. Bentuknya dibikin seperti Menara Eiffel di Paris. Wisatawan perlu membeli tiket untuk bisa naik lift berkapasitas maksimal enam orang untuk bisa sampai di puncak menara setinggi 63,5 meter. Mau mencoba naik secara gartis? Wisatawan hanya perlu menaiki 299 anak tinggi kalau sanggup demi bisa melihat pemandangan Kota Praha dari segala penjuru.

Berada di puncak menara yang dibangun pada 1891 ini, seperti memberikan sensasi tersendiri. Karena ketika berada di atas, menara seolah bergoyang, entah karena banyaknya wisatawan yang berada di puncak atau efek tiupan angin yang berembus cukup kencang. Saya tidak lupa mengabadikan diri ketika sampai di puncak menara.

Selain itu, kunjungan ke Wallenstein Palace yang merupakan istana bergaya baroque juga tidak kalah menarik. Istana yang berada di bawah Kastil Praha memiliki taman dan kolam ikan yang luas nan indah. Saya menyempatkan diri berfoto dengan burung merak yang dibiarkan berkeliaran di antara wisatawan. Saat ini, istana yang memiliki nama lokal Valdstejnsky Palac ini dijadikan sebagai kantor Senat Republik Ceska, semacam Dewan Perwakilan Daerah (DPD) di Indonesia.

Masih banyak tempat wisata lain di Kota Praha yang saya kunjungi. Belum lagi di Kota Kutna Hora dan Cesky Krumlov. Namun, sepertinya perlu diulas di bagian lain… charles-bridge-2

Advertisements